Politeknik Manufaktur Bandung mengembangkan CNC KHD 40E sebagai inovasi mesin perkakas yang ditujukan untuk mendukung pembelajaran vokasi berbasis praktik industri sekaligus menjawab kebutuhan sektor manufaktur nasional.
Produk ini diposisikan sebagai bagian dari upaya memperkuat penguasaan teknologi manufaktur dalam negeri di tengah tingginya kebutuhan mesin CNC dan masih dominannya produk impor di pasar nasional.
CNC KHD 40E merupakan mesin yang dirancang dengan orientasi pemanfaatan untuk sekolah vokasi, khususnya SMK, perguruan tinggi politeknik, serta industri kecil dan menengah. Penamaan “KHD” disebut sebagai penghargaan kepada Bapak Kokok Haksono Dyatmiko, karena kontribusinya terhadap dunia pendidikan vokasi, khususnya Polman Bandung.
Angka “40” merujuk pada travel 400 mm, sedangkan huruf “E” menunjukkan bahwa mesin ini dikembangkan dalam versi education, tidak hanya diarahkan sebagai hasil rekayasa teknis, tetapi juga pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja dan industri.
Kepala Divisi Pengembangan Bisnis Politeknik Manufaktur Bandung, Roni Kusnowo, menjelaskan bahwa pengembangan CNC KHD 440E dilatarbelakangi oleh dua kebutuhan utama, yakni tingginya permintaan mesin CNC di industri manufaktur serta kebutuhan untuk menghadirkan mesin produksi lokal yang dapat menjadi alternatif terhadap produk luar negeri.
Menurutnya, Polman Bandung ingin menjawab tantangan tersebut dengan membangun mesin CNC yang diproduksi di dalam negeri. Ia menyebut “kebutuhan industri manufaktur saat ini terhadap mesin CNC cukup tinggi,” sementara “banyak sekali produk-produk CNC dari luar negeri,” sehingga diperlukan upaya untuk memenuhi kebutuhan tersebut melalui produksi lokal.
Dari sisi pengembangan, CNC KHD 40E menunjukkan karakter kuat sebagai produk rekayasa kampus vokasi. Sekitar 80% mesin ini diproduksi di Polman Bandung, dimulai dari tahap desain hingga fabrikasi, dengan keterlibatan dosen, mahasiswa, dan teknisi lintas bidang.
Desain dikembangkan bersama dosen dan mahasiswa dari jurusan Teknik Perancangan Manufaktur, body mesin dicor sendiri menggunakan ferro casting 30 dari jurusan Teknik Pengecoran Logam, proses permesinan dan assembling dikerjakan di lingkungan Teknik Manufaktur, sementara wiring dilakukan oleh mahasiswa dari jurusan Otomasi Mekatronika. Adapun sekitar 20% komponen berasal dari sparepart standar seperti kontrol siemens, linear motion, tool magazine, spindle, dan ball screw.
Roni menegaskan bahwa salah satu keunggulan utama CNC KHD 40E terletak pada tingginya kandungan produksi lokal dalam proses pembuatannya. Menurutnya, keterlibatan dosen, mahasiswa, dan teknisi kampus dinilai sangat penting dalam konteks kemandirian teknologi manufaktur Indonesia. “Saat ini kita hanya bisa membeli. Nah, Polman Bandung ingin membuat supaya kita bisa mandiri menguasai pasar nasional,” ujarnya.
Secara teknis, CNC KHD 40E dirancang untuk mendukung kebutuhan pembelajaran dan produksi dengan spesifikasi yang cukup memadai. Mesin ini memiliki dimensi meja kerja 801 mm x 240 mm, beban maksimum benda kerja yakni 140 kg, travel limits yakni X 380 mm, Y 240 mm, dan Z 370 mm. Untuk kecepatan spindle dapat mencapai hingga 6000 RPM, tool magazine 12 tool, dan spindle taper-nya memakai BT 30. Untuk tool clearance-nya dengan diameter maksimum 360 mm dengan panjang maksimum 175 mm dan berat maksimumnya 3,5 kg.
Untuk mendukung kemudahan operasional, mesin ini dilengkapi kontrol Siemens, yang menurut Roni relatif mudah digunakan, termasuk oleh siswa SMK maupun mahasiswa. Ia juga menekankan bahwa body mesin dirancang dengan material yang mampu menahan getaran, sedangkan komponen lainnya diproduksi dengan presisi agar mesin tetap andal saat dioperasikan.
Dari sisi kelembagaan, Direktur Politeknik Manufaktur Bandung, Darma Firmansyah, memandang peluncuran CNC KHD 40E sebagai bukti aktualisasi peran Polman Bandung sebagai institusi pendidikan manufaktur yang tidak hanya menghasilkan sumber daya manusia, tetapi juga teknologi yang berguna bagi kebutuhan industri.
Ia menyatakan bahwa peluncuran mesin ini menunjukkan “putra-putri anak bangsa khususnya Polman Bandung bisa membuat mesin yang akan berguna untuk kebutuhan industri manufaktur di Indonesia. “Menurutnya, inovasi semacam ini penting karena pengembangan mesin perkakas di dalam negeri masih sangat terbatas, padahal kebutuhan terhadap teknologi semacam itu terus tumbuh.
Lebih jauh, Direktur Darma menekankan bahwa CNC KHD 40E juga mencerminkan kontribusi pendidikan vokasi terhadap industri. Ia menyebut bahwa melalui pengembangan mesin ini, Polman Bandung ingin menunjukkan bahwa institusi pendidikan dapat berperan langsung dalam menjawab kebutuhan mesin produksi untuk sektor manufaktur. Harapannya, mesin ini dapat dimanfaatkan secara lebih luas pada perguruan tinggi, SMK bidang teknik mesin, hingga sektor industri, sekaligus menjadi pijakan bagi inovasi lanjutan.
Dalam aspek hilirisasi dan kesiapan implementasi, CNC KHD 40E telah memiliki sertifikat PKDN/PKDM sebesar 42,08%, sertifikat merek yang didaftarkan sebagai PODIK, serta dukungan purnajual berupa garansi satu tahun, maintenance berkala, training operator pascainstalasi, dukungan teknisi, dan ketersediaan sparepart lokal. Dukungan ini penting untuk memastikan bahwa produk ini tidak hanya berhenti sebagai hasil pengembangan laboratorium, melainkan dapat digunakan dan dipelihara secara nyata oleh institusi pendidikan maupun pengguna industri.
Meski demikian, pengembangan CNC KHD 40E masih menyisakan ruang inovasi lanjutan. Salah satu tantangan terbesar, menurut Roni terletak pada sistem kontrol yang saat ini masih mengadopsi produk Siemens. Polman Bandung menargetkan pada seri berikutnya dapat mengembangkan kontrol buatan sendiri melalui riset lanjutan, sehingga tingkat kemandirian teknologinya bisa semakin meningkat. Pandangan serupa juga disampaikan Direktur Polman Bandung yang berharap dukungan pemerintah terus mengalir, khususnya untuk pengembangan kontrol mesin sebagai bagian penting dalam penyempurnaan produk.
Ke depan, Polman Bandung menargetkan agar CNC KHD 40E dapat semakin dekat dengan pengguna, terutama sekolah-sekolah kejuruan, politeknik, serta pelaku industri kecil dan menengah. Roni menegaskan bahwa riset semacam ini tidak seharusnya berhenti pada prototipe. Menurutnya, CNC KHD merupakan hasil riset yang telah dimulai sejak 2016, berlanjut melalui program Matching Fund pada 2020 dan 2021, hingga kini memasuki tahap hilirisasi.
Dengan arah tersebut, CNC KHD 40E hadir bukan sekadar sebagai produk teknologi, tetapi juga sebagai contoh bagaimana riset terapan di kampus vokasi dapat dikembangkan menuju pemanfaatan nyata dan bernilai strategis bagi penguatan manufaktur Indonesia.
Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News


.webp)












