Highlight dari rangkaian pertemuan Presidensi G20 di Indonesia terkait dengan riset dan inovasi, kita ingin memanfaatkan momentum Presidensi G20, agar bisa berperan lebih aktif di sektor riset dan inovasi. Riset dan inovasi secara alami membutuhkan kolaborasi dan kerja sama, tidak hanya multi pihak tapi juga multi negara. Hal ini diungkapkan Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Laksana Tri Handoko, pada konferensi pers yang diselenggarakan oleh Biro Komunikasi Publik, Umum dan Kesekretariatan (Biro KPUK) BRIN, di Gedung BJ. Habibie BRIN Jakarta, Rabu (19/10).
Lebih lanjut Handoko mengatakan, kita ingin memanfaatkan momentum ini, untuk menaikkan posisi Indonesia, sebagai mitra potensial kolaborasi untuk riset dan inovasi ke depan bagi negara-negara utama di G20. “Sesuai dengan tema kita pada rangkaian acara kali ini, yaitu Bluepint Digital Economy. Jadi kita ingin lebih menjual posisi Indonesia, sebagai negara yang besar dengan populasi yang besar. Kemudian, biodiversitas yang sedemikian besar nomor satu jika digabung dengan laut, dan nomor dua jika hanya daratan bioderversitasnya,” ujar Handoko.
Dia mengutarakan, hal itu menjadi modal besar, untuk bisa menjadi pusat kolaborasi riset dan inovasi. “Apalagi setelah terbentuknya BRIN atau setelah akhir tahun, kita sudah banyak melansir dan sudah menetapkan semua skema sistem pendukung yang komplit. Tentunya ekosistem riset dan inovasi kita, ada mobilitas periset di Deputi Sumber Daya Manusia Iptek. Kemudian, ada berbagai jenis skema riset di Deputi Fasilita Riset dan Inovasi,” tuturnya.
Handoko menambahkan, kita punya infrastruktur mulai dari armada kapal riset, satelit, armada pesawat, pesawat monitoring, reaktor nuklir, dsb nya. Semua dalam satu manajemen, sehingga kita sekarang mengaturnya lebih mudah, dan lebih efisien. “Sekarang kita bisa kembalikan itu, untuk menjadi modal awal bagi seluruh komunitas periset negara kita. Membuka dan meningkatkan kerja sama, serta kolaborasi riset, dengan berbagai negara khususnya anggota G20,” kata Handoko.
Deputi Fasilitas Riset dan Inovasi BRIN Agus Hayono selaku Chair G20 Research and Innovation Initiative Gathering (RIIG) mengungkapkan tentang RIIG, bahwa kita membahas tentang topik-topik yang disepakati di negara-negara G20, untuk memanfaatkan biodiversitas di dunia secara berkelanjutan. “Pada RIIG pertama bulan April 2022 yang lalu, kita telah membahas tentang kesehatan, energi, pangan dan climate changes. Pada pertemuan kedua, kita membahas tentang mekanisme kerja sama dalam pemanfaatan biodiversitas di dunia ini. Baik terkait dengan pendanaannya, skema penggunaan fasilitas bersama, maupun kolaborasi antar negara-negara G20,” ulasnya.
Menjelang pertemuan ketiga 28 Oktober 2022, kata Agus, kita akan membahas Ministerial Decision, berupa deklarasi tingkat menteri-menteri. “Indonesia akan diwakili oleh Kepala BRIN, untuk mendeklarasikan riset dan inovasi. Khususnya dalam pemanfaatan bioviersitas dunia, secara berkelanjutan,” tambah Agus.
Direktur Eksekutif Indonesian Space Agency (INASA), Erna Sri Adinigsih mengutarakan, INASA ditugaskan secara efektif pada April 2022. “Terdapat tim yang membantu BRIN, untuk melaksanakan amanat UU No. 21 Tahun 2013 tentang Keantariksaan. Khususnya yang terkait dengan keterlibatan Indonesia, pada kegiatan keantariksaan internasional,” ungkapnya.
Erna menjabarkan, di dalam keantariksaan kolaborasi itu penting, baik itu bilateral maupun multilateral. Tidak bisa dicapai secara single nation, atau single state. “Jadi kolaborasi itu menjadi hal yang memang diperlukan. Penyelenggaraan keantariksaan, sebagai salah satu amanat yang diberikan kepada INASA,” sambungnya.
Menurut Erna, terkait dengan event pekan depan, ada 2 kegiatan The Fourth Ministerial Conference (MC4) dan Space 20. “Konferensi Menteri yang keempat, terkait dengan keantariksaan untuk pembangunan berkelanjutan. Isu utamanya, menjawab tentang pembangunan berkelanjutan. Hal ini menjadi isu global, dan menjadi salah satu prioritas Indonesia, dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan,” jelasnya. (mul/trs/ed:ns)






