spot_img

BERITA UNGGULAN

Hari Waspada Cacing, Menyadarkan Masyarakat Bahaya Penyakit Cacingan Meningkat Selama Pandemi Covid-19

Suarapemerintah.ID – Setiap tanggal 23 Juli kita memperingati Hari Anak Nasional. Tapi belum banyak tahu bahwa pada tanggal yang sama juga diperingati sebagai Hari Waspada Cacing. Peringatan ini sejatinya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan bahaya penyakit cacingan yang kerap menimpa anak-anak.

Berdasarkan hasil survei, saat ini anak Indonesia yang menderita penyakit kecacingan rata-rata mencapai 30%. Tapi tak berarti orang dewasa bebas dari penyakit cacingan. Pola hidup yang tidak bersih dapat memunculkan permasalahan ini dan dalam beberapa kasus bisa membahayakan.

Cacingan dapat terjadi akibat sanitasi dan perilaku bersih dan sehat yang masih rendah seperti hal sederhana mencuci tangan. Infeksi cacing di saluran cerna menyebabkan aktivitas sehari-hari menjadi terganggu, apalagi bila sudah bergejala.

Pasalnya kondisi pandemi ini menuntut kita untuk lebih menjaga kesehatan tubuh agar tidak mudah terpapar Covid-19. Namun, ketika terkena cacingan otomatis tubuh menjadi mudah terserang penyakit yang lebih berbahaya.

Patut menjadi catatan, cacingan ini memang lebih mudah menyerang anak-anak, padahal kelompok usia di bawah 12 tahun belum bisa mendapatkan vaksinasi Covid-19.

Ketika khalayak disibukkan dengan obat anti-parasit Ivermectin untuk terapi Covid-19, marilah kita kembalikan fungsi obat ini untuk mengatasi penyakit akibat infeksi cacing.

Kementerian Kesehatan sebagai penggagas Hari Waspada Cacing menggarisbawahi bahwa penyakit cacingan selain dapat menyebabkan penyakit infeksi dan masalah pencernaan, juga bisa membuat anak-anak menjadi lesu dan tidak bersemangat.

Menurut para ahli, gejala terinfeksi cacing lain di antaranya mual, lemah, diare, sakit perut, kelaparan atau kehilangan nafsu makan. Selain itu bisa menyebabkan kelelahan, penurunan berat badan, kekurangan vitamin juga mineral. Namun demikian, seringkali infeksi cacing tidak memperlihatkan gejalanya.

Meskipun jarang terjadi, cacing juga dapat menyebabkan komplikasi yang serius, seperti pemblokiran pada organ usus, atau saluran yang lebih kecil di usus semisal saluran empedu atau saluran pankreas.

Jika larva cacing pita berhasil bergerak keluar dari area usus, mereka dapat berpindah tempat ke bagian lain dalam tubuh yang menyebabkan risiko kerusakan pada hati, mata, jantung, bahkan otak, serta dapat mengancam jiwa.

Kepala Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan & PPM Kementerian Kesehatan dr. Hartati Samsudin menyatakan bahwa untuk mengendalikan dan memberantas semua penyakit–termasuk kecacingan–yang penting adalah kemitraan, kerjasama antara pemerintah, swasta, dan masyarakat yang bisa mandiri menjaga kesehatannya.

Dia juga mengatakan bahwa pencegahan penyakit kecacingan bisa dilakukan dengan 3J, yakni jaga kebersihan diri, jaga kebersihan makanan, dan jaga kebersihan lingkungan. Dalam hal ini, program 3J sejalan dengan 3M untuk menangkal penyebaran virus Corona yang sama-sama menerapkan kehidupan sehat.

Ancaman Pandemi Bagi Anak-Anak

Kesehatan anak-anak selama pandemi pun menjadi sorotan banyak pihak. Pasalnya, selama pandemi, anak kerap tidak mendapatkan hak layanan kesehatan, salah satunya imunisasi karena berbagai faktor.

Imunisasi Dasar Lengkap (IDL) di Indonesia pun mengalami penurunan signifikan sejak tahun 2020 yang berkisar antara 20% hingga 35%.

Laporan Kementerian Kesehatan pada April 2020 juga mengungkapkan sekitar 84% layanan fasilitas kesehatan terganggu termasuk imunisasi, kemudian lebih dari 3/4 orang tua takut untuk membawa anaknya diimunisasi karena Covid-19.

Padahal, Ketua Humas dan Kesejahteraan Anggota Ikatan Dokter Anak Indonesia Prof. Hartono Gunardi mengatakan sekitar 2 sampai 3 juta kematian anak di Indonesia bisa dicegah dengan imunisasi. Cakupan imunisasi yang menurun sejak pandemi ini berpotensi meningkatkan kejadian luar biasa penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.

Yang menyedihkan, banyak anak-anak Indonesia yang turut menjadi korban Covid-19. Pademi yang berkepanjangan telah membuat akses kesehatan bagi anak-anak menjadi terbatas.

Selain dampak kesehatan, banyak pula anak-anak yang hidup dalam kondisi miskin. Asupan gizi tidak mencukupi sehingga imun tubuh menurun. Pendidikan mereka terganggu, bahkan banyak yang dinyatakan putus sekolah. Sebagian anak pun terpaksa menanggung beban menjadi anak yatim piatu ketika kedua orang tua mereka direnggut Covid-19.

Oleh karena itu, Ketua DPR RI Puan Maharani terus mendorong pemerintah untuk mempercepat realisasi belanja anggaran penanganan Covid-19, yang salah satunya harus dipergunakan untuk perlindungan anak-anak Indonesia yang terdampak pandemi.

“Nasib anak-anak Indonesia hari ini berarti bicara mengenai nasib bangsa ke depan. Jika anak-anak Indonesia hari ini banyak yang putus sekolah dan depresi karena pandemi dan menjadi yatim piatu, bangsa ini yang akan menerima dampaknya dua puluh atau tiga puluh tahun ke depan,” kata Puan dalam keterangan resminya.

Dia mengingatkan bahwa perlindungan anak-anak selalu ditekankan oleh Bapak Bangsa Bung Karno di awal-awal berdirinya Republik Indonesia. Hal ini untuk menghindari terjadinya lost generation karena pendidikan anak-anak Indonesia sekarang terganggu akibat pandemi.

Kredit visual: @kominfomagelang

Kirimkan Press Release berbagai aktivitas kegiatan Brand Anda ke email sekt@suarapemerintah.id

Artikel Terkait

Suara Hari Ini

Ikuti Kami

10,502FansSuka
392PengikutMengikuti
7PengikutMengikuti
2,920PelangganBerlangganan

Terbaru