SuaraPemerintah.id – Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur menyebutkan kinerja ekspor untuk komoditas rumput laut sangat baik, terbaru akan mengekspor ke pasar Korea Selatan.
Salah satu UMKM yang melakukan ekspor CV Muilti Sarana Jaya melalui Direkturnya Samuel Kurniawan Ang menjelaskan pihaknya tengah menunggu keberangkatan 1 kontainer 20 feet ekspor rumput laut.
“Kalau nggak meleset sekitar tanggal 21 atau 24 [februari] kita kirim ke korea,” ujarnya, Rabu (10/1/2021).
Bisnis yang dimulai sejak pertengahan 2015 tersebut awal mulanya melihat dari potensi melimpah untuk sumber daya alam Kaltim, di samping potensi kayu, batu bara, dan sawit.
“Saya berpikir rumput laut ini bagus karena budi daya berkelanjutan, itu yang membuat saya tertarik untuk menggeluti,” katanya.
Samuel menambahkan pihaknya melakukan ekspor pertama kali pada April 2020. Sebelumnya, dia hanya melakukan perdagangan domestik hingga tahun 2019 memulai penjajakan terkait perdagangan luar negeri.
Samuel mendapatkan bahan baku rumput laut dari Kota Bontang, Kaltim dan Provinsi Kaltara (Tarakan dan Nunukan) dengan kisaran harga di petani mencapai Rp13.500 per kilogram.
Dia mengungkapkan bahwa dalam sebulan dapat menjual rata-rata 12 ton rumput laut ke beberapa daerah seperti Makassar dan Surabaya yang dapat menghasilkan pendapatan bersih sekitar Rp30 juta per bulan.
“Potensinya bagus, permintaan cukup tinggi kadang-kadang kita kekurangan bahannya, masalahnya justru harga tidak stabil, tergantung supply dan demand,” ungkapnya.
Di sisi lain, pandemi Covid-19 membuat dampak yang cukup besar bagi Samuel. Pasalnya, baik permintaan domestik maupun ekspor menurun cukup drastis sepanjang 2020.
Dia menjelaskan bahwa sebelum keadaan pandemi, pengiriman rumput laut ke Eropa lancar. Namun, untuk saat ini, terjadi penurunan pengiriman yang menyebabkan Samuel kehilangan 50 persen pendapatan.
“Sekarang pangsa pasar kurang karena Covid-19, permintaan di luar juga agak berkurang, stok mereka juga selalu cukup,” jelasnya.
Adapun, Samuel mengakui bahwa tantangan terbesar yang dihadapi adalah bagaimana membuat raw material rumput laut menjadi produk olahan sebagai komoditas ekspor ke depannya.
“Kita tidak ingin mengekspor dalam barang mentah, kalau ada potensi kita ingin mengembangkan olahan agar mendapatkan value added sehingga kita bisa terus menjamin petani kita yang di bawah karena kalau [harga] terlalu rendah khawatir mereka tidak bisa mencukupi kehidupan mereka,” terangnya.
Sementara itu, pengamat ekonomi Purwadi menyatakan bahwa pemerintah daerah dapat secara simultan mendorong ekspor dengan melakukan pemetaan terhadap indeks daya saing UMKM di Kaltim.
“Sebenarnya itu tantangan untuk pemerintah daerah, bahwa banyak potensi yang belum digali,” katanya.
Purwadi memaparkan koordinasi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah diperlukan dalam menyusun indeks daya saing dalam kaitannya kepada standar produk, lingkungan, bahan baku, kontinuitas dalam skala tertentu.
“Tentunya melibatkan banyak instansi terkait sektor keuangan, penanaman modal, dan pelaku usaha sendiri (Kadin),” pungkasnya.
Pandemik virus corona atau COVID-19 menggempur Benua Etam dalam sepuluh bulan terakhir. Meski demikian kinerja ekspor Usaha Kecil dan Menengah (UKM) Kaltim mencatatkan kinerja positif. Selama corona mewabah pada 2020 lalu sektor ini mampu kumpulkan Rp428,2 miliar.
“Patut diapresiasi. Meski pandemik, UKM kita masih tetap bisa menembus pasar ekspor,” ujar Yadi Robyan Noor, Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UKM Kaltim saat dikonfirmasi pada Selasa (9/2/2021).
Kata Yadi,-sapaan karibnya- sukses itu diperoleh lantaran pihaknya memanfaatkan fasilitas Instansi Penerbit Surat Keterangan Asal (IPSKA) sepanjang 2020. Total ada 15 UKM yang turut ambil bagian dalam program tersebut.
Sementara komoditas yang dikirim ke negara lain itu beragam. Mulai dari olahan kayu, minyak jelantah hingga asam lemak bebas. Khusus olahan kayu diminati Singapura, Jepang, Korea Selatan, China, Taiwan, Jerman, Italia, Belanda, Islandia, Afrika Selatan dan Amerika Serikat. Sedangkan, lidi nipah dan sawit digemari India.
Khusus minyak jelantah dikirim ke Belanda dan Malaysia. Udang diberangkatkan ke Jepang, Inggris dan Taiwan. Rumput laut ke Korea Selatan. Merica diekspor ke Singapura, Amerika, Afrika Selatan dan Islandia.


.webp)















