Dampaknya luar biasa. Hari ini semua orang mengenal bahwa Pondok Pesantren al-Ittifaq adalah pesantren wirausaha di bidang agribisbisnis. Banyak orang tertarik mengembangkan bidang ini, dan mereka mendatangi pesantren Al Ittifaq untuk mendapat pencerahan dan ingin menirunya. Selain komunitas pesantren, banyak juga civitas perguruan tinggi yang datang ke sana untuk study banding pengembangan agribisnis di kampusnya masing-masing.
Maka, bukan kebetulan kalau Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil me-launching program pengembangan wirausaha pondok pesantren juga di pondok pesantren ini. Melalui program yang dinamakan One Pesantren One Product (OPOP), Gubernur Jawa Barat menginginkan agar pondok-pondok pesantren di wilayahnya juga bisa mengembangkan program wirausaha. Dengan satu pesantren satu produk usaha ini, diharapkan masing-masing pondok pesantren di samping tetap mendalami ilmu agama sebagai core-nya, juga akan memiliki branding usaha seperti Pondok Pesantren al-Ittifaq.
Ada pemikiran KH. Fuad Affandi lainnya yang unik dan menarik yang pernah beliau ceritakan. Sebagai pondok pesantren yang meng-claim sebagai pesantren wirausaha atau entrepreneurship, semua aktivitas atau kegiatan yang dilakukan santri, ustadz atau kyai harus ada nilai-nilai ekonomis. Salah satunya adalah kegiatan salat berjamaah. Sebagai pondok pesantren wirausaha, kegiatan salat jamaahpun harus “menghasilkan uang”. Bagaimana caranya? Ternyata untuk mendisiplinkan santri salat berjamaah dibuat aturan yang mendukung program wirausaha yang juga bisa “menghasilkan uang”. Aturannya adalah santri yang ketinggalan (masbuk) satu rekaat didenda Rp10.000,- dan seterusnya. Sekali lagi, tujuannya bukan untuk menghasilkan uang tetapi mendisiplinkan santri untuk salat berjamaah, dan melatih bersedekah.
Cerita inspiratif lainnya dari Kyai Fuad, tentang cara dan strategi menerima santri. Sebab, di pesantrennya, santri tidak hanya ngaji, tetapi harus berwirausaha khususnya di bidang agribisnis. Ternyata, semua santri pondok ini sudah diproyeksikan untuk mendukung program wirausaha sesuai tingkatannya. Kalau santrinya lulusan Sekolah Dasar (SD) diterima dan diajari cara pembuatan bibit. Kalau lulusan SMP/MTs diajari packaging. Kalau lulusan SLTA diajari marketing. Dan ketika ditanya kalau calon santrinya sudah sarajana? “Kalau pas dan cocok diambil menantu untuk diproyeksikan menjadi manager,” gurau Kyai Fuad.
Kepada para santri, Kyai Fuad selalu berpesan tentang tiga hal: jaga akhlak, mumpuni dalam ilmu agama, dan terampil dalam mengembangkan wirausaha. Saya kira tepat nasehat dan wasiat ini. Sebab, setiap ibadah yang kita lakukan bisa sempurna kalau didasari akhlak yang baik dan ada ilmunya. Santri juga harus mandiri dalam menjalani kehidupan dan pentingnya belajar berwirausaha.






