Bank Indonesia (BI) Provinsi Jawa Timur bersama Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus memperkuat sinergi untuk mendorong investasi strategis dan berkelanjutan melalui East Java Investment Forum (EJIF) 2026. Forum yang digelar pada 1–2 Oktober 2026 tersebut menghasilkan 12 komitmen investasi dengan nilai kesepakatan mencapai Rp2,4 triliun.
Kepala Perwakilan BI Provinsi Jawa Timur Ibrahim mengatakan, momentum investasi di Jawa Timur perlu terus didukung melalui sinergi dan kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, lembaga keuangan, serta pemangku kepentingan lainnya.
“Investasi tidak hanya mendukung pertumbuhan ekonomi, namun berdampak pada penyerapan tenaga kerja dan pengentasan kemiskinan,” tegas Ibrahim saat memberikan sambutan pada EJIF 2026 di Surabaya, 2 Oktober 2026.
Menurutnya, kondisi investasi yang baik perlu dikombinasikan dengan keberlanjutan fiskal, stabilitas sistem keuangan, dan sistem pembayaran sebagai bagian penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
EJIF 2026 mengusung tema “Empowering East Java as Indonesia’s New Growth Engine through Strategic and Sustainable Investment”. Forum tersebut menjadi ruang untuk memperkuat konektivitas antara pemerintah daerah, pelaku usaha, calon investor, project owner, dan lembaga keuangan dalam mengakselerasi investasi di Jawa Timur.
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak yang hadir secara langsung menyampaikan bahwa Pemprov Jatim bersama pemerintah kabupaten/kota terus memperkuat berbagai dukungan bagi pengembangan investasi di daerah.
“Modal dasar yang kuat, sektor manufaktur dan pertanian, menjadi daya tarik investasi di Jawa Timur,” ujar Emil.
Emil menambahkan, kolaborasi antara pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, dan Bank Indonesia menjadi bagian penting dalam menciptakan iklim investasi yang kondusif sekaligus memperkuat daya saing Jawa Timur sebagai daerah tujuan investasi.
Dalam EJIF 2026, sebanyak 28 proyek Investment Project Ready to Offer (IPRO) ditawarkan kepada calon investor dengan total nilai investasi mencapai Rp73,7 triliun. Proyek tersebut mencakup sejumlah sektor, antara lain manufaktur, pariwisata, infrastruktur, dan agroindustri.
Selain proyek IPRO, forum investasi tersebut juga menawarkan tujuh kawasan industri/kawasan ekonomi khusus, 80 aset potensial milik pemerintah daerah, serta berbagai proyek potensial di sektor perbankan.
EJIF 2026 turut mempertemukan investor domestik dan internasional, pelaku usaha, calon investor, project owner, pemerintah daerah, dan lembaga keuangan. Investor yang hadir antara lain berasal dari Inggris, Belanda, Australia, Tiongkok, Jepang, Korea Selatan, Arab Saudi, Singapura, dan Malaysia.
Rangkaian kegiatan juga diisi diskusi panel yang menghadirkan narasumber dari Danantara Indonesia, Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, serta Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur.
Pembahasan dalam forum mencakup prospek perekonomian Indonesia dan Jawa Timur, peran pemerintah dalam mendukung investasi, serta pengalaman pelaku usaha dalam mengembangkan kegiatan bisnis di Jawa Timur.
Dengan dukungan perekonomian Jawa Timur yang solid, inflasi yang terkendali, infrastruktur yang terus berkembang, kebijakan daerah yang kondusif, serta besarnya basis pasar dan industri, Jawa Timur memiliki potensi kuat untuk terus dikembangkan sebagai salah satu wilayah strategis investasi dan penggerak pertumbuhan ekonomi nasional.
Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News






