Menteri Agama (Menag), Nasaruddin Umar, menerima kunjungan Gubernur Samarkand, Uzbekistan, Adiz Muzafarovich Boboyev, di Masjid Istiqlal, Jakarta. Pertemuan ini menjadi momentum dalam mempererat hubungan bilateral melalui diplomasi religi serta pertukaran informasi mengenai tata kelola rumah ibadah.
Dalam pertemuan tersebut, Menteri Agama menjelaskan profil Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia. Menag memaparkan jumlah rumah ibadah sangat banyak dan tersebar di seluruh nusantara sebagai sarana pelayanan keagamaan bagi masyarakat.
“Ada lebih dari 800.000 masjid di Indonesia, ini tidak termasuk musalla. Mungkin lebih dari 1.000.000 masjid dan musalla di Indonesia,” ujar Menag saat memberikan gambaran mengenai infrastruktur Islam di tanah air kepada delegasi Uzbekistan, Senin (6/4/2026).
Lebih lanjut, Menag meluruskan pemahaman mengenai perbedaan fungsi tempat ibadah yang ada di Indonesia. Ia menjelaskan bahwa klasifikasi tersebut dibuat untuk memudahkan akses ibadah harian maupun ibadah besar bagi umat Islam.
“Di Indonesia, kita memiliki perbedaan antara musalla dan masjid. Musalla bisa dipakai untuk salat lima waktu, tetapi untuk salat dengan skala lebih besar seperti Salat Jumat atau Ied dilakukan di masjid yang lebih besar,” jelas Menag mengenai pembagian fungsi rumah ibadah tersebut.
Gubernur Samarkand, Adiz Muzafarovich Boboyev, mengaku sangat terkesan dengan keramahan dan perkembangan Islam di Indonesia. Baginya, perbedaan geografis tidak menjadi penghalang kedekatan antara Uzbekistan dan Indonesia.
“Kami merasa sangat terhormat. Meskipun secara jarak kita jauh, tapi sebenarnya kita adalah tetangga. Kami datang ke sini sebagai tetangga secara spiritual. Kami sangat mengagumi Indonesia,” ujar Adiz saat memberikan sambutan balasan di hadapan Menag.
Sebagai simbol persahabatan, Gubernur Adiz menyerahkan cinderamata berupa kertas Mulberry yang merupakan produk unggulan produksi kertas di Samarkand. Kertas ini dikenal sangat istimewa karena ketahanannya yang mencapai ratusan tahun, yang secara historis digunakan para ulama untuk menulis kitab-kitab besar.
Pertemuan ini diakhiri dengan komitmen kedua belah pihak untuk terus bersinergi dalam memperkuat silaturahmi. Sinergi ini diharapkan dapat memberikan keputusan dan langkah terbaik demi kemaslahatan umat, khususnya bagi peningkatan kualitas pelayanan ibadah dan pelestarian nilai-nilai sejarah Islam di kedua negara.
Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News


.webp)













