Selasa, Januari 27, 2026
spot_img

BERITA UNGGULAN

BPOM dan Kemendiktisaintek Perkuat Sinergi Pengawasan Obat dan Makanan

Kepala BPOM Taruna Ikrar bertemu dengan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto di Kantor Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek), Jumat (23/1). Keduanya membahas mengenai sinergi antara BPOM dengan Kemendiktisaintek untuk melindungi kesehatan masyarakat melalui pengawasan obat dan makanan yang efektif dan inovatif.

Pertemuan tersebut juga dihadiri oleh Staf Khusus Mendiktisaintek Muhammad Fajar Shiddieq dan Direktur Kelembagaan Kemendiktisaintek Mukhammad Najib. Sementara, turut hadir dari jajaran BPOM lainnya, yaitu Sekretaris Utama Jayadi.

- Advertisement -

Secara spesifik, titik berat pembahasan yaitu pada penguatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki untuk mengoptimalkan pengawasan obat dan makanan hingga ke seluruh daerah di tanah air. “Hal ini menjadi concern dari Presiden RI, yaitu untuk memastikan akses keamanan obat dan makanan yang merata di daerah-daerah melalui pengawasan yang maksimal,” tutur Taruna Ikrar membuka diskusi.

Taruna Ikrar mengusulkan kolaborasi berbasis konsep Sinergi ABG (Academia-Business-Government). BPOM fokus untuk mengembangkan program studi kedokteran melalui sinergi pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat, khususnya dalam riset obat bahan alam dan pengamanan produk kesehatan. Sinergi tersebut akan mendorong keterlibatan besar dari peran dokter dalam riset obat bahan alam untuk mengoptimalkan potensi kekayaan alam Indonesia.

- Advertisement -

BPOM telah menginisiasi penguatan Sinergi ABG melalui memorandum of agreement antara 37 industri farmasi dari 6 negara dan 20 perguruan tinggi di Indonesia. Sinergi ini digagas untuk mempertemukan para inovator dari kampus dan industri dalam satu momentum kolaboratif yang melibatkan 6 negara (Korea Selatan, India, Singapura, Malaysia, Tiongkok, dan Indonesia).

Pada pertemuan tersebut, Taruna juga mendorong pendirian Politeknik Pengawasan Obat dan Makanan (PoltekPOM) sebagai institusi pendidikan yang menghadirkan program vokasi pada bidang farmasi, pangan, serta pengujian obat dan makanan. PoltekPOM diharapkan dapat menghadirkan lulusan dengan kompetensi teknis di bidang pengawasan obat dan makanan yang siap kerja, terampil, dan ahli selepas masa pendidikannya.

Berkaitan dengan usul pendirian PoltekPOM ini, Mendiktisaintek Brian Yuliarto mengusulkan BPOM untuk bekerja sama dengan kampus lainnya yang sudah lebih dulu aktif menghasilkan SDM berkualitas di bidang kesehatan, misalnya Universitas Indonesia atau Universitas Pertahanan. Skema yang dapat dilakukan adalah dengan mengintegrasikan kompetensi dan kurikulum yang dibutuhkan BPOM untuk dihadirkan ke dalam program studi dan kurikulum kampus tersebut.

Lebih jauh, kedua pimpinan sepakat bahwa melalui konsep integrasi institusi pendidikan dengan BPOM berkontribusi membuka kesempatan kerja yang lebih luas bagi para lulusan di bidang kesehatan. Karena itu, Brian Yuliarto mendorong agar program ini dapat segera dilaksanakan.

“Sambil menunggu [proses pendirian PoltekPOM], bisa jalan dulu dengan kampus yang sudah ada. Jadi, mahasiswa kuliah di kampus tersebut, dengan dosennya mix dari pihak kampus dengan pengajar dari BPOM. Nantinya lulusan dapat bekerja di BPOM. Saya rasa akan jauh lebih efektif seperti itu,” terang Brian.

Untuk menindaklanjuti hasil diskusi hari ini, perlu dilakukan penandatanganan memorandum of understanding (MoU) antara BPOM dengan Kemendiktisaintek tentang sinergi tugas dan fungsi di bidang pengawasan obat dan makanan dengan bidang pendidikan tinggi, ilmu pengetahuan, dan teknologi. Penandatanganan direncanakan untuk dilaksanakan dalam waktu dekat agar pembahasan bentuk konkret kerja sama yang lebih detail dapat segera dilakukan.

Kebutuhan SDM yang kompeten dan profesional di bidang pengawasan obat dan makanan menjadi hal mutlak untuk mendukung peran strategis BPOM yang lebih optimal dan lebih efektif. SDM yang diturunkan tidak hanya memerlukan mereka yang paham teori, tetapi handal dalam melakukan pengawasan di lapangan.

Untuk itu, rencana hasil diskusi hari ini diharapkan dapat segera diwujudkan agar pengembangan SDM pengawasan obat dan makanan dapat dilakukan secara kontinu dan berkesinambungan. Hal ini juga sejalan dengan transformasi pendidikan tinggi yang berorientasi pada dampak nyata bagi masyarakat. Melalui sinergi ini, BPOM optimis dapat mewujudkan generasi muda Indonesia yang sehat, kompeten dan unggul, sebagai fondasi Indonesia Emas Tahun 2045.

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

- Advertisement -

Kirimkan Press Release berbagai aktivitas kegiatan Brand Anda ke email [email protected]

Artikel Terkait

Suara Hari Ini

Ikuti Kami

10,502FansSuka
392PengikutMengikuti
7PengikutMengikuti
2,920PelangganBerlangganan

Terbaru