Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia asal Jawa Timur, Lia Istifhama, menegaskan bahwa persoalan kesehatan mental anak tidak dapat dipersempit hanya pada ruang pendidikan formal. Menurutnya, isu tersebut merupakan persoalan sosial yang menyentuh masa depan bangsa dan menjadi tantangan besar yang harus dihadapi secara kolektif.
Pernyataan tersebut disampaikan Lia menyusul peristiwa tragis yang terjadi di Nusa Tenggara Timur, yang menurutnya menjadi refleksi mendalam bagi banyak pihak. Ia menilai dinamika kehidupan anak-anak Indonesia saat ini semakin kompleks.
Menurut senator yang akrab disapa Ning Lia itu, tekanan sosial, perubahan lingkungan, serta tuntutan akademik dan non-akademik membentuk realitas baru yang membutuhkan perhatian serius dari seluruh elemen bangsa.
Ia memandang bahwa negara tidak boleh berjalan sendiri dalam membangun ketahanan mental generasi muda. Penguatan karakter, lanjutnya, harus ditempatkan sebagai agenda strategis lintas sektor, bukan sekadar program sektoral yang berjalan secara parsial.
“Negara harus memastikan sistemnya hadir, tetapi masyarakat juga perlu membuka ruang empati. Anak-anak kita membutuhkan dukungan yang nyata, bukan sekadar wacana,” ungkapnya dalam keterangan tertulisnya, Jumat (13/2/2026).
Lia menegaskan bahwa yang sedang dihadapi bukan sekadar persoalan individu, melainkan tantangan kolektif dalam mempersiapkan generasi yang mampu bertahan, beradaptasi, serta tetap memiliki harapan di tengah tekanan zaman.
Dalam pandangannya, anak-anak Indonesia perlu tumbuh dalam ekosistem yang sehat secara emosional. Lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat harus menjadi ruang aman yang memberi dukungan, bukan justru menambah beban psikologis.
Ia juga menekankan pentingnya sinergi antar kementerian dan lembaga untuk membangun sistem perlindungan yang menyeluruh. Menurutnya, pendekatan kurikulum saja tidak cukup tanpa diiringi pendampingan psikososial yang berkelanjutan dan terstruktur.
Ning Lia menilai peran keluarga sebagai fondasi utama pembentukan mental yang kuat. Kehadiran orang tua dalam proses tumbuh kembang anak menjadi faktor krusial dalam menciptakan ketahanan diri.
Bagi Lia, membangun generasi yang kuat secara mental merupakan investasi jangka panjang bagi Indonesia. Sekolah, tegasnya, perlu menjadi ruang yang ramah secara psikologis, bukan hanya tempat transfer pengetahuan.
Ia berharap lahir kebijakan yang lebih integratif antara sektor pendidikan, kesehatan, dan sosial, sehingga anak-anak Indonesia memiliki akses terhadap layanan pendampingan mental yang layak, merata, dan berkelanjutan.
Dengan pendekatan yang komprehensif dan kolaboratif, Lia optimistis Indonesia mampu menciptakan generasi muda yang tangguh secara mental dan siap menghadapi tantangan masa depan.
Cek Artikel & Berita Lainnya di Google News


.webp)











