SuaraPemerintah.id –Â Presiden Jokowi baru saja melantik pejabat di lingkungan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS), salah satunya ialah Ali Ghufron Mukti sebagai Direktur Utama BPJS Kesehatan.
Setelah resmi menjabat sebagai Dirut BPJS Kesehatan untuk masa jabatan 2021-2026, Ali mengajak serta lapisan masyarakat untuk bersama-sama membuat sistem kesehatan nasional menjadi lebih baik.
Ia menyebut terutama dalam hal pelayanan kepada masyarakat. Ia pun berjanji akan meningkatkan pelayanan dari BPJS Kesehatan kepada masyarakat.
“Kami akan meningkatkan dan fokus kepada kualitas layanan terutama mengoptimalkan penggunaan teknologi, sehingga kualitas layanan akan meningkat,” ujarnya dalam konferensi pers usai pelantikan.
Untuk itu, ia menuturkan BPJS Kesehatan akan meningkatkan customer journey atau pengalaman pelanggan saat menggunakan layanan dari eks PT Askes tersebut.
Teknologi diakui Ali Ghufron bisa memperbaiki pelayanan termasuk contohnya ialah mengurangi antrean layanan yang selama ini terkenal panjang.
“Antrean tidak lagi sekitar enam jam, tapi bisa lebih cepat,” ucap Ali Ghufron.
Mantan Wakil Menteri Kesehatan era SBY itu juga menyatakan akan tetap memastikan keberlanjutan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) tersebut melalui kecukupan dana.
Ia menuturkan meskipun BPJS Kesehatan telah mencatatkan surplus hingga Rp18 triliun, namun ia menuturkan masih ada defisit sebesar Rp7 triliun pada aset bersih (net asset) berdasarkan laporan yang diterimanya.
“Oleh karena itu kami akan tingkatkan pengelolaan dengan lebih baik,” imbuhnya.
Ia juga memastikan Dewan Direksi yang baru nantinya akan fokus pada peningkatan jumlah peserta dan peningkatan engagement, atau keterlibatan semua pihak.
Meliputi pemerintah pusat, pemerintah daerah, asosiasi, pengamat, perguruan tinggi, masyarakat, dan semua lapisan untuk meningkatkan kepesertaan dan keterlibatan.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Dewan Pengawas BPJS Kesehatan Achmad Yurianto mengakui amanah yang baru diemban tersebut sangat berat. Pasalnya, tantangan di sektor kesehatan semakin kompleks ke depannya.
“Bukan saja terkait dengan penyakit pandemi yang sekarang kita hadapi, tetapi juga memang permasalahan kesehatan secara mendasar, kami masih memiliki banyak pekerjaan,” tuturnya.


.webp)
















