Kamis, Maret 5, 2026
spot_img

BERITA UNGGULAN

Menteri PANRB: Ramadan Momentum Perkuat Integritas dan Reformasi Birokrasi

Rini Widyantini menegaskan bahwa Ramadan bukan sekadar bulan ibadah, tetapi juga momentum refleksi untuk memperkuat implementasi reformasi birokrasi. Nilai-nilai spiritual seperti integritas, kedisiplinan, dan empati dinilai menjadi fondasi penting dalam membangun birokrasi yang bersih dan melayani.

Hal tersebut disampaikan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) dalam kegiatan Silaturahmi dan Buka Puasa Bersama Komisi II DPR RI serta Keluarga Besar HMI dan Kahmi se-Provinsi Jawa Timur di Surabaya, Jawa Timur, Jumat (27/2/2026).

- Advertisement -

Menurut Rini, selama ini reformasi birokrasi kerap dimaknai sebatas perbaikan sistem, penguatan tata kelola, peningkatan profesionalisme, serta percepatan pelayanan publik. Namun dalam suasana Ramadan yang sarat introspeksi, reformasi birokrasi perlu dimaknai lebih dalam, tidak hanya dari sisi proses dan hasil.

“Ramadan diibaratkan menjadi sebuah sekolah. Sekolah melatih dan membentuk kesabaran, kedisiplinan, dan empati. Seperti sekolah pula, hasilnya sangat bergantung pada kesungguhan dalam menjalaninya. Nilai-nilai ini yang sesungguhnya menjadi fondasi kehidupan, termasuk dalam menjalankan amanah sebagai aparatur negara,” ujar Menteri Rini.

- Advertisement -

Ia menekankan bahwa keberhasilan reformasi birokrasi sangat ditentukan oleh karakter para pelaksananya. Perubahan sistem tanpa perubahan diri, menurutnya, hanya akan menghasilkan perbaikan yang semu.

Menteri PANRB juga menyoroti pentingnya empati sosial dalam pelayanan publik. Dalam konteks reformasi birokrasi, pelayanan tidak boleh hanya berorientasi pada pemenuhan indikator kinerja, tetapi harus benar-benar memahami kebutuhan masyarakat.

Terdapat beberapa aspek penting agar reformasi birokrasi memberikan dampak nyata, yakni kepemimpinan yang memberi teladan, budaya kerja kolaboratif, serta akuntabilitas.

“Jika direnungkan lebih dalam, keberhasilan reformasi birokrasi itu sangat ditentukan oleh karakter para pelaksananya. Perubahan sistem tanpa perubahan diri hanya akan menghasilkan perbaikan yang semu. Perbaikan diri dan ibadah menjadi hal yang tidak terpisahkan,” lanjutnya.

Menjalankan tata kelola pemerintahan sesuai dengan prinsip meritokrasi, berarti juga sedang menjalankan nilai-nilai yang sejalan dengan ajaran Islam, yakni amanah dan integritas. Kedua nilai harus menjadi fondasi bersama agar pelayanan publik, benar-benar menghadirkan keadilan dan kemudahan bagi masyarakat.

“Ketika kita sedang menjalankan tugas kita dengan penuh tanggung jawab, maka kita juga sedang melaksanakan ibadah, dan menjadikan pahala yang akan terus mengalir sepanjang niat kita bagi kemaslahatan bersama,” ungkap Menteri Rini.

Menurutnya, puasa bukan sekadar ibadah ritual, melainkan momentum untuk membangun integritas, kedisiplinan, dan kejujuran sebagai fondasi utama reformasi birokrasi yang berkelanjutan. Reformasi birokrasi bukan hanya perubahan sistem, melainkan juga meliputi perubahan niat, perubahan sikap, dan perubahan karakter kita sebagai pelayan masyarakat.

Dirinya juga mengajak agar Ramadan kali ini dapat menjadi momentum sebagai titik tolok transformasi. Dimana transformasi ini meliputi transformasi niat (keberkahan), transformasi sikap (melayani), dan transformasi budaya (pelayanan).

“Semoga Ramadan ini membersihkan hati kita, meluruskan niat kita, dan menguatkan komitmen kita untuk menghadirkan birokrasi yang bersih dan melayani,” tutup Rini.

Cek Artikel & Berita Lainnya di Google News

- Advertisement -

Kirimkan Press Release berbagai aktivitas kegiatan Brand Anda ke email [email protected]

Artikel Terkait

Suara Hari Ini

Ikuti Kami

10,502FansSuka
392PengikutMengikuti
7PengikutMengikuti
2,920PelangganBerlangganan

Terbaru