Beranda blog Halaman 1499

Lokasi Debat Kedua Pilkada Jakarta 2024 Dipindahkan ke Beach City International Stadium

Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi DKI Jakarta mengumumkan perubahan lokasi debat kedua Pilkada Jakarta 2024. Semula dijadwalkan berlangsung di Ecovention, Ancol, debat ini akan dipindahkan ke Beach City International Stadium, Jakarta Utara.

Anggota KPU DKI Jakarta, Astri Megatari, menyatakan bahwa pemindahan lokasi ini dilakukan setelah KPU DKI melakukan survei di Ecovention. Menurut Astri, di area tersebut akan digelar festival musik yang diperkirakan menarik puluhan ribu penonton.

“Setelah berkoordinasi dengan pihak kepolisian dan pengelola Ancol, kami menerima saran untuk memindahkan lokasi debat guna menghindari potensi penumpukan massa,” ujar Astri pada Sabtu (26/10/24).

Astri juga menjelaskan bahwa Beach City International Stadium dipilih karena dianggap lebih memadai. “Secara kapasitas, tempat ini cocok karena biasa digunakan untuk konser bertaraf internasional, dan pihak kepolisian telah memberikan izin terkait keamanan,” tambahnya.

Meski lokasi berubah, jadwal debat tetap berlangsung pada pukul 19.00 WIB dengan durasi 150 menit. Debat ini akan disiarkan oleh stasiun televisi TVRI, CNN Indonesia, Kompas TV, dan BTV.

Cek Artikel dan Berita yang lainnya Google News

Yang ditawarkan Kabinet Zaken, Yang Didapatkan Kabinet Gemoy

Di saat negara-negara dengan demokrasi yang mapan berusaha berusaha mencapai body goals dengan merampingkan kabinet mereka agar lebih efektif dan efisien, hal berbeda dilakukan oleh Presiden terpilih Prabowo Subianto yang justru menambah jumlah kementerian dalam penyusunan kabinet pada periode awal kepemimpinannya.

Ide Prabowo ini kemudian diakomodir oleh Presiden Joko Widodo yang belum lama ini telah menandatangani UU Kementerian Negara yang baru.

Dalam UU baru, jumlah keseluruhan Kementerian yang dibentuk disesuaikan dengan kebutuhan penyelenggaraan pemerintahan oleh Presiden.

Artinya, Prabowo Subianto sebagai Presiden terpilih memiliki keleluasaan penuh dalam menentukan jumlah kementerian yang ia butuhkan.

Gagasan Kabinet Zaken Prabowo Subianto

Dalam penyusunan kabinetnya, beberapa kali Prabowo mengucapkan bahwa ia akan membentuk Kabinet Zaken atau secara harfiah dapat diartikan sebagai kabinet Ahli atau kabinet profesional.

Ide Prabowo untuk membentuk kabinet zaken merupakan ide yang patut disambut dengan baik, sebab kabinet zaken menawarkan harapan bagi terciptanya pemerintahan yang lebih profesional, efisien dan berorientasi pada hasil.

Dengan memilih orang-orang yang ahli dan berpengalaman di bidangnya untuk menempati pos-pos strategis dalam pemerintahan.

Kabinet Zaken seharusnya mampu menjadi solusi bagi masalah-masalah birokrasi yang lamban dan korup.

Kabinet zaken memberikan keleluasaan bagi para teknokrat untuk benar-benar fokus bekerja tanpa dibebani oleh kepentingan partai politik yang mendukungnya.

Dengan berfokus pada kompetensi akan berdampak pada peningkatan kualitas tata kelola negara.

Berkaca pada pengalaman pemerintahan sebelumnya, Presiden Joko Widodo pada awal kepemimpinananya juga turut menggembar-gemborkan akan membentuk kabinet yang diisi oleh orang-orang profesional.

Akan tetapi pada akhirnya, ia harus berkompromi dengan realitas politik.

Meskipun ada beberapa menteri teknokrat yang masuk ke dalam kabinet, banyak kursi yang tetap diisi oleh perwakilan partai politik.

Prabowo mungkin akan menghadapi tantangan yang sama, atau bahkan lebih besar, mengingat koalisi yang ia bentuk lebih besar dan lebih kompleks. Ini bukan hal yang baru dalam politik Indonesia, di mana janji kabinet zaken sering kali terbentur oleh dinamika politik yang sarat kepentingan.

Kenyataan Koalisi Gemoy: Politik Transaksional yang Tak Terhindarkan

Rencana Presiden Prabowo Subianto untuk membentuk kabinet zaken, nyatanya hanya menjadi omong kosong belaka.

Alih-alih mendapatkan kabinet zaken yang efisien, Prabowo justru membentuk kabinet gemoy (gemuk) yang mana mayoritas diantaranya adalah anggota partai politik koalisi Indonesia Maju.

Realitas politik di Indonesia menunjukkan bahwa untuk membentuk kabinet zaken bukanlah perkara mudah.

Kombinasi sistem presidensial dengan multipartai telah menciptakan dilema tersendiri bagi Presiden dalam memilih antara mengakomodir semua partai pendukung atau membatasi kabinet hanya pada teknokrat.

Dalam upayanya meraih kursi kepresidenan, Prabowo telah membangun koalisi yang sangat besar.

Koalisi ini melibatkan 9 partai politik; Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), Partai Golongan Karya (Golkar), Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Demokrat, Partai Bulan Bintang (PBB), Partai Gelombang Rakyat Indonesia (Gelora), Partai Garda Republik Indonesia (Garuda), Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dan satu partai yang tidak lolos sebagai peserta pemilu 2024 Partai Rakyat Adil Makmur (Prima).

Tentu saja partai-partai ini tidak mendukung secara cuma-cuma, ada harga yang harus dibayarkan atas dukungan tersebut, yaitu melalui jatah kekuasaan.

Besarnya koalisi yang dibentuk berbanding lurus dengan besarnya permintaan jatah kekuasaan dari partai-partai pengusung.

Tak pelak Prabowo sebagai Presiden Indonesia harus menambah jumlah kementerian dari yang sebelumnya berjumlah 34 kini menjadi 48 Kementerian ditambah dengan 56 wakil menteri.

Ini merupakan jumlah terbesar sejak era orde baru. Bukan hanya gemuk, kabinet merah Putih bentukan Prabowo Subianto mayoritas diisi oleh partai-partai pendukungnya.

Meskipun bisa saja kader partai yang diajukan menjadi menteri memiliki keahlian pada satu bidang tertentu (profesional) tapi sulit rasanya memisahkan kepentingan partai dari individunya, ketimbang yang memang benar-benar tidak terafiliasi dengan partai politik manapun.

Dampak penambahan kementerian dalam teori birokrasi

Jauh panggang dari api, apa yang ditawarkan Prabowo tak sesuai dengan kenyataan yang dibuatnya.

Penambahan kementerian dilakukan Prabowo dengan dalih Indonesia sebagai negara besar sehingga membutuhkan jumlah kementerian yang banyak.

Dalih ini justru terkesan dibuat-buat dan tidak berdasar terlebih jika merujuk kepada negara besar lainnya seperti Amerika serikat yang hanya memiliki 15 kementerian, Russia 21 kementerian, dan China cukup dengan 26 kementerian saja.

Contoh-contoh tersebut membuktikan bahwa luas geografis tidak berpengaruh pada seberapa banyak jumlah kementerian.

Dalam teori birokrasi menurut Max Weber, birokrasi yang ramping efektif dan efisien menjadi kunci utama dalam upaya mencapai good governance.

Semakin sedikit lembaga semakin lincah birokrasi bekerja, dengan begitu tata kelola negara akan berjalan lebih efektif dan efisien.

Bertambahnya kementerian justru akan membuat roda birokrasi menjadi lamban dan menjauhkan dari tujuannya.

Bertambahnya kementerian membawa sejumlah konsekuensi yang harus diterima, yang paling akan terdampak yaitu membengkaknya anggaran negara.

Penambahan jumlah kementerian akan menyebabkan bertambahnya anggaran yang diperlukan untuk operasional, gaji pegawai, infrastruktur, serta fasilitas kementerian.

Ini bisa membebani anggaran negara, terutama jika tidak diimbangi dengan peningkatan produktivitas atau efektivitas kementerian yang baru.

Penambahan jumlah kementerian juga menimbulkan potensi tumpang tindih fungsi dan tugas antar lembaga.

Hal ini berdampak pada kompleksitas dalam pembuatan kebijakan, etiap kementerian mungkin memiliki agenda dan prioritas masing-masing yang bisa tumpang tindih atau bahkan bertentangan satu sama lainnya.

Rumitnya birokrasi dan konflik antar kementerian yang berujung pada menghambat pelayanan publik.

Selain itu, yang paling patut dikhawatirkan yaitu potensi korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan.

Ketika kementerian dibentuk sebagai akomodasi politik, ada risiko bahwa kementerian tersebut menjadi alat bagi partai politik untuk mengakses sumber daya negara. Ini membuka peluang korupsi dan penyalahgunaan wewenang, di mana program dan anggaran kementerian digunakan untuk kepentingan pribadi atau partai dan bukan untuk kesejahteraan rakyat.

Meskipun jumlah kementerian dan pemilihan menteri merupakan sepenuhnya hak kepala negara, penambahan atau pengurangan kementerian harus merujuk pada kebutuhan yang objektif, efisien dan berdasar pada kepentingan publik, bukan atas kepentingan politik.

Tanpa objektifitas, penambahan kementerian hanya menambah beban keuangan negara, tanpa memberikan manfaat yang sepadan bagi masyarakat.

Anggaran yang seharusnya dialokasikan untuk program prioritas seperti pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur publik justru tersedot untuk kebutuhan birokrasi yang membesar.

Sulit rasanya untuk menemukan urgensi dalam penambahan jumlah kementerian. Presiden baru nyatanya tidak juga membawa pembaharuan.

Alih-alih memberikan “dream team” melalui kabinet Zaken, lagi-lagi kita disuguhkan pada realitas politik yang memprioritaskan stabilitas politik dengan mengakomodasi sebanyak mungkin partai politik di dalam kabinetnya.

Dengan semakin banyaknya kementerian, kedepannya mungkin kita akan semakin sering melihat program-program studi banding dan semakin banyak pula rapat-rapat tidak penting.

Dari susunan kabinet ini kita bisa melihat kemana Presiden berpihak, apakah pada kepentingan partai politik atau kebutuhan rakyat?

Penulis

M. Rizky Ganda Hutama S.IP., M.IPol –

Dosen Ilmu Hubungan Internasional FISIP Unpas

 

Prabowo Gali Semangat Ksatria di Lembah Tidar

Presiden RI Prabowo Subianto dan Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka Laksanakan acara makan malam bersama (Galadiner) dengan para Taruna Akademi Militer (Akmil), Akademi Angkatan Laut (AAL), Akademi Angkatan Udara (AAU), dan Akademi Kepolisian (Akpol). Acara ini berlangsung di Ruang Makan Husein Akademi Militer Magelang, dan turut dihadiri oleh anggota Kabinet Merah Putih Republik Indonesia.

Dalam sambutannya, Presiden Prabowo mengajak para pimpinan pemerintahan RI untuk lima tahun ke depan berkunjung ke Lembah Tidar, sebuah wilayah yang menjadi saksi sejarah perjuangan bangsa. Presiden menjelaskan bahwa Lembah Tidar merupakan simbol perlawanan yang berlangsung ratusan tahun, mulai dari Sultan Agung hingga perjuangan Pangeran Diponegoro, yang basisnya berada di antara lima gunung: Merapi, Merbabu, Sindoro, Sumbing, dan Tidar.

Presiden Prabowo juga mengingatkan tentang legenda rakyat yang menyebut Bukit Tidar sebagai “Pakunya Pulau Jawa,” yang menjadi tempat penggemblengan para ksatria. Para taruna, baik secara sukarela maupun sebagai bagian dari pendidikan mereka, pernah mendaki bukit ini, bahkan ada yang menjalani hukuman berkali-kali. Menurut Presiden, Bukit Tidar adalah pusat bagi para ksatria yang memilih hidup dalam pengorbanan, menjadikan profesi ini sebagai pengabdian kepada bangsa.

Presiden Prabowo mengapresiasi dedikasi para taruna dan taruni dari Angkatan Darat, Laut, Udara, serta Kepolisian yang hadir di acara tersebut. “Kalian adalah harapan bangsa. Saya membawa para menteri yang akan memimpin republik ini lima tahun ke depan untuk melihat semangat dan disiplin kalian,” tegasnya. Beliu menekankan bahwa seorang prajurit harus siap berkorban demi bangsa, dan para menteri juga siap memperjuangkan kepentingan rakyat Indonesia.

Acara ini juga menjadi kesempatan bagi Presiden Prabowo untuk menyampaikan rasa syukur atas hadirnya alumni terbaik Akademi Militer dalam kabinetnya. Terdapat enam lulusan terbaik yang kini menjadi bagian dari kabinet, yaitu dua lulusan dari Kepolisian dan empat dari Angkatan. Presiden yakin bahwa di tangan generasi penerus yang berkualitas, Indonesia memiliki masa depan yang cerah.

Cek Artikel dan Berita yang lainnya Google News

Retreat Kabinet Merah Putih: Bangun Sinergi dan Disiplin

Retreat Kabinet Merah Putih di Akademi Militer Magelang menjadi momen yang penuh kesan bagi jajaran kabinet yang mengikuti senam pagi, latihan baris-berbaris, hingga pembekalan. Kegiatan ini bukan hanya menguji fisik, tetapi juga mempererat ikatan antar anggota kabinet, menyelaraskan visi, dan membentuk kekompakan sebagai satu tim.

Salah satunya Menteri Pemuda dan Olahraga Dito Ariotedjo yang menilai kegiatan ini sebagai langkah efektif dalam menyamakan frekuensi kerja para menteri di kabinet. “Kesannya sangat baik, saya rasa ini adalah suatu langkah yang sangat efektif bagaimana kita di kabinet merah putih ini bisa menyamakan langkah dan frekuensi,” ujar Dito.

Menpora Dito juga menekankan pentingnya hubungan kemanusiaan dan ikatan antar anggota kabinet. Menurutnya, pendekatan ini mempercepat sinergi untuk mewujudkan tujuan Presiden Prabowo dalam membentuk kabinet yang cepat dan efektif.

“Jadi ini mempercepat karena Bapak Presiden ingin Kabinet Merah Putih bekerja cepat dan bekerja efektif,” ungkap Dito.

Sementara itu, Menteri Agama Nasaruddin Umar menilai kegiatan ini bermanfaat untuk melatih kekompakan dan menyatukan visi kabinet. Menurutnya, ini adalah bentuk shock therapy yang penting, tidak hanya bagi anggota kabinet, tetapi juga untuk pejabat eselon di berbagai instansi.

“Latihan sekarang ini saya kira bukan hanya penting untuk para kabinet tetapi juga pejabat eselon 1, pejabat eselon 2 setiap instansi, itu saya kira sangat bagus untuk melakukan hal yang sama,” ucap Nasaruddin Umar.

Di sisi lain, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyoroti tantangan bangun pagi yang jarang dilakukannya. Namun, ia mengakui bahwa latihan disiplin ini baik untuk mengajarkan tanggung jawab dalam keadaan apapun dan berharap kegiatan serupa bisa diterapkan di kementeriannya.

“Bangun paginya itu agak repot saya, biasanya kan kita tidurnya jam 2, bangun jam 5 subuh, habis subuh tidur lagi kan, nanti bangun jam 7. Nah ini tidak, kita tidurnya jam 2, jam 4 sudah bunyi. Tapi itu bagus bahwa hidup itu disiplin, tanggung jawab negara itu mau 2 jam, 1 jam tidur, begitu panggilan tugas, harus siap,” tutur Bahlil.

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi pun menekankan pentingnya kekompakan sebagai satu tim. Ia mengibaratkan kerja kabinet seperti tim sepak bola, di mana setiap anggota memiliki peran berbeda, namun bekerja sebagai satu kesatuan.

“Analoginya sebagai sebuah tim sepak bola, ada yang di depan, ada yang di belakang, ada yang di samping, tapi semua men- support sebagai satu kesatuan,” ujar Prasetyo Hadi.

Kegiatan retreat di Akademi Militer Magelang ini menegaskan pentingnya kebersamaan, disiplin, dan kesatuan visi di antara para menteri Kabinet Merah Putih. Dengan semangat baru ini, mereka diharapkan mampu membawa pemerintahan menuju pencapaian yang lebih solid dan efektif.

Cek Artikel dan Berita yang lainnya Google News

Senam Pagi dan Kebersamaan Kabinet Merah Putih di Akmil Magelang

Suasana di lapangan Pancasila, Kawasan Akademi Militer, Magelang, Provinsi Jawa Tengah, pada Sabtu pagi, 26 Oktober 2024, kembali ramai. Presiden Prabowo Subianto bersama jajaran Kabinet Merah Putih kembali bersiap di lapangan dengan semangat untuk melakukan senam pagi.

Ini adalah kali kedua senam pagi diadakan dalam rangkaian retreat kabinet baru ini, yang bertujuan untuk memperkuat kekompakan dan semangat tim dalam menghadapi tantangan baru. Mereka tampak mengenakan seragam loreng khas TNI, seragam yang sering dipakai oleh anggota Komponen Cadangan (Komcad), memberi kesan disiplin dan kekompakan.

Kegiatan senam dimulai dengan sesi pemanasan yang dipimpin oleh instruktur dari Akademi Militer. Seluruh peserta, dari Presiden Prabowo hingga jajaran kabinet, mengikuti gerakan dengan penuh antusias, mencerminkan energi positif dan kebersamaan yang kuat.

Baca juga : Prabowo Kenang Bukit Tidar Sebagai Simbol Perjuangan dan Keteguhan Bangsa

Usai senam, kegiatan dilanjutkan dengan latihan baris berbaris sebagai simbol disiplin dan ketahanan. Meski dalam nuansa santai, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya untuk membangun kebersamaan yang lebih erat. Instruktur dari TNI terlihat memberikan arahan dengan teliti, sementara para menteri mengikuti gerakan baris berbaris dengan penuh semangat.

Setelah seluruh rangkaian kegiatan selesai, para jajaran kabinet kemudian berkumpul untuk menikmati kudapan pagi bersama di lapangan. Di tengah kehangatan pagi Magelang, mereka juga tampak bercengkerama dan menikmati hidangan, menciptakan suasana yang santai namun penuh semangat kebersamaan.

Kegiatan ini tidak hanya menjadi momen kebugaran, tetapi juga mempererat rasa solidaritas dan kekompakan di antara jajaran Kabinet Merah Putih.

Cek Artikel dan Berita yang lainnya Google News

Bahlil Tinjau Proses 129 Izin untuk Percepat Eksplorasi Migas

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terus mempercepat upaya penyederhanaan regulasi dalam sektor energi dan sumber daya mineral, sejalan dengan arahan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto. Langkah ini dilakukan guna meningkatkan efisiensi, menarik investasi, dan memastikan pelayanan publik yang lebih baik.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa penyederhanaan regulasi di sektor energi menjadi prioritas dalam rangka mempercepat investasi, terutama dalam 100 hari pertama masa kepemimpinannya. Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi adalah tumpang tindih perizinan, yang selama ini menghambat kelancaran investasi. Contohnya pada sektor eksplorasi migas, Bahlil menyoroti masih adanya lebih dari 100 izin yang harus dipenuhi, yang membuat proses eksplorasi menjadi lambat dan kurang efisien.

“Bayangkan kita mau eksplorasi saja, izinnya sekarang masih ada 100 lebih, 129 kalau tidak salah. Sebenarnya izin ini sudah bagus, tapi kita Service Level Agremeent-nya yang kurang, kecepatannya. Nah ini saya lagi cari akalnya,” ungkap Bahlil saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM beberapa waktu lalu.

Baca juga : Pemerintah Pangkas Izin Eksplorasi Migas Demi Tarik Banyak Investor

Selain di sektor Migas, Bahlil juga menyoroti masalah serupa di sektor Mineral dan Batubara (Minerba), di mana banyak aturan yang tumpang tindih turut membebani pejabat dan pelaku usaha. “Di Minerba itu kan banyak aturan yang tumpang tindih. Kita lihat banyak teman-teman kami, pejabat sebelumnya yang khususnya di Ditjen kena dampak dari persoalan regulasi yang terlalu ribet. Kita akan melakukan perbaikan supaya tidak menyandera pejabat, tapi juga tidak menyiksa atau menghambat pengusaha untuk melakukan percepatan,” ujarnya.

Menanggapi arahan ini, Kepala Biro Komunikasi, Layanan Publik, dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM Agus Cahyono Adi menegaskan bahwa penyederhanaan regulasi bertujuan tidak hanya untuk mempercepat investasi, tetapi juga memperbaiki tata kelola di sektor energi secara keseluruhan. “Kami berkomitmen untuk merapikan regulasi yang tumpang tindih agar proses perizinan di sektor migas dan minerba lebih efisien. Ini menjadi prioritas utama dalam 100 hari pertama, sesuai arahan Menteri ESDM,” imbuh Agus di Jakarta, pada Kamis (21/10).

Agus juga menambahkan bahwa pemerintah sedang mempercepat harmonisasi regulasi antara pusat dan daerah. “Sesuai dengan arahan Menteri ESDM, kami berupaya memastikan bahwa proses perizinan di tingkat pusat dan daerah dapat diselesaikan dalam waktu tidak lebih dari satu tahun. Ini menjadi prioritas kami untuk mendorong percepatan investasi,” jelasnya.

Melalui upaya-upaya ini, Kementerian ESDM berharap dapat menciptakan ekosistem usaha yang lebih dinamis, dan meningkatkan kontribusi sektor energi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Ke depan, pemerintah akan terus melakukan evaluasi dan penyederhanaan peraturan lainnya, guna menyesuaikan dengan kebutuhan investasi di sektor energi.

“Regulasi yang terlalu kompleks akan menghambat proses investasi dan mengakibatkan birokrasi yang panjang, melalui langkah penyederhanaan regulasi, pemerintah berharap mampu menciptakan iklim usaha yang lebih kondusif,” pungkas Agus

Cek Artikel dan Berita yang lainnya Google News

Prabowo Kenang Bukit Tidar Sebagai Simbol Perjuangan dan Keteguhan Bangsa

Presiden Prabowo Subianto menggelar acara Jamuan Santap Malam Kabinet Merah Putih di Akademi Militer (Akmil), Kawasan Lembah Tidar, Magelang, Provinsi Jawa Tengah, pada Jumat, 25 Oktober 2024. Acara yang diselenggarakan setelah Upacara Parade Senja ini dihadiri oleh jajaran kabinet, para pemimpin TNI-Polri, taruna Akademi Militer, hingga para jurnalis.

Dalam sambutannya, Presiden Prabowo menjelaskan makna dan nilai sejarah Lembah Tidar sebagai simbol perjuangan panjang bangsa Indonesia dalam melawan penjajah. Kepala Negara juga mengingatkan bahwa tempat ini pernah menjadi saksi sejarah perlawanan Sultan Agung dan Pangeran Diponegoro terhadap penjajah.

“Saya sengaja memilih Lembah Tidar untuk mengajak pimpinan pemerintah Republik Indonesia untuk lima tahun yang akan datang. Saya jelaskan kepada mereka bahwa Lembah Tidar ini bagian dari suatu wilayah perjuangan panjang,” ujar Presiden Prabowo di awal sambutannya.

Presiden Prabowo turut mengenang Bukit Tidar sebagai “paku” Pulau Jawa dan simbol keteguhan hati para taruna dan alumni Akademi Militer, tiga angkatan, dan kepolisian yang telah menapakinya. Presiden Prabowo menegaskan bahwa profesi militer adalah profesi yang dipilih untuk pengabdian dan berbakti kepada bangsa.

“Ini adalah pusatnya ksatria-ksatria. Karena ksatria adalah mereka yang dari sejak remaja memilih hidup dalam pengorbanan,” ungkap Presiden.

Dalam kesempatan tersebut, Presiden Prabowo memperkenalkan beberapa alumni terbaik dari Akademi Militer, Akademi Angkatan Udara, Akademi Angkatan Laut, hingga Akademi Kepolisian yang kini menduduki jabatan strategis di Kabinet Merah Putih. Di antaranya, enam alumni Adhi Makayasa yang kini mengemban peran penting dalam kabinet, termasuk Jenderal bintang empat dan peraih prestasi luar biasa lainnya.

“Di kabinet saya, terdiri juga dari beberapa alumni dan saya bersyukur, saya beruntung saya mendapat alumni yang terbaik yang masuk kabinet saya,” kata Presiden dengan bangga.

Sebagai bentuk apresiasi atas semangat dan kedisiplinan para taruna yang telah mengikuti Upacara Parade Senja, Presiden Prabowo menginstruksikan kepada para pimpinan akademi untuk memberikan libur khusus kepada taruna yang hadir. Namun, Presiden mengingatkan para taruna untuk tetap belajar selama liburan berlangsung.

“Tapi tidak berarti nilai kamu harus jelek, semakin dikasih libur, semakin belajar lebih keras,” ucap Presiden yang disambut sorak-sorai para taruna.

Presiden Prabowo mengakhiri sambutannya dengan pesan kuat mengenai prinsip kepemimpinan yang harus dipegang teguh. Ia menekankan bahwa pemimpin sejati harus merasakan dan berbagi beban yang dirasakan oleh anak buahnya, sesuai prinsip “Ingarso Sung Tulodo.”

“Kalau anak buah basah, pimpinan harus basah. Kalau anak buah kepanasan, pimpinan harus kepanasan. Kalau anak buah lapar, pemimpin harus merasakan lapar juga. Itu adalah azas kepemimpinan kita,” ujarnya menegaskan.

Jamuan santap malam ini tidak hanya menjadi momentum silaturahmi antara pemimpin negara dan generasi muda, tetapi juga wujud apresiasi terhadap para pemimpin masa depan bangsa yang siap mengabdi untuk Indonesia. Dengan semangat juang yang diwariskan, Presiden Prabowo berharap generasi penerus tetap menjaga nilai-nilai kepahlawanan dan kepemimpinan yang kokoh demi masa depan bangsa.

Cek Artikel dan Berita yang lainnya Google News

Fraksi PDI Perjuangan Kritisi Rancangan APBD 2025, Ineu: Pemprov Jabar Perlu Langkah Kongkrit Tingkatkan Pendapatan

KOTA BANDUNG,– Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jawa Barat menyampaikan Pandangan Umum terhadap RAPBD Jawa Barat 2025 pada Rapat Paripurna DPRD Jabar, Jumat (25/10).

Fraksi PDI Perjuangan menyampaikan beberapa pokok pikiran Pandangan Umum Fraksi, diantaranya mendorong Pemprov Jawa Barat untuk melakukan upaya konkrit guna meningkatkan pendapatan daerah.

“Kami dari Fraksi PDI Perjuangan menilai Pemprov Jabar dapat meningkatkan potensi yang dimiliki, seperti optimalisasi aset, mengoptimalkan pendapatan dari BUMD, investasi daerah, dan optimalisasi pajak daerah di luar pajak pajak kendaraan bermotor,” kata Ketua Fraksi PDI Perjuangan Ineu Purwadewi Sundari usai paripurna.

Selain itu, kata Ineu, postur APBD yang efektif dan efisien terlihat dari belanja program prioritas harus lebih besar dari kegiatan penunjang.

Ineu mengatakan, belanja daerah pada APBD tahun anggaran 2025 direncanakan sebesar Rp 29,74 triliun, yang terdiri dari belanja operasi, belanja modal, belanja tidak terduga dan belanja transfer.

“Fraksi PDI Perjuangan menilai dalam belanja operasi dipandang masih tinggi untuk keperluan kegiatan penunjang struktur anggaran di beberapa OPD lebih besar kegiatan penunjang dari kegiatan program. Artinya belanja pegawai dan rutin jauh lebih besar daripada belanja program/kegiatan,” ungkapnya.

Menurut Ineu, Fraksi PDI Perjuangan juga menilai dalam belanja modal prioritas program untuk menangani kemiskinan, pengangguran, stunting, dan ketahanan pangan belum didukung anggaran yang cukup.

Fraksi PDI Perjuangan, imbuhnya, mengingatkan penurunan anggaran di APBD 2025 jangan sampai mengurangi program program prioritas yang bersentuhan langsung dan menyelesaikan permasalahan mendasar bagi masyarakat di Jawa Barat.

“Perlu keberanian untuk menghilangkan kegiatan yang tidak ada hubungannya dengan penyelesaian masalah prioritas tersebut,” ungkapnya.

Terkait dengan prioritas program, Fraksi PDI Perjuangan juga menyebut ada beberapa yang harus diberikan perhatian khusus, di antaranya kedaulatan pangan, penanggulanan kemiskinan, penurunan angka pengangguran, peningkatan pelayanan pendidikan dan kesehatan, serta lingkungan hidup.

“Pada prinsipnya, Fraksi PDI Perjuangan ingin penyerapan anggaran daerah lebih efektif, sehingga mampu mendorong pertumbuhan perekonomian, karena SILPA yang terlalu tinggi juga akan mempengaruhi target pendapatan untuk APBD tahun selanjutnya,” pungkas Ineu. (*)

 

 

Peran Perbankan Syariah Mendukung Pertumbuhan Ekonomi Daerah

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan OJK terus berupaya mengembangkan industri perbankan syariah yang semakin mendukung pertumbuhan perekonomian termasuk di daerah.

“Kolaborasi antara ​OJK, Pemerintah Daerah, Komite Daerah Ekonomi dan Keuangan Syariah (KDEKS) dan industri perbankan syariah ini diharapkan dapat menjadi landasan kuat untuk pertumbuhan perbankan syariah, khususnya dalam mendukung program-program ekonomi dan prioritas pembangunan di daerah,” kata Dian dalam “Workshop Peran Perbankan Syariah terhadap Perekonomian Daerah” di Banda Aceh, Kamis. Workshop digelar sebagai rangkaian Kegiatan Pertemuan Tahunan Perbankan Syariah Tahun 2024 di Banda Aceh 24-26 Oktober ini.

Dian menyampaikan bahwa industri perbankan syariah telah menunjukkan kinerja dan ketahanan yang baik termasuk menghadapi berbagai tantangan ekonomi di masa krisis ekonomi dan pandemi Covid. Pada Agustus 2024, pangsa pasar perbankan syariah meningkat menjadi 7,33 persen, dengan pertumbuhan aset mencapai 10,37 persen atau sebesar Rp902,39 triliun.

Baca juga : OJK Ingatkan Gen Z Pentingnya Perencanaan Keuangan yang Baik

Dalam mendukung pengembangan ekonomi dan keuangan syariah Indonesia, OJK juga telah menerbitkan Roadmap Pengembangan dan Penguatan Perbankan Syariah Indonesia (RP3SI) 2023-2027 yang menekankan pentingnya sinergi yang lebih kuat dalam ekosistem ekonomi syariah.

“Salah satu langkah penting pengembangannya adalah melalui ekspansi penggunaan layanan perbankan syariah dalam setiap transaksi keuangan di ekosistem ekonomi syariah,” kata Dian.

Untuk mendukung upaya tersebut, OJK juga telah meluncurkan Roadmap Penguatan Bank Pembangunan Daerah (BPD) 2024-2027 pada 14 Oktober lalu.

“Melalui roadmap ini, OJK memperkuat komitmennya dalam mendorong peningkatan sinergi antara BPD dengan program-program pemerintah daerah, termasuk rencana pembangunan yang akan dilakukan ke depan,” tambah Dian.

Dian berharap sinergi yang kuat pada ekosistem keuangan syariah akan membuka peluang pembiayaan baru dan memungkinkan penguatan akses keuangan, terutama pada sektor strategis seperti pendidikan, kesehatan, pertanian, dan infrastruktur.

Selain itu, pengembangan ekosistem keuangan syariah juga dapat mendukung pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan, meningkatkan aktivitas keuangan dalam lingkup perbankan syariah, serta memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pembangunan berkelanjutan.

Hadir dalam workshop dimaksud Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekda Aceh dan Pembangunan Zulkifli, Direktur Eksekutif Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) Sholahudin Al Aiyub, para narasumber antara lain Pj. Bupati Kabupaten Lombok Timur Muhammad Juaini Taofik, Direktur Utama Bank NTB Syariah Kukuh Rahardjo, Perwakilan Direktorat Pendapatan Daerah – Direktorat Jenderal Bina Keuangan Daerah Kementerian Dalam Negeri Mirni Sumiyati, perwakilan Pemerintah Provinsi atau Pemerintah Daerah, perwakilan Komite Daerah Ekonomi dan Keuangan Syariah (KDEKS) dan perwakilan Bank Pembangunan Daerah (BPD) Syariah.

Melalui acara pertemuan tahunan ini, OJK berharap dapat memperkuat fokus pengembangan perbankan syariah termasuk penguatan peran di ekosistem ekonomi syariah sebagai landasan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

Perbankan syariah diharapkan menjadi industri yang sehat, efisien, berintegritas, dan berdaya saing sesuai dengan prinsip syariah sehingga ​dapat memberikan kontribusi lebih besar terhadap perekonomian nasional dan kesejahteraan masyarakat.

Cek Artikel dan Berita yang lainnya di Google News

Dorong Investasi, Pemprov Jateng Siap Fasilitasi Aglomerasi Solo Raya

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah siap mendukung konsep aglomerasi Solo Raya. Di antaranya melalui kemudahan pelayanan perizinan berinvestasi di Solo dan sekitarnya, serta dukungan infrastruktur.

Sekretaris Daerah Provinsi Jateng, Sumarno, menyampaikan, konsep aglomerasi Solo Raya bertujuan untuk mendorong investasi, melalui pemusatan kegiatan ekonomi di Solo dan sekitarnya. Kota Surakarta sebagai sentra, sedangkan Kabupaten Karanganyar, Sukoharjo, Klaten, Sragen, serta Wonogiri sebagai daerah penyangga.

“Dengan digagas aglomerasi Solo Raya, berarti berfikirnya tidak lagi parsial, tetapi semua yang ada di kawasan ini dipikirkan bersama, menjadi daerah sentra dan penopang,” ujar sekda, di sela Focus Group Discussion (FGD) Optimalisasi Aglomerasi Solo Raya, di Hotel Paragon, Kota Surakarta, Jumat (25/10/2024).

Menurut Sumarno, apabila aglomerasi Solo Raya terwujud dan berjalan dengan baik, maka dapat ditiru oleh daerah-daerah lain di Jateng, seperti Banyumas Raya, Tegal Raya, dan Semarang Raya.

Dalam kesempatan itu, sekda juga meminta kepada semua pemangku kepentingan yang terlibat dalam pencapaian aglomerasi Solo Raya, untuk memperhatikan lingkungan.

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jateng, Harry Nuryanto Soediro mengatakan, enam daerah aglomerasi Solo Raya memiliki potensi ekonomi cukup kuat. Salah satunya, sektor industri yang dapat menyerap banyak tenaga kerja, dan menyumbang investasi bagi Jateng.

“Langkah strategis ini diharapkan dapat menciptakan ekosistem ekonomi, yang lebih kuat dan berkelanjutan di Solo Raya,” katanya.

Sementara itu, Deputi Bidang Promosi Penanaman Modal Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Nurul Ichwan menambahkan, investasi di kawasan Solo Raya berkontribusi sebesar 19 persen terhadap realisasi investasi Provinsi Jateng.

Dijelaskan, realisasi investasi periode 2019 – Triwulan III 2024 terbesar di Kawasan Solo Raya adalah Boyolali sebesar Rp20.265 miliar, kemudian Klaten Rp9.915 miliar, Karangnyar Rp8.722 miliar, Sukoharjo Rp4.339 miliar, Wonogiri Rp8.261 miliar, Sragen Rp4.406 miliar, serta Kota Surakarta Rp3.657 miliar.

Menurutnya, konsep aglomerasi yang akan dikembangkan adalah dengan membangun ekosistem industri ekstraktif, dengan pemanfaatan sumber daya alam, perkebunan, perikanan, dan lainnya. Selain itu juga sektor industri tersier atau jasa, yang berpusat di Surakarta.

Cek Artikel dan Berita yang lainnya di Google News