Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bersama Kementerian Kehutanan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dan TNI mengintensifkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk mengendalikan dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatra Selatan. Sejak 16 Oktober 2026, OMC menggunakan dry ice atau es kering untuk membantu mengurai kabut asap yang terperangkap di lapisan inversi atmosfer sekaligus membuka peluang terbentuknya awan hujan.
Direktur Operasional Modifikasi Cuaca BMKG, Budi Harsoyo, menjelaskan bahwa penggunaan dry ice dalam OMC untuk mengurai kabut asap ini menjadi yang pertama kali diterapkan di Indonesia. Teknologi tersebut bertujuan mengganggu lapisan inversi yang menahan asap di dekat permukaan, sehingga asap berpeluang terdispersi ke lapisan atmosfer yang lebih tinggi.
“Melalui penyemaian dry ice, kami berupaya mengurai lapisan inversi agar asap yang terperangkap dapat terdispersi. Ketika lapisan ini melemah, radiasi matahari diharapkan dapat menembus atmosfer dengan lebih baik sehingga mendukung proses konveksi dan pembentukan awan hujan dan diharapkan membantu memperbaikikualitas udara serta jarak pandang,” kata Budi, Jumat (23/10).
Hingga 22 Oktober 2026, petugas telah melaksanakan 18 sorti penyemaian, terdiri atas 14 sorti menggunakan dry ice dan empat sorti menggunakan natrium klorida (NaCl). Tim memusatkan penyemaian dry ice di sekitar Palembang untuk membantu mengurai lapisan inversi. Sementara itu, tim menggunakan NaCl untuk menyemai awan potensial hujan berdasarkan hasil pemantauan kondisi atmosfer dan radar cuaca.
Budi menyampaikan bahwa hujan ringan sempat terpantau di sekitar Jalan Tol Palembang–Indralaya (Palindra) pada 17 Oktober 2026. Untuk mendukung pelaksanaan operasi, TNI Angkatan Udara mengerahkan pesawat Cassa dengan nomor registrasi A-2117. Sejak 21 Oktober 2026, armada bertambah dengan satu pesawat Cassa bernomor registrasi A-2104.
BNPB turut mendukung operasi dengan mengerahkan dua pesawat Cessna Caravan, yakni PK-IKC yang beroperasi dari Posko Lanud Sri Mulyono Herlambang, Palembang, dan PK-SNP yang ditempatkan di Posko Radin Inten, Lampung. Pada 22 Oktober 2026, satu pesawat Hercules bernomor registrasi A-1319 juga mulai beroperasi. Dengan tambahan tersebut, lima pesawat mendukung pelaksanaan OMC secara bergantian sejak pagi hingga sore hari.
Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Kementerian Kehutanan Wilayah Sumatra, Ferdinan Kristanto, mengatakan bahwa penggunaan dry ice menjadi salah satu upaya penanganan karhutla di Sumatra Selatan, terutama ketika kabut asap mengganggu jarak pandang secara signifikan.
“Berdasarkan pengamatan pada 15 Oktober 2026, jarak pandang di sekitar Palembang sempat turun hingga 50 meter. Kondisi ini mendorong kami mengupayakan penggunaan dry ice untuk membantu mengurai kabut asap yang terperangkap di atmosfer,” ujar Ferdinan pada Jumat (17/10) lalu.
Ferdinan menjelaskan bahwa OMC menggunakan dry ice awalanya direncanakan berlangsung selama 10 hari, mulai 16 hingga 25 Oktober 2026. Namun demikian, OMC di Sumsel akan diperpanjang hingga 5 November mendatang.
Pelaksanaan operasi ini melibatkan koordinasi lintas sektor untuk menyesuaikan strategi penyemaian dengan perkembangan kondisi atmosfer dan kebutuhan penanganan karhutla.
BMKG terus mengembangkan inovasi teknologi modifikasi cuaca melalui pemantauan atmosfer dan evaluasi pelaksanaan operasi. Kolaborasi bersama Kementerian Kehutanan, BNPB, TNI, serta pemangku kepentingan lainnya diharapkan dapat mendukung upaya pengendalian dampak karhutla dan memperkuat kesiapsiagaan menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan pada masa mendatang.
BMKG mengingatkan bahwa efektivitas modifikasi cuaca bergantung pada kondisi atmosfer, ketersediaan awan potensial, dan dinamika cuaca setempat. Karena itu, pelaksanaan operasi tetap mengutamakan hasil pemantauan dan analisis meteorologi sebagai dasar penentuan strategi penyemaian.
Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News






