Beranda blog Halaman 200

Seni Ukir Jepara Dinilai Siap Bersaing di Pasar Global, Ini Strategi yang Ditekankan Wamen Ekraf

Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Irene Umar, menilai seni ukir Jepara berpeluang besar bersaing di pasar internasional. Kendati begitu, penguatan daya saing produk lokal tidak hanya bergantung pada kualitas karya, tetapi juga kemampuan membangun narasi, strategi pemasaran, dan distribusi yang tepat.

Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, Irene Umar, menerima audiensi penyelenggara pameran seni pahat Jepara, TATAH, di Kantor Kementerian Ekraf, Jakarta, Rabu ( 24/6/2026).

Hal ini disampaikan Irene saat menerima audiensi penyelenggara pameran seni pahat Jepara, TATAH, di Kantor Kementerian Ekraf, Jakarta, Rabu (24/6).

“Budaya Indonesia itu enggak mungkin bisa membosan, karena bisa melihat dari angle yang berbeda dengan story line yang berbeda. Menurutku Jepara itu bisa mengekspresikannya dengan sangat bagus lewat sekuensi pikirannya yang tergambar melalui pahatan,” ujar Irene.

Selain itu, Irene menekankan pentingnya pembangunan city branding yang kuat bagi Jepara. Menurutnya, langkah tersebut dapat semakin mengukuhkan Jepara sebagai pusat seni ukir Indonesia, sekaligus menarik minat generasi muda untuk melestarikan dan mengembangkan tradisi ukir yang telah menjadi identitas daerah selama berabad-abad.

Pertemuan ini juga menjadi tindak lanjut dari kunjungan sebelumnya, sekaligus membahas berbagai langkah percepatan pengembangan seni ukir Jepara sebagai bagian dari upaya penguatan subsektor kriya dan ekonomi kreatif nasional.

TATAH merupakan program pameran seni dan inisiatif kuratorial yang menyoroti perkembangan seni ukir Jepara. Program ini menghadirkan ruang dialog antara kurator, seniman, peneliti, pelaku industri, dan masyarakat untuk memperluas pemahaman terhadap nilai budaya serta potensi ekonomi yang dimiliki seni ukir Jepara.

Pameran TATAH menampilkan 35 karya seni ukir tematik Jepara yang diwujudkan dalam berbagai bentuk, mulai dari mebel, patung, relief, dekorasi interior, hingga produk kerajinan. Keberagaman karya tersebut menunjukkan kemampuan para perajin dan seniman Jepara dalam mengembangkan warisan budaya menjadi produk kreatif yang relevan dengan kebutuhan masa kini.

Direktur Pelaksana TATAH, Veronica Rompies, menjelaskan bahwa pameran ini merupakan narasi panjang yang menceritakan perjalanan Jepara sebagai ruang pertemuan berbagai peradaban dan budaya. Menurutnya, kolaborasi lintas sektor menjadi fondasi utama dalam penyelenggaraan program tersebut.

“Tatah hadir dari hasil kolaborasi yang unik antara seniman, pemerintah, asosiasi industri, hingga sejarawan. Hadirnya TATAH juga sebagai kapasitor untuk semakin menaikkan seni pahat asal Jepara,” jelas Veronica.

Audiensi tersebut turut dihadiri Ketua Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Jepara Raya, Hidayat Hendra Sasmita; Sekretaris Jenderal HIMKI Jepara Raya, Rengganis Widayanti; Tim Art Management TATAH serta Tim Promosi HIMKI Jepara Raya. Wamen Ekraf didampingi Direktur Kriya, Neli Yana.

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

Dedi Mulyadi Ajak Aisyiyah Turun Tangan Atasi Tawuran dan Anak Broken Home di Jabar

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengajak organisasi perempuan Aisyiyah terlibat dalam menyelesaikan sejumlah persoalan sosial yang ada di Jawa Barat.

Hal tersebut dikemukakan KDM sapaan Dedi Mulyadi saat memberikan sambutan pada acara Resepsi Milad ke-109 Aisyiyah di Pesantren Darul Arqam Garut pada Senin, (22/6/2026), yang diselenggarakan Pimpinan Wilayah Aisyiyah (PWA) Jawa Barat.

Menurut KDM, perlu keterlibatan secara aktif organisasi kemasyarakatan di Jawa Barat, seperti Aisyiyah, untuk mengatasi berbagai tantangan sosial yang saat ini dihadapi masyarakat Jawa Barat.

“Saya ngajak kepada seluruh ormas, baik ormas keamagaan maupun nonkeagamaan, mari kita melangkah pada hal yang lebih nyata. Kalau kita terus melakukan pembinaan di internal organisasi kita, perasaan manfaatnya terbatas,” ucap KDM.

Oleh karena itu, KDM mengharapkan, Aisyiyah ikut turun langsung menyelesaikan masalah keluarga, seperti tawuran remaja akibat dari kurangnya perhatian orang tua kepada anak-anak mereka. Termasuk, orangtua yang harus bekerja sebagai pekerja migran.

“Yang harus diberesin anak-anak yang ibunya jadi TKI, tiap hari kekurangan kasih sayang hingga akhirnya bawa clurit. Anak-anak perempuan yang broken home yang tiap hari nongkrong diluar pulang jam 12 malam. Nanti Aisyiyah turun menghampiri anak-anak yang nongkrong peluk penuh cinta, ajakin ke majelis, anterin pulang. Kalau orang tuanya tidak ada biarkan ibu-ibu Aisyiyah menjadi ibu angkat yang anak-anak broken home,” ucapnya.

Untuk menyelesaikan permasalah ini, KDM mengajak Aisyiyah untuk melakukan kerja sama dengan pemerintah daerah sehingga bisa terintegrasi.

Di hadapan para tamu undangan yang hadir, KDM juga menyoroti masalah kemiskinan, anak-anak yatim, rumah rakyat miskin, stunting, kematian ibu dan anak, infrastruktur jalan, irigasi yang harus dibenahi oleh pemerintah.

“Kita ingin beresin itu semua dengan alokasi anggaran yang saat ini semakin berat, yang sudah terpotong dalam dua tahun ini sebesar Rp3,6 triliun,” ucapnya.

Sementara itu, Ketua Pimpinan Wilayah Aisyiyah Jawa Barat Ia Kurniati menekankan bahwa jalan dakwah Aisyiyah senantiasa untuk mewujudkan hayatan thayyibah (kehidupan yang baik, tenang, dan berkah).

“Aisyiyah Jawa Barat berkomitmen untuk terus memitigasi konflik melalui ruang dialog yang mencerahkan, kebijakan yang adil, menyebarluaskan nilai-nilai perdamaian demi masa depan generasi penerus,” tuturnya.

Mengusung tema “Memperkokoh Dakwah Kemanusiaan untuk Mewujudkan Perdamaian”, kegiatan ini dihadiri ratusan kader, tokoh masyarakat, serta jajaran pimpinan daerah dan provinsi.

Di tempat yang sama, Bupati Garut H Abdusy Syakur Amin mengapresiasi konsistensi ‘Aisyiyah dalam mendampingi masyarakat. Ia pun mengajak Aisyiyah untuk terus berkolaborasi dengan pemerintah daerah dalam memutus rantai kemiskinan dan mengatasi berbagai persoalan sosial.

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

Bupati Dony Ajak Masyarakat Tingkatkan Kepedulian pada Anak Yatim di Lebaran Yatim 1448 H

Pemerintah Daerah Kabupaten Sumedang bersama BAZNas  menggelar peringatan Lebaran Yatim  1448 Hijriah di Aula Tampomas, Kamis (25/6/2026). Kegiatan yang bertepatan dengan 10 Muharram 1448 H tersebut dihadiri ratusan anak yatim dari berbagai wilayah. Suasana acara berlangsung meriah dengan berbagai penampilan hiburan, doa bersama, santunan, serta pembagian hadiah kepada seluruh peserta.

“Peringatan Lebaran Yatim merupakan momentum untuk bermuhasabah dan mengintrospeksi diri sejauh mana kepedulian terhadap anak-anak yatim telah diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari,” kata Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir.

Menurutnya, melalui momentum Lebaran Yatim diharapkan tumbuh tekad yang kuat dalam diri setiap individu untuk menjadi bagian dari solusi bagi anak-anak yatim dengan memberikan perhatian, kasih sayang, dan bantuan secara istiqomah. “Semoga dari kegiatan ini lahir kesadaran dan komitmen bersama untuk terus hadir bagi anak-anak yatim, tidak hanya pada momentum tertentu, tetapi secara berkelanjutan,” katanya.

Lebaran Yatim merupakan salah satu ikhtiar Pemerintah Daerah Kabupaten Sumedang dalam mewujudkan visi Sumedang Simpati, khususnya pada aspek Agamis Akhlaknya. “Melalui kepedulian sosial dan penguatan nilai-nilai keagamaan, kita berharap dapat membentuk generasi yang berakhlak mulia sebagai fondasi menuju Indonesia Emas 2045,” katanya.

Kegiatan tersebut menjadi wujud nyata sinergi antara pemerintah daerah, BAZNas, dan masyarakat dalam menghadirkan kebahagiaan serta memberikan perhatian kepada anak-anak yatim sebagai bagian penting dari pembangunan karakter dan sosial di Kabupaten Sumedang.

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

Wagub DIY Usulkan Seluruh Jamaah Haji Gunakan E-Paspor untuk Percepat Layanan Imigrasi

Plt. Kepala Kanwil Kemenhaj dan Umrah DIY, Silvia Rosetti bertemu Wakil Gubernur DIY, KGPAA Paku Alam X guna melaporkan perkembangan kepulangan jamaah haji via embarkasi YIA. Dalam pertemuan di Gedhong Pareanom, Kompleks Kepatihan, Yogyakarta pada Kamis (25/06), Sri Paduka pun mengusulkan agar seluruh jamaah haji asal DIY dapat menggunakan e-paspor.

“Saya berterima kasih karena DIY mendapat kesempatan menjadi pilot project (pelaksanaan embarkasi berbasis hotel). Namun ke depan, saya berharap semakin banyak inovasi dalam pelayanan haji di DIY, misalnya kalau bisa jamaah haji DIY bisa seragam pakai e-paspor,” ungkap Sri Paduka.

Sri Paduka menjelaskan, penggunaan e-paspor dapat mempercepat pelayanan imigrasi para jamaah, baik di Indonesia maupun di Arab Saudi. Dengan pelayanan yang lebih cepat, jamaah tentu akan merasa lebih nyaman dan juga dapat menghemat waktu.

“Karenanya saya meminta tolong untuk bisa menciptakan metodologi yang tujuannya memberikan kemudahan pelaksanaan. Saya kira, hal ini dapat dilakukan meski memang tidak ada instruksi dari pusat. Justru dari DIY bisa jadi pelopor, demi kemudahan petugas dan kenyamanan jamaah,” imbuh Sri Paduka.

Sri Paduka juga mengusulkan, para jamaah dapat dibekali dengan materi-materi pengenalan teknologi digital pada kegiatan sebelum keberangkatan. Materi bisa termasuk infromasi apa yang harus dilakukan dan diperhatikan, seperti gelang QRIS dan kalung ID yang tidak boleh dilepas.

Sementara itu, Plt. Kepala Kanwil Kemenhaj dan Umrah DIY, Silvia Rosetti mengatakan, penyelenggaraan haji untuk embarkasi YIA saat ini sedang dalam fase kepulangan jamaah. Kepulangan 26 kloter haji ebarkasi YIA telah dimulai sejak 1 Juni 2026 kemarin, dan akan berakhir di 30 Juni 2026.

“Sampai saat ini, jamaah haji DIY yang telah pulang ada 19 kloter dengan jumlah jamaah 6.811. Dan alhamdulillah sampai saat ini semua proses kepulangan berjalan lancar. Dan kami berharap Sri Paduka bisa ikut menyambut kepulangan para jamaah kloter terakhir nantinya,” imbuhnya.

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

Libur Sekolah, Bupati Cianjur Ajak Keluarga Tinjau Pembangunan Jalan Pamoyanan-Kalapa Nunggal

Momen libur sekolah dimanfaatkan Bupati Cianjur Mohammad Wahyu Ferdian dengan cara berbeda. Didampingi istri dan anak-anak, Bupati turun langsung memantau progres pembangunan Jalan Pamoyanan–Kalapa Nunggal di Kecamatan Cibinong, Senin (22/6/2026) sekaligus mengajak keluarga melihat pembangunan yang tengah berjalan di wilayah selatan Cianjur.

 

Di tengah peninjauan, Bupati menyampaikan bahwa kunjungan tersebut bukan sekadar agenda monitoring, tetapi juga menjadi momen mengenalkan kepada anak-anak bagaimana pembangunan daerah dilakukan dan bagaimana pemerintah hadir menjawab kebutuhan masyarakat.

 

“Nah ini kita lagi liburan sekolah jadi anak-anak diajakin liburan ke Cikadu, ke Kalapa Nunggal sekalian kita lihat jalan yang dibangun itu. Rembug di sini Kalapa Nunggal, masyarakat sini minta jalan di sini diperbaiki karena memang waktu itu parah, tanah merah, batu besar-besar, terus banyak yang selip, banyak yang jatuh. Sekarang alhamdulillah sedang proses kita perbaiki di sini, sudah alhamdulillah sudah bagus dan masih ada kurang lebih sisa empat ratus meter lagi, semoga bermanfaat untuk warga,” ujar Bupati.

Jalan yang sebelumnya dikenal rusak berat, berlumpur saat hujan, dan rawan menyebabkan pengendara tergelincir kini mulai berubah. Perbaikan yang dilakukan menjadi jawaban atas aspirasi masyarakat yang selama ini menginginkan akses jalan yang lebih aman dan layak.

 

Pemerintah Kabupaten Cianjur menargetkan pembangunan dapat memberikan dampak nyata terhadap mobilitas warga, memperlancar aktivitas ekonomi, serta membuka akses antarwilayah agar semakin terhubung.
Bagi warga, pembangunan jalan bukan hanya soal infrastruktur—tetapi tentang hadirnya harapan dan kemudahan dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

Pemkot Bogor Siap Tata Kembali Kawasan Empang, Sejarah Kampung Sukahati Tetap Dipertahankan

Pasca terbitnya penetapan resmi nazir Masjid Agung At-Thohiriyah Empang oleh Kantor Kementerian Agama Kota Bogor, Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor dapat memulai langkah baru dalam penataan kawasan tersebut.

 

Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, berharap seluruh pihak terkait di sekitar Alun-Alun Empang bersama warga dapat kembali duduk bersama untuk merencanakan desain kawasan sesuai konsep yang diinginkan, tanpa meninggalkan identitas sejarah masa lalu.

 

Kawasan Empang dikenal sebagai Kampung Sukahati, yang menjadi pusat pemerintahan Bupati Kampung Baru, Demang Wiranata, pada abad ke-18 atau sekitar tahun 1754–1761 pada masa kolonial Belanda.

 

Kemudian, pada tahun 1838, melalui kebijakan Wijkenstelsel, kawasan tersebut ditetapkan sebagai permukiman masyarakat Arab dan hingga kini masih menjadi salah satu kawasan bersejarah di Kota Bogor.

 

Berbagai upaya penataan sebelumnya sempat mengalami hambatan akibat sejumlah persoalan. Namun, kesempatan untuk mewujudkan penataan kawasan tersebut kini kembali terbuka.

 

“Insyaallah, kali ini kesempatan itu datang,” ujar Dedie Rachim, Kamis (25/6/2026).

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

Gubernur Rudy Mas’ud Resmikan Awang Faroek Tower, Kaltim Kini Miliki Pusat Layanan Jantung Modern

Kalimantan Timur kini memiliki pusat layanan jantung yang semakin modern. Gubernur Kaltim, Rudy Mas’ud meresmikan Gedung Jantung Terpadu Awang Faroek Tower di RSUD dr. Kanujoso Djatiwibowo (RSKD) Balikpapan, Rabu (24/6/2026) sebagai langkah memperkuat pelayanan kesehatan bagi masyarakat.

Plt Direktur RSKD Balikpapan, drg. Ahmad Jais mengatakan pembangunan gedung tersebut dilatarbelakangi tingginya jumlah kasus penyakit kardiovaskular di Kaltim. Dalam tiga tahun terakhir, rumah sakit menangani 2.238 kasus penyakit jantung dengan tingkat keberhasilan tindakan mencapai 99 persen. Selain itu, RSKD juga telah melakukan 40 operasi bedah jantung terbuka (Coronary Artery Bypass Grafting/CABG) dengan tingkat keberhasilan mencapai 95 persen.

Menurut Ahmad Jais, Gedung Jantung Terpadu Awang Faroek Tower dilengkapi berbagai fasilitas modern, termasuk ruang Cath Lab B-Plan pertama di Kalimantan yang akan memperkuat layanan diagnostik dan tindakan intervensi jantung.

“Rumah sakit yang unggul tidak cukup memiliki gedung megah dan alat canggih. Tetapi juga harus didukung tata kelola yang baik, SDM yang kompeten, serta pelayanan yang ramah dan profesional. Itulah ikhtiar kami menjaga kesehatan jantung masyarakat Kalimantan Timur,” ujarnya.

Gubernur Rudy Mas’ud mengapresiasi seluruh jajaran RSKD dan pihak-pihak yang telah menghadirkan fasilitas layanan jantung terpadu tersebut. Menurutnya, peningkatan kualitas pelayanan kesehatan harus berjalan seiring dengan penguatan sumber daya manusia, khususnya tenaga kesehatan.
“Kita tidak hanya membangun fasilitas, tetapi juga membangun kualitas SDM. Secanggih apa pun alat dan sebagus apa pun gedungnya, kalau pelayanannya tidak ramah, manfaatnya tidak akan maksimal. Senyum dan ketulusan tenaga kesehatan adalah obat yang paling mujarab,” pesan Gubernur.

Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat menjaga persatuan dalam membangun Kalimantan Timur sekaligus meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.

Gedung Jantung Terpadu Awang Faroek Tower dilengkapi berbagai fasilitas modern, seperti catheterization laboratory (cath lab), ruang operasi berstandar Modular Operating Theater (MOT), hingga teknologi Smart RSKD yang memungkinkan pemantauan kondisi pasien secara real-time dari ambulans, IGD, ICCU, hingga ruang perawatan.

Dengan fasilitas tersebut, berbagai tindakan medis seperti pemasangan ring jantung, angiografi koroner, pemasangan temporary pacemaker, hingga operasi jantung terbuka kini dapat dilakukan di Balikpapan. Kehadiran Awang Faroek Tower diharapkan menjadi warisan nyata yang terus memberikan manfaat bagi masyarakat sekaligus meneruskan semangat pengabdian almarhum dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan di Kalimantan Timur.

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

Menhut Sampaikan Kesiapan Indonesia Masuki Era Baru Pasar Karbon di London Climate Action Week

Menteri Kehutanan Republik Indonesia (Menhut) Raja Juli Antoni, menegaskan kepemimpinan Indonesia dalam aksi iklim global pada pertemuan _The Coalition Senior Representatives Meeting_ di ajang _London Climate Action Week_. Di hadapan para pemimpin dan delegasi internasional, Menhut menyatakan bahwa Indonesia kini resmi memasuki fase baru implementasi pasar karbon yang kredibel, transparan, dan berdampak besar melalui penguatan tata kelola sektor kehutanan. Indonesia tidak lagi sekadar merancang kebijakan, melainkan telah melangkah jauh ke tahap implementasi praktis yang nyata di lapangan.

Kepemimpinan Indonesia di sektor kehutanan ini dibuktikan melalui penerbitan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor 6 Tahun 2026 dan Nomor 7 Tahun 2026, sebagai aturan turunan dari Peraturan Presiden Nomor 110 Tahun 2025. Regulasi tersebut menjadi fondasi hukum yang kuat untuk menjamin tata kelola, integritas lingkungan, serta kepastian regulasi bagi para investor berkelanjutan. Sebagai bukti nyata dari kesiapan infrastruktur tersebut, Kementerian Kehutanan dijadwalkan menggelar upacara penyerahan Persetujuan Menteri sekaligus penerbitan kredit karbon sektor kehutanan dengan volume masif, mencapai lebih dari 30 juta ton CO₂e pada 6 Juli 2026.

Langkah besar ini juga segera disusul dengan peluncuran Sistem Registri Unit Karbon (SRUK) pada 9 Juli 2026 sebagai infrastruktur utama pasar karbon nasional. Kehadiran SRUK akan memperkuat transparansi, akuntabilitas, dan kepercayaan pasar, sekaligus memberikan kepastian yang lebih besar bagi para pengembang proyek dan investor global.

Bersamaan dengan peluncuran tersebut, beberapa proyek karbon kehutanan Indonesia juga akan diregistrasikan di bawah standar yang diakui secara internasional, mempertegas kesiapan Indonesia mengelola potensi besar solusi berbasis alam mulai dari hutan tropis, lahan gambut, hingga mangrove, serta penjajakan teknologi masa depan seperti _biochar_ dan _Carbon Capture, Utilization, and Storage_ (CCUS).

Menhut mengajak dunia internasional untuk melakukan tiga aksi kolektif bersama. Pendekatan ini dimulai dengan mengirimkan sinyal kuat ke pasar mengenai peran krusial kredit karbon berintegritas tinggi, mendorong korporasi dan lembaga keuangan global mengintegrasikan kredit karbon berkualitas ke dalam strategi transisi iklim mereka, serta memperkuat kerja sama internasional di bawah _Article_ 6 Perjanjian Paris. Melalui kolaborasi yang setara dan saling menghormati prioritas nasional, Indonesia menyatakan kesiapan penuh untuk bersinergi dengan seluruh mitra global demi mewujudkan ekosistem pasar karbon dunia yang lebih besar, kuat, dan tepercaya.

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

Menhut Ajak Dunia Bangun Pasar Karbon yang Kuat, Transparan, dan Berdampak Nyata

Pemerintah Indonesia menegaskan komitmennya untuk membangun pasar karbon yang kredibel, transparan, dan berintegritas tinggi sebagai instrumen penting dalam mobilisasi pembiayaan iklim global.

Komitmen tersebut disampaikan Menteri Kehutanan Republik Indonesia (Menhut) Raja Juli Antoni, saat memberikan _closing remarks_ pada sesi tingkat tinggi _“From Fragile to Financeable – De-risking Carbon Credit Markets”_ yang diselenggarakan dalam rangka _London Climate Action Week 2026_ di Kota London, Inggris.

Sesi yang diselenggarakan bersama _The Coalition to Grow Carbon Markets_ tersebut mempertemukan para pemimpin pemerintah, lembaga keuangan, pelaku usaha, organisasi internasional, dan pengembang pasar karbon untuk membahas langkah-langkah strategis dalam mentransformasi pasar karbon dari pasar yang masih terfragmentasi dan berisiko tinggi menjadi pasar yang matang, terpercaya, dan menarik bagi investasi jangka panjang.

Dalam sambutannya, Menhut menegaskan bahwa tantangan utama pembiayaan iklim saat ini bukanlah minimnya ambisi atau keterbatasan modal, melainkan belum terciptanya kondisi yang kondusif agar investasi dapat mengalir dengan aman dan dalam skala besar ke berbagai solusi iklim.

“Pasar karbon memiliki potensi besar untuk menyalurkan investasi bagi pengurangan emisi, perlindungan hutan, pemulihan ekosistem, dan pembangunan berkelanjutan. Namun untuk mencapai potensi tersebut, pasar karbon harus dibangun di atas fondasi integritas, transparansi, kepastian regulasi, dan kepercayaan,” ujar Menhut.

Menurut Menhut, Indonesia memiliki kepentingan strategis dalam penguatan pasar karbon global mengingat Indonesia merupakan salah satu negara dengan kawasan hutan tropis terbesar di dunia yang berperan penting dalam mitigasi perubahan iklim.

Untuk itu, Pemerintah Indonesia terus memperkuat tata kelola karbon nasional melalui berbagai reformasi kebijakan dan penguatan instrumen kelembagaan. Salah satu tonggak penting yang telah ditetapkan adalah implementasi Peraturan Presiden Nomor 110 Tahun 2025 yang menjadi dasar pengembangan pasar karbon nasional yang lebih terintegrasi dan kredibel.

Di sektor kehutanan, penguatan tersebut diperkuat melalui Peraturan Menteri Kehutanan Nomor 6 Tahun 2026 dan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor 7 Tahun 2026 yang mengatur tata kelola karbon, transparansi, integritas lingkungan, serta kepastian investasi dalam kegiatan karbon kehutanan.

Sebagai bagian dari penguatan infrastruktur pasar karbon nasional, Indonesia juga akan meluncurkan Sistem Registri Unit Karbon (SRUK) pada 9 Juli 2026. Sistem ini akan menjadi fondasi utama tata kelola pasar karbon Indonesia melalui peningkatan transparansi, akuntabilitas, keterlacakan _(traceability)_, dan kepastian bagi para pelaku usaha maupun investor.

Peluncuran SRUK akan disertai dengan pendaftaran sejumlah proyek karbon kehutanan yang menggunakan standar internasional yang diakui secara global.

Selain itu, pada 6 Juli 2026, Kementerian Kehutanan akan menerbitkan persetujuan Menteri dan memfasilitasi penerbitan kredit karbon kehutanan dengan volume lebih dari 30 juta ton CO₂e. Langkah ini menjadi salah satu pencapaian terbesar dalam sejarah pengembangan pasar karbon kehutanan Indonesia dan menunjukkan kesiapan Indonesia untuk menghadirkan peluang investasi iklim yang nyata dan terukur.

“Ini merupakan bukti bahwa Indonesia tidak hanya membangun kerangka kebijakan, tetapi juga menghadirkan peluang pasar yang konkret dan dapat dipercaya oleh investor,” tegas Menhut.

Dalam kesempatan tersebut, Menhut juga menekankan pentingnya kolaborasi internasional untuk membangun pasar karbon global yang semakin kuat. Menurutnya, pusat-pusat keuangan dunia memiliki peran penting dalam membangun institusi pasar yang terpercaya, mengembangkan instrumen pengelolaan risiko, serta memobilisasi investasi yang dibutuhkan untuk mendukung transisi menuju ekonomi rendah karbon.

Menjelang penyelenggaraan COP31, Indonesia mendorong tiga agenda utama dalam pengembangan pasar karbon global. Pertama, memperkuat integritas dan transparansi pasar agar kepercayaan terhadap kredit karbon terus meningkat. Kedua, mengembangkan infrastruktur pasar, mekanisme likuiditas, serta instrumen berbagi risiko yang mampu menarik investasi swasta dan institusional dalam skala besar. Ketiga, memastikan bahwa pembiayaan karbon memberikan manfaat nyata bagi masyarakat lokal dan masyarakat hukum adat serta para penjaga hutan yang berkontribusi langsung terhadap perlindungan ekosistem.

Menutup sambutannya, Menhut menegaskan bahwa masa depan pasar karbon tidak hanya ditentukan oleh jumlah kredit karbon yang diperdagangkan, tetapi juga oleh tingkat kepercayaan yang dibangun, investasi yang berhasil dimobilisasi, serta manfaat iklim dan pembangunan yang dihasilkan.

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

Sertipikasi Tanah DKI Jakarta Capai 98,6%, Wamen Ossy: Jadi Contoh Baik bagi Daerah Lain

Wakil Menteri Agraria dan Tata Ruang/Wakil Kepala Badan Pertanahan Nasional (Wamen ATR/BPN), Ossy Dermawan, mengapresiasi capaian sertipikasi tanah di Provinsi DKI Jakarta yang telah menembus 98,6%. Wamen Ossy menyebut capaian ini sebagai salah satu yang terbaik di Indonesia.

“Sebanyak 98,6% bidang tanah di DKI Jakarta telah terdaftar. Capaian ini merupakan keberhasilan Bapak Gubernur dan jajaran dalam menata tata kelola administrasi pertanahan di Provinsi DKI Jakarta yang dapat menjadi contoh yang sangat baik bagi daerah-daerah lain di seluruh Indonesia,” ujar Wamen Ossy dalam acara Penyerahan Sertipikat Hak Pakai atas Nama Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta di Balai Agung, Jakarta, Rabu (24/06/2026).

Menurut Wamen Ossy, capaian tersebut perlu terus ditingkatkan hingga seluruh bidang tanah di DKI Jakarta terdaftar dan bersertipikat.

Untuk mewujudkannya, Kementerian ATR/BPN akan memperkuat sinergi dengan Pemprov DKI Jakarta, baik dalam percepatan sertipikasi tanah maupun peningkatan kualitas pelayanan pertanahan kepada masyarakat.

“Harapannya bukan hanya berhenti di sini, tetapi terus dimaksimalkan hingga 100% bidang tanah dapat terdaftar dan bersertipikat,” sambung Wamen Ossy.

Penguatan sinergi sinergi antara Kementerian ATR/BPN dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta salah satunya dilakukan melalui integrasi data pertanahan, kependudukan, dan perpajakan.

Wamen Ossy mengatakan bahwa sinkronisasi Nomor Identifikasi Bidang (NIB), Nomor Induk Kependudukan (NIK), dan Nomor Objek Pajak (NOP) menjadi langkah strategis untuk mewujudkan sistem administrasi pemerintahan yang lebih terintegrasi, akurat, dan akuntabel, sekaligus mendukung optimalisasi pelayanan publik serta peningkatan penerimaan daerah.

“Kami terus mengembangkan integrasi data pertanahan dengan data kependudukan dan perpajakan. Ini penting untuk mewujudkan tata kelola yang bersih, transparan, dan akuntabel,” ungkap Wamen ATR/Waka BPN.

Dalam kesempatan tersebut, Wamen Ossy yang hadir mewakili Menteri ATR/Kepala BPN, Nusron Wahid, menyerahkan 499 Sertipikat Hak Pakai atas nama Pemprov DKI Jakarta dengan total luas mencapai sekitar 85 hektare. Sertipikat tersebut diterima langsung oleh Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung Wibowo.

Kegiatan ini turut dihadiri oleh Sekretaris Daerah Provinsi DKI Jakarta, Uus Kuswanto; Kepala Satuan Tugas pada Direktorat Koordinasi dan Supervisi Wilayah II KPK, Dwi Aprilia Linda; serta jajaran Pemprov DKI Jakarta. Turut mendampingi Wamen ATR/Waka BPN dalam kegiatan ini, Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Protokol, Achmad; Kepala Kantor Wilayah BPN Provinsi DKI Jakarta, Erry Juliani Pasoreh beserta jajaran; serta para Kepala Kantor Pertanahan se-Provinsi DKI Jakarta.

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News