Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Sumatera Selatan selama 12 hari menyusul melonjaknya jumlah titik panas (hotspot) di berbagai wilayah.
Kepala Subdirektorat Pencegahan Kebakaran Hutan Kemenhut, M Hariyanto, mengatakan operasi berlangsung mulai 19 hingga 30 Juli 2026 dengan posko berada di Pangkalan Udara Sri Mulyono Herlambang, Palembang.
Menurutnya, Sumsel saat ini berada dalam kondisi siaga menghadapi musim kemarau. Ancaman karhutla diperkirakan meningkat seiring fenomena El Nino yang masih aktif dan diprediksi bertahan dengan intensitas kuat hingga akhir 2026.
Berdasarkan data pemantauan nasional, jumlah titik panas sepanjang periode 1 Januari hingga Juli 2026 telah mencapai 1.412 titik. Angka tersebut meningkat tajam sebesar 110,75 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya mencatat 670 titik panas.
“Kondisi ini menjadi perhatian serius karena peningkatan hotspot berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan apabila tidak diantisipasi sejak dini,” katanya, Rabu (22/7/26).
Hariyanto menjelaskan, pelaksanaan OMC merupakan bagian dari perubahan strategi pengendalian karhutla yang kini lebih menitikberatkan pada upaya pencegahan dibandingkan penanggulangan setelah kebakaran terjadi.
Operasi tersebut memanfaatkan awan-awan potensial untuk disemai agar menghasilkan hujan di kawasan rawan terbakar.Sehingga kelembapan di lahan gambut tetap terjaga untuk mencegah kebakaran.
“Lahan diharapkan tetap lembab sehingga vegetasi dan bahan bakar alami tidak mudah terbakar, tinggi muka air tanah (TMAT) di lahan gambut dapat dipertahankan di atas ambang kritis, serta waduk, kanal, embung, dan kolam retensi terisi sebagai cadangan air yang dapat dimanfaatkan dalam operasi pemadaman darat apabila terjadi karhutla,” ujarnya.
Selain menjaga kelembaban lahan, OMC juga bertujuan mengisi kembali sumber-sumber cadangan air yang dapat digunakan saat proses pemadaman apabila kebakaran terjadi.
Hariyanto menjelaskan, keberhasilan operasi ini bergantung pada sinergi berbagai pihak. Pelaksanaan OMC melibatkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Lanud Sri Mulyono Herlambang TNI AU, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), serta pemerintah daerah.
“Selama operasi berlangsung, kita terus mengoptimasi dan memantau dampak untuk memastikan target semai sesuai pada zona-zona kubah gambut yang rawan,” jelasnya.
Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News






