SuaraPemerintah.ID– Bank BUMN yang konsen pada kredit pemilikan rumah (KPR), PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) menurunkan proyeksi pertumbuhan kredit menjadi 6-7 persen pada tahun 2021, dari proyeksi sebelumnya 9 persen. Hal ini mempertimbangkan kondisi pandemi Covid-19 belum pulih, serta adanya Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 4 di Jawa-Bali sejak 3 Juli hingga 2 Agustus, ini turut berimbas pada aktivitas bisnis, terutama permintaan kredit.
“Kami revisi, awalnya 9 persen, dan melihat Covid-19 belum puluh, kami revise down menjadi 6-7 persen, kami sudah di tengah jalan di 5,9 persen, mudah-mudahan bisa tercapai,” ujar Direktur Utama BTN, Haru Koesmahargyo, dalam konferensi pers secara virtual, Rabu (28/7/21).
Eks Direktur Keuangan Bank BRI ini mengatakan, kebijakan PPKM Level 4 berimbas pada pembatasan aktivitas nasabah BTN yang berpotensi bisa meningkatkan risiko kredit bermasalah perseroan.
“PPKM ini berdampak pada aktivitas nasabah BTN, ditunjukkan dengan pertumbuhan kredit, tahun ini walau sudah di atas rata-rata industri, masih lebih rendah dari tahun sebelumnya,” kata Haru.
Meski demikian, perseroan sudah menyiapkan strategi untuk menjaga kualitas kredit dengan meningkatkan tambahan pencadangan menjadi sebesar 120 persen dari periode yang sama di tahun sebelumnya 107,90 persen.
Dengan demikian, rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) dapat ditekan turun menjadi 4,1 persen sampai posisi Juni 2021 dari 4,71 persen tahun lalu dan diperkirakan akan mencapai 3,9 persen akhir tahun ini.
Seperti diketahui, pada 6 bulan pertama tahun ini, BBTN mencatatkan perolehan laba bersih senilai Rp 920 miliar, naik 19,87 persen dari periode yang sama tahun lalu (year on year/yoy) sebesar Rp 768 miliar.
Dari sisi pertumbuhan penyaluran kredit dan pembiayaan sebesar 5,59 persen secara tahunan (yoy) dari Rp 251,83 triliun menjadi Rp 265,9 triliun. Pertumbuhan tersebut tercatat berada jauh di atas rata-rata industri perbankan nasional yang tumbuh sebesar 0,45 persen yoy per Juni 2021.
Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Subsidi masih menjadi motor utama penggerak penyaluran kredit Bank BTN dengan kenaikan sebesar 11,17 persen yoy menjadi Rp 126,29 triliun per kuartal II/2021.
KPR Non-subsidi juga tumbuh perlahan di level 0,90 persen yoy menjadi Rp 80,59 triliun. Kredit konsumer non-perumahan juga tercatat meningkat di level 17,47 persen yoy menjadi Rp5,43 triliun pada kuartal II/2021.
Dari sisi Dana Pihak Ketiga (DPK), tercatat tumbuh sebesar 31,84 persen yoy menjadi Rp298,38 triliun pada kuartal II/2021 dari Rp 226,32 triliun di periode yang sama tahun lalu.
Peningkatan DPK tersebut disumbang oleh kenaikan pada seluruh segmen yakni tabungan, giro, dan deposito masing-masing sebesar 17,70 persen yoy, 15,06 persen yoy, dan 43,53 persen yoy per kuartal II/2021.


.webp)


















