BerandaParlemenNing Lia, Bendum IKA PMII yang Tak Pernah Jauh dari Kader

Ning Lia, Bendum IKA PMII yang Tak Pernah Jauh dari Kader

Di tengah kesibukannya sebagai anggota DPD RI, Lia Istifhama tetap menyisakan ruang khusus untuk rumah lamanya yaitu Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Di struktur alumni, ia kini dipercaya sebagai Bendahara Umum IKA PMII. Namun bagi banyak kader, terutama kader perempuan, Neng Lia bukan sekadar bendahara. Ia adalah kakak yang selalu hadir.

Namanya akrab di telinga kader PMII lintas generasi. Setiap ada agenda kaderisasi, diskusi kebangsaan, hingga kegiatan sosial, Neng Lia kerap terlihat duduk lesehan bersama kader. Tidak menjaga jarak. Tidak berjarak dengan protokoler.

- Advertisement -

“Kalau sudah bareng kader, beliau itu cair. Bisa diskusi serius, bisa juga bercanda. Kami merasa benar-benar dirangkul,” ujar Muzammil, salah satu kader PMII asal Surabaya.

Keponakan Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, itu memang dikenal memiliki gaya komunikasi yang hangat. Status sebagai pejabat publik tak membuatnya berubah. Ia tetap menyapa dengan bahasa sederhana, memanggil adik-adik kader dengan penuh perhatian.

Sebagai Bendahara Umum IKA PMII, Neng Lia mendorong pengelolaan organisasi yang transparan dan akuntabel. Ia juga aktif menguatkan jejaring alumni agar lebih solid dan produktif. Baginya, kekuatan PMII bukan hanya pada militansi kader saat mahasiswa, tetapi pada kesinambungan gerakan setelah menjadi alumni.

“Kader harus tumbuh. Alumni harus menopang. Itu ekosistem pergerakan,” katanya dalam satu forum konsolidasi.

Kedekatannya dengan kader perempuan juga menjadi sorotan. Banyak kader PMII putri mengaku mendapat dorongan langsung darinya untuk melanjutkan studi, berani tampil memimpin, dan tidak ragu masuk ke ruang-ruang strategis. Neng Lia kerap menekankan bahwa kader perempuan harus percaya diri dan siap mengambil peran.

Menanggapi dukungan dan sambutan hangat dari para kader dan alumni, Ning Lia mengaku terharu. Menurutnya, kekuatan PMII terletak pada rasa persaudaraan yang tidak lekang oleh waktu.

“Saya ini lahir dan tumbuh dari PMII. Kalau hari ini saya diberi amanah di mana pun, itu karena proses panjang di pergerakan. Dukungan teman-teman kader dan alumni adalah energi bagi saya untuk terus membersamai,” ujarnya saat di temui di kantornya, Jumat (20/02/26)

Di Senayan, kiprahnya juga selaras dengan isu-isu yang dekat dengan basis kader: pendidikan, pesantren, UMKM, hingga kesejahteraan guru. Konsistensi itu membuatnya tetap dianggap sebagai bagian dari gerakan, bukan sekadar politisi.

Bagi kader PMII, Ning Lia adalah contoh bahwa jabatan tidak memutus akar. Dari forum-forum nasional hingga ruang kaderisasi sederhana, ia tetap hadir dengan semangat yang sama: membersamai, bukan sekadar memimpin.

Di tengah dinamika organisasi dan tantangan zaman, figur seperti Ning Lia menjadi pengingat bahwa pergerakan tidak pernah selesai. Ia hanya berganti ruang.

Cek Artikel & Berita Lainnya di Google News

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

TERPOPULER PRAHUM

OPINI PRAHUM