Beranda blog Halaman 4544

Curah Hujan Tinggi, Pemprov DKI Siapkan 470 Unit Pompa

SuaraPemerintah.id – Curah hujan yang terus meninggi, membuat Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta melakukan antisipasi penanganan banjir. Hingga akhir Januari 2021 total 470 unit pompa stasioner yang tersebar di 178 lokasi dengan kapasitas 50 hingga 500 liter per detik telah disiagakan.

Selain itu, Dinas Sumber Daya Air juga telah menyiagakan empat unit pompa mobil. Tak hanya itu, tambahan lima unit pompa stasioner juga telah disediakan.

Dari akun YouTube resmi Diskominfotik DKI Jakarta, untuk wilayah Jakarta Barat total pompa yang disiagakan sebanyak 132 unit yang tersebar di 46 lokasi, di Jakarta Utara total ada 126 unit yang tersebar di 48 lokasi.

Di Jakarta Selatan total ada 86 pompa yang tersebar di 40 lokasi: di Jakarta Pusat total ada 87 unit yang tersebar di 23 lokasi, dan di Jakarta Timur total ada 39 unit yang tersebar di 21 lokasi.

Penanggung Jawab Rumah Pompa Cideng, Jakarta Pusat, Atot Arta mengatakan sepanjang musim kemarau lalu, pihaknya terus melakukan perawatan terhadap pompa-pompa tersebut.

Hal ini rutin dilakukan sehingga saat memasuki musim hujan pompa siaga dan bisa digunakan secara maksimal.

Pompa pun kata dia, saat musim hujan hanya dioperasikan pada level tertentu. Sementara saat masuk musim hujan dengan level air yang cukup tinggi maka pompa bisa beroperasi selama 24 jam secara bergantian.

“Karena setiap menjelang musim hujan ini kadang-kadang banyak genangan yang kita tidak tahu, mungkin karena tersumbatnya aliran-aliran air yang masuk ke kali-kali besar,” kata dia.

Dalam kesempatan itu, Atot juga mengingatkan agar warga yang tinggal di DKI Jakarta ikut berpartisipasi dalam mencegah terjadinya banjir. Salah satunya dengan tidak membuang sampah ke kali demi memperlancar aliran air.

“Jadi, untuk warga DKI permohonan dari kita sebagai petugas pompa, ikut berpartisipasi supaya tidak membuang sampah ke kali, itu pun sangat membantu untuk memperlancar aliran air ke kali-kali yang lebih besar, sehingga air-air yang kita sedot pun menjadi lancar,” katanya.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melansir peringatan waspada potensi banjir untuk 14 provinsi. Untuk wilayah Jabodetabek, BMKG memprediksi hujan dengna intensitas ringan hingga sedang akan turun di wilayah tersebut selama sepekan ke depan, 1-7 Februari.

Hujan diprediksi turun pada malam hingga dini hari, serta siang dan sore hari.

Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto menerangkan berrdasarkan analisis data normal, Guswanto menuturkan prediksi puncak musim hujan di Jakarta terjadi pada Januari dasarian III hingga Februari dasarian I dengan akumulasi sekitar 140 mm/ bulan. Dasarian adalah perhitungan waktu tiap 10 hari.

Sementara untuk wilayah Jawa Barat (termasuk Depok dan Bogor), puncak musim hujan terjadi pada periode yang sama dengan akumulasi hujan bulanan tinggi, yakni lebih dari 140 mm/ bulan.

“Namun, perlu diperhatikan curah hujan lebat, sangat lebat maupun ekstrem itu tidak langsung identik jadi banjir. Ada faktor lain yaitu daya dukung dan daya tampung lingkungan. Itulah yang mungkin perlu dipahami lebih jauh,” terang dia kemarin.

Banjir terparah di Jakarta pada abad XXI ini sendiri terjadi pada 2007 silam. Kala itu, 1 Februari 2007, hampir 70 persen wilayah Jakarta terendam banjir. Saat itu tercatat setidaknya ada 80 korban meninggal, dan 320.000 warga mengungsi.

Melansir dari berbagai sumber, Gubernur DKI kala itu, Sutiyoso, menerangkan setidaknya ada tiga faktor banjir besar di Jakarta: hujan deras, limpahan air dari hulu, dan rob di pantai utara jakarta sehingga air sungai tak bisa ke laut.

Pemanfaatan Lampu UV Terbukti Tingkatkan Produktivitas Tanaman Hidroponik

Pemanfaatan Lampu UV Terbukti Tingkatkan Produktivitas Tanaman Hidroponik

SuaraPemerintah.id – Tak hanya digunakan sebagai alat penerangan, listrik juga dapat meningkatkan produktifitas di bidang pertanian.

PLN melalui program PLN Peduli bekerja sama dengan Pusat Pelatihan Pertanian & Pedesaan Swadaya (P4S) Buana Lestari yang berlokasi di Wisata Edukasi Tani Terpadu (WETT) Betet, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur mengembangkan sistem hidroponik dengan memanfaatkan sinar lampu UV.

Manfaat sistem ini telah dirasakan Asrori, salah seorang penggerak program hidroponik sinar lampu UV di WETT Betet. Dia mengakui hasil panen tanaman hidroponiknya meningkat sejak memanfaatkan sinar lampu UV sebagai pengganti cahaya matahari di malam hari.

“Berkat sinar lampu UV, nutrisi yang dibutuhkan tanaman hidroponik terus terjaga serta mendapatkan cukup sinar selama 24 jam penuh sehingga tanaman tumbuh lebih optimal,” ungkap Asrori.

Dengan sistem pengairan yang stabil dan penerangan dengan lampu UV ini, sayur organik dapat dipanen hanya dalam waktu 30-35 hari, lebih cepat dari waktu normalnya yakni 45 hari. Dari sisi beratnya pun bisa mencapai 200-250 gram untuk setiap batang tanamannya. Tentunya lebih berat dari hidroponik biasa yang biasanya hanya mencapai 150 gram per batang tanamannya.

“Namun yang perlu diingat bahwa lampu yang digunakan harus lampu khusus yang biasa disebut GROW LED yang memancarkan spektrum cahaya ultraviolet. Selain itu, jarak antar lampu pun harus menyesuaikan. Idealnya 1 lampu untuk 2 meter persegi dengan tinggi 150 cm dari tanaman,” terang Asrori.

Dari segi kualitas, lanjut Asrori, tanaman yang menggunakan sistem hidroponik dengan sinar lampu UV, memiliki daun yang lebih cerah, akar putih cerah. Ini menjadi indikator bahwa tanaman tersebut sehat.

“Dari segi rasa juga tidak perlu khawatir, karena tidak pahit, ini pun sekaligus aman untuk langsung dikonsumsi,” imbuhnya.

Bukan hanya sekedar urban farming yang aplikatif dan menjadi solusi pertanian di lahan yang terbatas, terutama di daerah perkotaan, jika ditilik dari segi kalkulator bisnis, sistem hidroponik dengan sinar lampu UV memberikan prospek yang menjanjikan.

Untuk skala kecil rumah tangga 40 lubang, investasi yang dikeluarkan untuk starter kit hidroponik dengan sinar lampu UV sekitar Rp 1,8 juta dengan biaya operasional setiap kali tanam hanya sebesar Rp 100 ribu. Berat hasil panen untuk setiap lubang berkisar di angka 200-250 gram.

Artinya, untuk 40 lubang pelaku hidroponik dengan sinar lampu UV dapat memperoleh hasil kurang lebih 10 kg dalam satu kali panen. Jika dikalkulasikan dengan harga per kg nya dipasaran mencapai Rp 25.000, pelaku hidroponik bisa omzet Rp 250.000.

Dalam 1 tahun, dengan memanfaatkan sinar lampu UV, pelaku hidroponik dapat melakukan 9-12 kali masa tanam, berbanding lurus dengan frekuensi masa panen. Itu artinya omzet yang didapatkan dapat mencapai jutaan rupiah.

Hal ini berbeda dengan sistem hidroponik biasa yang masa tanamnya berkisar antara 6-9 kali dengan sistem rotari.

Beranjak dari skala kecil rumah tangga, untuk skala hobi dan industri, sistem hidroponik dengan sinar lampu UV ini juga tidak kalah menjanjikan. Sebut saja untuk skala hobi 200 lubang, investasi yang dikeluarkan untuk starter kit Rp 7,5 juta dengan biaya operasional setiap kali tanam Rp 465 ribu.

Dari skala ini, pelaku hidroponik dapat menghasilkan 50 kg tanaman hidroponik dalam satu kali masa panen atau sekitar Rp 1.250.000.

Jika diakumulasikan dalam 1 tahun, pendapatan tersebut sudah bisa menutup biaya investasi yang telah dikeluarkan di awal. Sama halnya dengan skala industri, investasi yang diperlukan meliputi starter kit hidroponik NFT 2000 lubang dengan sinar lampu UV dan juga Green House berukuran 8×20 m.

Biaya yang dikeluarkan oleh pelaku hidroponik dalam investasi ini juga akan berbanding lurus dengan hasil panen yang didapatkan.

Melihat peluang tersebut, hidroponik dengan sinar lampu UV dapat dinyatakan memiliki prospek yang cerah, di samping membangun ketahanan pangan dengan pola hidup sehat, pun dapat bernilai ekonomis.

“Hal ini juga yang menjadikan para pelaku hidroponik mulai merambah mengembangkan sistem hidroponik dengan sinar lampu UV untuk meningkatkan produktivitas tanaman,” ucap Asrori.

Executive Vice President Corporate Communication and CSR PLN, Agung Murdifi, bersyukur bahwa program PLN Peduli telah dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat maupun lingkungan.

Selaras dengan Transformasi yang sedang dijalankan, lanjut Agung, PLN siap berkolaborasi dengan masyarakat untuk menghadirkan inovasi, khususnya yang berkaitan dengan kelistrikan dalam rangka mendorong produktifitas masyarakat.

PLN berkomitmen untuk mendukung program-program pemberdayaan masyarakat yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat

“Ini sejalan dengan motto PLN, listrik untuk kehidupan yang lebih baik. Listrik harus dimanfaatkan untuk meningkatkan produktifitas yang membawa dampak baik bagi masyarakat, serta mendukung lingkungan yang lebih ramah,” ucap Agung.

Pertamina Luncurkan Bahan Bakar Khusus Gasoline Pertamax Turbo di Fuel Terminal Samarinda

SuaraPemerintah.id – Pertamina melalui Marketing Operation Region VI Kalimantan meluncurkan perdana Bahan Bakar Khusus (BBK) Gasoline jenis Pertamax Turbo di Fuel Terminal (FT) Samarinda. Peluncuran Pertamax Turbo di FT Samarinda ini guna memenuhi kebutuhan dan permintaan konsumen di Kota Samarinda pada khususnya dan wilayah Kalimantan Timur & Kalimantan Utara pada umumnya.

Pertamax Turbo mulai didistribusikan di Samarinda sejak tahun 2018 di 4 SPBU, namun pengiriman pasokan Pertamax Turbo masih disuplai dari Integrated Terminal (IT) Banjarmasin. Pengiriman Pertamax Turbo dari IT Banjarmasin berjarak tempuh 475 Km dan memakan waktu 24 jam serta bergantung pada kondisi cuaca.

Freddy Anwar, Executive General Manager Regional Kalimantan mengungkapkan bahwa minat masyarakat akan BBM Berkualitas jenis gasoline yaitu Pertamax Turbo di Samarinda dan Kalimantan Timur cukup tinggi.

“Bentuk upaya kami dalam mendistribusikan BBM gasoline dengan RON 98 atau kualitas paling tinggi dengan cara mendekatkan titik suplai dari IT Banjarmasin ke FT Samarinda agar ketahanan stok untuk Pertamax Turbo terjaga,” ungkap Freddy.

Bahan Bakar Khusus (BBK) berjenis Gasoline (Pertamax Turbo) di wilayah Kota Samarinda dalam setahun terakhir mengalami peningkatan konsumsi sebanyak 17 % atau 616 KL pada tahun 2020 bila dibandingkan dengan tahun 2019 yaitu 528 KL, sedangkan untuk Kalimantan Timur dan Utara mengalami kenaikan sebesar 30% atau dari 1242 KL tahun 2019 menjadi 1616 KL tahun 2020.

Selain konsumsi yang meningkat di tahun 2020, terdapat penambahan outlet Pertamax Turbo di SPBU seperti di SPBU Kab. Kutai Kartanegara, 1 (satu) outlet SPBU di Kota Samarinda dan 1 (satu) outlet SPBU di Kota Balikpapan.

FT Samarinda telah menyiapkan Sarana Fasilitas berupa tanki storage  dengan volume 1000 KL untuk ketersediaan Pertamax Turbo.

Lebih lanjut Freddy menambahkan bahwa dengan adanya stok BBK Pertamax Turbo di FT Samarinda, maka penyaluran akan lebih efektif dan efisien sehingga outlet Pertamax Turbo di SPBU dapat terlayani lebih cepat dan ketersediaan pasokan lebih terjamin.

“Kehadiran Pertamax Turbo di Samarinda sangat sentral karena posisinya berada di ibukota propinsi Kalimantan Timur, dan akan menjadi titik suplai utama untuk melayani masyarakat di wilayah Samarinda, Kukar, Bontang, Kutai Barat, Kutai Timur, bahkan sampai ke Berau dan sekitarnya,”tambah Freddy.

Ketersedian Pertamax Turbo sebagai Top Tier Product di FT Samarinda juga akan berimbas dengan banyaknya outlet Pertamax Turbo di SPBU. Hal ini merupakan jawaban atas harapan pelanggan terhadap bahan bakar berkualitas tinggi, paling tinggi dikelasnya.

Ditemui di SPBU, konsumen Pertamax Turbo berkomentar, “Kalau menggunakan Pertamax turbo pastinya mesin menjadi terawat dan gak gampang rusak, BBM ini sudah support dengan kendaraan yang digunakanya,” kata Budi yang sehari-hari naik motor Kawasaki Ninja ZX 10R.

“Pertamax Turbo adalah BBM berkualitas tinggi dengan RON 98 yang lebih unggul dan lebih baik untuk dipergunakan kendaraan. Dengan menggunakan Pertamax Turbo akan membuat mesin menjadi lebih awet, terawat, dan tetap prima.” Tutup Freddy.

Telkom Raih Penghargaan di Ajang BUMN Corporate Communications and Sustainability Summit

SuaraPemerintah.idMenteri BUMN RI Erick Thohir usai menyerahkan penghargaan kepada Telkom yakni “Honorable Mention” dalam BUMN Corporate Communications and Sustainability Summit (BCOMSS) 2021 yang diterima oleh Direktur Human Capital Management Telkom Afriwandi disaksikan oleh juri Effendi Gazali, Najwa Shihab, dan J. Ansye Sopacua di Jakarta, Jumat (29/1).

Telkom menerima Penghargaan Honorable Mention dalam kategori Creating Shared Value terhadap program Sampah Jadi Emas dengan campaign #DaurBikinMakmur yang  telah menciptakan lapangan kerja baru dan menjaga lingkungan hidup di Desa Tuksongo, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Menteri BUMN RI Erick Thohir bersama Staf Khusus III Menteri BUMN Arya Sinulingga , Direktur Human Capital Management Telkom Afriwandi, dan Direktur Keuangan Telkom Heri Supriadi di area The Telkom Hub Jakarta dalam rangka menghadiri malam penganugerahan BUMN Corporate Communications and Sustainability Summit (BCOMSS) 2021, Jumat (29/1).

Jakarta, 31 Januari 2021 – PT Telkom Indonesia Tbk (Telkom) meraih penghargaan “Honorable Mention” dalam BUMN Corporate Communications and Sustainability Summit (BCOMSS) 2021. Penghargaan ini diterima oleh Direktur Human Capital Management Telkom Afriwandi dalam malam penganugerahan BCOMSS 2021 Jumat (29/1) di Jakarta.

Telkom menerima Penghargaan Honorable Mention dalam kategori Creating Shared Value terhadap program Sampah Jadi Emas dengan campaign #DaurBikinMakmur yang  telah menciptakan lapangan kerja baru dan menjaga lingkungan hidup di Desa Tuksongo, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

BUMN Corporate Communications and Sustainability Summit adalah ajang di dunia komunikasi perusahaan dan program keberlanjutan bagi perusahaan di lingkungan BUMN.

Direktur Human Capital Management Telkom Afriwandi mengatakan, penghargaan ini merupakan bentuk pengakuan bahwa langkah dan inisiatif Telkom dalam program keberlanjutan (sustainabilty).

“Penghargaaan ini merupakan bukti komitmen Telkom untuk menjaga lingkungan hidup sekaligus peningkatan kesejahteraan masyarakat dan diharapkan dapat membantu mengatasi masalah kemiskinan di Indonesia, khususnya selama masa pandemi saat ini. Honorable Mention ini menjadi motivasi bagi seluruh jajaran Telkom untuk terus berinovasi dan memberikan yang terbaik bagi masyarakat,” ujar Afriwandi.

Desa Tuksongo merupakan desa yang tidak jauh dari Candi Borobudur. Candi Borobudur merupakan salah satu destinasi wisata utama di Indonesia, dengan meningkatnya wisatawan setiap tahunnya, sampah yang dihasilkan pun ikut melonjak. Ada 12 ton sampah yang menumpuk setiap harinya, dan 30-40% dari sampah tersebut adalah plastik. Belum ada upaya maksimal untuk mengurangi sampah plastik di Candi Borobudur dan area desa sekitarnya.

Di sisi lain, sampah plastik ternyata bisa menjadi keuntungan alternatif bagi masyarakat sekitar, asalkan mereka tahu bagaimana mengolah dan mendaur ulang sampah plastik. Dengan latar belakang tersebut, terbentuklah inisiatif dan melalui kolaborasi antara Balkondes Tuksongo binaan Telkom, dapat diwujudkan masyarakat peduli lingkungan dan kreatif dalam permasalahan sampah plastik.

Langkah konkret yang telah dilakukan antara lain meluncurkan program #DaurBikinMakmur, yakni membuat alat yang digunakan untuk mendaur ulang plastik, terdiri dari shredder, injection, dan extrusion – shredder adalah alat yang berfungsi untuk mengubah bongkahan plastik menjadi potongan-potongan kecil, dan mengubahnya menjadi potongan plastik yang sesuai dengan kebutuhan lalu mencetak sampah plastik tersebut menjadi barang baru. Selanjutnya Telkom membantu penjualan dan pemasaran barang baru tersebut.

Tak hanya itu, Telkom juga mendorong masyakat sekitar untuk mengumpulkan sampah plastik yang dibuang wisatawan. Setiap 1 kg sampah plastik yang dikumpulkan warga akan dihargai Rp10 ribu.

Dikatakan Afriwandi, berkat program #DaurBikinMakmur tersebut masyarakat desa menjadi lebih “pintar” dalam pemanfaatan sampah. Saat ini masyarakat sudah mulai melakukan pemilihan sampah secara mandiri.

Sementara itu dalam waktu dekat, Telkom Magelang akan mengembangkan sistem IT untuk memonitoring project dan sampah keluar-masuk sampai proses penjualan ke umum.

Penataan Desa di Jabar Penting Dilakukan Guna Mengoptimalkan Pembangunan Desa

SuaraPemerintah.idPemerintah Daerah (Pemda) Provinsi Jawa Barat menginisiasi penataan desa di Jabar (Jawa Barat) . Penataan desa amat penting dilakukan untuk mengoptimalkan pelayanan dan pembangunan desa.

Asisten Pemerintahan, Hukum, dan Kesejahteraan Sosial, Sekretariat Daerah (Setda) Provinsi Jabar Dewi Sartika mengatakan, saat ini penataan desa di Jabar cenderung stagnan dibanding peningkatan jumlah penduduk dan perkembangan wilayah di desa.

Stagnasi penataan desa tersebut, kata Dewi, sangat mempengaruhi kualitas pelayanan publik dan infrastruktur di desa-desa. Padahal, 72,38 persen masyarakat Jawa Barat yang berjumlah hampir lima puluh juta jiwa tinggal di desa.

“Jumlah aparat desa dan pelayanan tidak sebanding dengan jumlah penduduk desa,” kata Dewi dalam Forum Asisten Pemerintah kabupaten/kota se-Jawa Barat via konferensi video di Gedung Sate, Kota Bandung, Kamis (28/1/2021).

Dewi juga menekankan pentingnya penataan desa di Jawa Barat. Saat ini, Jawa Barat memiliki dua puluh tujuh kabupaten/kota dengan 5.312 desa. Akibatnya, banyak desa yang secara geografis terlalu luas. Anggaran dana desa tahun 2020 yang berjumlah Rp 5,9 triliun menghambat proses pembagunan jalan dan sarana fisik.

Dewi menarik perbandingan dengan dua provinsi lainnya. Jawa Tengah (Jateng) memiliki 7.809 desa di bawah 33 kabupaten/kota. Anggaran dana desa tahun 2020 adalah Rp 8,2 triliun. Demikian pula dengan Jawa Timur (Jatim) yang memiliki 7.724 desa, 38 kabupaten/kota, dan Rp 7,6 triliun untuk dana desa.

“Penataan desa menjadi penting dilakukan untuk mengoptimalkan pembangunan desa dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa,” ucapnya.

Terdapat delapan aspek persyaratan pembangunan desa baru, yakni (1) aspek akses transportasi, (2) aspek usia desa, (3) aspek potensi sumber daya alam, (4) aspek sosial budaya, (5) aspek batas wilayah desa, (6) aspek sarana dan prasarana pemerintahan desa dan pelayanan publik, (7) aspek cakupan wilayah, dan (8) aspek pembiayaan perangkat pemerintahan desa.

Jika melihat jumlah penduduk, kata Dewi, sebanyak 1.378 desa dapat dimekarkan. Sebab, jumlah penduduk di 1.378 desa tersebut lebih dari 12.000 jiwa atau dua kali lipat jumlah penduduk minimal satu desa yakni 6.000 jiwa.

“Di luar itu, 1.900 desa yang mempunyai penduduk antara 6.000 sampai 12.000 jiwa dimungkinkan untuk dilakukan penataan dengan syarat dilakukan penggabungan dengan desa lain,” katanya.

“Desa induk maupun desa yang dibentuk baru minimal jumlah penduduk sebanyak 6.000 jiwa. Di samping itu, secara geografis letak desa yang digabungkan berbatasan satu dengan lainnya,” imbuhnya.

Selain persyaratan pembentukan desa, terdapat aspek-aspek pertimbangan penataan desa lainnya, yakni evaluasi tingkat perkembangan pemerintahan desa, survei kepuasaan masyarakat desa, survei prakarsa penataan desa masyarakat, wawancara penataan desa, dan analisis urusan penataan desa.

“Pemerintah kabupaten/kota yang dapat membentuk desa maupun menggabungkan desa untuk mulai mempersiapkan diri supaya penataan desa dapat terwujud,” ucap Dewi.

Guru Besar Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Sadu Wasistiono menjelaskan mekanisme penataan desa. Menurutnya, penataan desa dapat diinisiasi oleh pemerintah provisi.

Tugas utama pemerintah provinsi adalah memberi informasi kepada pemerintah kabupaten/kota yang memiliki peran penting dalam penataan desa. Meski pembiayaan dari pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota harus tetap dilibatkan.

“Kabupaten/kota memberi tawaran dan penjelasan kepada desa tujuan dari penataan desa. Tapi, kita harus menerima pemberian tawaran itu desa bisa menolak atau menerima. Kalau menolak, tidak bisa dipaksa,” ucap Sadu.

“Karena penataan desa harus kesepakatan masyarakat desa. Jangan sampai tergantung kelompok elite desa. Jadi mesti bicara kesepakatan masyarakat desa,” imbuhnya.

Jika tawaran penataan desa diterima, kata Sadu, pemerintah harus mulai mempersiapkan dan menilai berdasarkan aspek persyaratan pembentukan desa baru.

Setelah memenuhi syarat, dibentuk desa persiapan. Jika kembali memenuhi persyaratan yang ada, dibentuk desa definitif. Pemerintah provinsi dan kabupaten/kota harus membina desa dalam semua proses penataan desa.

“Dampak positif dan dampak negatif dari penataan desa juga harus diperhitungkan dengan komprehensif,” tutur Sadu.

Nahdlatul Ulama Punya Peran Penting Menjaga NKRI

Nahdlatul Ulama Punya Peran Penting Menjaga NKRI

SuaraPemerintah.id – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengucapkan selamat Hari Lahir ke-95 Nahdlatul Ulama (NU). Organisasi yang lahir dari kalangan pondok pesantren tersebut punya peran penting dalam menjaga NKRI.

“NU telah banyak memberikan kontribusi terhadap semangat nasionalisme. Organisasi yang didirikan oleh KH Hasyim Asyari ini berperan dalam menjaga NKRI, dan mengedukasi masyarakat tanpa meninggalkan nilai-nilai agama,” ujar Ganjar saat ditemui di Rumah Dinasnya, Minggu (31/1/2021).

Untuk itu, ada banyak hal yang menjadikan Nahdlatul Ulama (NU) berhak mendapat penghormatan di hari lahirnya. Kemunculan Hari Santri, kata Ganjar, juga sebagai wujud penghormatan terhadap NU.

“Hari Santri itu pun wujud penghormatan negara terhadap NU, yang telah memberikan semangat nasionalisme,” paparnya.

Ganjar mengaku selama ini telah menjalin komunikasi dengan NU, baik secara personal tokoh maupun struktural organisasi. Bahkan hingga ke badan otonom (Banom) NU, seperti Ansor, IPNU dan IPPNU.

“Kita sering terlibat bersama NU dan Banomnya dalam kegiatan-kegiatan sosial. Dalam konteks pandemi, NU ikut serta dalam program Jogo Santri Jogo Kiai. Bukan hanya soal kesehatan, tapi juga edukasi protokol kesehatan, dan membangun ekonomi kalangan pondok pesantren,” ungkapnya.

Gubernur mengemukakan, selalu melibatkan kalangan tokoh agama dalam menentukan kebijakan dan arah pembangunan.

“Kita selalu melibatkan tokoh agama. Kita juga memberi perhatian pondok pesantren serta guru-guru,” ungkap Ganjar.

Menurutnya, NU bahkan tidak terpisahkan dengan kultur sosial masyarakat. Kiai kampung, contohnya, berperan aktif dalam mengedukasi terutama persoalan pandemi.

“Saya tidak menduga, jika kiai kampung yang notabene kalangan NU berperan penting dalam mengedukasi masyarakat secara langsung,” imbuhnya.

Dalam kesempatan itu, Ganjar mengaku terenyuh dengan banyaknya kiai dan ulama yang meninggal karena Covid-19. Untuk itu, perlu ada gerakan saling menjaga terutama di kalangan pondok pesantren.

“PBNU telah merilis jumlah kiai yang meninggal cukup banyak, jadi ini menjadi perhatian kita,” ungkapnya.

Pihaknya telah mencanangkan program Jogo Santri Jogo Kiai, dari pengembangan Jogo Tonggo, sebuah gerakan dalam melawan pandemi di Jawa Tengah.

“Maka ada Jogo Tonggo yang kemudian muncul Jogo Santri Jogo Kiai, seperti yang disampaikan Pak Wagub (Taj Yasin). Ini agar saling menjaga secara bersama, sekaligus agar terjadi perubahan perilaku dan kebiasaan baru,” tandasnya.

Indonesian Trading House, Rumah Bagi Produk Industri Kecil untuk Ekspansi ke Berbagai Negara

Indonesia Trading House, Rumah Bagi Produk Industri Kecil untuk Ekspansi ke Berbagai Negara
SuaraPemerintah.id – Bukan perkara mudah produk industri kecil dan menengah dalam negeri bisa menembus pasar internasional. Namun impian itu bukan pula sesuatu yang mustahil. Dari tangan Gilang Adi Nugroho, seorang aparatur sipil negara (ASN) Kementerian Perdagangan, produk tanah air bisa menembus pasar Brasil dan kawasan Amerika Latin.

Telah lama Gilang bercita-cita membantu para pelaku industri kecil dan menengah Indonesia untuk bisa ekspansi ke berbagai belahan dunia. Cita-citanya itu mulai terwujud ketika Gilang diberi amanat sebagai Kepala Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) Sao Paulo, Brasil. Bersama timnya, Gilang membentuk Indonesia Trading House pada sebagai terobosan promosi ekspor dari industri kecil dan menengah di Indonesia.

“Ide pembentukan Indonesia Trading House ini didasari oleh sulitnya menembus pasar ekspor di Brasil dan kawasan Amerika Latin yang pada umumnya memiliki banyak non-tariff measures sebagai regulasi yang protektif untuk menghambat proses importasi,” jelas Gilang.

Sulitnya menembus pasar di Negeri Samba itu bukan hanya soal regulasi yang protektif. Perbedaan bahasa dan biaya yang cukup mahal juga menjadi kendala. Permasalahan lain yang turut menghambat adalah kurangnya akses pemasaran atas produk industri kecil dan menengah serta praktik promosi yang dinilai tidak efe

Ragam permasalahan inilah yang kemudian menyebabkan importasi produk dari Indonesia cenderung sulit masuk. Bahkan, jika pun ada yang pernah berhasil, tidak dilakukan secara berkelanjutan. Berdasarkan hal tersebut, Gilang bersama timnya di IPTC Sao Paulo berupaya untuk melakukan upaya promosi yang tidak monoton sehingga proses ekspor berorientasi transaksi dagang yang riil.

Indonesian Trading House memiliki sistem kerja yang berbasis proyek dengan melibatkan tiga entitas, yakni eksportir, importir, serta pemerintah melalui Kedutaan Besar Republik Indonesia dan ITPC. Masing-masing pihak berkomitmen untuk berkontribusi agar produk yang dipasarkan dapat diimpor secara berkelanjutan.

Melalui Indonesia Trading House, langkah awal yang dilakukan adalah dengan mengidentifikasi produk melalui market intelligent untuk mengetahui produk yang dibutuhkan di pasar negara importir. Setelah diketahui, maka dilakukan seleksi eksportir dari industri kecil dan menengah di Indonesia.

Proses bisnis selanjutnya adalah menentukan kesesuaian bisnis antara eksportir dan importir melalui Indonesia Trading House. Kesepakatan yang terjadi kemudian dituangkan dalam bentuk nota kesepahaman sebagai awal mula transaksi dagang yang dijadikan sebagai importasi pilot project oleh Indonesian Trading House. Kemudian, agar terjadi importasi yang berkelanjutan, dilakukan day to day marketing serta promosi melalui pameran dan business meeting untuk menjangkau impotir lain.

Lulusan Master of Public Administration dari Lee Kuan Yew School of Public Policy, National University of Singapore ini bercerita bahwa salah satu kisah sukses dari Indonesian Trading House terjadi di ekspor briket arang kelapa. Sebanyak tiga industri kecil dan menengah di Indonesia menjadi eksportir briket arang kelapa ke Brasil.

Bukan saja sukses untuk membuka peluang ekspor briket arang kelapa, tapi juga terjadi peningkatan volume penjualan dari tahun ke tahun. Dimulai dari 1 container/bulan pada 2019, kemudian, dua container/bulan di tahun 2020, dan di tahun 2021 ini, direncanakan sebanyak 5 container akan diekspor ke Brasil.

Ide pria asal Jakarta ini dalam menjalankan ide Indonesia Trading House pun menuai pujian. Salah satunya dari CEO Badax LTDA Luiz Carlos Barravieira, sebagai importir briket arang kelapa dari Brasil. Dikatakan bahwa Gilang merupakan sosok pemimpin yang memiliki komitmen dan dedikasi yang begitu tinggi dan Gilang merupakan sosok yang sangat penting dalam mengeksekusi proyek importasi briket arang kelapa ke Brasil.

Sebelumnya, pria yang aktif menjadi pembina masyarakat diaspora Indonesia di Sao Paulo tersebut juga pernah membuat inovasi ASEAN Economic Community (AEC) Center, dimana Gilang berperan dalam menyusun konsep dan kerangka kerja pembuatannya untuk menyiapkan Masyarakat Ekonomi ASEAN. Saat ini, AEC Center telah berkembang menjadi Free Trade Agreement (FTA) Center.

Ke depannya, Gilang yang kini menjabat sebagai Analis Data dan Informasi pada Direktorat Perundingan Bilateral Kementerian Perdagangan berharap konsep Indonesia Trading House dapat diperbanyak, namun bukan duplikasi, sehingga disesuaikan dengan kebutuhan dari masing-masing pasar.

Selain memperbanyak Indonesian Trading House, Gilang juga berharap agar konsep ini dapat dibuat lebih melembaga serta gunakan lebih banyak lagi forum perundingan perdagangan internasional untuk mengekspansi produk dari industri kecil dan menengah yang layak bersaing di pasar internasional.

Keterampilannya sewaktu memimpin sebagai Kepala ITPC Sao Paulo berhasil membawa Gilang meraih Piala Adhigana sebagai Tiga Besar dalam Anugerah ASN Tahun 2020 kategori The Future Leader. Dengan menerima penghargaan ini, Gilang menjadi lebih termotivasi untuk bisa membantu pelaku industri kecil dan menengah agar dapat menembus kancah internasional.

“Saya harap dapat membangun Indonesia menjadi lebih baik lagi,” tutup Gilang.

Pemerintah Dorong Gerakan Nasional Percepat Donor Plasma Konvalesen

Pemerintah Dorong Gerakan Nasional Percepat Donor Plasma Konvalesen

SuaraPemerintah.id – Pasca dicanangkan oleh Wakil Presiden Ma’ruf Amin beberapa waktu lalu, pemerintah terus mendorong implementasi gerakan nasional donor plasma konvalesen. Hal itu sebagai upaya untuk mempercepat laju angka kesembuhan pasien Covid-19 dan menurunkan angka kematian.

Pasalnya, berdasarkan data Satuan Tugas Covid-19 per-28 Januari 2021, jumlah pasien terkonfirmasi telah mencapai 1.037.993, sedangkan pasien sembuh 842.122 dan meninggal 29.331.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy menyebut bahwa jumlah donor plasma konvalesen terus bertambah seiring pencanangan gerakan nasional donor plasma konvalesen.

Seperti dilaporkan, jumlah pendonor di Kota Surakarta naik hingga 40% setelah pemerintah melakukan upaya masif pasca pencanangan gerakan nasional donor plasma konvalesen.

“Jadi luar biasa. Karena itu atas nama pemerintah saya ucapkan terima kasih pada Ketua PMI (Palang Merah Indonesia) dan seluruh jajaran di Solo yang telah merespon gerakan nasional donor plasma konvalesen dengan luar biasa,” ujarnya usai menyaksikan langsung donor plasma konvalesen di Kantor PMI Kota Surakarta, Jawa Tengah, Jumat (29/1).

Muhadjir mengklaim donor plasma konvalesen telah terbukti cukup efektif dalam mempercepat peningkatan imunitas pasien Covid-19. Oleh karenanya, ia berharap penyintas Covid-19 dapat tergugah untuk melakukan donor plasma konvalesen.

Bukan hanya sebagai wujud rasa syukur karena sudah selamat dari ancaman Covid-19, namun lebih dari itu dapat membantu menyelamatkan nyawa orang lain yang sedang berjuang untuk sembuh dalam melawan Covid-19.

“Mudah-mudahan setelah ini akan ada kelipatan lagi jumlah pendonor karena jumlah yang dibutuhkan masih jauh dari yang tersedia. Di Kota Solo juga kita berharap mudah-mudahan nanti ada surplus plasma sehingga bisa dikirim ke daerah lain yang membutuhkan,” tandasnya.

Sebab, tak dimungkiri, jumlah pasien Covid-19 yang membutuhkan donor plasma konvalesen hingga kini masih cukup banyak. Dari total 86.109 pasien Covid-19 yang telah sembuh pada periode November hingga Desember 2020 atau berpotensi menjadi pendonor, jumlah total distribusi plasma konvalesen per-20 Januari 2020 baru mencapai 8.443.

Antusiasme penyintas

Di lain sisi, penyintas Covid-19 asal Kartosuro, Sukoharjo, Rudhy Pramono mengaku antusias untuk melakukan donor plasma konvalesen. Hal tersebut didasarkan atas dorongan ingin membantu pasien Covid-19 agar segera sembuh.

“Saya berharap saudara-saudara kita sesama yang masih menderita Covid-19 agar lekas pulih dan mudah-mudahan pandemi ini bisa segera berakhir,” tutur pria yang terkonfirmasi positif pada 13 November 2020 dan sudah diyatakan negatif.

Hal senada diungkapkan FA, warga Kabupaten Karang Anyar. Pria 28 tahun yang mengaku sering melakukan donor darah itu juga dengan sukarela melakukan donor plasma konvalesen.

“Semoga apa yang saya bisa berikan bisa membantu. Dan jangan takut untuk melakukan donor karena yang saya rasakan tidak kenapa-kenapa kok setelah donor,” ucapnya.

Bank BNI Catat Laba Bersih Rp3,3 T di Tahun 2020

Bank BNI Catat Laba Bersih Rp3,3 T di Tahun 2020

SuaraPemerintah.idPT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) mencatatkan laba bersih konsolidasi sepanjang tahun lalu mencapai Rp 3,3 triliun atau turun 78,54% dari tahun 2019 sebesar Rp 15,38 triliun.

“Kami di BNI sepanjang tahun lalu memacu diri agar 2021 menjadi lebih baik dengan membuat lompatan bisnis. Langkah yang kami lakukan, perseroan dapat hasil menggembirakan, pemulihan lebih cepat terwujud,” kata Royke Tumilaar, Direktur Utama BNI, dalam paparan virtual di Jakarta, Jumat (29/1/2021).

Dalam kesempatan tersebut, Novita Widya Anggraini, Direktur Keuangan BNI, mengatakan BNI terus beradaptasi di tengah pemulihan, dengan catatan kredit disalurkan 2020 sebesar Rp 586,2 triliun, naik 5,3% yoy (year on year).

Pada tahun 2020, perseroan mampu menjaga NIM (net interest margin) di level 4,5% melalui strategi manajemen biaya dana yang efektif.

BNI mencatatkan biaya dana (cost of fund) yang terus mengalami perbaikan di setiap kuartalnya, terutama pada kuartal IV-2020 yang berada pada level 2,0% atau membaik 60 basis poin (bps) dari kuartal sebelumnya, sehingga biaya dana atau cost of fund (cof) pada akhir 2020 turun menjadi 2,6% dari 3,2% di 2019.

Sementara itu, di tengah kondisi perekonomian yang menantang, katanya, perseroan dapat merealisasikan pendapatan non bunga atau fee based income Rp 11,9 triliun atau tumbuh 4,5% dari periode yang sama tahun 2019, serta dapat melakukan efisiensi biaya operasional yang hanya tumbuh 2,2% YoY.

“Kedua hal ini menjadi sasaran utama perusahaan selama masa pandemi untuk meredam tekanan pendapatan bunga yang turun 4,0% YoY dalam rangka pemberian stimulus restrukturisasi kredit kepada para debitur yang terdampak oleh pandemi, serta berkontribusi pada pencapaian pertumbuhan laba sebelum provisi dan pajak (PPOP) sebesar Rp 27,8 triliun pada akhir 2020,” jelasnya.

“Tahun 2020, BNI mencatatkan laba bersih sebesar Rp 3,3 triliun disertai dengan rasio kecukupan pencadangan atau coverage ratio berada pada level 182,4% lebih besar dibandingkan tahun 2019 yang sebesar 133,5%.”

Dia mengatakan, laba sebelum provisi dan pajak atau sebesar Rp 27,8 triliun pada akhir 2020 mendekati posisi sebelum pandemi Covid.

“Pada 2021, BNI akan melakukan langkah dengan lebih optimis setelah melalui tantangan cukup berat selama masa awal pandemi,” katanya.

Pada Desember 2020, penyaluran kredit di segmen korporasi meningkat 7,4% YoY menjadi Rp 309,7 triliun.

Sementara itu, pertumbuhan kredit kepada segmen bisnis kecil masih sustain sebesar 12,3% YoY menjadi Rp 84,8 triliun. Demikian juga kredit konsumer yang masih tumbuh 4,7% YoY menjadi Rp 89,9 triliun pada akhir tahun lalu.

Pertumbuhan kredit segmen kecil terutama disalurkan melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR), adapun kredit konsumer sebagian besar tersalurkan dalam bentuk kredit pemilikan rumah dan payroll loan.

Penyaluran kredit tersebut ditopang oleh akumulasi Dana Pihak Ketiga (DPK). Pada akhir tahun 2020, DPK tumbuh 10,6% YoY menjadi sebesar Rp 679,5 triliun.

“Strategi perseroan untuk terus fokus pada peningkatan dana murah tercermin dari rasio CASA pada akhir Desember 2020 yang berada di level 68,4% atau meningkat 160 bps secara YoY. Upaya perseroan dalam peningkatan CASA berhasil menekan biaya dana pihak ketiga. Dampak positif dari penurunan biaya dana pihak ketiga ini diteruskan oleh bank kepada nasabah dalam bentuk penurunan suku bunga kredit.”

Dia mengatakan BNI menjadi salah satu bank yang aktif mendukung upaya-upaya pemerintah menekan dampak Pandemi Covid-19, mulai dari restrukturisasi kredit hingga program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).

BNI telah membukukan pinjaman yang direstrukturisasi dengan stimulus Covid-19 sebesar Rp 102,4 triliun atau 18,6% dari total pinjaman.

Berdasarkan segmen bisnis, restrukturisasi kredit diberikan kepada segmen Korporasi sebesar Rp 44,2 triliun, segmen Menengah Rp 21 triliun, segmen Kecil Rp 28 triliun, dan Rp 9,2 triliun untuk segmen Konsumer.

Keberhasilan Budidaya Cacing Sutera Menyokong Produksi Benih Nasional

SuaraPemerintah.id – Ketersediaan pakan alami secara kontinu dan merata di seluruh Indonesia menjadi salah satu kunci sukses pembudidayaan ikan dalam negeri. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) terus mendorong produksi pakan alami di berbagai daerah di Indonesia. Salah satu pakan alami yang banyak diminati oleh pembudidaya khususnya dalam usaha pembenihan ikan air tawar ialah Cacing Sutera (Tubifex sp).

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto mengungkapkan bahwa cacing sutera masih menjadi pakan alami yang paling efektif bagi benih ikan air tawar karena kandungan nilai gizi yang tinggi seperti protein yang berkisar 57-60% serta mengandung lemak, mineral, vitamin B12, asam amino serta asam lemak tak jenuh yang sangat baik untuk mencukupi kebutuhan nutrisi bagi pertumbuhan benih ikan.

“Teknik budidaya cacing sutera yang telah kita kuasai terus kita sosialisasikan kepada pembudidaya khususnya yang ada di luar Jawa agar ketergantungan pembenih ikan terhadap hasil tangkapan di alam dapat diminimalisir sehingga pasokan benih ikan air tawar dapat semakin merata dan tidak tersentralisasi di pulau Jawa” ucap Slamet.

Slamet juga menilai bahwa metode budidaya cacing sutera sangat adaptif sehingga dapat dilakukan melalui berbagai media mulai dari metode kolam plastik terpal, bak semen, hingga kolam tanah yang bisa dilakukan di outdoor maupun indoor. Sebelumnya KKP juga telah meluncurkan inovasi tepat guna yakni budidaya cacing sutera dengan sistem apartemen menggunakan nampan bertingkat yang memiliki produktivitas yang lebih tinggi serta efisien dalam penggunaan lahan.

“Selain itu, budidaya cacing sutera juga dapat dijadikan sebagai alternatif usaha sehingga memberikan potensi pendapatan tambahan bagi pelaku usahanya. Peluang ini cukup menjanjikan karena masa pemeliharaan yang tidak memakan waktu yang lama sehingga perputaran uang cenderung lebih cepat dan tingkat pengembalian investasi yang lebih singkat, apalagi di musim penghujan seperti sekarang cacing sutera biasanya sulit didapatkan, sehingga pasar terbuka sangat luas” jelas Slamet.

Slamet juga berujar bahwa KKP telah menyiapkan program bantuan paket budidaya pakan alami untuk tahun 2021 yang akan dipusatkan pada sentra pembenihan ikan air tawar sehingga dapat menunjang produksi benih ikan nasional. “Dengan ketersediaan suplai cacing sutera sepanjang tahun dan sesuai kebutuhan diharapkan dapat memberikan kestabilan harga dan meningkatkan kesejahteraan pembudidaya secara umum” pungkas Slamet.

Sementara itu Kepala Balai Perikanan Budidaya Air Tawar (BPBAT) Tatelu, Fernando J. Simanjuntak menyatakan bahwa ketersediaan pakan alami seperti cacing sutera sangat menentukan keberhasilan produksi benih ikan karena tingginya angka mortalitas pada fase larva ikan salah satunya disebabkan oleh kurangnya ketersediaan pakan alami baik dalam jumlah maupun mutu dari pakan alami tersebut.

“Pakan yang dibutuhkan pada fase tersebut harus memenuhi kebutuhan nutrisi sehingga dapat mempercepat pertumbuhan ikan. Ketidaksesuaian pakan dapat mengakibatkan pertumbuhan ikan yang lambat hingga menyebabkan kematian ikan” terang Fernando.

Fernando juga mengatakan beberapa aspek lain yang turut menjadi faktor dalam keberhasilan produksi benih selain ketersediaan pakan alami ialah perencanaan dan persiapan lahan yang matang, manajemen pakan, kualitas dan pengelolaan air yang baik hingga kualitas SDM yang terus ditingkatkan.

“Khusus untuk produksi cacing sutera, persiapan lahan dan media yang menjadi sangat esensial karena harus memiliki debit air yang stabil serta berada di lokasi yang tidak terpapar matahari secara langsung, sedangkan untuk media budidaya harus dikontrol secara intensif agar pertumbuhan cacing sutera dapat maksimal” tambah Fernando.

Fernando juga menyatakan siap untuk terus mengembangkan produktivitas pakan alami secara berkelanjutan dan memasyarakatkan teknik budidaya cacing sutera di wilayah kerjanya. “Dengan kemandirian masyarakat dalam memproduksi pakan alami akan memajukan perekonomian daerah dan kesejahteraan pelaku usaha budidaya” tandas Fernando.

Sebagai informasi, dari target awal produksi cacing sutera sebanyak 400 kg yang dicanangkan oleh BPBAT Tatelu pada tahun 2020, BPBAT Tatelu berhasil memproduksi 621 kg cacing sutera untuk memenuhi kebutuhan produksi benih. Untuk tahun 2021, BPBAT Tatelu mematok target untuk dapat memproduksi 500 kg cacing sutera.