Pondok ini sejak awal berdiri sebenarnya juga fokus untuk pendalaman ilmu-ilmu agama Islam. Sehingga pesantren al-Ittifaq sejak berdiri lebih dikenal sebagai Pondok Pesantren Salafiyah. Akan tetapi, sejak dipimpin KH. Fuad Affandi, pesantren ini mendapat tambahan sebutan sebagai pesantren Wirausaha.
Sebenarnya, kalau dilihat dari latar belakang pendidikan, KH. Fuad Affandi juga lulusan pondok pesantren Salafiyah. Hanya saja, sejak beliau memimpin pondok pesantren ini ada gerakan-gerakan tambahan muatan pembelajaran di pondok pesantren dengan menambahkan materi-materi di bidang kewirausahaan. Tidak hanya bersifat teoritik tetapi juga diterapkan dalam kegiatan-kegiatan keseharian santri dan bahkan juga melibatkan masyarakat di sekitar pondok pesantren.
Setelah menempuh pendidikan di pondok pesantren di Cicalengka Bandung, pesantren di Banjarnegara, pesantren al-Hidayah Lasem asuhan KH. Maksoem dan beberapa pondok pesantren di Jawa, KH. Fuad Affandi kembali ke pondok yang didirikan orangtuanya. Tidak beberapa setelah orang tuanya meninggal dunia, di pundak beliaulah kepemimpin pondok pesantren diberikan. Mulai saat itu, pikiran, ide, dan gagasan yang selama ini ada di kepalanya mulai diwujudkan. Inilah yang pertama dan beda dengan kebanyakan pesantren-pesantren yang ada. Dan ternyata pilihan yang dikembangkan adalah di bidang wirausaha dan fokusnya pada bidang agribisnis.
Pilihan ini sangat beralasan dan tepat. Karena lokasi pesantren dan kondisi geografisnya sangat cocok untuk bidang pertanian. Kerisauan awal yang terus menggeliat di pikiran belaiu adalah kondisi masyarakat di sekitar pondok pesantren. Hal itu sering dia ceritakan dalam beberapa kesempatan memberikan pembekalan kepada sejumlah pimpinan pesantren.
Kenapa wilayah di sekitar pondok pesantren yang potensial untuk dikembangkan bidang pertanian dan juga tersedia sumberdaya yang memadai tetapi masyarakat justru cenderrung meninggalkan kampung halamannya dan berusaha mengais rezeki di kampung-kampung orang lain?


.webp)


















