spot_img

BERITA UNGGULAN

Wamen PPPA: Pemerintah Perjuangkan Akses Setara bagi Perempuan di Semua Sektor

Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Wamen PPPA), Veronica Tan, menegaskan komitmen pemerintah dalam memperjuangkan akses, ruang, dan kesempatan yang setara bagi perempuan, baik di ranah domestik maupun publik.

Hal tersebut disampaikan dalam acara SRIKANDI Vol. 2 Inspiring Talk: Women Shaping Creative Ecosystem di Jakarta, Jumat (1/5/2026).

- Advertisement -

Menurut Veronica, tantangan perempuan saat ini bukan lagi sekadar kesetaraan gender, melainkan keadilan gender yang memastikan perempuan memperoleh kesempatan berdasarkan kompetensi, tanpa dibatasi stigma sosial.

“Persoalan yang dihadapi perempuan saat ini bukan lagi sekadar kesetaraan gender, melainkan keadilan gender. Perempuan harus mendapatkan ruang yang sama berdasarkan kompetensinya, tanpa dibatasi stigma bahwa perempuan hanya berperan di rumah. Perempuan, berhak memilih menjadi ibu rumah tangga maupun bekerja di ruang publik, dan keduanya sama-sama bernilai. Banyak perempuan yang tadinya dianggap hanya sebagai tulang rusuk, sekarang justru menjadi tulang punggung keluarga. Dari situ kita melihat bahwa potensi perempuan itu luar biasa,” ujar Wamen PPPA.

- Advertisement -

Veronica menyoroti bahwa budaya patriarki masih menjadi hambatan utama dalam mewujudkan keadilan gender. Sejak kecil, perempuan kerap diarahkan pada peran domestik, sementara laki-laki didorong mengejar karier di ruang publik.

Selain itu, perempuan juga menghadapi tekanan sosial berupa pertanyaan terkait pernikahan, anak, hingga urusan rumah tangga yang tanpa disadari menjadi beban psikologis.

“Dalam kehidupan sehari-hari, perempuan sering dibebani pertanyaan soal kapan menikah, memiliki anak, hingga urusan rumah tangga. Pertanyaan-pertanyaan seperti ini, tanpa disadari, menjadi hambatan sosial yang nyata bagi perempuan. Tidak hanya itu, perempuan juga menghadapi beban ganda karena masih dianggap sebagai pihak utama yang bertanggung jawab atas keluarga dan pengasuhan anak. Kondisi tersebut membuat perempuan kerap kesulitan menyeimbangkan peran domestik dan pekerjaan, sehingga diperlukan perlindungan dan dukungan kebijakan yang lebih kuat dari negara,” kata Wamen PPPA.

Dalam bidang ekonomi, Wamen PPPA juga menyoroti banyaknya perempuan yang aktif sebagai pelaku UMKM, petani, maupun nelayan, tetapi belum memiliki akses yang setara terhadap kepemilikan usaha, pembiayaan, tanah, maupun bantuan sosial. Wamen PPPA menyatakan tugas pemerintah untuk memastikan perempuan memperoleh kesempatan yang sama tanpa terhambat status sebagai kepala keluarga atau posisi administratif lainnya.

Kemen PPPA terus mendorong berbagai program strategis untuk memperkuat pengusaha perempuan, seperti pelatihan kewirausahaan bagi perempuan rentan, peningkatan akses permodalan melalui program Mekaar bersama PT PNM Persero, serta penguatan literasi digital dan inklusi keuangan. Selain itu, Kemen PPPA juga mendorong pembentukan wirausaha perempuan melalui Ruang Bersama Indonesia (RBI) dan penguatan jejaring antar pengusaha perempuan.

Menutup sambutannya, Wamen PPPA menegaskan bahwa yang dibutuhkan perempuan bukan belas kasihan, melainkan kesetaraan akses dan ruang yang nyata untuk berkembang.

“Perempuan itu sebenarnya tidak perlu diberdayakan, karena mereka sudah punya kemampuan luar biasa. Yang perlu kita lakukan adalah memastikan ruang itu ada dan akses itu terbuka. Mari seluruh pihak, baik pemerintah maupun masyarakat, untuk terus berkolaborasi menciptakan lingkungan yang mendukung perempuan agar berani bermimpi, berani melangkah, dan memiliki kesempatan yang sama untuk meraih masa depan yang lebih baik,” pungkas Wamen PPPA.

Sementara itu, Wakil Menteri Ekonomi Kreatif (Wamen Ekraf), Irene Umar yang turut hadir mengatakan industri ekonomi kreatif menjadi salah satu sektor yang paling seimbang dari sisi gender karena perempuan dan laki-laki memiliki peran yang saling melengkapi. Wamen Ekraf mengatakan perempuan memiliki keunggulan dalam melihat nilai estetika, ketelitian, kemampuan mengelola, hingga empati yang tinggi, yang sangat dibutuhkan dalam membangun sebuah brand dan ekosistem kreatif.

“Subsektor ekonomi kreatif yang paling banyak didominasi perempuan antara lain fashion, kriya, dan kuliner. Ketiga sektor tersebut menjadi tulang punggung ekonomi kreatif nasional sekaligus menunjukkan besarnya kontribusi perempuan dalam pembangunan ekonomi. Karena itu, perempuan tidak boleh merasa rendah diri atau diremehkan, melainkan harus percaya diri dan menunjukkan kemampuan terbaik yang dimiliki,” ujar Wamen Ekraf.

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

- Advertisement -

Kirimkan Press Release berbagai aktivitas kegiatan Brand Anda ke email [email protected]

Artikel Terkait

Suara Hari Ini

Ikuti Kami

10,502FansSuka
392PengikutMengikuti
7PengikutMengikuti
2,920PelangganBerlangganan

Terbaru