BerandaPemerintahKemensos Dorong Anak Putus Sekolah Kembali Belajar melalui SKB Sentra Dharma Guna...

Kemensos Dorong Anak Putus Sekolah Kembali Belajar melalui SKB Sentra Dharma Guna Bengkulu

Harapan untuk kembali mengenyam pendidikan tumbuh di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Sentra Dharma Guna Bengkulu. Bagi anak-anak yang sebelumnya tidak sekolah, putus sekolah, atau belum memperoleh kesempatan belajar, SKB menjadi ruang untuk kembali membuka jalan menuju cita-cita.
Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono mengatakan, keberadaan SKB menjadi salah satu upaya negara untuk memastikan anak-anak dari keluarga kurang mampu tetap memperoleh kesempatan bersekolah dan membangun masa depan.
“Melalui SKB, anak-anak kita yang tadinya tidak sekolah, putus sekolah, atau belum sekolah, akhirnya bisa bersekolah kembali. Ini adalah bentuk kolaborasi antara Kementerian Sosial dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah untuk memberikan ruang kepada mereka membangun kembali harapan,” ujarnyansaat membuka Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) SKB Sentra Dharma Guna Bengkulu secara daring di kediamannya di Jakarta, Minggu (20/9/2026).
Menurut Agus Jabo, pendidikan memiliki peran fundamental memutus transmisi kemiskinan. Karena itu, upaya mengembalikan anak-anak yang terputus dari pendidikan tidak cukup dilakukan oleh satu institusi, tetapi membutuhkan kerja bersama berbagai pihak.
Ia menyebut masih terdapat jutaan anak yang belum bersekolah, sementara faktor ekonomi menjadi salah satu alasan keluarga tidak mampu menyekolahkan anak-anaknya. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya kehadiran negara untuk memastikan anak-anak dari keluarga miskin tetap memiliki akses terhadap pendidikan.
“Jalur pendidikan adalah sarana yang paling fundamental untuk memutus transmisi kemiskinan. Tugas kita bersama adalah menjemput, mendampingi, dan mengantarkan anak-anak ini untuk mewujudkan apa yang menjadi cita-cita hidupnya dan harapan orang tuanya,” katanya.
Bagi Agus Jabo, setiap anak memiliki potensi yang dapat berkembang apabila diberikan kesempatan. Ia menegaskan, latar belakang keluarga tidak menentukan kemampuan seorang anak untuk berprestasi.
“Anak-anakku adalah anak-anak yang hebat, yang butuh peluang, yang butuh ruang untuk membuktikan dan memunculkan kehebatan kalian menjadi sesuatu yang bisa memberikan kebahagiaan dan harapan, terutama bagi kalian dan orang tua kalian,” tutur Agus Jabo.
Kehadiran SKB juga menjadi pelengkap di tengah pengembangan Sekolah Rakyat. Dengan keterbatasan daya tampung Sekolah Rakyat dibandingkan jumlah anak yang membutuhkan layanan pendidikan, SKB menjadi salah satu ruang yang dapat menampung anak-anak yang belum memperoleh kesempatan belajar melalui jalur tersebut.
Agus Jabo mengatakan, negara perlu memastikan tidak ada anak yang kehilangan kesempatan bersekolah hanya karena kondisi ekonomi keluarganya.
“Kalau yang mampu bisa bersekolah dengan biaya sendiri, yang tidak mampu negara yang harus mengantarkan mereka, menjemput mereka. Di sinilah pentingnya kita semua bergotong royong dan berkolaborasi antara institusi supaya seluruh anak Indonesia bisa bersekolah dan mewujudkan impian mereka,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Agus Jabo juga menyampaikan apresiasi kepada para pendamping dan seluruh pihak yang terlibat dalam menjangkau anak-anak yang sebelumnya tidak mendapatkan perhatian dalam layanan pendidikan. Para pendamping, termasuk SDM PKH dan pendamping rehabilitasi sosial, berperan dalam melakukan asesmen dan penjangkauan sehingga anak-anak tersebut dapat kembali memperoleh kesempatan belajar.
Ia menekankan, sentra-sentra Kemensos tidak hanya menjalankan fungsi rehabilitasi sosial, tetapi juga dapat menjadi bagian dari upaya pengentasan kemiskinan melalui pendidikan.
“Setelah adanya Sekolah Rakyat, harapan itu tumbuh kembali. Apalagi kemudian yang tidak bisa di Sekolah Rakyat ditampung melalui SKB-SKB yang diselenggarakan antara Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Sosial dan Dinas Sosial. Itu juga memberikan harapan baru bagi saudara-saudara kita yang miskin,” kata Agus Jabo.
Karena itulah, ia mengajak Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, dinas pendidikan, dinas sosial, sentra Kemensos, serta para pendamping untuk terus memperkuat sinergi dalam menjangkau anak-anak yang belum bersekolah.
“Janganlah kita hanya bekerja dengan tugas dan fungsi, tetapi mari kita bekerja dengan hati nurani. Kita harus menjemput anak-anak kita dari keluarga miskin agar mereka bisa sekolah dan kemudian mewujudkan apa yang menjadi cita-cita mereka,” pungkasnya.

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

TERPOPULER PRAHUM

OPINI PRAHUM