spot_img

BERITA UNGGULAN

Inspirasi KH Fuad Affandi Mengembangkan Pesantren Wirausaha

Kegelisahan inilah yang terus menyelimuti pikiran KH Fuad Affandi. Dia pun terus berusaha mencarikan solusinya. Dengan kesungguhan dan totalitas perjuangan, akhirnya impiannya bisa diwujudkan. Berangsur-angsur masyarakat di sekitar pondok kembali ke desanya. Dengan motivasi sang kyai, satu hari, dua hari dan seterusnya akhirnya hampir semua masyarakat di sekitar pondok kembali ke kampung halamannya. Selama ini mereka mengadukan nasibnya di wilayah-wilayah orang atau di kota-kota yang dianggap di sana adalah sumber penghasilan. Padahal sesungguhnya apa yang dicari itu ada di kampung halamannya sendiri.

Ada cerita menarik terkait cara pandang KH Fuad dalam melihat potensi desanya. Suatu saat, pabrik sepatu di Bandung akan melakukan ekspansi ekpor ke Timur Tengah. Untuk itu dimulailah mengirim sales-market untuk menjajaki kemungkinan dilakukan ekspor ke sana. Dikirimlah satu orang ke sana. Sesampai di suatu daerah di Timur Tengah, orang ini mendapatkan gambaran tentang kondisi masyarakat di sana. Ternyata tidak ada satu orangpun yang memakai sepatu. Akhirnya sales ini kembali ke perusahaannya dan menyatakan kepada pimpinannya bahwa “Kita tidak mungkin ekspor sepatu ke sana karena tidak ada seorangpun yang mengenakan sepatu”.

Kemudian pihak perusahaan mengirim kembali seorang sales yang lain ke lokasi yang sama. Setelah sampai di tempat, yang disaksikan sales kedua ini sama persis dengan yang dilihat sales yang pertama. Akan tetapi perspektif dan kesimpulan yang didapatkan ternyata berbeda. Dia kembali ke perusahaan dan ketemu pimpinan yang menugaskan dengan menyatakan, “Ini sangat prospektif. Kita akan bisa ekspor yang banyak ke sana karena masyarakatnya belum ada yang memakai sepatu”.

Pelajaran yang berharga dari cerita ini bahwa optimisme berpengaruh terhadap cara pandang akan peluang. Inilah yang ditanamkan KH. Fuad Affandi kepada para santri dan masyarakat di sekitar pondok agar selalu berpandangan optimis dan melihat semuanya adalah peluang. Berbekal nilai-nilai seperti ini yang sudah tertanam pada jiwa santri dan masyarakat, program wirausaha, khususnya di bidang agribisnis,  pesantren Al Ittifaq berkembang pesat. Bahkan, hasil pertanian pesantren ini mampu mengisi kebutuhan banyak supermaket di Kota Bandung dan sekitarnya. Akhirnya masyarakat tidak ada lagi yang ingin meninggalkan kampung halamannya karena ternyata di situ ada sumber rezeki yang cukup melimpah yang selama ini tidak diketahui.

Untuk terus mengembangkan dan memajukan potensi agribisnis di pesantren dan masyarakat sekitarnya, ada pesan yang selalu diulang-ulang Kyai Fuad, yaitu: ‘tidak boleh ada sejengkal tanah yang tidur, tidak ada boleh sedetik waktu yang nganggur, dan tidak boleh ada sehelai sampah yang ngawur’. Dari pesan yang sarat filosofis ini, semua santri dan masyarakat mencoba dan bekerja keras untuk menjalankannya dalam aktifitas sehari-hari.

Kirimkan Press Release berbagai aktivitas kegiatan Brand Anda ke email sekt@suarapemerintah.id

Artikel Terkait

Suara Hari Ini

Ikuti Kami

10,502FansSuka
392PengikutMengikuti
7PengikutMengikuti
2,920PelangganBerlangganan

Terbaru