Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) terus mendorong terciptanya ruang yang aman, setara, dan inklusif bagi perempuan dan anak perempuan. Salah satu upaya yang didorong adalah melalui penguatan kepercayaan diri dan kemampuan perlindungan diri lewat olahraga serta seni bela diri.
Komitmen tersebut disampaikan Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Veronica Tan, dalam kegiatan Southeast Asia Women Citizen Dialogue Indonesia (SEA-WCD Indonesia) di Jakarta.
Menurut Veronica, olahraga dan seni bela diri tidak hanya berfungsi sebagai sarana menjaga kesehatan fisik, tetapi juga berperan penting dalam membentuk karakter, mental yang tangguh, serta rasa percaya diri bagi perempuan dan anak perempuan.
“Olahraga seperti karate, ju-jitsu, pencak silat, judo, aikido, hingga vovinam masih sering dipandang bukan bagian dari dunia perempuan, padahal dapat membangun rasa percaya diri dan mental yang kuat bagi anak perempuan,” kata Wamen PPPA Veronica Tan di Jakarta, Selasa.
Veronica menilai masih terdapat budaya patriarki yang memengaruhi cara pandang masyarakat dalam mendidik anak perempuan dan laki-laki. Perbedaan tersebut sering kali berdampak pada akses terhadap pendidikan, pengembangan diri, hingga kesempatan untuk meraih cita-cita.
Karena itu, KemenPPPA terus mendorong terciptanya lingkungan yang memberikan kesempatan yang sama bagi setiap anak untuk berkembang sesuai potensi yang dimiliki.
Menurutnya, perjuangan pemberdayaan perempuan tidak semata-mata berbicara mengenai kesetaraan gender, tetapi juga memastikan setiap anak memperoleh hak yang sama untuk tumbuh, belajar, dan mencapai masa depan yang diinginkan.
“Perjuangan yang kita lakukan bukan sekadar berbicara tentang gender equality, tetapi mengenai keadilan dan kesempatan yang sama bagi setiap anak untuk berkembang,” kata Veronica.
KemenPPPA juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas negara dan lintas sektor dalam membangun lingkungan yang aman dan mendukung perempuan serta anak perempuan.
Veronica menegaskan bahwa perlindungan terhadap perempuan merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan keterlibatan pemerintah, masyarakat, organisasi sipil, komunitas, hingga dunia internasional.
“Di mana pun kita berada, baik di Jepang, Indonesia, Eropa, maupun negara lainnya, kita memiliki tanggung jawab bersama untuk membantu dan mendukung perempuan dan anak-anak kita,” ujarnya.
Ia berharap forum dialog tersebut dapat menjadi wadah untuk memperkuat keberanian perempuan dalam memperjuangkan hak-haknya, termasuk hak untuk bermimpi, berkembang, dan melindungi diri.
Dalam kesempatan yang sama, Co-Founder dan Sekretaris Jenderal Guardian Girls International, Shin Koyamada, menilai Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pemimpin regional bahkan global dalam mendorong pemberdayaan perempuan melalui olahraga, budaya, dan aksi komunitas.
Menurutnya, kemitraan yang dibangun antarnegara di kawasan Asia Tenggara dapat memperkuat upaya menciptakan komunitas yang lebih aman, inklusif, dan berkelanjutan bagi perempuan dan anak perempuan.
“Melalui kemitraan di seluruh Asia Tenggara, kami berharap dapat menciptakan komunitas yang lebih aman, inklusif, dan berkelanjutan bagi perempuan dan anak perempuan,” ujar Shin.
Melalui berbagai program pemberdayaan dan penguatan kapasitas perempuan, KemenPPPA terus berupaya menciptakan ruang yang aman dan mendukung perempuan untuk berkembang secara optimal. Dorongan terhadap partisipasi perempuan dalam olahraga dan seni bela diri menjadi salah satu langkah strategis untuk membangun generasi perempuan yang tangguh, percaya diri, dan mampu melindungi dirinya di tengah berbagai tantangan sosial yang ada.
Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News


.webp)











