Pada hari kedua (4 Juli), Green Economy Expo mengusung tema dekarbonisasi industri melalui praktik-praktik sirkular. Deputi Bidang Ekonomi Kementerian PPN/Bappenas, Amalia Adininggar Widyasanti, juga menjelaskan pentingnya integrasi ekonomi hijau dalam perencanaan pembangunan. “Upaya akselerasi transformasi ekonomi melalui penerapan ekonomi hijau sudah sesuai dengan rencana pembangunan Indonesia untuk 20 tahun ke depan. Percepatan transisi energi, penerapan ekonomi sirkular, serta pengembangan industri hijau merupakan bagian dari rencana penerapan ekonomi hijau dalam RPJPN 2025-2045. Model ekonomi linear tidak lagi sesuai dengan tujuan pembangunan berkelanjutan, maka dari itu Kementerian PPN/Bappenas mendorong penerapan ekonomi sirkular. Dengan ekonomi sirkular, kita dapat mencapai lebih banyak dengan menggunakan lebih sedikit karena mencakup seluruh produksi, distribusi, dan konsumsi dari hulu ke hilir rantai pasokan,” jelas Deputi Amalia.
- Advertisement -
Sesi talk show pada hari ketiga (5 Juli) fokus pada tema upaya akseleratif untuk mendorong berbagai sektor industri memanfaatkan kekayaan potensi bio-ekonomi. Staf Khusus Presiden, Diaz Hendropriyono, menegaskan bahwa dua peta jalan dan rencana aksi nasional terkait ekonomi sirkular yang dirilis Kementerian PPN/Bappenas harus mengadopsi strategi bottom-up, melihat potensi di lapangan, dan memuat kearifan lokal. Dari rangkaian acara selama tiga hari yang dihadiri lebih dari 3.200 pengunjung, yang juga mengikuti 8 sesi circular talk dan 3 sesi business pitching, didapatkan masukan dan poin penting yang akan diperhatikan dalam penerapan ekonomi hijau hingga 2045. “Dari pelaksanaan Green Economy Expo 2024 ini, kita jadi mengetahui bahwa saat ini Indonesia sudah memiliki modalitas yang kuat untuk bertransisi dari ekonomi linear menuju ekonomi sirkular. Namun, untuk mengakselerasi transisi ekonomi sirkular, kita perlu bersama-sama membangun ekosistem ekonomi sirkular,” pungkas Deputi Vivi.
Cek Artikel dan Berita yang lain di Google News