Selasa, Januari 20, 2026
Beranda blog

Capaian Stranas Pencegahan Korupsi Kemenag di Atas Rata-rata Nasional

Kementerian Agama (Kemenag) mencatat capaian positif dalam implementasi Strategi Nasional Pencegahan Korupsi (Stranas PK) Tahun 2025. Berdasarkan data kuantitatif yang dirilis melalui laman jaga.id, Kementerian Agama memperoleh skor 69,88 persen pada periode B12 (bulan ke-12).

Capaian tersebut berada di atas rata-rata nasional serta melampaui target B12 Tahun 2025 sebesar 50 persen, dengan target akhir B24 (Desember 2026) sebesar 100 persen. Irjen Kemenag, Khairunas menyampaikan bahwa capaian tersebut menunjukkan progres yang sangat baik pada tahun pertama pelaksanaan Stranas PK periode 2025–2026.

“Dengan target B12 sebesar 50 persen, capaian 69,88 persen menunjukkan bahwa Kementerian Agama berada pada jalur yang tepat dan progresif menuju target maksimal 100 persen pada B24 Desember 2026,” ujar Khairunas di Jakarta, Senin (19/1/2026).

Berdasarkan pemantauan kuantitatif Stranas PK, capaian Kementerian Agama pada periode B12 2025 terdiri atas sejumlah indikator utama. Pada Aksi Digitalisasi Layanan, Kementerian Agama mencatatkan capaian 70 persen, yang antara lain didukung oleh penguatan digitalisasi layanan publik melalui Sistem Informasi Manajemen Nikah (Simkah) yang telah terintegrasi dengan data kependudukan Direktorat Jenderal Dukcapil. Integrasi ini dinilai meningkatkan akurasi data, transparansi layanan, serta mencegah potensi penyimpangan administrasi.

Sementara itu, Aksi Pengadaan Barang dan Jasa (PBJ) mencapai 49,64 persen dan terus didorong melalui penguatan kepatuhan terhadap mekanisme pengadaan yang akuntabel, khususnya optimalisasi pemanfaatan sistem pengadaan secara elektronik.

Adapun Aksi Conflict of Interest (COI) mencatatkan capaian sangat signifikan sebesar 90 persen, menjadi capaian tertinggi di antara seluruh indikator. Khairunas menyampaikan apresiasi atas capaian tersebut yang mencerminkan komitmen kuat pimpinan dan pejabat di lingkungan Kementerian Agama. “Capaian COI yang tinggi ini merupakan hasil nyata dari komitmen para pejabat Eselon I, II, dan III dalam mendeklarasikan potensi konflik kepentingan secara terbuka, serta penguatan sistem pelaporan yang semakin tertib dan terintegrasi,” jelasnya.

Irjen Khairunas menilai capaian di atas rata-rata nasional tersebut menjadi indikator bahwa upaya penguatan tata kelola dan pencegahan korupsi di lingkungan Kementerian Agama terus berjalan dan mulai memberikan dampak yang nyata.

“Capaian ini merupakan hasil kerja bersama seluruh unit kerja dalam memperkuat sistem, prosedur, dan budaya kerja yang berorientasi pada integritas. Namun demikian, kami memandang capaian ini sebagai pijakan untuk terus melakukan perbaikan berkelanjutan hingga target akhir Stranas PK tercapai,” tegasnya.

Lebih lanjut, Khairunas menegaskan bahwa Itjen Kemenag akan terus mendorong optimalisasi pelaksanaan seluruh aksi Stranas PK melalui penguatan pengawasan intern, pendampingan kepada unit kerja, serta penguatan fungsi pencegahan. “Pengawasan yang efektif harus mampu menjadi early warning system, memastikan setiap program berjalan sesuai ketentuan, serta memberi nilai tambah bagi peningkatan kualitas tata kelola dan layanan publik,” tandasnya.

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

Saadiah Uluputty: Tradisi Tutup Atap Rumah Tua Perekat Kebersamaan Masyarakat Negeri Hila

Anggota Komisi V DPR RI Fraksi PKS Dapil Maluku, Saadiah Uluputty, menghadiri kegiatan adat tutup atap rumah tua yang digelar oleh masyarakat Negeri Hila, Jazirah Leihitu, pada 18 Januari 2026.

Kegiatan tutup atap rumah tua merupakan salah satu prosesi adat sakral yang memiliki makna penting bagi masyarakat Negeri Hila. Tradisi ini tidak hanya menandai penyelesaian pembangunan fisik rumah adat, tetapi juga menjadi simbol persatuan, gotong royong, dan kesinambungan nilai-nilai leluhur yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Acara berlangsung khidmat dan semarak dengan penampilan tarian-tarian tradisional yang dibawakan oleh masyarakat setempat. Tarian tersebut menjadi ekspresi budaya yang merefleksikan hubungan erat antara manusia, adat, dan lingkungan sosialnya.

Dalam prosesi penutupan atap rumah tua, Saadiah Uluputty mendapat kehormatan untuk turut mengambil bagian secara langsung. Di hadapan tokoh adat dan masyarakat yang hadir, Saadiah menyampaikan pernyataannya, “Saya akan mengangkat atap kedua,” sebagai simbol kesiapan untuk ikut serta dalam prosesi adat tersebut.

Partisipasi Saadiah dalam ritual ini mendapat apresiasi dari masyarakat sebagai bentuk penghormatan terhadap adat dan tradisi lokal. Kehadiran wakil rakyat di tengah-tengah kegiatan adat dinilai sebagai wujud nyata kedekatan dan kepedulian terhadap kehidupan sosial dan budaya masyarakat.

Saadiah Uluputty menyampaikan bahwa adat dan tradisi merupakan fondasi penting dalam membangun jati diri masyarakat Maluku. Menurutnya, pembangunan tidak hanya berbicara tentang infrastruktur fisik, tetapi juga tentang menjaga nilai-nilai budaya yang memperkuat kebersamaan dan identitas daerah.

Kegiatan tutup atap rumah tua di Negeri Hila berlangsung dengan penuh kebersamaan dan kekhidmatan, meninggalkan kesan mendalam bagi seluruh masyarakat yang hadir, sekaligus menjadi pengingat akan pentingnya merawat warisan budaya sebagai bagian dari kehidupan bersama.

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

Mendes Yandri Ajak APKASI Wujudkan Asta Cita ke-6

Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT) Yandri Susanto mengajak Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (APKASI) terlibat dalam proses pembangunan desa. Ia yakin keterlibatan kepala daerah di level kabupaten maupun provinsi akan menambah besarnya peluang dalam mewujudkan pemerataan ekonomi dan pemberantasan kemiskinan sebagaimana tertuang dalam Asta Cita ke-6 Presiden Prabowo Subianto.

“Saya ingin bekerja sama dengan seluruh Bupati se-Indonesia. Apa potensi, peluang yang bisa kita kerjasamakan. Kami siap melakukan kolaborasi bersama Bapak Ibu untuk mewujudkan Asta Cita ke-6 Bapak Presiden Prabowo ini,” tegasnya saat menjadi narasumber dalam forum dialog dengan topik Memperkuat Peran Kabupaten dalam Optimalisasi Dana Desa, Pengentasan Kemiskinan Ekstrem, dan Percepatan Pembangunan Kawasan Perdesaan dan Daerah Tertinggal di Batam, Selasa (20/1/2026).

Setiap Bupati diharap Mendes Yandri bisa memetakan desa di seluruh wilayahnya dalam beberapa hal. Di antaranya potensi alam, SDM, dan hasil bumi yang bisa dimanfaatkan untuk menunjang ekonomi warga.

Dalam hal ini, pemerintah telah memberikan dukungan secara penuh melalui BUMDesa dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Tidak terbatas pada pasar dalam skala nasional untuk mendistribusikan produk yang dihasilkan masyarakat, namun juga level internasional.

“Kita buat desa menjadi berdaya salah satunya melalui desa ekspor. Target kami bersama Kementerian Perdagangan ada 5.000 desa ekspor. Kopdes juga. Kopdes Merah Putih ini akan menjadi mesin ekonomi di desa. Pemerataan ekonomi sekaligus pemberantasan kemiskinan seperti Asta Cita ke-6 Bapak Presiden Prabowo Subianto,” tuturnya.

Dalam forum tersebut, Mendes Yandri berdialog sacara aktif dengan Bupati dari berbagai daerah. Bupati menyampaikan persoalan serta kondisi yang terjadi di desa setempat dan direspons sesuai dengan kewenangan dan kebijakan sebagai Mendes PDT.

Seperti diketahui, desa menjadi ruang paling mendominasi wilayah Indonesia sehingga perlu diperkuat dari berbagai aspek. Jika masyarakat desa bisa disejahterakan dengan memaksimalkan potensinya maka pemerintah berhasil melakukan pemerataan ekonomi dan tidak lagi ada kemiskinan.

Untuk mewujudkan hal tersebut, Kemendes PDT melakukan kolaborasi dengan seluruh pihak di antaranya sesama K/L, pemerintah daerah, perusahaan swasta, NGO, hingga kelompok masyarakat. Hal ini penting karena tidak sebatas pada pengelolaan BUMDesa dan KDMP namun juga menunjang suksesnya Makan Bergizi Gratis (MBG) yang juga bagian dari program prioritas Presiden Prabowo Subianto.

Oleh karena itu Mendes Yandri menggagas 12 Aksi Prioritas Bangun Desa Bangun Indonesia yang mencantumkan berbagai sektor penting untuk pembangunan desa. Revitalisasi BUMDesa dan pembentukan KDMP, pengembangan desa ekspor, swasembada pangan, hilirisasi produk unggulan desa, peningkatan investasi desa melalui pola kemitraan nasional dan investor luar negeri, dan lain-lain yang langsung melibatkan masyarakat desa.

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

Mendes Yandri Dorong Kolaborasi Global Atasi Perubahan Iklim

Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT) Yandri Susanto mendorong kolaborasi global untuk mengatasi perubahan iklim. Pasalnya, Desa terkena dampak serius dari hal ini.

Demikian dikatakan Mendes Yandri dalam Workshop Global Knowledge Exchange on Community-Driven Approaches for Resilience yang digelar Kementerian Desa PDT bekerja sama dengan Bank Dunia di Jakarta, pada Senin (19/1/2026) malam.

Mendes Yandri mencontohkan, efek dari perubahan iklim ini menyebabkan bencana banjir yang dirasakan warga desa di berbagai wilayah, mulai dari Aceh, Sumatera Barat, Sumatera Utara, Jawa Tengah, hingga Sulawesi Utara.

“Di Aceh itu banyak desa yang hilang, yang selama ini desanya ada menjadi tidak ada karena terdampak banjir yang luar biasa,” kata kata Mantan Wakil Ketua MPR RI ini.

Kondisi ini, kata Mendes Yandri, menunjukkan bahwa desa merupakan wilayah yang paling rentan saat bencana terjadi.

Dalam forum internasional yang dihadiri perwakilan dari 12 negara itu, Mendes Yandri mengajak kolaborasi global karena isu perubahan iklim bukan hanya menjadi tanggung jawab Indonesia, melainkan seluruh negara di dunia.

Mendes Yandri menilai posisi Indonesia sebagai paru-paru dunia membuat upaya menjaga desa dan lingkungan memiliki dampak global.

“Kalau Indonesia tidak kita rawat secara bersama-sama, sesungguhnya kita tidak memaksimalkan bagaimana kita merawat dunia,” kata Mendes Yandri.

Mendes Yandri juga menyampaikan bahwa di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, desa ditempatkan sebagai subjek utama pembangunan nasional.

Dikatakannya, Desa di era Presiden Prabowo Subianto menjadi penting dengan adanya Asta Cita ke-6 yaitu Membangun Dari Desa dan Dari Bawah untuk Pemerataan Ekonomi dan Pemberantasan Kemiskinan.

Kementerian Desa PDT telah menjalankan 12 aksi Bangun Desa yang berfokus pada penguatan ekonomi, ketahanan pangan, energi, air, serta pengelolaan lingkungan.

“Dua belas aksi ini sejatinya ujungnya adalah menyelamatkan bumi ini, menyelamatkan kita semua, dan menyelamatkan umat manusia,” kata Mantan Ketua Komisi VIII DPR RI ini.

Mendes Yandri menyampaikan apresiasi kepada Bank Dunia dan negara-negara peserta lokakarya atas kerja sama yang telah terjalin.

Mendes Yandri berharap lokakarya ini dapat menghasilkan rekomendasi konstruktif sebagai landasan penguatan kebijakan pembangunan desa.

“Melalui lokakarya ini kami berharap mendapat input dan rekomendasi yang sifatnya konstruktif, sehingga menjadi landasan kuat bagi kami dalam merumuskan kebijakan pembangunan desa ke depan,” kata Menteri Kelahiran Bengkulu Selatan ini.

Mendes juga menegaskan bahwa forum itu tidak hanya menjadi ajang diskusi, tetapi juga ruang berbagi data, fakta, dan pengalaman lintas negara yang akan bermuara pada lahirnya kebijakan yang tepat sasaran.

Negara yang menghadiri dan berpartisipasi aktif dengan berbagi pengalaman yaitu Thailand, Philipina, Kamboja, Papua Nugini, Tanzania, Guinea, Madagaskar, Uzbekistan, Tajikistan, Kirgistan, Peru dan Bangladesh.

Turut diundang juga beberapa perwakilan dari Kedutaan Besar Negara Sahabat, Multi-Donor Fund, Kementerian Negara, Pemerintah Daerah hingga Pemerintah Desa.

Lokakarya ini merupakan rangkaian dari Peringatan Hari Desa Nasional Tahun 2026 yang dipusatkan di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah pada tanggal 15 Januari 2026 lalu.

Akan ada Diskusi Panel dengan narasumber baik dari negara peserta maupun dari Pemerintah Indonesia.

Hadir Ingo Wiederhofer dari Bank Dunia, Staf Ahli Kemenko Pangan Bara Krisna Hasibuan, Staf Ahli Menteri Lingkungan Hidup Erik Teguh Primiantoro.

Turut hadir Wakil Mendes PDT Ahmad Riza Patria, Sekjen Taufik Madjid, Pejabat Tinggi Madya dan Pratama di lingkungan Kemendes PDT.

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

Menteri Nusron Laporkan Progres Revisi RTR Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat ke Komisi II DPR RI

Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), Nusron Wahid, melaporkan perkembangan penyusunan dan revisi Rencana Tata Ruang (RTR) di Pulau Sumatera, khususnya di Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat dalam Rapat Kerja (Raker) dan Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi II DPR RI yang digelar di Gedung Nusantara DPR RI, Jakarta, Senin (19/01/2026). Ia menjelaskan bahwa revisi RTR Kawasan Strategis Pulau Sumatera hingga kini masih menunggu proses penetapan dari Kementerian Sekretariat Negara (Kemensetneg).

“Untuk Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) provinsi, Aceh dan Sumatera Utara masih dalam tahap revisi, sedangkan Provinsi Sumatera Barat telah menetapkan Peraturan Daerah RTRW melalui Perda Nomor 2 Tahun 2025,” ujar Menteri Nusron dalam paparannya.

Lebih lanjut, Menteri Nusron menguraikan progres RTRW di tingkat kabupaten/kota secara rinci. Di Provinsi Aceh, dari total 23 kabupaten/kota, sebanyak 4 kabupaten/kota telah menetapkan Peraturan Daerah RTRW terbaru. Selain itu, 1 kabupaten telah memperoleh persetujuan substansi dan saat ini menunggu penetapan RTRW, serta 1 kabupaten telah menyelesaikan pembahasan lintas sektor dan tengah berproses untuk mendapatkan persetujuan substansi. Sementara itu, masih terdapat 14 kabupaten/kota yang berada dalam tahap revisi materi teknis RTRW dan 3 kabupaten/kota lainnya perlu segera melakukan revisi RTRW.

Di Provinsi Sumatera Utara, dari 33 kabupaten/kota, sebanyak 7 kabupaten/kota telah menetapkan Perda RTRW terbaru. Selanjutnya, 1 kabupaten telah memperoleh persetujuan substansi dan menunggu penetapan RTRW, serta 3 kabupaten/kota telah menyelesaikan pembahasan lintas sektor dan sedang dalam proses untuk memperoleh persetujuan substansi. “Selain itu, 19 kabupaten/kota masih dalam tahap revisi materi teknis RTRW, dan 3 kabupaten/kota lainnya perlu segera melakukan revisi RTRW agar selaras dengan kebijakan penataan ruang nasional,” tambahnya.

Sementara itu, di Provinsi Sumatera Barat, dari total 19 kabupaten/kota, sebanyak 9 kabupaten/kota telah menetapkan Perda RTRW hasil revisi. Di sisi lain, 1 kabupaten telah menyelesaikan pembahasan lintas sektor, sedangkan 6 kabupaten/kota lainnya masih berada dalam proses revisi RTRW.

Menteri Nusron juga menegaskan pentingnya kesesuaian pemanfaatan ruang, khususnya yang berkaitan dengan kawasan hutan dan Areal Penggunaan Lain (APL), agar selaras dengan RTR. “Aturan ini masih perlu menjadi perhatian kita agar Kementerian Kehutanan dan ATR/BPN menjamin keselarasan dengan RTR-nya dalam kerangka One Spatial Planning Policy,” pungkasnya.

Sejalan dengan hal tersebut, Anggota Komisi II DPR RI, Edi Oloan Pasaribu, menekankan perlunya kepastian dalam proses revisi RTR dan RTRW provinsi yang masih berjalan. Ia menilai, Kemensetneg perlu menetapkan penjadwalan dan target yang jelas. “Revisi yang masih berlangsung perlu memiliki jadwal maupun target yang jelas. Setidaknya, pemerintah harus mampu memberikan kepastian kepada publik mengenai arah dan rencana kebijakan ke depan,” tegasnya.

Raker dan RDP ini dipimpin oleh Ketua Komisi II DPR RI, Muhammad Rifqinizamy Karsayuda. Turut mendampingi Menteri Nusron, sejumlah Pejabat Pimpinan Tinggi Madya dan Pratama di lingkungan Kementerian ATR/BPN. Kegiatan ini juga dihadiri oleh Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB), Rini Widyantini; Kepala Badan Kepegawaian Negara (BKN), Zudan Arif Fakrulloh; Kepala Lembaga Administrasi Negara (LAN) RI, Muhammad Taufiq; Wakil Menteri Dalam Negeri, Bima Arya Sugiarto dan Akhmad Wiyagus; serta Wakil Menteri PAN-RB, Purwadi Arianto.

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

Bicara Ekoteologi di Mesir, Menag Jelaskan Peran Agama dan Kemanusiaan di Era AI

Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar berbicara tentang ekotelogi serta peran agama dan kesadaran kemanusiaan di era Artificial Intelligence (AI) pada konferensi internasional yang berlangsung di Mesir. Konferensi ini digelar Kementerian Wakaf Republik Arab Mesir.

Konferensi dihadiri Menteri Wakaf sekaligus Ketua Dewan Tertinggi Urusan Islam Mesir, Prof. Dr. Usamah Al-Sayyid Al-Azhari. Hadir juga, para ulama, cendekiawan, intelektual, dan peneliti dari berbagai negara. Ikut mendampingi Menteri Agama, Direktur Penerangan Agama Islam Muchlis M Hanafi dan Tenaga Ahli Menag Bunyamin Yafid.

Menag mengawali paparannya dengan menyampaikan salam hangat dari Presiden Prabowo Subianto. Menag juga menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada Presiden Abdel Fattah El-Sisi atas dukungannya dalam penyelenggaraan konferensi ini.

Menag lalu membedah makna tanggung jawab manusia dalam perspektif Islam. Menurutnya, tanggung jawab manusia bukan sekadar sarana untuk mencari penghidupan, melainkan berdimensi moral, amanah sosial, dan kesadaran tentang pentingnya memakmurkan bumi.

“Dalam kerangka inilah, kami menegaskan pentingnya apa yang kami sebut sebagai ekoteologi, yakni cara pandang yang memahami hubungan antara manusia dan lingkungan berdasarkan prinsip amanah dan tanggung jawab etis,” tegas Menag di Mesir, Senin (19/1/2026).

Dalam Islam, kata Menag, bumi bukan milik mutlak manusia, melainkan titipan Ilahi. Karena itu, memakmurkan bumi tidak akan sempurna tanpa menjaga keseimbangannya. Setiap profesi yang mengganggu keseimbangan tersebut sejatinya telah menyimpang dari tujuan ibadah dan hakikat pembangunan peradaban.

Menag menyambut baik gagasan Menteri Wakaf Mesir bahwa pembangunan peradaban adalah kewajiban Islam. Menag juga sependapat dengan pandangan pemikir Aljazair, Malik bin Nabi, bahwa peradaban bukan semata akumulasi materi, tetapi bangunan kemanusiaan dan moral yang utuh. Peradaban yang berdiri di atas ikatan manusia, tanah, dan waktu tidak akan berbuah bila tidak dipersatukan oleh dorongan moral dan spiritual yang mengarahkan manusia, mengendalikan nalurinya, memberi makna pada waktu, dan mengubah tanah dari sekadar bahan mentah menjadi nilai peradaban.

Karena itu, persoalan keterbelakangan, ketergantungan, dan kekosongan nilai tidak diselesaikan dengan mengimpor produk peradaban yang sudah jadi, atau meniru model-model teknologi yang maju; melainkan diatasi dengan memperbaiki manusia, serta membangun kembali relasinya dengan nilai, waktu, dan kerja. “Peradaban tidak akan bangkit kecuali ketika semangat keagamaan terjaga dan terbangun dalam nurani manusia—bukan sebagai ritual yang kaku, melainkan sebagai energi moral yang mengendalikan perilaku, membebaskan akal, dan mengarahkan naluri,” pesan Menag.

“Jika nilai-nilai hilang, naluri akan bebas tanpa kendali. Dan ketika naluri lepas kendali, manusia kehilangan kompas etiknya,” sambungnya.

Menjaga Kemanusiaan

Menag melihat, tantangan yang dihadapi profesi pada era kecerdasan buatan (AI) bukan terletak pada kemajuan algoritma, tetapi pada penjagaan sisi kemanusiaan manusia. Dunia tidak hanya membutuhkan profesi yang cerdas, melainkan profesi yang beretika. Tidak hanya membutuhkan kompetensi teknis, tetapi juga nurani yang hidup. Dari sini, peran agama hari ini adalah menjadi kompas moral bagi kemajuan, penjamin martabat manusia, serta penjaga makna kerja/profesi dalam dunia yang bergerak cepat.

“Di Indonesia, sebagai negara Muslim terbesar dari sisi jumlah penduduk, kami berupaya meneguhkan pemahaman ini melalui pengaitan pendidikan keagamaan dengan nilai-nilai profesional, serta penguatan etika kerja dalam lembaga-lembaga negara dan masyarakat. Dalam konteks ini, kami memberi perhatian khusus pada isu kecerdasan buatan serta kaitannya dengan wacana keagamaan dan otoritas pengetahuan,” papar Menag.

“Berbagai diskusi ilmiah yang kokoh, melibatkan para ulama dan pemikir besar Indonesia, menegaskan bahwa kecerdasan buatan—sebesar apa pun kemampuan analisisnya—tidak dapat menggantikan nurani keagamaan, ijtihad manusia, dan rujukan etika. Fungsinya harus tetap berada sebagai alat bantu, bukan sumber mandiri atau pengganti untuk fatwa atau bimbingan keagamaan,” lanjutnya.

Para pakar, kata Menag, juga menekankan bahwa tantangan sesungguhnya bukan pada penggunaan kecerdasan buatan dalam ranah agama, melainkan pada bagaimana penggunaan itu diatur dan dikendalikan, sehingga manusia—dengan akal, nilai, dan tanggung jawab etiknya—tetap memimpin, dan agama tetap menjadi sumber hidayah serta makna, bukan sekadar bahan yang diperas menjadi jawaban-jawaban mekanis. Otoritas keagamaan pada era kecerdasan buatan bukanlah otoritas teknis, melainkan otoritas ilmiah dan moral, yang memadukan teks, akal, realitas, dan maqashid syariah, disertai kesadaran mendalam atas transformasi zaman dan pertanyaan-pertanyaan aktual.

“Dunia kita hari ini tidak kekurangan para ahli, tetapi kekurangan nilai-nilai yang menuntun keahlian itu. Dunia tidak hanya memerlukan akal yang maju, melainkan juga akhlak yang kokoh, tanggung jawab peradaban, dan pandangan kemanusiaan yang menyeluruh,” pesannya.

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

Pemprov Kaltim Tuntaskan Internet Gratis di 802 Desa

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Pemprov Kaltim) sukses menghadirkan akses internet gratis di 802 desa, melampaui target awal sebanyak 716 desa di tahun 2025. Langkah ini merupakan komitmen nyata untuk menghapus kesenjangan digital hingga ke pelosok Kaltim.

Kepala Diskominfo Kaltim, Muhammad Faisal menyebutkan dari total rencana 841 desa, kini tinggal 39 desa dalam tahap finalisasi.

“Kami ingin masyarakat di daerah terpencil memiliki akses yang setara untuk layanan publik, pendidikan dan ekonomi,” ujarnya saat diwawancara awak media, belum lama ini.

Faisal menjelaskan, keberhasilan program ini didukung oleh alokasi anggaran sebesar Rp 9,2 miliar. Sepanjang tahun lalu, realisasi anggaran mencapai Rp 8,8 miliar atau 95,56 persen.

Meski jaringan internet telah meluas, Faisal mengakui bahwa ketersediaan listrik masih menjadi hambatan utama di lapangan. Sebanyak 125 desa belum memiliki listrik 24 jam, sehingga koneksi internet sangat bergantung pada genset atau energi alternatif.

Memasuki tahun 2026, Pemprov Kaltim akan lebih selektif melakukan penyesuaian kebijakan seiring efisiensi anggaran. Fokus utama pengembangan layanan internet gratis akan diarahkan secara lebih selektif ke wilayah tertinggal, terdepan dan terluar (3T), khususnya di Kabupaten Berau, Kutai Timur, Mahakam Ulu, Kutai Barat dan Paser.

“Efisiensi dilakukan tanpa mengurangi esensi pelayanan di pelosok,” tegas Faisal.

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

Menteri Nusron Tegaskan Kehadiran Negara Lindungi Hak Atas Tanah bagi Masyarakat Terdampak Bencana

Menteri ATR/BPN, Nusron Wahid, mengikuti Rapat Kerja (Raker) dan Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin (19/01/26).

Rapat tersebut membahas penanganan pascabencana di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, serta daerah terdampak lainnya. Dalam kesempatan itu, Menteri Nusron menegaskan kehadiran negara dalam melindungi dan memberikan kepastian hak atas tanah bagi masyarakat terdampak bencana.

“Dalam setiap peristiwa bencana, pemerintah memiliki tanggung jawab untuk memastikan kepastian status tanah bagi masyarakat. Kepastian ini bukan semata urusan administrasi, melainkan wujud kehadiran negara dalam melindungi hak rakyat, terutama mereka yang berada dalam kondisi paling rentan. Melalui inventarisasi dan identifikasi tanah terdampak bencana yang dilaksanakan Kementerian ATR/BPN, kami memastikan setiap jengkal tanah yang terdampak dapat ditangani secara tepat, cepat, dan sesuai dengan ketentuan hukum,” ujar Menteri Nusron.

Berdasarkan kondisi faktual di lapangan, Menteri Nusron menjelaskan bahwa tanah terdampak bencana terbagi menjadi dua kategori, yakni tanah musnah dan tanah terdampak namun tidak musnah. Tanah musnah merupakan tanah yang hilang akibat bencana, seperti tergerus banjir atau longsor, yang penanganannya dilanjutkan melalui penelitian hingga penerbitan Surat Keputusan (SK) penetapan tanah musnah. “Sementara itu, untuk tanah yang terdampak namun tidak musnah, pemerintah mendorong upaya rekonstruksi dan reklamasi sesuai kondisi teknis di lapangan,” tambahnya.

Lebih lanjut, ia memastikan bagi pemilik tanah yang sertipikatnya hilang atau rusak akibat bencana, negara menjamin hak tersebut tetap diakui. “Penerbitan sertipikat pengganti akan dilakukan sesuai ketentuan yang berlaku, sehingga masyarakat tidak kehilangan legalitas hak atas tanahnya,” tegas Menteri ATR/Kepala BPN.

Selain itu, bagi tanah-tanah yang belum terdaftar, bencana justru menjadi momentum bagi pemerintah untuk meningkatkan penyadaran sekaligus pelayanan kepada masyarakat melalui pendaftaran tanah pertama kali. Langkah ini bertujuan agar tanah-tanah tersebut masuk ke dalam sistem hukum pertanahan nasional.

“Ini merupakan bagian dari komitmen pemerintah untuk memastikan pemulihan pascabencana tidak hanya secara fisik, tetapi juga secara hukum dan sosial. Kita ingin masyarakat bangkit kembali, tidak hanya rumahnya, tetapi juga kepastian hak atas tanahnya,” tambahnya.

Ketua Komisi II DPR RI, M. Rifqinizamy Karsayuda, berharap kepastian hukum atas hak tanah masyarakat dapat terus terwujud secara berkelanjutan. “Kita tentu berharap kepastian hukum atas tanah masyarakat di tiga tempat itu bisa dilakukan, termasuk bagaimana dukungan Kementerian ATR/BPN, untuk memberikan bantuan kepada kementerian/lembaga lain yang sekarang sedang bekerja membantu melakukan pemulihan ditempat tersebut bisa dilakukan dengan baik ke depan,” ujarnya.

Turut mendampingi Menteri Nusron, para Pejabat Pimpinan Tinggi Madya dan Pratama Kementerian ATR/BPN. Raker dan RDP ini juga diikuti oleh Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB), Rini Widyantini; Kepala Badan Kepegawaian Negara (BKN), Zudan Arif Fakrulloh; Kepala Lembaga Administrasi Negara (LAN) RI, Muhammad Taufiq; Wakil Menteri Dalam Negeri, Bima Arya Sugiarto dan Akhmad Wiyagus; serta Wakil Menteri PAN-RB, Purwadi Arianto.

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

Ramadan 2026 Mendekat, Pemerintah Siapkan Langkah Jaga Harga Pangan

Menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Ramadan 2026, pemerintah memperkuat berbagai langkah strategis untuk menjaga ketersediaan dan harga pangan pokok. Upaya ini dilakukan untuk memastikan kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi sekaligus menekan potensi lonjakan inflasi pangan yang kerap terjadi menjelang bulan puasa.

Direktur Kewaspadaan Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) Nita Yulianis mengatakan, Bapanas telah menyiapkan sejumlah langkah konkret untuk mengamankan pasokan dan stabilitas harga pangan di seluruh wilayah.

“Badan Pangan Nasional menjalankan tujuh aksi strategis untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan, mulai dari pemantauan harga melalui Panel Harga Pangan hingga penguatan intervensi langsung di lapangan,” ujar Nita.

Ia menjelaskan, tujuh langkah tersebut meliputi pemantauan harga pangan yang diupdate setiap hari, pelaksanaan Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP), perpanjangan penyaluran SPHP Beras 2025 hingga 31 Januari 2026, serta proses pelaksanaan SPHP Beras 2026 dengan target 1,5 juta ton. Selain itu, Bapanas juga menggencarkan Gerakan Pangan Murah (GPM), meningkatkan jumlah kios pangan, dan menyalurkan SPHP Jagung 2026 sebanyak 500 ribu ton, serta mengusulkan pembentukan Satgas Pengawasan Harga, Keamanan, dan Mutu Pangan Tahun 2026.

Menurut Nita, keberhasilan menjaga stabilitas pangan tidak lepas dari peran aktif pemerintah daerah. Karena itu, Bapanas mendorong daerah untuk mengambil langkah-langkah kebijakan yang adaptif sesuai kondisi wilayah masing-masing.

“Pemerintah daerah perlu mengidentifikasi potensi surplus dan defisit melalui neraca pangan wilayah, memperkuat cadangan pangan pemerintah daerah, serta menjalin kerja sama antar daerah untuk menjamin pasokan sepanjang tahun,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya koordinasi dengan Perum BULOG dalam mengoptimalkan penyaluran beras SPHP dan bantuan pangan, penyusunan rencana Gerakan Pangan Murah sepanjang tahun, pengembangan kios pangan sebagai outlet penyeimbang inflasi, serta peningkatan monitoring pasokan dan harga pangan bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).

Berbagai upaya tersebut disampaikan dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi yang digelar Kementerian Dalam Negeri, Senin (19/1/2026), sebagai bagian dari penguatan sinergi pusat dan daerah dalam menghadapi dinamika pangan jelang Ramadan dan Idul Fitri 2026.

Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri Tomsi Tohir dalam arahannya meminta seluruh pemangku kepentingan, khususnya TPID dan Satgas Pangan, untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi lonjakan inflasi pangan.

“Saya meminta kepada Satgas Pangan Daerah bersama TPID untuk turun setiap minggu, cek betul sampai ke gudang,” tegas Tomsi.

Ia menambahkan, pemerintah daerah harus berperan aktif dalam memantau perkembangan harga dan distribusi di lapangan. “Pemerintah daerah harus aktif memantau perkembangan harga, memastikan distribusi berjalan lancar, serta mengoptimalkan langkah-langkah intervensi sesuai kondisi wilayah masing-masing,” ujarnya.

Sementara itu, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) sekaligus Pelaksana Tugas Sekretaris Utama BPS, Pudji Ismartini, mengingatkan bahwa tekanan inflasi pada awal Ramadan merupakan pola yang berulang setiap tahun.

“Secara historis, pada awal Ramadan selalu terjadi inflasi. Komoditas yang konsisten memberikan andil inflasi terbesar adalah daging ayam ras, telur ayam ras, beras, minyak goreng, dan cabai rawit. Ini harus segera diantisipasi karena kita akan memasuki bulan Ramadan bulan depan,” ujar Pudji.

Meski demikian, Pudji mencatat adanya perkembangan positif pada sejumlah komoditas hortikultura di pertengahan Januari. “Harga cabai rawit turun sebesar 10,91 persen dan bawang merah turun 3,59 persen,” jelasnya.

Melalui penguatan kebijakan dan sinergi lintas sektor, pemerintah optimistis stabilitas pasokan dan harga pangan jelang Ramadan 2026 dapat terjaga, sehingga daya beli masyarakat tetap terlindungi dan inflasi pangan dapat ditekan.

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

Indonesia Tidak Impor Beras, Stok Beras Hasil Produksi Anak Negeri Berlimpah

Kepastian Indonesia tidak mengimpor beras konsumsi di tahun 2026 ini kembali ditegaskan oleh Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) yang juga Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. Taklimat itu diutarakannya seusai mengisi Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi) di Batam, Kepulauan Riau pada Senin (19/1).

“Tidak boleh impor beras, kita sudah swasembada. Stok kita melimpah. Ini beras (produksi) anak negeri. Beri tahu mereka, (kita) mesti cinta merah putih. Sampaikan cinta merah putih. Ini karena kita ingin berdaulat pangan,” ucap Amran saat dijumpai insan pers.

“Impor tidak boleh. Tolong jangan mempermainkan nasib rakyat. Itu ada petani padi 115 juta orang. Masa tega mendzolimi orang kecil. Presiden kita sudah mengumumkan bahwa kita swasembada. Ini panglima tertinggi sudah nyatakan Indonesia swasembada,” sambung Amran.

Kesiapan Indonesia tanpa impor beras sepanjang tahun 2026 juga tercermin pada Proyeksi Neraca Pangan Berapa update 6 Januari 2026. Total kebutuhan konsumsi beras setahun yang berada di angka 31,1 juta ton masih dapat dipenuhi dengan proyeksi produksi beras tahun ini yang diperkirakan dapat mencapai 34,76 juta ton.

Surplus produksi terhadap konsumsi tersebut semakin kuat dengan carry over stock beras dari tahun 2025 yang menjadi stok awal di tahun 2026 di angka 12,4 juta ton. Dengan begitu, diestimasikan stok beras secara nasional hingga akhir tahun 2026 masih dapat berada di angka 16,1 juta ton.

Terkait nihilnya impor beras, pemerintah telah memutuskan peniadaan impor beras konsumsi umum dan bahan baku industri di tahun 2026. Dalam Neraca Komoditas (NK) Tahun 2026 yang diketok akhir Desember 2025 lalu, tidak ada kesepakatan terkait kuota impor beras umum. Ini juga termasuk tidak adanya kuota impor beras untuk bahan baku industri.

Adapun beras bahan baku industri yang dimaksud yakni beras pecah dengan tingkat keutuhan kurang dari 15 persen dan beras ketan pecah dengan tingkat keutuhan kurang dari 15 persen juga. Dengan tidak adanya impor beras bahan baku industri di 2026, pemerintah mendorong pelaku usaha agar dapat mengoptimalkan bahan baku lokal berupa beras pecah dan beras ketan pecah.

Lebih lanjut, Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman turut menjelaskan kondisi harga beras yang masih berfluktuasi meskipun stok berlimpah, semata-mata karena faktor biaya distribusi. Kendati demikian, Amran menekankan komoditas beras sudah tidak lagi menjadi penyumbang inflasi secara nasional.

“Itu harga (beras) karena distribusi. Tetapi harga sekarang, bukan beras penyumbang inflasi. Saya ulangi, bukan beras penyumbang inflasi, yang biasanya penyumbang inflasi tertinggi. Toh ada yang naik, iya. Tetapi sekarang kita, stok kita banyak,” urai Amran.

Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), pergerakan inflasi beras secara bulanan di tingkat eceran sepanjang tahun 2025 lebih stabil dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Ini dapat dilihat pada titik puncak inflasi di 2025 yang berada di level 1,35 persen saja yang terjadi di Juli 2025.

Sementara, titik puncak inflasi beras di tahun 2023 dan 2024 bahkan pernah mencapai masing-masing di September 2023 dengan 5,61 persen dan Februari 2024 dengan 5,32 persen. Inflasi beras secara bulanan di tahun 2025 pun ditutup dengan level yang sangat baik di 0,18 persen pada Desember 2025.

Di sisi lain, rerata inflasi beras secara bulanan selama setahun di 2025 juga cukup melandai dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Rerata pada 2025 berada di angka 0,30 persen, sedangkan pada 2023 berada di level 1,34 persen dan 2022 di 0,51 persen. Hal ini menggambarkan kondisi perberasan nasional di 2025 lebih terkendali dan stabil tanpa implikasi terhadap inflasi yang signifikan.

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News