Jumat, September 17, 2021
spot_img

Badan Riset Nasional Kembangkan Teknologi Limbah Medis Berbasis Mobile

SuaraPemerintah.ID– Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan teknologi pengolah limbah medis berskala kecil dan bersifat mobile. Hal ini dilakukan untuk membantu meningkatkan kapasitas pengolahan limbah secara signifikan yang sangat diperlukan seiring dengan meningkatnya jumlah dan volume limbah medis COVID-19.

“Ada beberapa teknologi sudah proven yang dikembangkan untuk membantu peningkatan jumlah kapasitas pengolahan limbah secara signifikan. Khususnya teknologi bisa dipakai untuk pengolahan limbah di skala lebih kecil dan sifatnya mobile,” ujar Kepala BRIN Laksana Tri Handoko saat Rapat terbatas mengenai Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (Limbah B3) Medis COVID-19, melalui konferensi video, Rabu (28/07/21)

Teknologi ini, masih kata Handoko, dapat dimanfaatkan untuk pengolahan sampah di daerah yang memiliki penduduk relatif sedikit dengan skala limbah yang tidak banyak.

“Kalau kita harus membangun incinerator besar, itu tentu akan jauh lebih mahal dan juga menimbulkan masalah terkait dengan pengumpulan, karena pengumpulan dari limbah ke insinerator terpusat itu juga menimbulkan biaya tersendiri,” ucapnya.

Selain itu, Handoko juga mengusulkan sejumlah teknologi daur ulang limbah medis yang juga berpotensi memunculkan nilai tambah secara ekonomi.

“Ada insentif finansial dari sisi bisnis akibat daur ulang tersebut dan tentu itu akan berpotensi juta mengurangi biaya pengolahan limbah secara keseluruhan,” imbuh Handoko.

Salah satu teknologi dikembangkan BRIN adalah alat daur ulang jarum suntik bisa menghasilkan residu berupa bubuk stainless steel murni. Selain itu terdapat juga alat daur ulang plastik medis dapat digunakan untuk mengolah limbah Alat Pelindung Diri (APD) dan masker.

“APD dan masker yang bahannya adalah polypropylene, sehingga kita bisa peroleh polypropylene (PP) murni, jenis plastik polypropylene murni yang nilai ekonominya juga cukup tinggi,” jelasnya.

Lehih jauh Handoko mengungkapkan, bahwa saat ini sarana pengelolaan limbah medis masih belum merata di seluruh Tanah Air.

“Baru 4,1 persen dari rumah sakit yang memiliki fasilitas insinerator berizin, kemudian juga di seluruh Indonesia baru ada 20 pelaku usaha pengolahan limbah, dan terpenting adalah hampir semuanya itu masih terpusat di Pulau Jawa. Jadi distribusinya belum merata,” ungkapnya.

Dengan adanya teknologi pengolahan dan daur ulang limbah dikembangkan BRIN ini, Ia berharap dapat membantu fasilitas layanan kesehatan dalam pengolahan limbah medis.

“Dengan ini kami berharap itu bisa meningkatkan motivasi untuk mengumpulkan dan mengolah limbah, meningkatkan kepatuhan, dan di sisi lain itu berpotensi juga menjadi lahan baru, bisnis bagi para pelaku usaha di daerah-daerah, khususnya para pelaku usaha skala kecil,” tutup Handoko.

Kirimkan Press Release berbagai aktivitas kegiatan Brand Anda ke email suarapemerintah.id@gmail.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terkait

Suara Hari Ini

HOT NEWS

10,502FansSuka
419PengikutMengikuti
22PengikutMengikuti
1,350PelangganBerlangganan

Special Interview

Suara Olah Raga

Suara Loker

Terpopuler

GPR Milenial

Suara Tokoh

close