Beranda blog Halaman 875

Dari Diplomasi hingga Swasembada Pangan, Pesan Pembangunan Hadir di Karnaval Bersatu

Suasana Monumen Nasional (Monas), Jakarta, Minggu (17/8) malam, 17 Agustus 2025 dipenuhi gemerlap cahaya, dentuman musik, dan riuh tepuk tangan masyarakat. Sebanyak 32 kendaraan hias dari berbagai kementerian dan lembaga melintas dalam “Karnaval Bersatu” menampilkan capaian pembangunan, asta cita, sekaligus semangat kolaborasi untuk Indonesia yang lebih maju.

Warga yang hadir pun menyambut antusias, sementara para peserta karnaval menyuguhkan kreativitas terbaik mereka. Di sektor pangan, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama Kementerian Pertanian menampilkan simbol swasembada pangan.

Kendaraan hias mereka menggambarkan keseimbangan karbohidrat, lemak, dan protein, dengan KKP yang menonjolkan kekuatan protein dari sektor perikanan. “Bahwa seperti yang menjadi program prioritas Presiden kita memiliki kekuatan swasembada pangan,” ujar Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono.

Sementara itu, Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) membawa konsep tiga dimensi yang menggambarkan tugas pokoknya dalam penyelenggaraan pemerintahan, yakni sisi pemadam kebakaran, transformasi pelayanan digitalisasi, dan pengembangan sumber daya manusia pemerintahan dalam negeri. Konsep tersebut tergambarkan dalam kendaraan hias pada karnaval ini.

“Keseluruhan dari itu kemudian kami visualisasikan dalam rangka mendukung, mewujudkan program prioritas nasional, khususnya program prioritas Bapak Presiden kita, Bapak Prabowo Subianto yang divisualisasikan dalam tiga dimensi videotron,” jelas Kepala Biro Umum Kemendagri, Asmawa Tosepu.

Tidak hanya itu, kendaraan hias dari Kementerian Luar Negeri (Kemlu) pun tak kalah memikat masyarakat yang menyaksikan karnaval. Kendaraan hias Kemlu mencerminkan lima pilar diplomasi Indonesia mulai dari kerja sama ASEAN hingga kontribusi di PBB.

“Intinya perdamaian dunia adalah milik kita bersama dan perlu kita jaga. Oleh karena itu, maka peran serta seluruh masyarakat, stakeholder sangat diperlukan. Dalam kaitan ini Kementerian Luar Negeri ingin juga mengaitkan dengan berbagai langkah-langkah kerja sama yang kita lakukan di ASEAN, di PBB, dan juga di beberapa negara lainnya,” ucap Plt. Sekretaris Jenderal Kemlu, Heru Subolo.

Tak hanya kendaraan yang melintas, tetapi kendaraan hias ini juga menyampaikan pesan tentang kebersamaan, kerja nyata, dan harapan. Menurut Heru, Karnaval Bersatu menjadi ruang ekspresi kementerian dan lembaga dalam mengejawantahkan visi Presiden sekaligus mendekatkan capaian pembangunan kepada masyarakat.

“Seru sekali dan keren. Artinya bahwa tiap-tiap kementerian memberikan penampilan terbaiknya, langkah-langkah yang dilakukan masing-masing kementerian. Termasuk bagaimana mengejawantahkan visi dan misi Bapak Presiden Republik Indonesia,” katanya.

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

Sisi Lain Upacara HUT 80 RI, Cerita Bahagia dan Bangga Murid Papua Kibarkan Bendera Merah Putih

Untuk sebagian orang, pada tanggal 17 Agustus identik dengan upacara bendera, lomba rakyat, atau sekadar menikmati hari libur kemerdekaan. Namun bagi sekelompok pelajar yang terpilih dari berbagai daerah di Indonesia, momen tersebut terasa jauh lebih istimewa. Mereka yang mayoritas berasal dari wilayah timur Indonesia bukan hanya berdiri di lapangan, melainkan menjadi bagian dari Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) dalam upacara Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Republik Indonesia di halaman kantor Kemendikdasmen, Jakarta pada Minggu (17/8).

Tahun 2025, upacara HUT ke-80 RI yang digelar oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemendiktisaintek), serta Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) ini, menghadirkan wajah-wajah muda penerima Beasiswa Afirmasi Pendidikan Menengah (ADEM). Program beasiswa ADEM dari Pusat Layanan Pembiayaan Pendidikan, Kemendikdasmen yang memberikan kesempatan bagi siswa-siswi yang berasal dari daerah 3T (tertinggal, terdepan, terluar), Orang Asli Papua (OAP), serta anak-anak repatriasi bagi Pekerja Migran Indonesia (PMI) untuk melanjutkan Pendidikan Menengah sekaligus meraih prestasi.

Di antara anggota tim paskibra, salah satunya Queensy Inggrid Safkaur, siswi kelas XII SMAN 8 Kota Kediri, Jawa Timur, yang berasal dari Kabupaten Maybrat, Papua Barat Daya. Queensy mengungkapkan bahwa dirinya mendapatkan suatu kehormatan besar sebagai pembawa baki bendera pusaka. “Perasaan saya sangat senang dan bahagia karena bisa bertugas sebagai anggota Paskibra. Dengan tugas saya sebagai pembawa baki, saya bangga pada diri saya bahwa saya bisa. Apalagi saya juga bisa bertemu langsung dengan ketiga Menteri yakni Pak Abdul Mu’ti (Mendikdasmen), Pak Brian Yuliarto (Mendiktisaintek), dan Pak Fadli Zon (Menteri Kebudayaan). Itu pengalaman yang membuat saya semakin termotivasi,” ujarnya penuh senyum.

Ungkapan yang serupa disampaikan oleh Allmendo Hendrik Rumaropen (Aldo) yang berasal dari Kepulauan Yapen (Serui), Papua, saat ini sebagai siswa kelas XII SMAN 1 Jawilan, Banten. Aldo mengatakan bahwa dari sejak awal bergabung di Paskibra karena ingin melatih disiplin, mental, dan fisik. “Saya senang sekali bisa mengikuti acara yang sangat meriah ini. Ini menjadi salah satu kebanggaan buat diri saya sendiri menjadi Penerima/Penahan Bendera (posisi tengah),” ucap Aldo.

Bagi keduanya, pengalaman menjadi Paskibra bukan hanya soal baris-berbaris. Mereka belajar arti kedisiplinan, kerja sama, hingga persaudaraan dengan teman-teman baru dari berbagai provinsi dan suku. “Kami bisa saling mengenal meskipun berbeda daerah. Itu pembelajaran terbaik bagi saya,” tambah Aldo.

Dari pengalaman itu pula, mereka menitipkan pesan penting untuk generasi muda. Queensy menuturkan, “Generasi muda bisa mengisi hari kemerdekaan dengan kegiatan yang bukan hanya seru, tapi juga bermakna dan berdampak positif. Misalnya ikut lomba rakyat.”

Kisah Queensy dan Aldo, serta rekan-rekan penerima Beasiswa ADEM lainnya menjadi pengingat sederhana bahwa kemerdekaan bisa dirayakan dengan cara yang berbeda seperti ada yang bersorak di lomba panjat pinang, ada pula yang berdiri tegak di tengah lapangan membawa Sang Merah Putih. Namun, pada prinsipnya memiliki semangat yang sama untuk mengisi kemerdekaan dengan bangga dan penuh makna.

Sejalan dengan Asta Cita, Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka bertekad menjadikan Indonesia sebagai negeri yang tangguh, mandiri, dan sejahtera. Dalam sambutannya, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu`ti, mengatakan, Presiden Prabowo Subianto mengajak seluruh eleman bangsa Indonesia menunaikan janji kemerdekaan. “Merdeka dari kebodohan, merdeka dari kemiskinan, dan merdeka dari ketergantungan. Kita Bersatu demi Indonesia yang berdaulat, adil, dan Makmur,” ujarnya.

Bangsa yang maju memiliki sumber daya manusia yang kuat, unggul, religius (faithful), menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, dan keterampilan (skillful), berkepribadian utama (humble), melu handarbeni, dan tanggung jawab (_responsibility) memajukan bangsa dan negara. Seraya menyemangati generasi muda Indonesia, Mendikdasmen mengatakan, “Manusia yang merdeka adalah mereka yang memiliki asa, cita-cita, dan kegigihan untuk meningkatkan kualitas diri dengan semangat belajar sepanjang hayat, teguh pendirian, menjaga identitas budaya, cinta alam, dan kasih sayang kepada umat manusia,” pungkas Abdul Mu`ti.

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

Meriahkan HUT ke-80 Kemerdekaan RI, Presiden Prabowo Saksikan Karnaval Bersatu di Monas

Malam peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) makin semarak dengan digelarnya Karnaval Bersatu di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta, Minggu (17/08/2025) malam. Ribuan masyarakat tumpah ruah menyambut langsung kehadiran Presiden Prabowo Subianto, yang hadir untuk menyaksikan rangkaian karnaval perdana dalam perayaan HUT Kemerdekaan RI.
Presiden Prabowo tiba di kawasan Monas sekitar pukul 19.45 WIB dengan menggunakan kendaraan Maung. Tampak Presiden Prabowo menyapa masyarakat yang hadir di sekitar kawasan Monas, melambaikan tangan sambil menerima sorak-sorai hangat dari warga.
Setibanya di lokasi acara, Presiden Prabowo disambut oleh Wakil Presiden Gibran Rakabuming beserta Ibu Selvi Ananda Gibran, Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif Teuku Riefky, Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo, serta Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto.
Suasana kian khidmat ketika acara dibuka dengan Indonesia Raya, dilanjutkan persembahan lagu “Inspirasi Diri” oleh penyanyi Yura Yunita, dan penampilan megah Tarian Nusantara “Dari Sabang sampai Merauke” yang menampilkan kekayaan budaya bangsa.
Karnaval Bersatu resmi dimulai dengan penampilan Marching Band Gita Bahana Nusantara dan Kereta Kencana Garuda Praba Yeksa sebagai pembuka. Selanjutnya, arak-arakan kendaraan hias dari berbagai kementerian dan lembaga tampil bergantian, dimulai dari Kementerian Agama, Badan Penyelenggara Haji (BPH), Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH), Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH), hingga ditutup oleh parade kendaraan Kepolisian Negara Republik Indonesia.
Sepanjang jalannya karnaval, Presiden Prabowo tampak memberikan hormat dan membalas lambaian tangan para menteri dan peserta yang tampil dengan penuh semangat. Antusiasme masyarakat semakin terasa ketika setiap truk menampilkan kreativitas dan capaian program masing-masing kementerian/lembaga.
Sebagai puncak pembukaan, langit Monas dihiasi gemerlap pesta kembang api, memukau ribuan pasang mata yang hadir. Tepuk tangan meriah pun bergema, menandai dimulainya perjalanan karnaval menuju Bundaran Hotel Indonesia hingga Semanggi.

Karnaval Bersatu tidak hanya menjadi simbol kemeriahan, tetapi juga cerminan persatuan, kreativitas, dan pencapaian bangsa di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

Ribuan Warga Padati Monas, Rayakan Kemerdekaan dengan Lomba Rakyat dan Hiburan Gratis

Suasana riang dan penuh kebersamaan terasa di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta, Minggu (17/8). Ribuan warga memadati area Monas untuk menikmati pesta rakyat yang digelar dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Berbagai kegiatan dihadirkan untuk masyarakat, mulai dari taman bermain untuk anak-anak, aneka lomba seperti panjat pinang, lomba makan kerupuk, bazar usaha mikro, kecil. dan menengah (UMKM), hingga panggung musik. Tidak hanya itu, atraksi udara dari pesawat tempur yang melintas di langit Monas menambah semarak pesta rakyat kali ini.

Ibu Ade, warga Jakarta, mengaku terkesan dengan kemeriahan pesta rakyat tahun ini. Ia datang bersama anak-anaknya sejak pagi dan merasa senang dengan berbagai fasilitas yang disediakan.

“Dari jam 8, tadi lihat ada pesawat, setelah upacara tadi ada pesawat yang bagus banget pokoknya. Terus muter-muter, anak-anak main perosotan, makasih juga sih ada makanan gratis. Top banget pokoknya,” ujar Ibu Ade dengan wajah sumringah.

Ia menambahkan, acara kali ini terasa istimewa karena baru pertama kali merasakan suasana semeriah ini. Ade pun menyampaikan ucapan terima kasih kepada Presiden Prabowo Subianto.

“Makasih banget Pak Presiden Prabowo karena ini pertama kali kita merasakan semeriah ini sih ya. Ada fasilitas kayak perosotan, makanan gratis, minuman gratis. Terus ada pesawatnya juga tadi sambil makan pagi-pagi yang gratis. Terima kasih Pak Presiden. Masyarakat senang semua sih kayaknya,” ungkapnya.

Senada, Bambang Wahyudi, warga Bogor, datang ke Monas bersama istri, anak, dan cucunya. Ia mengatakan tiba sejak pukul 07.15 WIB, langsung menyaksikan kirab bendera, atraksi terjun payung, dan pesawat tempur di udara.

“Alhamdulillah, baru tahun ini semenjak Pak Prabowo, kita dikasih makan gratis,” tutur Bambang.

Menurutnya, atraksi pesawat yang berulang kali melintas di langit Jakarta menjadi tontonan paling berkesan. “Pesawat terbang itu biasanya kan hanya sebentar ya, hanya satu kali pertunjukan. Kalau sekarang itu beberapa kali pertunjukan. Dan kita sangat senang dengan pilot-pilot sekarang,” ujarnya penuh antusias.

Tidak hanya warga Jakarta dan Bogor, rombongan dari Depok juga turut hadir. Sandi bersama rekan-rekannya datang sekitar pukul 10 pagi untuk menyaksikan kemeriahan pesta rakyat.

“Harapannya, semoga dengan 80 tahun ini Indonesia lebih sejahtera. Rakyatnya sejahtera. Negara yang berdaulat,” ungkapnya.

Pesta rakyat di Monas kali ini tidak hanya menjadi hiburan bagi masyarakat, tetapi juga memperlihatkan semangat persatuan dan gotong royong yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia. Dengan sajian kuliner gratis hingga permainan rakyat, suasana 17 Agustus tahun ini menjadi momentum yang penuh warna dan kebanggaan.

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

Kirab Budaya Hantarkan Duplikat Bendera Merah Putih dan Teks Proklamasi Kembali ke Monas

Suasana khidmat sekaligus meriah kembali terasa saat prosesi kirab budaya digelar dari Istana Merdeka menuju Monumen Nasional (Monas), Minggu (17/08/2025) sore. Kirab tersebut menjadi salah satu rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Prosesi kirab diawali dengan penyerahan duplikat bendera Merah Putih dan teks Proklamasi dari mimbar kehormatan Istana Merdeka. Kedua benda bersejarah itu diserahkan oleh perwira Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) kepada Tim Purna Paskibraka Duta Pancasila.

Duplikat bendera Merah Putih dibawa oleh Lutfiyah Naurasyifa Utoyo, Purna Paskibraka Tahun 2024 yang mewakili Provinsi Sulawesi Tenggara. Sementara itu, Livenia Evelyn Kurniawan, Purna Paskibraka Tahun 2024 asal Provinsi Kalimantan Timur, mendapat kehormatan membawa teks Proklamasi. Keduanya menempuh perjalanan menuju Monas dengan menaiki Kereta Kencana Garuda Praba Yeksa, yang tampil megah diiringi barisan pasukan pengawal.

Arak-arakan kirab budaya ini turut diiringi oleh 45 pasukan motoris, drumben taruna akademi TNI dan Polri, 145 pasukan berkuda, serta pasukan Nusantara yang menampilkan keindahan busana adat dari berbagai daerah. Ribuan warga yang memadati rute kirab tampak antusias menyaksikan jalannya prosesi, melambaikan tangan, dan mengabadikan momen bersejarah tersebut.

Setibanya di kawasan Monas, duplikat bendera dan teks Proklamasi dibawa menuju Ruang Kemerdekaan Monas. Di tempat sakral tersebut, kedua benda pusaka itu diserahkan kepada Sekretaris Presiden Mayjen TNI Ariyo Windutomo untuk disimpan kembali dengan penuh kehormatan.

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

Pesta Rakyat di Halaman Istana, Rakyat Menyatu dalam Kemerdekaan

Halaman tengah Istana Merdeka, Jakarta, pada Minggu (17/8), menjadi saksi kebersamaan rakyat dan pemimpin bangsa usai berlangsungnya Upacara Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Seusai upacara, masyarakat yang hadir tidak langsung beranjak pulang.
Mereka menuju halaman tengah untuk menikmati suasana pesta rakyat yang untuk pertama kalinya digelar di lingkungan Istana sebagai bagian dari perayaan hari kemerdekaan. Pesta rakyat ini menghadirkan puluhan stan makanan yang disiapkan oleh para pedagang dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dari sekitar Istana.
Hidangan khas Nusantara tersaji berjejer, mulai dari sate, soto ayam, mie goreng Jawa, hingga aneka kudapan tradisional lainnya. Kursi-kursi di antara pohon-pohon rindang telah disiapkan agar masyarakat bisa menikmati hidangan sambil ditemani alunan musik dari grup musik Ndarboy Genk yang membuat suasana makin meriah dan hangat.
Salah seorang masyarakat yang hadir, Zefanya mengaku terkesan dengan inisiatif baru ini. Menurutnya, keterlibatan para pelaku UMKM dan pedagang memperlihatkan kebersamaan yang saling menyatu.
“Kita bisa bersama-sama pejabat dengan rakyat, bisa bersama-sama menyatu dalam satu acara khusus untuk menikmati hidangan yang telah disajikan oleh Istana Merdeka Jakarta,” ucapnya.
Sementara itu, Dewi Leba, masyarakat yang berasal dari Nusa Tenggara Timur (NTT) menyampaikan apresiasinya terhadap pelaksanaan pesta rakyat untuk pertama kalinya. Acara ini menurutnya dapat membantu roda ekonomi para pelaku usaha yang terlibat.
“Jadi selain ada pesta kemeriahannya dapat, roda ekonomi di tempat ini juga berputar dan membantu para pelaku usaha, makanan dan lain-lain,” ucapnya.
Bagi para pedagang, keterlibatan dalam pesta rakyat ini memberikan kebanggaan tersendiri dengan membawa dagangan mereka masuk ke halaman Istana. Ahmad Musfiq, pedagang sate Madura, juga mengaku bangga bisa masuk ke Istana untuk pertama kalinya.
Sementara bagi Khoirun Nasikin, pedagang mie goreng Jawa yang telah mendapatkan kesempatan masuk Istana sebelumnya mengatakan bahwa pesta rakyat kali ini terasa berbeda.
“Ya, cukup menyenangkan. Semoga makin berkembang, ekonominya makin membaik,” ucapnya.

Gelaran pesta rakyat di halaman tengah Istana ini menjadi simbol keterbukaan dan kebersamaan. Di tengah peringatan kemerdekaan yang penuh khidmat, masyarakat bisa bergembira, berbagi makanan, dan merayakan semangat persatuan. Sambil menyantap hidangan tradisional, masyarakat dari berbagai kalangan melebur tanpa sekat yang membuktikan bahwa kemerdekaan bukan hanya milik negara, tetapi juga milik seluruh rakyat Indonesia.

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

Tim “Indonesia Bersatu” Bersiap Laksanakan Upacara Penurunan Bendera di Istana Merdeka

Selepas khidmatnya Upacara Peringatan Detik-Detik Proklamasi, sorenya halaman Istana Merdeka Jakarta kembali menjadi saksi momen bersejarah dalam rangkaian Hari Ulang Tahun ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia. Kali ini, giliran Tim Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) “Indonesia Bersatu” yang didaulat melaksanakan Upacara Penurunan Bendera Negara Sang Merah Putih, pada Minggu (17/08/2025).
Tugas sebagai pembawa baki Sang Merah Putih dipercayakan kepada Aliah Sakira, perwakilan Provinsi Sulawesi Selatan. Siswi SMA Negeri 14 Makassar itu akan membawa baki bendera saat prosesi berlangsung. Sebagai cadangan pembawa baki, ditunjuk Sultana Najwa, putri asal Provinsi DKI Jakarta yang bersekolah di SMAN 82 Jakarta Selatan.
Prosesi penurunan bendera turut dijalankan oleh I Kadek Mentor Sad Ananta Wicaksana dari Provinsi Bali. Pelajar SMA Negeri 9 Denpasar tersebut dipercaya menjadi Komandan Kelompok 8. Sementara itu, tugas pengerek bendera diemban oleh Hilton Pratama Mantong dari Sulawesi Barat yang kini menempuh pendidikan di SMA Negeri 1 Mamuju.
Adapun peran pembentang bendera dijalankan oleh Muhammad Ghaalib Al Ghifari, pelajar SMA Kebangsaan asal Provinsi Lampung. Sedangkan untuk posisi Komandan Kelompok 17, dipercayakan kepada Adinata Kurniawan Harahap dari Sumatra Utara, siswa SMA Ip Adzkia Medan.
Sebagai Komandan Upacara Penurunan Bendera Negara Sang Merah Putih, bertugas Kolonel Pnb Sunar Adi Wibowo, sementara posisi Komandan Kompi Paskibraka dipegang oleh Kapten Inf Xandy Dharwika Hutagaol, yang saat ini menjabat sebagai Kasiren Grup 1 Kopassus.

Tampilnya Tim Paskibraka “Indonesia Bersatu” sore itu menjadi simbol kuat semangat persatuan bangsa. Dari berbagai daerah di Tanah Air, generasi muda Indonesia memperlihatkan kebanggaan dan dedikasi mereka dalam menjalankan tugas negara.

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

Presiden Prabowo dan Menteri Kabinet Kompak Kenakan Pakaian Adat di Upacara HUT RI 2025

Presiden Prabowo Subianto dan jajaran Menteri Kabinet Merah Putih kompak mengenakan pakaian adat dalam Upacara Peringatan Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia yang berlangsung khidmat di Istana Merdeka, Jakarta, Minggu (17/08/2025). Kepala Negara tampak mengenakan beskap dipadankan dengan wastra nusantara.

Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi tampil dengan pakaian adat asal Padang, Sumatera Barat.

“Alasannya pertama, ya tentunya kita menghormati salah satu proklamator kita, Bung Hatta, karena berasal dari Sumatera Barat. Yang kedua, kebetulan saya orang Jawa. Dalam filosofi Jawa, Padang itu artinya terang. Jadi ini doa dan harapan bahwa ke depan Indonesia akan terang benderang,” ujar Mensesneg.

Menteri Agama Nasaruddin Umar beserta istri mengenakan busana khas Bugis. “Ini Bone, songkok Bone dan insyaallah istri juga pakai Bugis. Pertama, saya dari Bugis ya,” kata Menteri Nasaruddin.

Sementara itu, Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto beserta istri mengenakan pakaian adat Sunda yang merupakan asal dari Bima.

“Yang pertama ini adat Sunda, Priayi Sunda. Karena saya dari Sunda, istri saya dari Sunda. Tapi dulu para pejuang kemerdekaan, Tirto Adhi Soerjo, Cokroaminoto, bajunya juga seperti ini. Dan mereka-mereka inilah intelektual yang berjuang di fase-fase awal menuju kemerdekaan bangsa,” ungkap Bima.

Menteri Sosial Saifullah Yusuf memilih batik khas Jawa dari Yogyakarta. “Pagi ini alhamdulillah saya punya kesempatan untuk menggunakan batik khas Jawa. Ini khususnya Yogyakarta ya,” tuturnya.

Keberagaman pakaian adat yang dikenakan Presiden serta jajaran menteri dan pejabat negara mencerminkan kekayaan budaya Indonesia. Dari Sabang sampai Merauke, tradisi dan identitas lokal berpadu dalam satu perayaan kebangsaan, memperlihatkan betapa majemuknya Indonesia namun tetap bersatu sebagai bangsa. 

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

Momen Unik Upacara 17 Agustus 2025: Istana Merdeka Jadi Pesta Rakyat dengan “Tabola Bale”

Ada momen tak biasa sekaligus mencuri perhatian pada Upacara Peringatan Detik-detik Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia di Istana Merdeka, Jakarta, Minggu, 17 Agustus 2025. Di balik kekhidmatan upacara sakral tersebut, suasana tiba-tiba pecah penuh tawa dan sorak ketika lagu “Tabola Bale” dibawakan oleh Silet Open Up dan Diva Aurel.

Lagu yang memadukan musik khas Timur yang energik itu sejak bait pertama langsung mencuri perhatian. Tidak hanya tamu undangan, para peserta upacara pun mulai menggoyangkan badan mengikuti irama. Bahkan, Presiden Prabowo Subianto yang duduk di mimbar kehormatan tampak ikut bergoyang mengikuti alunan musik.

Kemeriahan semakin terasa ketika Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi dan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya turun dari panggung kehormatan. Dengan penuh semangat, keduanya bergabung bergoyang bersama para pasukan upacara, membuat suasana lapangan Istana Merdeka berubah menjadi pesta rakyat yang penuh kegembiraan.

Sorak riuh pun terdengar ketika Presiden Prabowo kemudian bangun dari tempat duduknya dan turun ke lapangan, berjoget bersama dengan wajah sumringah. “Tabola Bale” yang dikenal enerjik benar-benar menyulut semangat kebersamaan. Dari pejabat negara, peserta upacara, hingga tamu undangan, semua larut dalam joget bersama di halaman istana.

Tak ayal, momentum ini menjadi salah satu potret unik dari peringatan 80 tahun kemerdekaan Indonesia. Dari upacara yang penuh khidmat hingga berlanjut pada perayaan meriah, semuanya menjadi simbol bahwa kemerdekaan bukan hanya untuk dikenang, tetapi juga dirayakan dengan sukacita dan kebersamaan.

Di bawah langit Jakarta siang itu, Presiden, menteri, dan rakyat bergoyang dalam satu irama, menegaskan pesan bahwa semangat kemerdekaan adalah tentang persatuan, kegembiraan, dan cinta tanah air.

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

Dari Pencak Silat ke Pacu Jalur, Kreativitas Anak Negeri di HUT ke-80 Kemerdekaan RI

Suasana peringatan HUT ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) di Halaman Istana Merdeka, Jakarta, pada Minggu (17/8), tidak hanya diwarnai prosesi khidmat upacara, tetapi juga meriah oleh rangkaian pagelaran seni dan budaya. Dari pencak silat hingga musik modern, semua ditampilkan sebagai simbol kekayaan sekaligus keberagaman bangsa.

Aktor sekaligus pesilat Iko Uwais menjadi salah satu bintang yang memeriahkan perayaan. Ia tampil bersama ratusan pesilat dalam koreografi khusus.

“Wah ini sebetulnya perasaan ditanya perasaannya ini di luar ekspektasi ya. Senang banget masih dikasih kepercayaan saya untuk tampil di Istana,” ujarnya.

Bagi Iko, silat bukan sekadar seni bela diri, tetapi warisan budaya yang harus dijaga.

“Saya sangat cinta budaya saya sendiri, pencak silat. Nggak saya aja, harus ada regenerasi. Bangsa Indonesia tidak punah untuk budayanya, yaitu pencak silat yang harus diabadikan,” tegasnya.

Sementara itu, Miracle Dancers Family menghadirkan pertunjukan unik yang memadukan hip hop, jaipong, dan gerakan pacu jalur. Menurut mereka, perpaduan ini lahir dari semangat menjaga tradisi sekaligus mengikuti perkembangan zaman.

“Tentu senang, gembira, sangat excited. Excited, karena ini memang juga pengalaman pertama tampil di Istana Negara langsung. Jadi, senang banget bisa langsung ketemu sama Pak Presiden Prabowo juga,” katanya.

Energi berbeda hadir dari panggung musik ketika Silet Open Up dan Diva Aurel membawakan lagu dengan penuh penghayatan. Meski diwarnai rasa gugup, keduanya tetap tampil maksimal di hadapan Presiden Prabowo dan para tamu undangan.

“Pastinya gugup itu pasti ada. Gugup, nervous, itu pasti ada. Tapi bagaimana kita mengatasi itu semua terus kita harus memberikan yang terbaik,” ucapnya.

Mereka pun menyampaikan harapan untuk Indonesia. “Semoga ke depan Republik Indonesia kita semakin solid, semakin keren, semakin gacor terus. NKRI harga mati,” ucapnya lantang.

Dari kalangan muda, penampilan Natashia Djong, pemain biola berusia 10 tahun, mencuri perhatian. Dengan penuh percaya diri, ia membawakan lagu ‘Indonesia Pusaka’, ‘Pacu Jalur’, dan ‘Indonesia Merdeka’. “Rasa saya bangga banget, terus senang banget, soalnya ini adalah impian saya,” tuturnya.

Tak hanya itu, Natashia juga memberikan pesan khusus kepada Presiden Prabowo.

“Semangat ya, jangan menyerah untuk Indonesia,” katanya penuh antusias.

Pagelaran seni tahun ini menghadirkan harmoni lintas generasi dan lintas budaya. Dari anak-anak hingga seniman nusantara berskala internasional, semua menyatukan energi dalam semangat kemerdekaan. Setiap penampilan bukan sekadar hiburan, melainkan juga perwujudan cinta pada negeri, sekaligus pengingat bahwa budaya Indonesia harus terus hidup dan diwariskan. 

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News