BerandaParlemenBukan Sekadar Beli Alutsista, DPR Ingin Indonesia Bangun Ekosistem Industri Pertahanan dengan...

Bukan Sekadar Beli Alutsista, DPR Ingin Indonesia Bangun Ekosistem Industri Pertahanan dengan Turki

Anggota Komisi I DPR RI Syamsu Rizal mendorong agar kerja sama pertahanan antara Indonesia dan Turki diarahkan untuk memperkuat ekosistem industri pertahanan nasional. Kerja sama tersebut diharapkan tidak hanya berorientasi pada pengadaan alat utama sistem persenjataan (alutsista), tetapi juga menjadi sarana transfer teknologi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta pengembangan riset dan inovasi dalam negeri.

Pandangan tersebut disampaikan menyusul disahkannya dua Rancangan Undang-Undang (RUU) terkait kerja sama internasional di bidang pertahanan dalam Rapat Paripurna DPR RI di Nusantara I, Senayan, Jakarta. Pengesahan tersebut menjadi landasan hukum bagi penguatan kerja sama pertahanan Indonesia dengan  Turki dan Malaysia.

- Advertisement -

Menurutnya, Turki merupakan mitra strategis bagi Indonesia karena memiliki kemajuan pesat di bidang industri pertahanan. Oleh sebab itu, kerja sama kedua negara harus diarahkan untuk memperkuat kemandirian industri pertahanan nasional melalui transfer teknologi, bukan sekadar pembelian alutsista.

“Yang paling utama adalah bagaimana pemerintah kita memastikan bahwa kerja sama kita dengan Turki itu tidak hanya sekadar kita menjadi pasar dari persenjataan, tapi ada komitmen untuk pembelajaran sekaligus juga transfer teknologi,” ujar Syamsu Rizal dikutip dari Parlementaria di Nusantara II, Senayan, Jakarta, Selasa (21/7/2026).

Ia menjelaskan, skema kerja sama yang disiapkan kedua negara telah membuka peluang yang lebih luas dibanding sekadar pembelian alutsista. Indonesia, kata dia, berkesempatan mempelajari proses pengembangan teknologi pertahanan langsung di pusat-pusat riset Turki, termasuk menjajaki produksi bersama sejumlah sistem persenjataan strategis.

Legislator dari Fraksi PKB ini juga menambahkan, penguatan industri pertahanan nasional harus dibangun melalui kolaborasi berbagai pihak. Perguruan tinggi dinilai memiliki peran penting dalam menghasilkan riset dan inovasi, sementara dunia usaha dan industri strategis nasional menjadi penghubung agar hasil riset dapat diimplementasikan menjadi produk pertahanan yang memiliki daya saing.

“Jadi kalau untuk Turki itu memang kerja sama strategisnya di industri pertahanan. Jadi bukan hanya sekadar alutsista, tetapi juga membangun ekosistemnya dengan melibatkan kampus dan universitas yang memiliki irisan dengan industri pertahanan. Bahkan pembangunan technopark seperti di Turki sangat memungkinkan kita lakukan di sini,” jelasnya.

Menurutnya, model kolaborasi tersebut juga dapat memperkuat peran industri strategis nasional yang telah ada, sekaligus membuka ruang bagi perguruan tinggi maupun industri lain untuk mengembangkan berbagai produk pertahanan baru. Pengembangan teknologi seperti drone, kapal ringan, hingga peralatan pendukung operasi kemanusiaan dinilai menjadi peluang yang dapat diwujudkan melalui kerja sama tersebut.

“Dari skema yang diberikan itu juga memang disebutkan banyak hal yang memungkinkan, termasuk untuk belajar ke pusat-pusat pengembangan itu, bahkan kita juga sudah punya rudal yang akan kita kerjasamakan produksi bersama. Tentu ini menjadi salah satu kesempatan kita untuk meng-upgrade juga kemampuan-kemampuan industri pertahanannya kita,” pungkasnya.

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

TERPOPULER PRAHUM

OPINI PRAHUM