Di sebuah sudut perkampungan di Bali, sekelompok perempuan duduk melingkar dalam Pertemuan Kelompok Mingguan (PKM) PNM Mekaar Kesiman I. Pertemuan itu bukan sekadar agenda membayar angsuran. Di sana, mereka berbagi cerita tentang usaha yang dijalankan, saling menyemangati, sekaligus memperkuat tekad untuk terus bertahan di tengah berbagai tantangan ekonomi.
Yang membuat kelompok ini istimewa adalah kuatnya rasa kebersamaan. Ketika salah seorang anggota belum mampu membayar angsuran karena usahanya sedang lesu atau menghadapi persoalan keluarga, anggota lainnya tidak tinggal diam. Mereka bergotong royong menanggung kewajiban tersebut melalui sistem tanggung renteng. Tidak ada yang dibiarkan menghadapi kesulitan seorang diri.
Solidaritas yang tumbuh dari kelompok-kelompok kecil seperti inilah yang menarik perhatian Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar, saat berdialog langsung dengan para nasabah PNM Mekaar. Menurutnya, komitmen yang ditunjukkan para anggota kelompok menjadi pelajaran berharga tentang bagaimana rasa tanggung jawab mampu menjadi fondasi pemberdayaan masyarakat.
“Saya terharu dialog dengan ibu-ibu yang penuh semangat, berdedikasi, tanggung jawab. Kalau ada yang enggak bayar, ditanggung renteng. Itu bukti ikatan tanggung jawab. Orang kalau diberi tanggung jawab di bawah ya, itu luar biasa komitmennya, yang di bawah ini komitmennya tinggi. Ini harus jadi contoh,” ucap Menko Muhaimin.
Bagi para anggota kelompok, tanggung renteng bukan sekadar mekanisme pembayaran angsuran. Nilai itu tumbuh menjadi budaya saling menjaga agar setiap usaha tetap berjalan. Kepercayaan menjadi modal yang nilainya bahkan lebih besar daripada pinjaman yang mereka terima.
Semangat seperti inilah yang menjadi denyut Program Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera (PNM Mekaar).
Program pembiayaan tanpa agunan yang diperuntukkan bagi perempuan prasejahtera pelaku usaha ultra mikro ini tidak hanya memberikan akses modal, tetapi juga membangun ekosistem pemberdayaan melalui pendampingan, kedisiplinan, dan gotong royong.
Kini jaringan PNM Mekaar telah menjangkau 36 provinsi, 452 kabupaten/kota, dan lebih dari 6.000 kecamatan melalui 4.655 jaringan layanan. Di balik luasnya jangkauan tersebut, terdapat ribuan kisah perempuan yang perlahan mengubah kehidupan keluarganya melalui usaha-usaha sederhana yang mereka jalankan setiap hari.
Namun, kisah pemberdayaan itu tidak hanya lahir dari para nasabah. Di balik setiap kelompok terdapat sosok Account Officer (AO), perempuan-perempuan muda yang menjadi pendamping sekaligus sahabat bagi para ibu pelaku usaha.
Salah satunya adalah Christiani Lamuju, perempuan asal Flores, Nusa Tenggara Timur, yang telah menjadi Account Officer PNM Mekaar di Unit Denpasar Utara selama satu tahun satu bulan. Saat pertama kali bergabung, Christiani hanya mendampingi sekitar 100 nasabah. Kini ia bertanggung jawab membina sekitar 300 nasabah yang tersebar di berbagai kelompok. Semua itu ia jalani melalui proses belajar dari nol.
“Awalnya saya belum punya pengalaman sama sekali. Saya banyak belajar dari teman-teman yang lain, mulai dari yang tidak tahu bagaimana memimpin PKM sampai akhirnya bisa mendampingi dan menangani nasabah dengan baik,” ujarnya.
Christiani mengetahui lowongan pekerjaan tersebut melalui media sosial. Kesempatan itu menjadi titik balik dalam hidupnya. Sebagai lulusan SMA, ia tidak hanya memperoleh pekerjaan, tetapi juga kesempatan untuk berkembang dan membantu perekonomian keluarganya.
“Saya berterima kasih dengan adanya PNM Mekaar ini biarpun saya hanya lulusan SMA, saya bisa bekerja. Selama setahun ini pekerjaan ini sangat membantu saya sekaligus membantu perekonomian keluarga,” katanya.
Di balik pekerjaannya, Christiani juga menghadapi berbagai tantangan. Tidak jarang ia harus pulang lebih larut karena menunggu seluruh anggota kelompok hadir untuk menyelesaikan pembayaran angsuran. Karakter nasabah yang beragam membuat setiap hari menghadirkan cerita dan pembelajaran baru.
Meski demikian, tantangan tersebut justru mempererat hubungannya dengan para nasabah. Ia tidak hanya hadir untuk menagih angsuran, tetapi juga mendengarkan keluh kesah mereka, menyaksikan usaha-usaha kecil berkembang, hingga ikut merasakan kebahagiaan ketika penghasilan keluarga para ibu mulai meningkat.
Kisah Christiani menjadi gambaran bahwa pemberdayaan dalam PNM Mekaar berjalan di dua sisi sekaligus. Di satu sisi, perempuan prasejahtera memperoleh akses modal dan pendampingan untuk mengembangkan usaha. Di sisi lain, perempuan muda lulusan SMA dan SMK mendapatkan kesempatan bekerja, mengembangkan kapasitas diri, serta menjadi agen perubahan di tengah masyarakat.
Data PNM menunjukkan sekitar 95 persen dari 62.184 karyawannya merupakan perempuan, dengan sekitar 90 persen di antaranya lulusan SMA dan SMK. Di tengah tingginya angka pengangguran lulusan sekolah menengah, kesempatan tersebut membuka jalan bagi ribuan perempuan untuk memperoleh pekerjaan yang bermakna sekaligus berkontribusi dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Inilah wajah pemberdayaan yang sesungguhnya, perempuan memberdayakan perempuan.
Perubahan besar ternyata tidak selalu lahir dari kebijakan yang rumit atau investasi bernilai triliunan rupiah. Ia bisa tumbuh dari sebuah pertemuan mingguan di balai sederhana, dari tangan-tangan yang saling menggenggam ketika ada yang kesulitan, dari seorang Account Officer yang mendampingi dengan sabar, hingga dari keyakinan bahwa kesejahteraan akan lebih mudah diraih ketika dijalani bersama.
Melalui model seperti PNM Mekaar, pemberdayaan tidak hanya meningkatkan pendapatan keluarga, tetapi juga membangun kepercayaan, solidaritas, dan kemandirian masyarakat dari akar rumput. Dari kelompok-kelompok kecil yang tersebar hingga pelosok negeri, lahir harapan bahwa pembangunan yang berkelanjutan selalu dimulai dari masyarakat yang saling menguatkan.
Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News






