SuaraPemerintah.ID – Rakernas PDIP pekan lalu kian menonjolkan nama dua kadernya: Ganjar Pranowo dan Puan Maharani. Keduanya makin santer disebut dalam satu tarikan napas dengan figur capres 2024. Sejumlah pemerhati politik meyakini, nada tinggi Megawati saat melarang kadernya bermanuver dan main dua kaki, ditujukan ke Ganjar. Sehingga, oleh beberapa peneliti politik, Puan dianggap tengah berada di atas angin.
Peneliti Drone Emprit, Munib Ansori, mengungkapkan, pendukung fanatik Ganjar di media sosial bergeming. Tidak terdeteksi reaksi negatif berlebihan atas pernyataan keras Megawati soal manuver yang diduga kuat dialamatkan ke Ganjar itu. “Adem ayem,” tegas Munib di Jakarta, Minggu (26/06).
Munib menjelaskan, dalam kalkulasi berdasarkan karakteristik umum netizen, pernyataan Megawati bisa berujung pada dua tipe respons. Pertama, pendukung Ganjar bakal melakukan serangan balik pernyataan Ketua Umum PDIP. Kedua, para pendukung Gubernur Jawa Tengah akan melakukan respons dalam strategi playing victim.
Namun, menurut pantauan data percakapan dan pemberitaan sepanjang 20-26 Juni, kedua dugaan tersebut berujung nihil. Pada sisi sebaliknya, relawan Puan juga tak acuh. Tidak terdeteksi desain narasi yang mengapitalisasi ucapan Mega untuk mendelegitimasi Ganjar. “Pidato Megawati itu tidak berujung pada meruncingnya rivalitas Ganjar versus Puan di media sosial. Pidato itu justru menjadi suntikan popularitas untuk kedua kader tersebut,” urainya.

Dia berpandangan, para simpatisan garis keras Ganjar sebagian adalah eks pendukung Jokowi di dua Pilpres. Itu sebabnya, kesuksesan Jokowi meraih tiket capres di 2014 dan 2019 dari PDIP mereka harap terulang untuk Ganjar. “Sehingga, mereka memilih untuk tidak menyerang PDIP sebagai pemegang golden ticket,” ujarnya.
Sebaliknya, para haters Ganjar yang merupakan pendukung Anies Baswedan, terpantau berupaya memanas-manasi. Peluangnya dapat tiket dari PDIP, oleh sebagian haters-nya, disebut telah ‘dikunci’, bahkan telah ‘mati’. Pernyataan Mega di Rakernas tersebut dianggap menguntungkan Puan dibanding Ganjar.

Kendati demikian, pendukung Puan tidak terpancing dengan agitasi para haters Ganjar. Akun-akun pendukung Puan justru membaur dengan simpatisan Ganjar, dengan membawa narasi kegiatan Ketua DPR.
Pada sisi lain, simpatisan Puan yang tidak turun di medan perang narasi cebong-kampret jilid 2 alias cebong-kadrun, membuat figur ini minim narasi negatif. Berbeda dengan partisan Ganjar yang berkecamuk dalam isu intoleransi dan saling tuding politik identitas dengan para pendukung Anies.
Akibatnya, basis pendukung Ganjar lebih besar, tapi sentimen negatifnya juga tinggi. Sebaliknya, sentimen positif bagi Puan jauh lebih tinggi proporsinya, meski berbasis popularitas yang lebih rendah ketimbang Ganjar.
Sentimen negatif terhadap Puan hanya 7,75 persen terhadap total percakapan dan pemberitaan tentangnya. Berbeda dengan sentimen negatif untuk Ganjar yang mencapai 17,48 persen. Namun, popularitas Puan hanya 26.618 mentions berbanding Ganjar yang mencapai 64,576 mentions selama periode pemantauan.
“Tim komunikasi Ganjar masih punya pekerjaan rumah memperbaiki favorabilitas, sementara tim media Puan punya pekerjaan besar di popularitas,” tandas Munib.


.webp)


















