spot_img

BERITA UNGGULAN

Bupati Bekasi Sambangi Makam Pahlawan Nasional KH. Noer Alie

SuaraPemerintah.ID- Pj. Bupati Bekasi Dani Ramdan beberapa lalu dilantik, langsung bersafari melakukan kerja, termasuk berziarah ke Makam Pahlawan Nasional asal Ujungharapan, Kabupaten Bekasi, Kiai Haji Noer Alie, makam tersebut terletak di Komplek Pondok Pesantren At-Taqwa Putri, Kampung Ujung Harapan, Kelurahan Bahagia, Kecamatan Babelan Kabupaten Bekasi, Senin (26/07/21) sore.

Kunjungan Pj. Bupati Dani selain ziarah ke makam, hal ini juga merupakan keinginan pribadi untuk bersilaturahmi dengan keluarga almarhum Kiai Haji Noer Alie yang terkenal dengan dijulukan Singa karawang-Bekasi. Ulama asal bekasi ini memiliki peran penting dalam dunia pendidikan, serta perjuangan melawan penjajahan Belanda dan Jepang di wilayah Bekasi dan Karawang.

“Alhamdulillah hari ini adalah kunjungan pertama saya ke makam almarhum Kiai Haji Noer Alie, beliau merupakan Pahlawan Nasional asal Kabupaten Bekasi,” ujar Dani.

Lebih jauh Dani mengungkapkan, dirinya bakal berupaya meneruskan perjuangan almagfurllah KH Noer Alie dalam memajukan Kabupaten Bekasi, menciptakan generasi yang lebih baik lagi dari generasi sebelumnya.

“Kunjungan ini menambah semangat dan moril saya untuk bisa melanjutkan tugas-tugas beliau dalam memajukan Kabupaten Bekasi, Jawa Barat dan bangsa Indonesia. Karena kami ingin menciptakan generasi yang lebih baik dan lebih berhasil, dengan segala upaya tidak kenal lelah,” ucap Dani.

Dalam kunjungannya, Dani Ramdan berkesempatan bersilaturahmi dengan Keluarga Besar Kiai Haji Noer Ali dan pengurus Perguruan Pondok Pesantren At-Taqwa, Bekasi.

Dirinya memohon doa kepada seluruh warga Kabupaten Bekasi, untuk bisa melanjutkan perjuangan dan cita-cita KH Noer Ali memajukan Kabupaten Bekasi, serta memulihkan kembali kondisi Kabupaten Bekasi saat ini masih dilanda pandemi Covid-19.

Sekedar informasi, sosok Kiai Haji Noer Ali adalah seorang tokoh ulama karismatik, menjadi salah satu pionir perjuangan saat merebut kemerdekaan Indonesia dari tangan penjajah Belanda dan Jepang. Ulama sekaligus pejuang ini memang sudah dikenal oleh kalangan luas masyarakat Bekasi.

Bukan hanya cerdas memimpin pasukan Hizbullah, Ia juga cerdas dalam membangun “kampung surga” bagi masyarakat kampung Ujung Harapan, dulu dikenal dengan ujungmalang dalam segi dakwah dan membangun lembaga pendidikan pesantren Attaqwa, Bekasi. Maka, pada tahun 2006 beliau mendapat gelar Pahlawan Nasonal diberikan pada era Pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudoyono (SBY).

Dari tangan Kiai Haji Noer Alie ini banyak sosok/tokoh berkiprah di dunia politik, pengusaha, pendidik, dan ulama menyebar ke penjuru, baik tingkal lokal maupun nasoinal.Presiden pertama Indonesia Soekarno pernah mengungkapkan bahwa, bangsa yang besar, adalah Bangsa menghormati jasa para pahlawannya. sebab itu kita sebagai generasi penerus bangsa harus bisa meneladani semangat dan nilai kepahlawanan dengan menjadikan pahlawan sebagai panutan.

Kiai Haji Noer Alie adalah seorang ulama yang berasal dari Jawa Barat merupakan pahlawan nasional Indonesia. Tahun 1950, Noer Ali diangkat sebagai Ketua Masyumi Cabang Jatinegara. Beliau lahir di Bekasi, Jawa Barat pada tahun 1914 dan meninggal di Bekasi, Jawa Barat pada tahun 1992. Beliau dikukuhkan menjadi Pahlawan Nasional pada 3 November 2006 melalui Keppres No. 85/TK/2006.

Kiai Haji Noer Alie lahir pada 1914 di Desa Ujung harapan Bahagia, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Ujung harapan Bahagia merupakan nama baru yang diusulkan Menteri Luar Negeri Adam malik ketika berkunjung ke pesantren Attaqwa pada 1970-an. Saat Noer Ali lahir, Ujung harapan Bahagia masih bernama Desa Ujung malang, Onder distrik Babelan, Distrik Bekasi, Regentschap (Kabupaten) Meester Cornelis, Residensi Batavia.

Kiai Haji Noer Alie adalah putera dari Anwar bin Layu dan Maimunah binti Tarbin. Noer Alie anak yang keempat dari sepuluh saudara. Kakaknya bernama H Thoyib, Hh Arfah, dan Hh Ma’anih. Adiknya Hh Marhamah, H Marzuki, KH Muhyidin, Mujtaba, dan Hh Hasanah.

Semangat belajar ditunjukkan Noer Alie sejak masa kanak-kanak. Pada usia di bawah lima tahun Noer Alie mulai menangkap dan mengenal huruf Arab serta menghafal surat-surat pendek dalam Al-Qur’an yang diajarkan orangtua dan kakaknya.

Ketika berusia 7 tahun Noer Alie mengaji pada Guru Maksum di Kampug Ujungmalang Bulak, sedangkan kakak dan adik perempuannya mengaji pada Ustazah Saonah, juga di Kampung Bulak. Noer Alie yang sudah terbiasa diajarkan mengaji oleh orang tua dan kakaknya, tidak merasa kesulitan dalam mencerna pelajaran yang diberikan gurunya.

Pada usia 9 tahun Noer Alie mengaji pada Guru Mughni di Ujung malang. Disini Noer Alie mendapat pelajaran lanjutan dari ilmu dasar yang diberikan Guru Maksum, serta pelajaran alfiah atau tata bahasa Arab, Al-Qur-an, tajwid, nahwu, tauhid, dan fiqih.

Noer Alie termasuk murid yang pandai, cerdas, dan tekun. Semua mata pelajaran dikuasai dengan baik. Noer Alie kecil juga dinilai keluarganya sebagai anak rajin dan berbakti kepada kedua orangtua.

Satu kelebihan Noer Alie sudah tampak sejak kecil yang kelak akan mempengaruhi kepemimpinannya, yaitu jika bermain dia tidak mau tampil di belakang atau sebagai pengiring. Ia selalu ingin tampil di muka sebagai orang yang pertama, memimpin.

Pada tahun 1934, ia menunaikan ibadah haji dan memperdalam ilmu agama di Mekkah dan selama 6 tahun bermukim disana (1934-1940) ia aktif berorganisasi. Setibanya di Tanah Air, Noer Alie membuat gebrakan dengan mendirikan madrasah dan mendirikan pesantren di Ujung malang.

Saat Rapat Ikada digelar pada pada 19 September 1945 di Monas, Noer Alie datang dengan mengendarai delman. Pada bulan November 1945, KH Noer Alie membentuk Laskar Rakyat. Mereka dilatih mental oleh KH Noer Alie dan secara fisik dilatih dasar-dasar kemiliteran oleh Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Bekasi dan Jatinegara, latihan kemiliteran tersebut dilakukan di Teluk Pucung-Bekasi.

KH Noer Alie diminta untuk melakukan perlawanan secara bergerilya di Jawa Barat dengan tidak menggunakan nama TNI. Belanda mengira hal itu dilakukan pasukan TNI di bawah Komandan Lukas Kustaryo yang memang bergerilya disana. Di situlah K.H. Noer Ali digelari “Singa Karawang-Bekasi”.

Ketika perlawanan bersenjata mulai mereda, pada 1949 KH Noer Alie memilih berjuang di lapangan sipil. Ia diminta membantu Muhammad Natsir sebagai anggota delegasi Republik Indonesia Serikat di Indonesia dalam konfrensi Indonesia– Belanda.

Namun jabatan pemerintahan yang seharusnya dimulai pada 15 Januari 1948 tidak berlangsung lama, karena pada 17 Januari 1948 terjadi Perjanjian Renville yang mengharuskan tentara Indonesia di Jawa Barat hijrah ke Jawa Tengah dan Banten. KH Noer Alie memilih hijrah ke Banten dengan membawa 100 orang pasukan dari Kompi Syukur.

Pada 17 Januari 1950, Panitia Amanat Rakyat menghimpun sekitar 25.000 rakyat Bekasi dan Cikarang di Alun – Alun Bekasi. Dan KH Noer Alie bersama Lukas Kustaryo menuntut agar nama kabupaten Jatinegara diubah menjadi Kabupaten Bekasi.

Kiai Haji Noer Alie meninggal di Bekasi, Jawa Barat pada tahun 1992. Beliau dikukuhkan menjadi Pahlawan Nasional pada 3 November 2006 melalui Keppres No. 85/TK/2006.

Kirimkan Press Release berbagai aktivitas kegiatan Brand Anda ke email sekt@suarapemerintah.id

Artikel Terkait

Suara Hari Ini

Ikuti Kami

10,502FansSuka
392PengikutMengikuti
7PengikutMengikuti
2,920PelangganBerlangganan

Terbaru