Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM) A. Muhaimin Iskandar mendorong penguatan ekosistem pemberdayaan usaha agar pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) mampu bertahan menghadapi tekanan ekonomi sekaligus berkembang dan naik kelas.
“Setiap usaha punya kesempatan untuk tumbuh, bukan hanya dalam mode survive,” ujar Menko Muhaimin saat menghadiri Perintis Berdaya Connect (PBC) di Bandung Creative Hub, Kota Bandung pada Selasa (20/10/2026).
Menurutnya, persaingan harga yang semakin ketat dapat menekan keuntungan pelaku usaha apabila tidak diimbangi peningkatan kualitas, inovasi, dan kemampuan beradaptasi.
Karena itu, UMKM perlu mendapatkan dukungan yang tidak berhenti pada pemberian modal, tetapi juga pendampingan agar produknya semakin kompetitif dan memiliki akses pasar yang lebih luas.
Menko Muhaimin menjelaskan, pendekatan pemberdayaan tersebut sejalan dengan Program Kesejahteraan Rakyat (Pro-Kesra) Produktif yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto. Program ini diarahkan untuk mendorong lahirnya pelaku usaha baru melalui ekosistem yang terstruktur, dengan target 10 juta orang berusaha hingga 2029.
Salah satu upaya yang dikembangkan adalah Perintis Berdaya Connect di Bandung Creative Hub. Program ini memanfaatkan fasilitas publik sebagai simpul layanan terpadu yang menghubungkan pelaku usaha dengan pelatihan dan pendampingan, akses pasar dan teknologi, penguatan legalitas, serta pembiayaan inklusif.
“Kota Bandung memiliki Creative Hub, memiliki UMKM Hub, memiliki sumber-sumber yang mampu dikoneksikan menjadi satu kekuatan kolaborasi,” kata Menko Muhaimin.
Berdasarkan data program, Perintis Berdaya Connect telah melayani 2.777 pelaku UMKM, ekonomi kreatif, dan koperasi sejak 2025 hingga September 2026. Capaian ini menunjukkan potensi layanan terpadu dalam membantu pelaku usaha mengakses berbagai dukungan yang dibutuhkan untuk mengembangkan usahanya.
Ekosistem pemberdayaan tersebut juga diperluas melalui kolaborasi lintas kementerian. Salah satunya melalui program LAKSMI dari Kementerian UMKM, yang menyediakan pendampingan usaha dan bantuan Rp5 juta per keluarga bagi masyarakat miskin yang telah graduasi dari program bantuan sosial Kemensos.
Menko Muhaimin menilai, kolaborasi semacam ini merupakan bentuk pemberdayaan yang mendorong masyarakat beralih dari ketergantungan pada bantuan menuju kemandirian ekonomi melalui kewirausahaan.
Selain pendampingan usaha, penguatan ekosistem juga membutuhkan keterlibatan inkubator bisnis, investor, dan lembaga pembiayaan. Melalui kolaborasi tersebut, pelaku UMKM diharapkan tidak hanya memperoleh dukungan pada tahap awal, tetapi juga memiliki kesempatan memperluas usaha dan meningkatkan kapasitas produksinya.
Berbagai praktik tersebut menunjukkan bahwa pemberdayaan dapat berjalan melalui beragam model, mulai dari peningkatan kapasitas usaha, pengolahan produk lokal, hingga penciptaan kesempatan ekonomi yang lebih inklusif.
Kemenko PM mendorong agar praktik baik di Bandung dapat dikembangkan dan direplikasi di daerah lain melalui sinergi pemerintah, dunia usaha, akademisi, media, dan masyarakat.
Dengan ekosistem yang terhubung dan berkelanjutan, semakin banyak pelaku usaha diharapkan mampu meningkatkan daya saing, memperluas pasar, menciptakan lapangan kerja, dan menjadi penggerak kesejahteraan masyarakat.
Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News






