Rabu, Januari 28, 2026
spot_img

BERITA UNGGULAN

BMKG Prediksi Puncak Musim Hujan di RI pada November-Desember 2024

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memproyeksikan puncak musim hujan 2024/2025 di Indonesia akan berbeda-beda berdasarkan wilayah. Wilayah barat Sumatra mulai mengalami hujan sejak Agustus 2024, yang kemudian meluas ke wilayah timur hingga mencapai seluruh Indonesia pada Desember 2024.

“Pada umumnya, sebagian besar wilayah Indonesia akan mengalami musim hujan pada periode Oktober hingga November 2024,” demikian keterangan BMKG dalam Prediksi Musim Hujan 2024/2025.

- Advertisement -

BMKG menyebut musim hujan kali ini diperkirakan datang lebih awal dibanding rata-rata tahunan. Selain itu, akumulasi curah hujan diproyeksikan normal, menandakan tidak akan terlalu basah atau kering.

BMKG menjelaskan, dari total 384 Zona Musim (ZOM), sekitar 43 persen di antaranya—termasuk Sumatra, pesisir selatan Pulau Jawa, dan Kalimantan—akan mengalami puncak hujan pada November hingga Desember. Sedangkan, sebanyak 250 ZOM atau sekitar 36 persen wilayah Indonesia, meliputi Lampung, utara Jawa, sebagian Sulawesi, Bali, NTB, NTT, dan sebagian besar Papua, diprediksi mencapai puncaknya pada Januari-Februari 2025.

- Advertisement -

La Nina dan Dampaknya di Indonesia

Fenomena La Nina berpotensi muncul pada November 2024 dan dapat memicu peningkatan curah hujan di beberapa wilayah. Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, mengungkapkan bahwa BMKG telah mendeteksi adanya tanda-tanda perbedaan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah ekuator yang lebih dingin dari biasanya.

“Akhir Oktober kita bisa memastikan apakah itu La Nina. Namun, alangkah baiknya mulai saat ini kita perlu bersiap, karena di pertengahan Oktober, telah terdeteksi perbedaan suhu muka air laut di Samudra Pasifik bagian ekuator tengah timur itu sudah lebih dingin dari normalnya,” kata Dwikorita dalam sebuah video yang diunggah di akun BMKG, dikutip Jumat (1/11).

Hasil analisis dinamika atmosfer Dasarian II Oktober menunjukkan hasil monitoring indeks Indian Ocean Dipole (IOD) dan El Nino Southern Oscillation (ENSO) menunjukkan indeks IOD melewati batas ambang IOD negatif (indeks -1,11), namun baru berlangsung satu dasarian, sehingga statusnya tetap IOD netral.

Anomali suhu permukaan laut (SST) di Nino 3.4 juga menunjukkan kondisi yang melewati batas ambang La Nina dengan indeks -0,64.

“Batasan la nina itu perbedaan suhunya itu -0,5, ini sudah melampaui batas tadi. Sekarang sudah -0,64, artinya lebih dingin dari normalnya. Namun karena belum ada 30 hari, sehingga kita masih harus memastikan, tunggu sampai akhir oktober itu masih mendingin atau pulih kembali menuju normal. Jadi ada kewaspadaan,” ujarnya.

BMKG mengungkap saat fenomena La Nina berlangsung, sebagian wilayah Indonesia akan mengalami peningkatan curah hujan sebanyak 20 hingga 40 persen pada periode Juni-Juli-Agustus dan September-Oktober-November.

Sedangkan, pada periode Desember-Januari-Februari dan Maret-April-Mei, sebagian wilayah barat Indonesia mengalami peningkatan curah hujan karena pengaruh angin monsun.

Selama fenomena La Nina, ada sejumlah bencana yang berpotensi terjadi. Secara umum bencana-bencana tersebut berkaitan erat dengan hidrometeorologi.

Dengan peningkatan curah hujan saat La Nina, kemungkinan bencana yang dapat terjadi adalah banjir, banjir bandang, tanah longsor, angin kencang, puting beliung, bahkan badai tropis.

Artikel ini kami lansir dari CNBC Indonesia yang berjudul “Kapan Puncak Musim Hujan di Indonesia? Ini Prediksi BMKG”

Cek Artikel dan Berita yang lainnya di Google News

- Advertisement -

Kirimkan Press Release berbagai aktivitas kegiatan Brand Anda ke email [email protected]

Artikel Terkait

Suara Hari Ini

Ikuti Kami

10,502FansSuka
392PengikutMengikuti
7PengikutMengikuti
2,920PelangganBerlangganan

Terbaru