Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kendal bersama PT PLN (Persero) dan Kementerian Kehutanan melakukan rehabilitasi Daerah Aliran Sungai (DAS) Sungai Bodri melalui penanaman sekitar 260 pohon di sejumlah wilayah Kabupaten Kendal, Senin (7/9/2026).
Program rehabilitasi dilakukan pada kawasan seluas 652 hektare yang tersebar di tiga titik lokasi. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga fungsi ekologi, memperkuat tata kelola air, sekaligus mengurangi risiko bencana alam di sekitar DAS Sungai Bodri.
Bupati Kendal Dyah Kartika Permanasari mengatakan rehabilitasi DAS memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan sekaligus mempertahankan ketersediaan sumber daya air bagi masyarakat.
“Tentunya lewat kegiatan penanaman pohon dan rehabilitasi DAS Sungai Bodri ini diharapkan bisa menjaga fungsi ekologi, fungsi tata kelola air, hingga mengurangi risiko bencana alam,” jelasnya.
Program rehabilitasi mencakup sejumlah kawasan di Kabupaten Kendal, di antaranya wilayah Desa Wonosari, Kecamatan Pegandon, serta kawasan Kaliputih dan Sukodadi di Kecamatan Singorojo.
Berbagai jenis tanaman kayu dan buah ditanam untuk mendukung pemulihan kawasan DAS. Tanaman kayu yang dipilih antara lain sengon dan jambon, sedangkan tanaman buah meliputi kemiri, durian, mangga, nangka hingga jengkol.
Khusus di Desa Wonosari, luas lahan yang ditanami berbagai jenis pohon dan tanaman tumpang sari mencapai sekitar 214 hektare.
Proses penanaman di lokasi yang telah ditentukan ditargetkan selesai dalam waktu tiga bulan. Setelah itu, program dilanjutkan dengan perawatan tanaman secara berkala hingga beberapa tahun ke depan.
Pemkab Kendal berharap masyarakat ikut terlibat menjaga tanaman yang telah ditanam sehingga program rehabilitasi tidak berhenti pada kegiatan penanaman semata.
Keterlibatan masyarakat dinilai penting untuk memastikan kawasan DAS Sungai Bodri tetap lestari dan manfaatnya dapat dirasakan hingga generasi mendatang.
Dyah menekankan pentingnya keberlanjutan program setelah tahap penanaman selesai. Masyarakat sekitar diharapkan ikut merawat sekaligus menjaga lingkungan di kawasan DAS Sungai Bodri.
Rehabilitasi kawasan DAS tidak hanya ditujukan untuk menambah tutupan vegetasi, tetapi juga membantu memperbaiki tata kelola air dan mengurangi potensi dampak bencana.
Dalam jangka panjang, keberadaan tanaman diharapkan mampu meningkatkan kemampuan kawasan dalam menyimpan air sehingga dapat memberikan manfaat bagi masyarakat, termasuk ketika menghadapi musim kemarau.
Manajer K3 Lingkungan dan Keamanan PT PLN (Persero) Unit Induk Transmisi Jawa Bagian Tengah Yeni B. Arianto mengatakan program rehabilitasi DAS juga diharapkan memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar.
“Satu hal yang penting dari kegiatan penanaman ini yaitu kami berharap bisa memberikan dampak ekonomi kepada masyarakat sekitar Desa Wonosari,” tuturnya.
Tanaman yang telah ditanam akan mendapatkan perawatan secara berkala mulai 2026 hingga awal 2030.
Setelah proses tersebut selesai, PLN akan berkoordinasi dengan Kementerian Kehutanan untuk melakukan penilaian hingga proses serah terima.
Tidak hanya itu, hasil tanaman pohon dan buah yang dikembangkan dalam program tersebut juga diarahkan agar dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.
PLN berencana berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) provinsi serta offtaker untuk membantu penyaluran hasil tanaman buah yang dirawat masyarakat.
“Nanti pihak kami juga akan berkoordinasi dengan DLH provinsi dan offtaker untuk bekerja sama dalam penyaluran hasil buah-buahan yang ditanam dan dirawat oleh masyarakat. Tujuannya agar masyarakat tidak kesulitan lagi untuk bisa menyalurkan atau menjual hasil tanaman buah-buahan yang sudah ditanam,” terang Yeni.
Kepala BPDAS Pemali Jratun Aris Setia Utomo mengatakan perawatan tanaman akan dilakukan bersama PLN dan masyarakat selama sekitar tiga hingga empat tahun.
Perawatan jangka panjang menjadi faktor penting agar tanaman dapat tumbuh optimal sekaligus memberikan manfaat ekologis dan ekonomi.
“Kami bersama PLN dan masyarakat akan merawat tanaman di sini selama 3-4 tahun. Nantinya, masyarakat bisa merasakan dampak positif secara langsung seperti air semakin melimpah di musim kemarau. Lalu, tanaman pohon dan buah-buahan dapat dimanfaatkan nanti di tahun ketiga dan keempat,” tandasnya.
Kolaborasi Pemkab Kendal, PLN, Kementerian Kehutanan, BPDAS Pemali Jratun dan masyarakat tersebut diharapkan menjadikan rehabilitasi DAS Sungai Bodri sebagai program yang tidak hanya memperbaiki kualitas lingkungan.
Dalam jangka panjang, rehabilitasi juga diharapkan memperkuat ketahanan sumber daya air, mengurangi risiko bencana, serta menciptakan nilai ekonomi dari hasil tanaman yang dapat dimanfaatkan masyarakat sekitar.
Cek Artikel & Berita Lainnya di Google News






