Beranda blog Halaman 4928

Penyaluran Hand Sanitizer Herborist Untuk Cegah Covid-19 di Jawa Barat

Suarapemerintah.id – PT. Victoria Care Indonesia sebagai pemilk brand Herborist terus melakukan kegiatan menyalurkan hand sanitizer untuk melawan Covid-19 di seluruh Indonesia. Kegiatan terbaru adalah menyambangi rumah dinas Gubernur Jawa Barat.

Kegiatan yang bernama “Aksi Cegah Corona” dari PT. Victoria Care Indonesia terus bergerak dengan cepat. Setelah sebelumnya menapaki jejak di Semarang dan Bali kini, sudah tiba di tanah Sunda tepatnya di rumah dinas Gubernuar Jawa Barat.

Kedatangan PT. Victoria Care Indonesia pun disambut hangat dan dengan tangan terbuka oleh Ridwan Kamil, Gubernur Jawa Barat. Kegiatan penyaluran hand sanitizer dengan brand Herborist ini menjadi sebuah solusi dalam pencegah penyebaran virus Covid-19.

CEO PT Victoria Care Indonesia, Billy Hartono Salim, mengungkapkan sangat senang dan bersyukur dengan penerimaan kepada timnya.

“Bersyukur sekali kami bisa diterima Bapak Ridwan Kamil, sehingga kami dapat berpartisipasi dan turut membantu pemerintah dalam memutus rantai penyebaran Covid-19”, ujarnya.

‘Aksi Cegah Corona’ ini adalah bentuk riil dari PT Victoria Care Indonesia kepada pemerintah dengan menyalurkan hand sanitizer brand Herborist. Penyaluran ini diberikan untuk pemerintah provinsi ataupun Rumah Sakit untuk memenuhik ebutuhan para tenaga medis maupun masyarakat yang memerlukan.

Jawa Barat adalah destinasi ke-4 yang disambangi. Sedangkan kota pertama atau awal tur CSR ‘Aksi Cegah Corona’ adalah Semarang, karena pabrik PT Victoria Care Indonesia berada di sana. Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Tengah menyambut baik inisiasi membuat kegiatan CSR ini.

Kemudian dilanjutkan kegiatan CSR setelah melihat bahwa penyebaran Virus Corona cepat sekali ke kota-kota lain, hampir di seluruh Indonesia. Setelah itu berturut-turut Jakarta tepatnya di RSPAD Gatot Subroto, dan Bali menjadi tempat yang penyaluran hand sanitizer Herborist.

Sejak awal musibah ini memang PT Victoria Care Indonesia sigap dan cepat untuk mengambil langkah-langkah terbaik untuk melawan virus ini.

Pertama di mulai dari internal perusahaan, dimana mengikuti anjuran pemerintah untuk social distancing dan ‘work from home’ (WFH). Saat ini semua pegawai sudah menjalankan WFH sejak 18 Maret 2020.

“Sedangkan bagian produksi, pekerja sudah dibatasi jumlahnya dan kami proteksi mereka dengan kebutuhan seperti masker dan sarung tangan serta menjaga jarak,” terangnya.

Ia pun merasa optimis jika keadaan bisa menjadi baik kembali dengan saling bekerjasama dan mengikuti anjuran Pemerintah, seperti diam di rumah, jaga kebersihan dengan sering mencuci tangan, apabila terpaksa harus keluar rumah, jangan lupa selalu membawa Hand Sanitizer.

“Harus saling bahu membahu, saling mendukung satu dengan yang lain, kita sama-sama menyatakan berperang melawan virus Covid 19. Saya yakin, Bersama kita bisa, Indonesia Pasti Bisa!,”tutupnya dengan semangat.

Hotel di Banten Wajib Terima Karantina Mandiri selama PSBB

Suarapemerintah.id – Semua hotel di wilayah Tangerang Raya wajib memberikan pelayanan bagi tamu yang ingin melakukan karantina mandiri, terhitung sejak Sabtu (18/4) dini hari saat wilayah itu memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Tangerang Raya meliputi Kota Tangerang, Kabupaten Tangerang, dan Kota Tangerang Selatan.

Kewajiban tersebut tertuang dalam Peraturan Gubernur (Pergub) Banten nomor 16 tahun 2020, tentang Pedoman Pelaksanaan PSBB, pada Bagian Ketiga mengenai ‘Pembatasan Aktifitas Bekerja di Tempat Kerja’.

“Terhadap kegiatan perhotelan, penanggungjawab hotel wajib menyediakan layanan khusus bagi tamu yang ingin melakukan isolasi mandiri,” demikian tertulis dalam Pasal 11 ayat (4) huruf a, Pergub Banten tersebut.

Selain itu, hotel juga harus melarang tamu beraktivitas di luar kamar dan harus menggunakan jasa layanan kamar. Fasilitas penunjang hotel yang membuat kerumunan massa, maka harus ditutup selama pelaksanaan PSBB.

Kemudian karyawan hotel diwajibkan menggunakan masker, sarung tangan dan pakaian kerja sesuai pedoman keselamatan dan kesehatan kerja.

“Melarang tamu yang sakit atau menunjukkan suhu tubuh di atas normal, batuk, pilek, diare dan sesak nafas untuk masuk hotel,” bunyi Pasal 11 ayat (4) huruf d, Pergub Banten.

Pergub Banten Nomor 16/2020 juga mengatur kegiatan yang tetap dilaksanakan selama PSBB, yakni fasilitas kesehatan, kegiatan yang berkaitan dengan aspek pertahanan dan keamanan, serta aktivitas gugus tugas pusat, Provinsi, dan Kabupaten/Kota.

Kemudian, mengenai hak dan kewajiban serta pemenuhan kebutuhan dasar penduduk selama PSBB, secara garis besar dipenuhi oleh pemerintah daerah.

Kebutuhan yang dipenuhi pemerintah daerah antara lain pelayanan kesehatan dasar, pengaduan dan pusat informasi Covid-19, pemakaman jenazah pasien Covid-19, pemberian bantuan bagi perusahaan dan warga terdampak corona, bantuan sosial baik tunai maupun kebutuhan dasar,

“Pemberian bantuan sesuai perundang-undangan dan peraturan yang berlaku,” demikian bunyi Pergub Banten Nomor 16/2020.

 

Pelatihan Online Kartu Prakerja Dari Ruangguru Seharga 1 Juta Rupiah

Suarapemerintah.id – Dalam program Kartu Prakerja 2020, pemerintah memberikan biaya sebesar Rp 3.550.000 untuk membayar biaya pelatihan (kursus) dan insentif bagi pesertanya. Dana tersebut akan ditransfer lewat rekening atau dompet digital (e-wallet).

Pagu untuk membayar pelatihan ditetapkan sebesar Rp 1.000.000. Sementara untuk insentif, terdiri dari dua bagian yakni insentif pasca-penuntasan pelatihan pertama sebesar Rp 600.000 per bulan selama 4 bulan (Rp 2.400.000).

Lalu insentif pasca-pengisian survei evaluasi sebesar Rp 50.000 per survei untuk 3 kali survei (Rp 150.000). Peserta dapat mengambil pelatihan selanjutnya apabila sudah menuntaskan pelatihan yang pertama.

Ada delapan mitra yang ditunjuk pemerintah sebagai penyelenggara pelatihan Kartu Pekerja. Salah satunya yakni Skill Academy yang dimiliki oleh Ruangguru, startup teknologi asal yang berfokus pada pendidikan.

Pagu untuk membayar pelatihan ditetapkan sebesar Rp 1.000.000. Sementara untuk insentif, terdiri dari dua bagian yakni insentif pasca-penuntasan pelatihan pertama sebesar Rp 600.000 per bulan selama 4 bulan (Rp 2.400.000).

Lalu insentif pasca-pengisian survei evaluasi sebesar Rp 50.000 per survei untuk 3 kali survei (Rp 150.000). Peserta dapat mengambil pelatihan selanjutnya apabila sudah menuntaskan pelatihan yang pertama.

Ada delapan mitra yang ditunjuk pemerintah sebagai penyelenggara pelatihan Kartu Pekerja. Salah satunya yakni Skill Academy yang dimiliki oleh Ruangguru, startup teknologi asal yang berfokus pada pendidikan.

 

Pemerintah Tak Tarik Cukai Selama 3 Bulan

Suarapemerintah.id – Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) memberikan relaksasi penundaan pembayaran cukai akibat tersendatnya logistik barang kena cukai di pasaran yang disebabkan oleh pandemik virus corona (covid-19).

Artinya, dalam waktu tertentu pemerintah tidak lagi menarik cukai bagi pelaku usaha dalam waktu tertentu.

Ketentuan ini tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 30/PMK.04/2020 tentang Perubahan Atas PMK Nomor 57/PMK.04/2017 tentang Penundaan Pembayaran Cukai untuk Pengusaha Pabrik atau Importir Barang Kena Cukai yang Melaksanakan Pelunasan dengan Cara Pelekatan Pita Cukai.

Dikutip dari keterangan tertulis DJBC pada  Kamis (16/4/2020), pemesanan pita cukai yang diajukan oleh pengusaha pabrik pada tanggal 9 April-9 Juli 2020 diberikan penundaan pembayaran selama 90 hari atau kurang lebih 3 bulan.

“Dengan adanya relaksasi ini dapat membantu cash flow perusahaan sehingga perusahaan dapat tetap menjalankan usahanya,” jelas Direktur Kepabeanan Internasional dan Antar Lembaga Syarif Hidayat.

Syarif mengatakan, dengan pelonggaran tersebut diharapkan bisa menjaga keberlanjutan industri. Hal itu sangat diperlukan untuk mengatasi terhambatnya penyediaan logistik dan penyerapan tenaga kerja agar tidak terjadi Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

Bea Cukai berkomitmen untuk tetap melayani masyarakat 24 jam/7 hari dan tetap menjalankan fungsi pengawasan untuk melindungi masyarakat dari masuknya barang-barang berbahaya dan peredaran barang ilegal.

Bagi pengguna jasa maupun masyarakat yang membutuhkan informasi lebih lanjut, dapat menghubungi Contact Center Bea Cukai 1500225 atau melalui live web chat di bit.ly/bravobc.

18 April Pengoperasian KRL Jabodetabek Dihentikan

Suarapemerintah.id – Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil akan menghentikan operasional kereta listrik atau commuterline yang beroperasi di wilayah Jabodetabek mulai 18 April mendatang.

Penghentian operasional kereta ini seiring dengan berlakuknya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Banteng di tanggal yang sama.

“Jadi, kemungkinan dihentikan itu tanggal 18 (April), pada saat PSBB dari Banten berlangsung,” kata pria yang akrab disapa Emil saat memantau pelaksanaan PSBB hari pertama di Kota Bekasi, Rabu (15/4)

Saat ini penerapan PSBB sudah berjalan di wilayah DKI Jakarta dan lima wilayah Jawa Barat, yakni Kota dan Kabupaten Bogor, Kota dan Kabupaten Bekasi, serta Kota Depok.

“Per hari ini kan masih 2/3 yang PSBB, dari kaca mata operasional, nanggung, tunggu Tangerang Raya tangal 18, menurut KCI info ke saya akan berhentikan operasional, setelah itu akan kita evaluasi,” ujar mantan wali Kota Bandung itu.

Pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Jabodebek nyatanya belum ampuh bagi para pengguna KRL. Terbukti dalam beberapa hari ini, penumpang masih kerap menumpuk di beberapa stasiun.

Manager External Relations PT KCI, Adli Hakim, mengakui, pihaknya tidak bisa memberikan solusi tanpa keterlibatan pihak lain. Pemda di sekitar Jakarta seperti Bogor, Depok, dan Bekasi memang sudah mendesak agar ada penghentian operasi KRL.

“Solusinya ya seperti beberapa kali kami sampaikan ya. KCI tidak bisa sendirian untuk selama masa PSBB ini,” ujarnya

Hadirkan Kemudahan Dalam Layanan Online, Lampu Philips Senantiasa Dekat Dengan Konsumen Di Masa Pandemik

Pandemik Covid-19 tidak membuat lampu Philips dan konsumen semakin berjarak. Justru Philips semakin dekat dan semakin memahami konsumen dengan memudahkan mereka mencari informasi dan membeli produk lampu Philips secara online. 

Situasi tidak menguntungkan sedang dialami oleh pelaku brand sekarang. Kebijakan untuk social distancing sangat memengaruhi penjualan dan omzet bagi produsen. Namun walau begitu masih banyak pelaku brand yang terus menjaga layanan terhadap konsumen.

Salah satunya adalah produsen lampu besar Philips. Gerakan social distancing membuat beberapa perusahaan mewajibkan pegawainya bekerja dari rumah atau istilahnya ‘work from home’ (WFH). Dengan begitu membuat banyak orang sekarang mengandalkan smartphone atau laptop dan internet untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari.

Melilhat keadaan tersebut Philips melalui Head of Integrated Marketing & Communications Signify Indonesia, Lea Kartika Indra menyebutkan justru keadaan ini menuntut perusahaan untuk lebih bisa memahami konsumen.

“Kami mendukung kegiatan WFH dengan memberikan kemudahan bagi konsumen untuk memperoleh informasi dan melakukan transaksi pembelian produk di berbagai platform e-commerce,” jelasnya.

Selain itu untuk menjaga market tetap berkesinambungan, Signify juga melakukan inovasi produk, terutama inovasi yang bisa memberikan rasa aman dan nyaman kepada konsumen.

Keadaan sekarang yang hectic dapat membuat konsumen cepat panik dan merasa lebih tertekan, dilihatnya bisa di bantu dengan kehadiran pencahayaan yang tepat. Pencahayaan yang tepat dirumah bisa menghibur dan meningkatkan wellbeing penghuni dengan menciptakan berbagai nuansa yang mendukung suasana santai atau saat butuh berkonsentrasi dalam menyelesaikan berbagai tugas.

Kecanggihan tersebut dihadirkan dalam produk terbaru Philips Wi-Fi LED. Produk tersebut adalah rangkaian baru pencahayaan berbasis Internet of Things (IoT) yang dapat menyesuaikan warna dan intensitas pencahayaan sesuai aktifitas seperti belajar, memasak, membaca, bekerja, menonton TV, dll.

 

“Produk kami, tidak hanya tepat untuk dirumah tapi juga penting untuk mendukung kegiatan di pabrik, pusat logistik, rumah sakit dan fasilitas umum, membantu masyarakat di masa sulit ini dengan membuat mood mereka tetap terjaga, mempercepat pemulihan kesehatan, menjauhkan stress yang bisa menurunkan imunitas tubuh, menghindarkan resiko kecelakaan kerja, dan meningkatkan rasa aman,” ujarnya.

Selain dari produk, Philips juga semakin meningkatkan kualitas layanannya. Walaupun sebelum ini layanan excellent sudah dihadirkan namun mengingat situasi sekarang, layanan ekstra pun diberikan.

Lea memberi contoh, kini semua produk ditambahkan sticker pada kemasan yang berisi informasi produk Philips sudah dikemas sesuai prosedur dan standar higienis yang berlaku. Sticker tersebut juga memberikan himbauan bagi konsumen agar senantiasa menjaga kebersihan dengan segera mencuci tangan setelah menerima paket produk kami.

Philips juga berkontribusi dalam melawan Covid-19 dengan segera menghadirkan program CSR dan donasi untuk membantu rumah sakit dan layanan kesehatan dengan produk pencahayaan yang dibutuhkan seperti produk lampu UV-C.

Lampu UV-C memang tidak boleh digunakan sembarangan, namun begitu menurutnya lampu UV-C sangat efektif.

“Produk lampu UV-C dapat menetralkan dan memusnahkan virus. Penggunaannya tergolong mudah dan tidak perlu energi besar dan tempat luas”, jelasnya.

Kegiatan produksi, inovasi dan layanan yang tetap dilakukan Philips tersebut menunjukkan mereka tidak berhenti dan menjauh dari konsumen karena pandemik. Kesulitan sekarang harus dihadapi bersama sesuai dengan kemampuan dan kapasitas brand tersebut.

PT Sasa Inti Hadir Untuk Masyarakat Indonesia Dalam Menanggulangi Covid-19

Jakarta, 31 Maret 2020 – Seiring dengan peningkatan jumlah kasus positif coronavirus disease 2019 (COVID-19) di Indonesia yang sudah merebak sejak Februari 2020, PT Sasa Inti, sebagai salah satu perusahaan produsen bumbu penyedap rasa dengan eksistensi yang cukup mumpuni di Indonesia, turut mengambil andil dalam upaya melawan serta mencegah penyebaran COVID-19 guna mendukung upaya pemerintah Indonesia dalam menanggulangi wabah ini.

PT Sasa Inti menerapkan langkah-langah yang berfokus untuk membantu kehidupan dan penghidupan berbagai pihak, mulai konsumen, para pelanggan dan komunitasnya, dan juga seluruh karyawan perusahaan. 

Beberapa dukungan yang telah diberikan PT Sasa Inti dalam menanggulangi wabah COVID19 sebagai wujud peduli kepada masyarakat di sekitar pabrik dan kantor, seperti membagikan ribuan paket sabun cuci tangan untuk dibagikan kepada masyarakat desa di sekitar pabrik Gending dan Cikarang serta kepada para pengemudi ojek online di Jakarta.

PT Sasa Inti juga turut menyampaikan kepeduliannya kepada tenaga medis yang bertugas di lapangan dengan bergabung di beberapa rumah sakit dan membagikan lunchbox makanan yang terdiri dari ragam masakan dari kreasi produk Sasa bersama dengan para alumni Universitas Katolik Atma Jaya.

 

Selain itu, PT Sasa Inti juga turut membagikan sembako kebutuhan pokok yang disalurkan melalui Yayasan MNC Peduli dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Dalam menanggapi wabah ini, Rudolf Tjandra selaku sebagai Presiden Direktur PT Sasa Inti menyatakan, “Daripada memikirkan berita buruk terkait COVID-19 atau bahkan hoax tentang ini, lebih baik memikirkan hal yang positif, setidaknya melalui pandemi ini kita bisa melihat betapa banyak orang baik di sekitar kita yang tergerak untuk menolong sesama dan memberikan bantuan baik berupa uang, tenaga, waktu dan pikiran untuk membantu sesama yang sakit. Melalui bencana ini juga, kita jadi lebih bisa menghargai kebersamaan dengan keluarga, lebih bisa menahan diri untuk berdiam di rumah, lebih mengenal diri sendiri dan lebih banyak melakukan kegiatan positif saat melakukan ‘social distancing’”.

Dalam mendukung aksi ‘social distancing’, PT Sasa Inti juga telah menyiapkan 23 macam menu simpel, murah, serta bergizi untuk ditayangkan di layar televisi, akun Instagram @kreasisasa, dsb, agar dapat dinikmati di rumah selama ‘social distancing’ sehingga konsumen tetap dapat dengan nyaman menjalankan aktivitas sehat dan selalu menjaga kesehatan melalui nutrisi tubuh yang seimbang.

“Shaca” yang hadir dalam media sosial Sasa juga selalu siap melayani pertanyaan di saat kita harus menjaga jarak aman dengan orang lain melalui ‘social distancing’.  

Sementara itu, untuk melindungi seluruh karyawan beserta keluarganya, PT Sasa Inti telah melakukan langkah-langkah preventif yang lebih tegas. Salah satunya adalah pemberlakuan kebijakan bekerja dari rumah (Work-from-Home / WFH) bagi para karyawan yang berbasis di kantor pusat, membagikan masker kepada para karyawan, serta memberikan izin kepada karyawan yang sakit untuk segera beristirahat di rumah. Bagi karyawan pabrik dan lapangan yang masih bekerja, perusahaan menerapkan standar keamanan yang lebih tinggi, melalui kegiatan pencegahan seperti pembagian vitamin dan air jahe untuk karyawan setiap hari, pembersihan ruangan kerja, musholla, penyemprotan lingkungan sekitar pabrik dengan disinfektan, serta menyediakan tenaga ahli medis agar dapat bertanya-jawab pada ahli informan terkait COVID-19 melalui live streaming dari media sosial yang dimiliki Sasa. Selain itu, PT Sasa Inti juga saling bahu-membahu membantu tim sales dan pabrik agar kegiatan produksi pun tetap berjalan, yakni dengan menciptakan konten yang menarik untuk saling posting di media sosial masing-masing, serta media untuk berjualan via online, dalam hal ini setiap karyawan adalah ‘sales’ untuk produk Sasa.

Dalam situasi tidak menentu saat ini, PT Sasa Inti juga tetap mengajak para karyawan untuk tetap penuh semangat, optimis, tidak putus harapan di tengah pandemi ini, melainkan untuk terus produktif dengan menciptakan peluang ide kreatif di bidang kerja masing-masing. PT Sasa Inti juga membantu untuk menciptakan peluang kerja bagi saudara-saudara yang harus kehilangan pekerjaan sebagai salah satu dampak dari wabah ini. PT Sasa Inti yakin masyarakat Indonesia pasti bisa melewati masa sulit ini dengan saling menjaga kebersamaan.

 

Bisnis Gadai Meningkat di Masa Pandemi

Perkumpulan Perusahaan Gadai Indonesia (PPGI) mengatakan bisnis gadai terpantau meningkat selama masa penyebaran virus corona (covid-19). Peningkatan khususnya terjadi pada gadai swasta untuk objek gadai barang elektronik, seperti handphone, laptop, dan televisi.

Sekretaris PPGI Holilur Rohman menengarai kenaikan tersebut dipicu kebutuhan masyarakat terhadap uang tunai.

“Masyarakat membutuhkan fresh money (uang tunai) untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, terutama bagi mereka yang penghasilan menengah ke bawah atau harian,” ujarnya, Senin (13/4).

Meski tak mengantongi angka pasti, ia menuturkan rata-rata kenaikan gadai elektronik di perusahaan gadai swasta di atas 15 persen pada Maret lalu.

Kondisi tersebut membuat penumpukan nasabah di beberapa cabang gadai karena beberapa perusahaan mengurangi operasional. Beruntungnya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah melonggarkan operasional jasa keuangan sehingga beberapa perusahaan menambah operasional cabang.

Selain itu, lanjutnya, barang gadai menumpuk di gudang perusahaan gadai swasta. Fenomena ini disebabkan nasabah tidak menebus barang gadai yang jatuh tempo karena kesulitan finansial.

Hal ini juga memberikan dampak negatif bagi perusahaan gadai lantaran mereka terpaksa menurunkan harga jual barang di pasar dari harga semula. Ia mengaku perusahaan gadai kini berhati-hati dalam menaksir harga barang karena animo pasar terhadap barang gadai menurun di tengah pandemi.

“Yang penting mereka (perusahaan gadai) menaksir harga lebih rendah dari kondisi normal untuk mitigasi risiko kalau kemungkinan terburuknya barang tidak diambil kembali,” tuturnya.

Meski terjadi peningkatan gadai, ia mengatakan perusahaan gadai menghadapi tantangan dari sisi arus kas khususnya gadai swasta. Sebab, mereka memiliki keterbatasan modal lantaran mengandalkan pendanaan secara mandiri. Karenanya, asosiasi mendorong perusahaan gadai swasta untuk meningkatkan permodalan dengan mencari pinjaman investor.

“Katakanlah misalnya dana Rp500 juta, kalau dana habis sudah diam, kalau ada investor atau kreditur baru mereka bisa berkembang. Itu yang kami pacu untuk bisa mencari investor atau kreditur baru,” katanya.

Di satu sisi, sejumlah nasabah mengajukan keringanan angsuran seperti yang diatur oleh OJK. Akan tetapi, menurut Holil, keringanan bisnis gadai tak dapat disamakan dengan jasa keuangan lainnya karena jangka waktu kredit gadai cenderung lebih pendek yakni dua hingga tiga bulan. Sementara ini, perusahaan gadai memberikan keringanan sesuai dengan kemampuan finansial perusahaan seperti memperpanjang jatuh tempo dan menghapus denda.

Postingan Edukasi dan Wastafel Portabel Cara GRAHAEXCEL Lawan Corona

GRAHAEXCEL ikut aktif berperan serta dalam mendukung kebijakan pemerintah untuk melawan corona. Kegiatan CSR dalam membangun wastafel portable dan juga membuat postingan edukasi terkait Kesehatan adalah bentuk nyata perlawanan GRAHAEXCEL terhadap corona.

Dampak dari Virus Corona tidak pandang bulu semua industri dari besar,sedang dan kecil ikut terkena dan terpengaruhi bisnisnya. Pelaku brand kini harus melawan musuh yang tidak terlihat tersebut dengan memutar otak lebih keras lagi.

Termasuk yang terdampak dari virus ini adalah PT. Grahaexcel Plastindo. Sebagai produsen tangki air, perubahan harus dilakukan mengingat GRAHAEXCEL bermain di segmen B2B.

Eme Pepayosha Gurusinga Marketing Communication Specialist menyebutkan perubahan harus dilakukan untuk bisa melayani konsumen secara aman. Seluruh order tangki air yang masuk dilakukan secara online, untuk konsumen yang memerlukan satuan langsung di arahkan ke toko bangunan paling dekat dengan kediaman nya. Agar pengiriman dapat dilakukan secara tepat waktu dan aman.

“Kami juga menghimbau agar kandidat konsumen menggunakan hand sanitizer sebelum memasuki wilayah interview”, jelasnya.

Selain terkait penjualan, komunikasi yang dijalin kepada konsumen juga dilakukan melalui digital atau online. Media sosial menjadi corong komunikasi untuk memberikan edukasi dan mempererat kedekatan dengan konsumen.

“Kami terus menghimbau Sobat EXCEL untuk #bersamamelawancorona dalam berbagai bentuk Postingan Edukasi seperti Video instagram, Instafeed, sampai Instastory dengan Quantity yang diseimbangkan dengan Postingan inti”, jelasnya.

Untuk engagement, beragam campaign dilakukan GRAHAEXCEL dengan menggunakan tema kesehatan. Pertama adalah campaign “Sehat Bersama Excel” yang berisi konten video tutorial mengenai pembuatan jamu-jamuan, hand sanitizer dan Gerakan olahraga.

Kedua adalah “Produktif Bersama Excel” yang berisi konten video mengenai supaya tetap bisa produktif bagi perusahaan walau kerja di rumah. Yang terakhir adalah mempublikasi Gerakan mengurangi penyebaran Corona di daerah yang diwujudkan dalam bentuk wastafel portable atau darurat.

Untuk yang poin terakhir, merupakan bagian dari kegiatan CSR yang dilakukan Tangki air Excel. Program tersebut adalah program untuk pengadaan movable hand washer atau wastafel portable dibeberapa daerah-daerah seperti Batam, Pangkal Pinang, Universitas Indonesia dan Bogor.

“Kegiatan CSR tersebut untuk membuat wastafel portable dilakukan dengan mengandeng serta instansi-instansi non-profit dan pemerintah”, ucapnya.

Pemanfaatan teknologi digital dan kegiatan CSR tersebut dilakukan GRAHAEXCEL selain sebagai bentuk kostumer engagement juga sebagai bentuk dukungan kepada pemerintah untuk mencegah penyebaran pandemi ini.

Strategi Brand Pasarkan Produk di Tengah Pandemi Virus Corona

JAKARTA, 13 APRIL 2020 – Dampak wabah virus corona atau covid-19 sangat terasa di aspek bisnis dan ekonomi. Dalam waktu yang cukup singkat, pola pemasaran pun berubah terlebih ketika diberlakukan social distancing dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Pemasar harus putar otak, untuk bisa memasarkan produk atau jasa mereka ke konsumen, sebagai strategi brand bertahan ditengah pandemi virus corona. Para pelaku bisnis optimalkan pemasaran online dan digital branding sebagai sarana komunikasi dengan target konsumennya.

Chairman TRAS N CO Indonesia, Tri Raharjo menyebut, dampak dari bencana wabah virus corona, memukul banyak sektor bisnis di Indonesia. Beberapa sektor bisnis yang berpotensi mengalami penurunan penjualan seperti bengkel, restoran, salon, spa, properti, mice, tour & travel, hotel, transportasi, penerbangan, mall, fashion dan beberapa sektor bisnis lainnya.

Meski begitu, menurut Tri, ada beberapa sektor bisnis yang berpotensi stabil dan mengalami kenaikan seperti produk kesehatan yang dibutuhkan saat pandemi, e-commerce, minimarket, toko sembako, apotek, toko jamu, provider internet, jasa penyedia video conference, aplikasi belajar dari rumah, dan lainnya.

“Melihat permasalah tersebut, para pelaku brand harus menyikapinya dengan cepat dan tepat untuk merubah strategi penjualannya. Sehingga diharpakan tidak terjadi drop penjualan yang signifikan saat diberlakukannya social distancing,” kata Tri yang juga menjabat sebagai Chairman Komunitas Indonesia Brand Network (IBN).

Untuk tetap dapat bertahan di tengah pandemi ini, lanjut Tri, para pelaku brand harus bisa mensiasatinya. Mulai dari fokus ke pemasaran digital melalui website yang dijadikan e-commerce, social media, search engine, penjualan melalui marketplace dan bentuk tim reseller untuk menjual produknya.

“Karena yang saya lihat, ditengah pandemi virus corona ini ada ancaman sekaligus peluang. Bagi pemasar, tentunya harus dapat menangkap peluang ini menjadi hal yang mutlak,” jelasnya.

Terlebih, kata Tri, saat ini korban PHK atas dampak pandemi ini sudah mencapai lebih dari satu juta orang. Solusinya bagi korban PHK adalah dengan mencari alternatif lain dengan menjadi reseller atau penjual dari produk-produk yang dibutuhkan saat masa pandemi ini.

Sementara bagi pemasar, lanjut Tri, mereka dapat melakukan aksi sosial dengan membuka pola peluang usaha seperti membuka kerjasama reseller, dropship atau lainnya untuk menjual produknya secara masif kepada masyarakat.

“Dalam masa pandemi virus corona ini, pemasar harus cepat beradaptasi seiring dengan diberlakukannya social distancing. Karena sudah pasti sangat mempengaruhi perubahan besar dalam tren perilaku konsumen dalam berbelanja,” papar Tri yang juga sebagai pengamat brand.

Pemerintah sendiri telah menetapkan masa bencana darurat covid-19 hingga 29 Mei 2020 mendatang. Tentunya, para pemasar perlu menyikapinya dengan membuat strategi yang tepat, baik saat masa pandemi berlangsung maupun setelah pandemi berakhir.

Dalam hal ini, Tri pun memaparkan strategi brand dalam memasarkan produk di tengah wabah covid-19. Apa saja?

Produk elektronik misalnya. Mereka dapat membuka layanan belanja dari rumah. Begitu juga bisnis ritel yang menurut Tri dapat membuka layanan pesan delivery untuk dioptimalkan. Bahkan, ada perusahaan kosmetik yang meluncurkan produk hand sanitizer dan langsung dipasarkan secara nasional melalui jaringan ritel modern dan marketplace.

“Kalau pemain kuliner saat ini mulai beralih membuat produk ready to eat, ready to cook dan ready to drink serta frozen food yang dipasarkan melalui konsep pesan antar, konsep reseller dan penjualan melalui marketplace,” kata Tri.

Sementara untuk bisnis pendidikan, lanjut Tri, kini telah membuat layanan belajar dari rumah. Dimana siswa diberi akses untuk belajar dari rumah melalui aplikasi yang memudahkan siswa dalam belajar. Begitu juga dengan bisnis bengkel yang kini mulai mengembangkan layanan bengkel di rumah.

Untuk bisnis training, kini bisa langsung beradaptasi dengan membuat pelatihan atau webinar yang bisa diakses melalui aplikasi video conference. Dan beberapa brand hotel kini telah merubah fasilitas kamar hotel sebagai tempat istirahat bagi para tenaga medis dan lain sebagainya.

“Di tengah pandemi ini, tentunya para pelaku brand harus bijak dalam mengalokasikan dana campaign-nya. Dimana kreatifitas saat branding itu mutlak harus dilakukan, terlebih disaat work from home seperti ini. Kegiatan branding yang dilakukan pun beragam, mulai dari kegiatan CSR terkait pandemik virus corona, campaign belanja dari rumah, branding melalui media online, media sosial, website official, membuat online festival dengan memberikan diskon khusus dan lainnya,” ungkap Tri.

“Untuk mensukseskan program pemasaran di masa corona ini, principal wajib melakukan koordinasi secara intens dengan distributor, agen dan jaringan penjualan ritelnya. Hal ini dilakukan untuk mencapai target yang diharapkan,” pungkas Tri.