Menteri Kehutanan Republik Indonesia (Menhut) Raja Juli Antoni, melakukan pertemuan bilateral dengan UK Special Representative for Nature, Ruth Davis, di Kew Gardens Orangery, London, Selasa (23/6).
Pertemuan tersebut menjadi tindak lanjut dari dialog yang telah berlangsung pada April 2026 dan menegaskan komitmen kedua negara untuk memperkuat kerja sama di bidang konservasi alam, perlindungan keanekaragaman hayati, dan pembiayaan berkelanjutan bagi kawasan lindung.
Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak membahas perkembangan implementasi Satuan Tugas Konservasi Bentang Alam dan Spesies Ikonik yang dibentuk berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 8 Tahun 2026. Satuan Tugas tersebut memiliki mandat untuk memperkuat konservasi, memobilisasi pembiayaan inovatif, mendukung pencapaian target FOLU Net Sink 2030, serta membangun model pengelolaan kawasan konservasi yang berkelanjutan.
Menhut menyampaikan apresiasi atas dukungan Pemerintah Inggris terhadap agenda konservasi Indonesia, termasuk dukungan awal sebesar GBP 2 juta yang telah diumumkan pada pertemuan Satuan Tugas bulan April lalu.
“Indonesia telah memiliki landasan hukum yang kuat serta dukungan politik pada tingkat tertinggi untuk memperkuat konservasi alam. Tantangan berikutnya adalah menerjemahkan mandat tersebut menjadi reformasi kebijakan, proyek percontohan yang dapat direplikasi, dan hasil konservasi yang terukur bagi masyarakat maupun lingkungan,” ujar Menhut.
Indonesia menegaskan bahwa pengembangan pembiayaan inovatif untuk konservasi merupakan pelengkap pembiayaan pemerintah dan bukan bentuk privatisasi taman nasional. Seluruh pendekatan yang dikembangkan akan tetap menjunjung tinggi prinsip transparansi, akuntabilitas, integritas ekologis, serta manfaat yang adil dan inklusif bagi masyarakat sekitar kawasan.
Dalam kesempatan tersebut, kedua pihak juga bertukar pandangan mengenai pengembangan Peusangan Elephant Conservation Initiative (PECI) sebagai salah satu model konservasi bentang alam yang mengintegrasikan perlindungan spesies kunci, penguatan ekonomi masyarakat, serta mobilisasi investasi jangka panjang untuk konservasi.
Indonesia saat ini memiliki 57 taman nasional dengan luas hampir 18 juta hektare yang menjadi rumah bagi berbagai spesies ikonik dunia dan ekosistem penting. Pemerintah Indonesia tengah mengembangkan pendekatan pembiayaan yang disesuaikan dengan karakteristik masing-masing kawasan, termasuk melalui skema blended finance, filantropi, dan pembiayaan publik, guna menutup kesenjangan pendanaan konservasi yang masih cukup besar.
Pertemuan bilateral ini juga menegaskan pentingnya kolaborasi internasional dalam menghadapi tantangan global terkait hilangnya keanekaragaman hayati dan perubahan iklim. Indonesia dan Inggris sepakat untuk terus memperkuat dialog serta menjajaki berbagai peluang kerja sama konkret guna mendukung pengelolaan kawasan lindung yang efektif, inklusif, dan berkelanjutan.
Kerja sama tersebut diharapkan dapat mempercepat terwujudnya sistem kawasan lindung berkelas dunia yang tidak hanya melindungi keanekaragaman hayati, tetapi juga memperkuat ketahanan iklim, mendukung pembangunan ekonomi berkelanjutan, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News






