Beranda blog Halaman 4797

Kolaboratif, Penceramah Bersertifikat Libatkan Ormas dan Lintas K/L

Kolaboratif, Penceramah Bersertifikat Libatkan Ormas dan Lintas K/L

Suarapemerintah.idMenteri Agama Fachrul Razi menyampaikan bahwa Kementerian Agama segera menggulirkan program penceramah bersertifikat. Target awal, program ini bisa diikuti 8.200 penceramah.

Dirjen Bimas Islam Kamaruddin Amin mengatakan bahwa pelaksanaan program ini akan dilakukan secara kolaboratif. Kementerian Agama berperan sebagai koordinator dan fasilitator.

“Program penceramah bersertifikat akan melibatkan banyak pihak, termasuk Lemhanas, BPIP, dan BNPT,” tegas Kamaruddin di Jakarta, Kamis (03/09).

“Program ini juga akan melibatkan  MUI dan ormas Islam lainnya,” lanjutnya.

Kamaruddin menambahkan bahwa pemilihan narasumber program ini juga akan melibatkan ormas. “Inti program ini adalah penguatan wawasan kebangsaan dan pengarusutamaan pemahaman keagamaan rahmatan lil alamin,” tandasnya.

Kemenag Latih Dosen PTKI Pengabdian Masyarakat Berbasis PAR dan ABCD

Kemenag Latih Dosen PTKI Pengabdian Masyarakat Berbasis PAR dan ABCD

Suarapemerintah.id – Ditjen Pendidikan Islam Kemenag akan melatih (shortcourse) dosen Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) terkait pengabdian masyarakat berbasis PAR (Participatory Action Research) dan ABCD (Asset-Based Community Development).

Pelatihan akan digelar bertahap, mulai 7 September 2020. Karena pandemi, shortcourse akan dilaksanakan secara daring atau dalam jaringan.

Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam, M Arskal Salim, menyatakan bahwa shortcourse dimaksudkan menghasilkan dosen PTKI yang memiliki penguasaan di bidang metodologi PAR dan  ABCD. Pelatihan ini juga sekaligus mendorong adanya duta metodologi pengabdian kepada masyarakat di lingkungan PTKI.

“Metode PAR dan ABCD merupakan trend tersendiri di lingkungan PTKI, agar dapat menghasilkan karya pengabdian yang lebih maksimal,” ungkap Arskal di Jakarta, Kamis (03/09).

Menurutnya, saat ini sudah terbit Keputusan Ditjen Pendidikan Islam Nomor 3091 Tahun 2020 tentang Paradigma Pengabdian Kepada Masyarakat. “Keputusan ini penting untuk ditindaklanjuti PTKI untuk memperkuat pengetahuan metodologis pengabdian masyarakat,” ungkapnya.

“Bahkan, perlu diwacanakan agar PTKI membuat mata kuliah baru tentang metodologi pengabdian masyarakat. Sebab, pengabdian masyarakat merupakan kewajiban dan sekaligus rutinitas bagi sivitas akademika PTKI,” lanjutnya.

Menurut Arskal, kegiatan pengabdian PTKI, baik oleh dosen maupun mahasiswa, mendapat apresiasi dari masyarakat. Sebab, manfaat program pengabdian tersebut dirasakan mereka, bahkan meski programnya sudah selesai.

“Bukti nyata dan manfaat yang dirasakan langsung oleh masyarakat merupakan bagian dari identitas pengabdian masyarakat PTKI,” ungkap guru besar UIN Jakarta ini.

Kasubdit Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Diktis, Suwendi, menambahkan bahwa shortcourse ini merupakan ikhtiar memperkuat kapasitas dosen PTKI bidang pengabdian masyarakat. Program ini direspon positif oleh dosen PTKI. Terbukti, jumlah pendaftar sangat banyak, mencapai 790 peserta.

Shortcourse gelombang pertama akan diikuti 100 peserta terpilih pada 7 September 2020. Untuk gelombang kedua, pelatihan akan dilaksanakan pada Oktober 2020.

Menag: STAKPN Sentani Harus Terdepan Rawat Kerukunan Papua

Menag: STAKPN Sentani Harus Terdepan Rawat Kerukunan Papua

Suarapemerintah.id – Menteri Agama Fachrul Razi minta mahasiswa dan segenap civitas akademika Sekolah Tinggi Agama Kristen Protestan Negeri (STAKPN) Sentani, Papua harus menjadi yang terdepan dalam merawat kerukunan dan Moderasi Bergama di tanah Papua.

Harapan ini disampaikan Menag saat mengisi kuliah umum di Kampus STAKPN Sentani sekaligus sosialisasi program Kemenag Kita Cinta Papua.

“Mari kita bangun kerukunan. Karena kerukunan menjadi kunci kedamaian. Segenap keluarga besar STAKPN Sentani harus menjadi garda terdepan menjaga kerukunan di tanah Papua,” kata Menag yang datang ke Kampus STAKPN Sentani mengenakan topi adat khas Papua, Kamis (03/09).

Menurut Menag, Papua harus rukun damai. Apalagi orang Papua itu dikenal dengan tulus, damai, santun, jujur dan lembut hati.

“Papua tanah impian semua orang. Kami datang dengan sebuah tujuan dimana Kementerian Agama ingin memajukan pendidikan dan kegamaan di Papua lewat program Kita Cinta Papua serta memberikan pembinaan pendidikan dan keagamaan,” ujar Menag.

“Di sini (STAKPN) kami berikan beasiswa kepada 50 anak anak asli Papua. Kami punya program minimal anak-anak Papua mengenyam pendidikan S1 dan bila mereka memenuhi syarat kami akan lanjutkan lewat program S2 hingga program 5000 doktor,” sambung Menag.

Program ini lanjut Menag bersinergi dengan harmoni kerukunan antar umat beragama yakni membangun jembatan kesetiakawanan Aceh – Papua.

“Kami harapkan suatu waktu ada yang menyingung martabat orang Papua maka yang pertama berteriak adalah orang Aceh begitu juga sebaliknya. Dan kami juga menyambung program ini dengan jembatan kerukunan dan kesetiakawanan Maluku – Papua,” tandas Menag.

Menag menambahkan kerukunan adalah aspek yang sangat penting dalam membangun bangsa terutama kerukunan antar umat bergama. Kemenag dijelaskan Menag memiliki program strategis yang sudah masuk RPJMN 2020-2024 yakni Moderasi Beragama.

” Yang dimoderat itu bukan bukan agama. Kalau Agama sudah moderat tapi yang kita moderatkan adalah cara kita beragama yakni saling menghargai dengan pemeluk berbeda agama. Kita harus selalu berpikir jalan tengah, tidak radikal dan tidak menganggap orang yang berbeda agama adalah musuh atau tidak sahabat,” tegas Menag.

Dukung Alih Status STAKPN jadi Institut

Dalam kesempatan tersebut Menag menyatakan dukungannya terkait alih status STAKPN Sentani menjadi Institut.

“Saya setuju STAKPN beralih status menjadi IAKPN Sentani tentunya dengan menjawab tantangan kedepan tanpa mengurangi standar kualitas. Misalnya ada penambahan guru besar, peningkatan sarana dan prasarana serta kualitas pendidikan,” kata Menag.

“Saya yakin sebentar lagi STAKPN Sentani beralih status menjadi Institut,” sambung Menag disambut aplaus ratusan mahasiswa dan civitas akademika STAKPN Sentani.

Sementara itu Ketua STAKPN Sentani Fredrik Warwer menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Menag Fachrul Razi atas perhatian besar yang diberikan Kemenag kepada keluarga besar STAKPN Sentani.

“Percepatan pembangunan di bidang pendidikan keagamaan melalui Program KCP ini sangat luar biasa bagi kami. Harapan kami STAKPN Sentani segera beralih status menjadi Institut dan kami siap untuk bersinar di bumi Cendrawasih,” harapnya.

Kemenag: Pesantren Penerima Bantuan Harus Punya NSPP

Kemenag: Pesantren Penerima Bantuan Harus Punya NSPP

Suarapemerintah.idKementerian Agama secara bertahap sedang menyalurkan bantuan untuk lebih 21ribu pesantren di masa pandemi. Tahap pertama sudah mulai cair untuk 9.511 pesantren.

Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) Kemenag Waryono mengatakan bahwa penerima bantuan ini adalah pesantren yang memiliki Nomor Statistik Pondok Pesantren (NSPP). “Penerapan syarat NSPP bertujuan memperbaiki tata kelola yang memang selama ini lepas kendali. Saat dibuatkan sistem, semakin terdeteksi  pesantren yang terdata dan atau tidak terdata,” ujar Waryono di Jakarta, Jumat (04/09).

Terkait info adanya sejumlah pesantren yang belum terdaftar sebagai penerima bantuan, Waryono mengaku belum mendapatkan datanya. Sekira ada, pihaknya akan menelaah data tersebut terkait dengan kepemilikan NSPP nya.

Waryono mengimbau pesantren yang belum masuk daftar penerima bantuan untuk memastikan apakah sudah memiliki NSPP atau belum. Bagi yang sudah habis masa berlakunya (lima tahun dihitung sejak keluarnya izin operasional yang pertama), segera didaftarkan ke link ini: http://ditpdpontren.kemenag.go.id/ijoppesantren.

“Pendataan pesantren oleh EMIS melalui IZOP online ini sudah dilakukan sejak 2018,” tegasnya.

Terlalu Kecil, Gaji Guru Honorer Kemenag Akan Ditinjau Ulang

Terlalu Kecil, Gaji Guru Honorer Kemenag Akan Ditinjau Ulang

Suarapemerintah.id – Kesejahteraan guru honorer Kementerian Agama (Kemenag) sampai saat ini masih jauh di bawah harapan.

Dirjen Pendidikan Islam Kemenag,  Ali Rhamdani mengatakan, nasib guru agama dan guru madrasah non PNS di Kemenag masih menjadi masalah yang tak mudah dipecahkan.

“Banyaknya guru honorer yang belum disertifikasi tidak sebanding dengan kuota pengangkatan per tahun. Bila tidak ada lompatan, akan banyak guru-guru yang tak pernah merasakan sertifikasi sampai pensiun,” katanya pada saat acara Evaluasi Pelaksanaan Program Profesi Guru dan Tenaga Pendidikan di Hotel Aston, Semarang, Kamis (03/09).

Guru honorer mendapat beban tugas yang sama dengan guru PNS. Mereka mengajar dengan jumlah jam yang sama tingginya, namun kesejahteraannya jauh di bawah PNS. Sampai saat ini, guru honorer non sertifikasi dan non penyesuaian (inpassing) hanya mendapat gaji dari pemerintah sebesar Rp250 ribu per bulan dan sedikit tambahan insentif dari dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).

Hal itu masih dirasakan tidak adil bagi guru-guru honorer. Angka ini, kata Dirjen Pendis, memang sifatnya sebagai pendukung saja, bukan tarif dasar. Namun harus diakui itu masih jauh di bawah garis kebutuhan hidup saat ini.

Dirjen Pendis mengatakan, ke depan pihaknya akan melihat lagi permasalahan ini untuk dicarikan solusi yang terbaik. Penghargaan kepada guru itu penting sebagai cara pemerintah menghargai karya bhakti anak bangsa. “Memang salah satu tujuan acara evaluasi adalah mencari titik kekurangan untuk diperbaiki. Keluhan-keluhan guru akan kita tangkap betul dan kami respek terhadap persoalan ini,” katanya.

Pada kesempatan yang sama, Staff Ahli Menteri Agama Kevin Haikal mengungkapkan, pada masa pandemi ini kesulitan guru menjadi meningkat. Tentang pembelajaran jarak jauh, ia melihat banyak kendala di lapangan.

“Ada yang melapor ke saya, sebagian guru di desa-desa ada yang harus berkeliling ke rumah-rumah sebagian siswanya karena sekeluarga tidak ada yang memiliki ponsel,” katanya.

Dengan cara jemput bola seperti itu, pastinya energinya akan sangat besar dan biayanya pasti akan meningkat. Ia ingin memastikan, negara hadir pada saat seperti itu.

“Tunjangan profesi guru sebenarnya salah satu bentuk kehadiran negara walaupun jumlahnya belum sesuai harapan,” katanya.

Saat ini kuota sertifikasi setiap tahun adalah 10 ribu orang. Bila saat ini terdapat 400 ribu guru honorer yang belum sertifikasi, maka diperlukan waktu 40 tahun mengentaskan mereka semua. Itupun jumlahnya segera bertambah lagi.

Terdapat tiga kategori tunjangan guru bukan PNS. Pertama, guru Non PNS yang sudah sertifikasi dan juga sudah inpassing (penyesuaian). Mereka mendapat hak tunjangannya sebagaimana guru PNS.

Kedua, guru Non PNS yang belum sertifikasi tetapi sudah inpassing. Mereka mendapat tunjangan sebesar Rp 1,5 juta per bulan dan honor kelebihan jam mengajar. Ketiga, guru yang belum sertifikasi dan belum inpassing. Mereka mendapat insentif sebesar Rp 250.000 per bulan, dan honor tenaga mengajar yang bersumber dari dana BOS.

Kemenko Marves Tinjau Sarana dan Prasarana Pelabuhan Perikanan di Sulsel

Kemenko Marves Tinjau Sarana dan Prasarana Pelabuhan Perikanan di Sulsel

Suarapemerintah.id – Sulsel, Asisten Deputi (Asdep) Peningkatan Daya Saing Kemenko Marves Dedy Miharja melakukan kunjungan ke beberapa pelabuhan perikanan di Sulawesi Selatan (Sulsel) pada Agustus 2020. Peninjauan ini dilaksanakan dalam rangka monitoring dan evaluasi sarana dan prasarana pelabuhan perikanan di Provinsi Sulsel.

Adapun kunjungan tersebut yakni Kantor Pelindo IV Makassar, kunjungan ke PP Bontobahari – Kabupaten Bulukumba, PPI Kajang – Kabupaten Bulukumba dan PPI Lappa – Kabupaten Sinjai, kunjungan ke PPI Lonrae – Kabupaten Bone dan PP Bontobahari – Kabupaten Maros serta kunjungan ke PT Industri Kapal Indonesia (Persero).

“Dalam kunjungan tersebut diketahui bahwa adanya pengaturan jalur angkutan laut untuk menjadikan Makassar New Port (MNP) sebagai hub transhipment di Kawasan Timur Indonesia (KTI) pada saat ini di MNP telah tersedia fasilitas untuk pengisian daya listrik bagi refer container sebanyak 390 unit,” kata Asdep Dedy, Kamis (03/09).

Selain itu, papar Asdep Dedy, terdapat juga pelabuhan perikanan di Untia namun belum sepenuhnya dimanfaatkan oleh para nelayan dan diharapkan pengoperasian Pelabuhan Perikanan Untia secara penuh sehingga nelayan tidak lagi menggunakan PP Paotere. Kemudian adanya kelembagaan dan kelas Pelabuhan Perikanan sehingga Anggaran dan SDM operasional PP Untia belum memadai, dan diharapkan penetapan status/kelembagaan pelabuhan sudah dalam proses dan diharapkan tahun 2020 sudah ada penetapan kelas pelabuhan sehingga dapat dilakukan penambahan SDM dan Anggaran.

“Kemudian ditemukannya coldstorage dengan kondisi rusak/tidak berfungsi seperti yang ada di PP Bontobahari – Kabupaten Bulukumba, PPI Kajang – Kabupaten Bulukumba, kemudian terjadi pendangkalan di area PPI Lonrae – Kabupaten Bone sehingga diperlukan penguatan alur pelayaran dengan dimensi 400 x 50 m serta terjadi pendangakalan dan kondisi pabrik es rusak,” ujarnya.

“Terdapat juga 11 kapal berpendingin di PT Industri Kapal Indonesia (Persero) namun hanya ada 4 (masing-masing 512 GT) yang dapat diperbaiki sedangkan 7 kapal lainnya dalam kondisi rusak berat, sehingga dapat dimanfaatkan oleh Perindo, Perinus, dan Pemerintah Daerah di Indonesia Timur setelah adanya serah terima. Dan terakhir adanya Kendala umum yang ditemui dilapangan adalah nelayan yang memiliki kapal >30 GT kesulitan dalam mengurus perizinan yang harus dilakukan di Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Sulsel,” paparnya.

Maka dari itu, lanjut Asdep Dedy, menindaklanjuti hasil kunjungan tersebut, Kemenko Marves berencana untuk mengambil beberapa kebijakan antara lain Rapat Koordinasi terkait kapal berpendingin yang berada di PT Industri Kapal Indonesia (IKI) dan melakukan koordinasi lebih lanjut terkait kondisi sarana/prasarana di pelabuhan perikanan yang ditemui selama kunjungan lapangan.

Kegiatan peninjauan ini akan terus dilakukan oleh Kemenko Marves yang sesuai dengan tupoksinya adalah untuk melakukan koordinasi, sinkronisasi dan pengendalian antar kementrian dan lembaga terkait yang berhubungan dengan kelautan dan perikanan sehingga upaya peningkatan daya saing produk kelautan dan perikanan dapat dicapai secara optimal

Sebanyak 87,18% Anggaran Ditjen Migas Manfaatnya Dirasakan Langsung Oleh Rakyat

Sebanyak 87,18% Anggaran Ditjen Migas Manfaatnya Dirasakan Langsung Oleh Rakyat

Suarapemerintah.id – Plt. Direktur Jenderal Minyak Dan Gas Bumi (Ditjen Migas) Ego Syahrial menyampaikan, sekitar 87,18% anggaran Ditjen Migas pada tahun anggaran 2021 akan dialokasikan untuk kegiatan yang keuntungannya dirasakan langsung oleh masyarakat. Kegiatan yang menyentuh kepentingan masyarakat tersebut antara lain, Jaringan Gas Kota dan pemberian converter kit untuk petani dan nelayan.

“Pagu Ditjen Migas di TA 2021 adalah sebesar Rp1.995,4 Miliar, sebagian besar dari pagu tersebut akan digunakan untuk belanja publik fisik yang langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat sebanyak 87,18%,” ujar Ego Syahrial dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VII DPR RI, Kamis (3/9).

Ego menjelaskan, Belanja Publik Fisik yang sebesar 87,18% atau sebesar Rp1.739,57 miliar tersebut akan digunakan untuk pembangunan jaringan gas, Konversi BBM ke Bahan Bakar Gas untuk nelayan dan petani, serta Studi Pendahuluan Pembangunan Jargas.

Secara terperinci, Kegiatan Infrastruktur (Belanja Publik Fisik) Ditjen Migas di TA 2021 yang menyentuh kepentingan langsung kepada masyarakat tersebut yaitu, untuk Jaringan gas untuk rumah tangga sebanyak 120.776 SR di 21 lokasi dengan jumlah anggaran Rp 1.229,49 miliar, pembagian converter kit Konversi untuk nelayan sebanyak 25.000 unit di 22 provinsi dengan jumlah anggaran Rp247, 5 miliar dan untuk petani sebanyak 25.000 unit di 14 provinsi dengan jumlah anggaran Rp206,25 miliar.

Ditjen Minyak Dan Gas Bumi juga mengalokasikan anggaran untuk Studi Pendahuluan Pembangunan Jargas dengan Skema KPBU di 10 lokasi dengan anggaran Rp8 miliar dan Layanan Perencanaan dan Pembangunan Infrastruktur dengan anggaran Rp48,34 miliar. (SF)

Seleksi CPNS Kementerian ESDM: Protokol Ketat di Tengah Pandemi, Serentak Hari Ini di 4 Kota

Suarapemerintah.id – Pelaksanaan tes Seleksi Kompetensi Bidang (SKB) CPNS formasi tahun 2019 kembali berlangsung pagi ini. Salah satunya di Gedung Kantor Regional 1 BKN Yogyakarta yang terlihat ramai oleh peserta ujian sejak pagi hari ini, Kamis (3/9) termasuk yang melamar posisi CPNS di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.

Di tengah pandemi, tes CPNS dilakukan berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan dan mendapat rekomendasi dari Satuan Gugus Tugas Covid serta dinyatakan layak untuk digunakan sebagai lokasi tes SKB CPNS 2019. Sejumlah petugas medis dan keamanan disiapkan di sekitar lokasi dan tetap menerapkan protokol kesehatan dari mulai peserta masuk hingga selesai pelaksanaan tes.

Kepala Bagian Perencanaan Pengembangan, Biro Sumber Daya Manusia Kementerian ESDM Nur Widyasari yang hadir di Yogyakarta menyampaikan bahwa pelaksanaan tes SKB Kementerian ESDM hari ini dilaksanakan serentak di 4 kota yakni Denpasar, Balikpapan, Banjarmasin dan Yogyakarta. Rangkaian tes SKB sendiri akan dilaksanakan di 14 kota dengan total 132 peserta memperebutkan 50 formasi.

“Peserta ujian dari Kementerian ESDM di Yogyakarta ini sebelumnya sudah mengikuti verifikasi keaslian berkas yang dilaksanakan di kantor BPPTKG Yogyakarta sehari sebelumnya. Sebanyak 11 peserta yang mengikuti tes SKB di Yogyakarta hari ini dengan 1 peserta disabilitas netra yang juga tadi tampak hadir untuk mengikuti tes seleksi hari ini,” ungkap Nur.

c-WhatsApp%20Image%202020-09-03%20at%208

Aulia Anugerah Intani, salah satu peserta tes untuk formasi ahli pertama perancang peraturan perundang-undangan di Kementerian ESDM mengatakan bahwa tes ini adalah kali kedua mengikuti tes CPNS. Peserta yang berasal dari Surabaya ini mengaku sebelum berangkat mengikuti tes ia harus melakukan isolasi mandiri dan melakukan rapid test.

Ia pun memuji kesiapan panitia dan penerapan protokol kesehatan yang ketat seperti pemberian sarung tangan plastik dan bolpoint yang berbeda bagi setiap peserta yang mengikuti pemberkasan.

Komentar lain disampaikan oleh Bekti Widiastuti, salah satu peserta tes SKB CPNS 2019 yang memiliki disabilitas netra asal Yogyakarta mengatakan sempat gugup karena pada saat diukur suhu badan dengan thermogun oleh panitia menunjukkan suhu lebih dari suhu normal sehingga harus duduk di ruang tunggu bersama beberapa peserta yang lain sampai dilakukan pengukuran suhu badan ulang, dimana akhirnya diijinkan masuk kembali ke ruang registrasi ketika suhu tubuhnya mulai normal.

Ria Afriani lain lagi, peserta asal Yogyakarta ini mengaku tenang mengikuti tes karena di masa pandemi ini lebih banyak memiliki waktu untuk belajar tentang materi ujian dan membaca referensi yang terkait dengan materi ujian. Sementara itu Novardin Rizkidwikusuma mengaku setelah lulus tahun 2019 dari jurusan teknik perminyakan salah satu universitas negeri di negara Rusia mengatakan bahwa ujian CPNS ini merupakan pengalaman pertama kalinya. Bidang yang ditekuni dalam perkuliahan adalah teknis dan hitungan sehingga agak kesulitan dalam mengerjakan soal tentang studi kasus yang aplikatif. Menurutnya dengan ditundanya penyelenggaraan seleksi SKB CPNS 2019 ini membawa dampak positif yaitu lebih punya banyak waktu untuk mempersiapkan diri dengan belajar dan membaca buku.

Setelah proses SKB CPNS selesai ini akan dilanjutkan dengan tahapan wawancara dan tes psikologi. Sebagai penutup Nur Widyasari berharap mendapatkan putra putri terbaik yang dapat mengisi formasi di Kementerian ESDM. “Kami berharap bahwa semua proses dapat berjalan lancar semua peserta sehat, panitianya juga sehat karena proses seleksi ini masih panjang, masih ada tahap wawancara dan tes psikologi yang rencananya akan dilaksanakan secara daring,” tutup Nur. (CH/KO)

Serapan Biodiesel Nasional Semester 1 Capai 4,36 Juta kL

Serapan Biodiesel Nasional Semester 1 Capai 4,36 Juta kL

Suarapemerintah.id – Sejak diimplementasikan Januari 2020, campuran 30 persen biodiesel (FAME/fatty acid methyl ester) dalam minyak solar (B-30) telah mendongkrak pemanfaatan biodiesel dalam negeri. Hingga pertengahan tahun 2020 tercatat penyerapan biodiesel telah mencapai 4,36 juta kilo Liter (kL) atau sudah mencapai sekitar 68% dibanding angka penyerapan sepanjang tahun 2019.

“Pandemi ditengarai sedikit memperlambat penyerapan biodiesel akibat penurunan serapan sektor transportasi, namun Pemerintah optimis di akhir tahun penyerapan FAME lebih tinggi dari tahun sebelumnya sebagai dampak implementasi B-30,” ujar Kepala Biro Komunikasi Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama Kementerian ESDM Agung Pribadi di Jakarta, Kamis (3/9).

Peningkatan konsumsi biodiesel naik signifikan sejak tahun 2016. Pada 2018, konsumsinya sebesar 3,75 juta kL atau meningkat hampir 50 persen dibandingkan pada 2017 dengan penyerapan sebesar 2,57 juta kL. Kebijakan mandatori berlanjut hingga 2019 sehingga konsumsi biodiesel berada pada angka 6,39 juta kL.

Harapan Bagi Petani Sawit

Selain mengurangi ketergantungan terhadap impor BBM, pemanfaatan biodiesel untuk bahan bakar diharapkan mampu memberikan multiplier efek yang lebih besar kepada para petani sawit. Dukungan dan apresiasi dari berbagai pihak dilontarkan, salah satunya disampaikani Manajer Riset Traction Energy Asia, Ricky Amukti.

“Ke depannya dengan mandatori ini kami berharap petani swadaya bisa secara langsung berkontribusi dalam rantai pasok biodiesel. Selain itu saya juga berharap ada kebijakan-kebijakan yang mampu mendorong kontribusi tersebut,” ungkap Ricky pada kesempatan terpisah (3/9).

Ricky memberikan apresiasi atas upaya Pemerintah dalam mendukung para petani sawit melalui kebijakan pemanfaatan biodiesel ini. “Dalam beberapa kesempatan pun, Presiden selalu mengatakkan biodiesel akan mampu menyerap sawit produksi petani, seperti yang terakhir beliau sampaikan dalam pidato presiden pada Sidang Paripurna 14 Agustus lalu. Semoga akan ada lompatan besar mendukung kesejahteraan petani tersebut,” tandasnya. (KO)

BNI Syariah Resmi Menjadi Penyalur KUR dengan Plafon Rp700 Miliar

BNI Syariah Resmi Menjadi Penyalur KUR dengan Plafon Rp700 Miliar

Suarapemerintah.idKementerian Koperasi dan UKM baru saja melakukan penandatanganan kerja sama dengan BNI Syariah yang ditunjuk sebagai salah satu bank penyalur KUR (Kredit Usaha Rakyat). Dengan kerja sama ini, BNI Syariah menambah lembaga keuangan syariah yang menjadi penyalur KUR.

“Sehingga, BNI Syariah menjadi penyalur KUR Syariah yang ketiga, dengan plafon penyaluran Tahun 2020 telah ditetapkan sebesar Rp700 miliar. Dengan rincian, plafon KUR Mikro sebesar Rp350 miliar dan KUR Kecil Rp350 miliar,” kata Deputi Bidang Pembiayaan Kementerian Koperasi dan UKM, Hanung Harimba Rachman saat konferensi pers virtual, Rabu, 2 September 2020.

Penetapan plafon tersebut telah sesuai dengan surat dari Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian yaitu surat Deputi Bidang Ekonomi Makro dan Keuangan nomor B/KUR/173D.I.M/07/2020 tanggal 29 Juli 2020 perihal Plafon Penyaluran KUR BNI Syariah Tahun 2020.

Adapun saat ini, terdapat 42 penyalur KUR, yang terdiri dari 38 Bank, satu LKBB (Lembaga Keuangan Bukan Bank), dan tiga koperasi. Untuk penyalur Syariah baru ada dua, yaitu BRI Syariah dan BPD NTB Syariah.

Lebih jauh, Hanung menuturkan bahwa pihaknya ingin mendorong pembiayaan-pembiayaan syariah untuk lebih banyak berperan membantu pembiayaan dari UMKM. Hanung berharap, dengan ditandatanganinya PKP ini dapat mendorong percepatan penyaluran KUR.

Adapun pemberian tambahan subsidi bunga KUR pada masa Covid-19, diberikan kepada seluruh Penerima KUR dengan Kolektibilitas 1 atau Kolektibilitas 2, termasuk Penerima KUR restrukturisasi dan non restrukturisasi serta Penerima KUR yang mengajukan fasilitas maupun tidak mengajukan fasilitas.

“Jadi progresnya sudah cukup besar untuk subsidi IJP dan subsidi KUR,” kata Hanung.

Selain itu, Hanung juga mengatakan bahwa sampai saat ini, sudah terdapat 42 penyalur KUR. Terdiri dari 38 bank, 1 LKBB (Lembaga Keuangan Bukan Bank) dan 3 koperasi. Sedangkan untuk penyalur KUR Syariah, Hanung mengakui sampai saat ini baru terdapat 2 penyalur.