Anggota DPD RI, Lia Istifhama, melakukan kunjungan kerja ke Kantor Pusat Pegadaian pada Kamis (9/4/2026). Dalam kunjungan tersebut, Lia menyoroti berbagai inovasi dan peran strategis Pegadaian dalam memperkuat ekosistem keuangan nasional, khususnya di sektor emas dan pemberdayaan UMKM.
Kunjungan ini juga dihadiri oleh Ferdian Timur Satyagraha selaku Direktur Keuangan dan Perencanaan Strategis PT Pegadaian, yang turut memaparkan berbagai program dan strategi perusahaan dalam mendorong pertumbuhan bisnis sekaligus inklusi keuangan.
Salah satu topik utama yang dibahas adalah rencana pembentukan Indonesia Bullion Market Association (IBMA), yang diinisiasi oleh Pegadaian bersama Bank Syariah Indonesia serta pelaku industri emas lainnya. IBMA dijadwalkan akan diresmikan pada Juni 2026 sebagai wadah koordinasi ekosistem emas dari hulu hingga hilir, sekaligus menetapkan standardisasi industri dan memperkuat daya saing pasar emas nasional.
Menurut Lia, kehadiran IBMA menjadi langkah penting dalam membangun tata kelola industri bullion yang lebih terintegrasi dan transparan.
“Ini bukan hanya soal industri, tetapi juga bagaimana negara memiliki ekosistem emas yang kuat dan mampu bersaing secara global,” ujarnya.
Selain itu, Lia juga menyoroti program inklusi keuangan seperti Gadai Peduli, yang menawarkan pinjaman mikro darurat tanpa bunga (0 persen) dengan nominal Rp50.000 hingga Rp2.500.000. Program ini dinilai sangat membantu masyarakat, khususnya kelompok rentan dan pelaku usaha kecil, dengan jaminan berupa emas atau barang elektronik serta tenor hingga empat bulan.
“Program seperti ini menunjukkan bahwa Pegadaian tidak hanya berorientasi bisnis, tetapi juga memiliki peran sosial dalam menjaga ketahanan ekonomi masyarakat,” kata Lia.
Dalam diskusi, turut dibahas peran anak usaha Pegadaian, Galeri 24, yang bergerak di bidang produksi dan retail emas. Didirikan pada 2010 dan menjadi entitas mandiri sejak 2018, Galeri 24 kini telah memproduksi emas batangan dan perhiasan berkadar 24 karat (99,99 persen) dengan sertifikasi SNI serta memiliki lebih dari 80 outlet di seluruh Indonesia.
Lia juga mengapresiasi kemampuan Pegadaian yang telah memiliki fasilitas produksi emas sendiri selama lebih dari satu dekade. Menurutnya, hal ini menjadi bukti keseriusan dalam membangun kemandirian industri emas nasional sekaligus memperkuat hilirisasi.
Dalam kesempatan tersebut, Lia menekankan pentingnya pemerataan ekonomi melalui partisipasi masyarakat luas, termasuk pelaku UMKM. Ia menilai sistem yang dikembangkan Pegadaian mendorong semangat gotong royong, sehingga tidak hanya menguntungkan pemilik modal besar, tetapi juga membuka akses bagi masyarakat kecil.
“Ekonomi produktif harus bisa melibatkan semua lapisan, bukan hanya kelompok tertentu. Pegadaian sudah menunjukkan arah ke sana,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Lia menyoroti kemudahan investasi emas di Pegadaian yang dinilai semakin inklusif. Dengan nominal mulai dari Rp10.000, masyarakat, termasuk generasi muda dan pelajar, sudah dapat mulai menabung emas secara aman dan terjangkau.
Ia juga menegaskan pentingnya menempatkan investasi pada lembaga dalam negeri. Menurutnya, hal ini akan berdampak langsung pada perputaran ekonomi nasional, termasuk kontribusi terhadap pendapatan negara melalui dividen.
“Ketika kita berinvestasi di dalam negeri, manfaatnya akan kembali ke bangsa sendiri. Ini bagian dari penguatan kedaulatan ekonomi,” jelas Lia.
Tak hanya itu, Pegadaian juga terus melakukan ekspansi dengan menggabungkan konsep layanan keuangan dan gaya hidup, salah satunya melalui pengembangan “Gadai Cafe” yang melibatkan produk UMKM lokal. Inisiatif ini dinilai mampu menarik minat generasi muda sekaligus memberikan edukasi mengenai pentingnya menabung dan berinvestasi secara sehat.
Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News


.webp)















