Beranda blog Halaman 55

Bapanas Beri Apresiasi 10 Provinsi Terbaik dalam Pengawasan Keamanan Pangan Segar 2026

Upaya memperkuat standarisasi pengawasan keamanan pangan terus dilakukan guna memastikan penyelenggaraan pengawasan pangan segar di daerah berjalan sesuai norma, standar, prosedur, dan kriteria yang telah ditetapkan.

Sebagai bagian dari langkah tersebut, Badan Pangan Nasional (Bapanas) memberikan apresiasi kepada 10 Otoritas Kompeten Keamanan Pangan Daerah (OKKPD) Provinsi terbaik, yakni Bengkulu, Jambi, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Bali, Kalimantan Tengah, Maluku, Maluku Utara, dan Sulawesi Barat, atas keberhasilannya menerapkan Sistem Manajemen Pengawasan Keamanan Pangan Segar secara optimal.

Apresiasi tersebut diwujudkan melalui penyerahan Sertifikat Penilaian Sistem Manajemen Pengawasan Keamanan Pangan Segar Tahun 2026 dalam rangkaian Sosialisasi Standar Keamanan dan Mutu Pangan Tahun 2026 yang diselenggarakan di Jakarta, Rabu (5/8/26).

Deputi Bidang Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan Bapanas, Andriko Noto Susanto, mengatakan keamanan pangan merupakan tanggung jawab bersama pemerintah pusat dan pemerintah daerah sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan. Oleh karena itu, pengawasan pangan harus dilaksanakan secara terpadu agar masyarakat memperoleh pangan yang tidak hanya tersedia dalam jumlah yang cukup, tetapi juga aman, bermutu, bergizi, dan beragam.

“Penguatan sistem pengawasan keamanan pangan menjadi instrumen penting untuk melindungi kesehatan masyarakat. Upaya tersebut harus dilaksanakan secara terintegrasi dengan melibatkan pemerintah pusat dan pemerintah daerah sesuai kewenangannya,” ujar Andriko.

Ia menjelaskan, tantangan pengawasan keamanan pangan terus berkembang seiring semakin kompleksnya rantai pasok pangan, meningkatnya mobilitas distribusi antardaerah, serta semakin tingginya ekspektasi masyarakat terhadap jaminan keamanan pangan. Kondisi tersebut membutuhkan regulasi yang kuat, kapasitas pengawas yang memadai, kepatuhan pelaku usaha, serta sinergi seluruh pemangku kepentingan dalam membangun sistem pengawasan keamanan pangan yang efektif.

Dalam kerangka tersebut, Bapanas menerapkan Sistem Manajemen Pengawasan Keamanan Pangan Segar sebagai acuan nasional bagi OKKPD dalam menyelenggarakan pengawasan pangan di daerah. Sistem ini menjadi instrumen untuk memastikan pelaksanaan pengawasan dilakukan secara konsisten, terdokumentasi, dan memenuhi norma, standar, prosedur, serta kriteria yang berlaku.

Penilaian terhadap penerapan sistem tersebut mencakup aspek kelembagaan, sumber daya manusia, pelaksanaan pengawasan, dokumentasi, hingga perbaikan berkelanjutan sehingga mampu mendorong peningkatan kualitas tata kelola pengawasan keamanan pangan di seluruh Indonesia.

Sebagai bentuk pengakuan atas keberhasilan penerapan sistem tersebut, Bapanas menyerahkan Sertifikat Penilaian Sistem Manajemen Pengawasan Keamanan Pangan Segar kepada 10 provinsi terbaik, penghargaan ini tidak hanya menjadi bentuk apresiasi atas komitmen pemerintah daerah dalam memperkuat pengawasan keamanan dan mutu pangan segar, tetapi juga diharapkan menjadi motivasi bagi seluruh provinsi untuk terus meningkatkan kualitas penyelenggaraan pengawasan pangan di daerahnya.

Selain memperkuat standardisasi sistem pengawasan, Bapanas juga terus meningkatkan kapasitas daerah melalui penyediaan sarana pendukung. Pada tahun 2026, Bapanas mengalokasikan lima unit mobil laboratorium keliling pengawasan keamanan pangan yang akan ditempatkan secara bertahap di sejumlah provinsi. Kehadiran fasilitas tersebut diharapkan mampu mempercepat pelaksanaan pengawasan di lapangan, memperluas jangkauan pengambilan sampel, serta memperkuat pengujian keamanan pangan segar di daerah.

Menutup arahannya, Andriko menegaskan bahwa Indonesia perlu terus mendorong perubahan paradigma dari “makan kenyang” menuju “makan sehat”.

“Saya menitipkan pesan kepada seluruh Provinsi yang menerima sertifikat pada hari ini, semoga capaian tersebut menjadi motivasi untuk terus meningkatkan kualitas penyelenggaraan pengawasan. Saya telah mengatakan di berbagai pertemuan, kita itu sudah harus beranjak dari makan kenyang ke makan sehat, Indonesia itu sudah levelnya bukan makan kenyang lagi, harus makan sehat,” tegasnya.

“Kalau begitu makan sehat, ini menjadi penting untuk membuat standar bahan pangan yang sehat, kemudian melakukan pengawasan terhadap pangan yang sehat, yang beredar di masyarakat, itu menjadi sangat penting agar apapun yang masuk di kita, yang kita makan setiap hari, itu jangan ada unsur-unsur yang berbahaya,” tambah Andriko.

Sistem pengawasan keamanan pangan yang kuat ini merupakan dasar penting untuk memastikan setiap pangan yang beredar bebas dari cemaran fisik, kimia, maupun biologi, sehingga mampu memberikan perlindungan kesehatan bagi masyarakat sekaligus meningkatkan kepercayaan terhadap sistem pangan nasional.

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

DPD RI Undang Jusuf Kalla Hadiri Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama 2026

DPD RI menegaskan komitmennya untuk menyukseskan penyelenggaraan Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI–DPD RI Tahun 2026 sebagai momentum memperkuat semangat kebangsaan menjelang Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Sebagai tuan rumah penyelenggaraan, DPD RI mengundang Mantan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla untuk menghadiri sekaligus menyampaikan pidato kebangsaan pada sidang yang akan digelar pada 14 Agustus 2026.

Ketua DPD RI Sultan Baktiar Najamudin bersama Wakil Ketua DPD RI Yorrys Raweyai, Wakil Ketua DPD RI Tamsil Linrung, serta Sekretaris Jenderal DPD RI Mohammad Iqbal secara langsung mengunjungi kediaman Jusuf Kalla untuk menyampaikan undangan tersebut.

Dalam kesempatan itu, Sultan mengatakan bahwa penyelenggaraan Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI–DPD RI Tahun 2026 ini tidak hanya menjadi agenda konstitusional, tetapi juga momentum untuk memperkuat persatuan dan kebangsaan melalui refleksi atas perjalanan bangsa.

“Sebagai tuan rumah, DPD RI berkomitmen mendukung penyelenggaraan Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI–DPD RI agar berlangsung dengan baik serta menjadi momentum memperkuat semangat kebangsaan menjelang HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia,” ujar Sultan di kediaman Jusuf Kalla, di Jakarta Selatan pada Rabu (5/8).

Lebih lanjut Sultan mengatakan pengalaman kepemimpinan dan kenegarawanan Jusuf Kalla memberikan inspirasi sekaligus memperkuat nilai-nilai persatuan di tengah dinamika kehidupan berbangsa.

“Beliau cukup konsisten memberikan perhatian terhadap pembangunan daerah, terutama pada tuntutan inovasi kebijakan para kepala daerah dalam mewujudkan kemandirian fiskal daerah,” ungkapnya.

Menanggapi undangan tersebut, Jusuf Kalla menyatakan kesediaannya untuk menghadiri Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI–DPD RI. “Insyaallah saya akan menyiapkan waktu untuk hadir di tanggal 14 Agustus mendatang,” ujar Ketua Dewan Masjid Indonesia tersebut.

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

BKSAP DPR RI Dorong Garut Kembangkan Mega-Marketing untuk Pasar Global

Pemerintah Kabupaten Garut didorong untuk memiliki ide-ide besar terkait pemasaran (mega-marketing) dalam mengemas potensi daerah agar mampu melompat ke pasar internasional.

Hal itu sebagaimana mencuat dalam pertemuan Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP) DPR RI “BKSAP Day” yang diselenggarakan di Kabupaten Garut, Jawa Barat, Kamis (06/08/2026). Pertemuan ini jadi momentum strategis BKSAP untuk menjembatani potensi lokal yang terkenal dengan Domba Garut itu.

 

Dalam pertemuan ini, Anggota BKSAP DPR RI, Habib Aboe Bakar Alhabsyi menyoroti dua komoditas utama Garut, yakni minyak akar wangi (vetiver oil) serta industri kerajinan kulit Sukaregang.

 

“Tantangan terbesar Garut saat ini bukan lagi menghasilkan produk unggulan, tetapi bagaimana memberikan nilai tambah dan nilai jual di pasar global. Minyak akar wangi Garut ini kualitas dunia, tetapi kalau hanya diekspor dalam bentuk bahan baku, nilai tambah terbesarnya justru dinikmati oleh industri parfum di luar negeri seperti Prancis atau Swiss,” ujar Habib Aboe.

 

Karena itu, ia mendorong Pemkab Garut membangun ekosistem industri yang utuh, mulai dari pusat riset, laboratorium pengujian berstandar internasional, hingga inkubasi industri kosmetik dan aromaterapi lokal.

 

Selain akar wangi, Legislator Fraksi PKS ini juga mendorong transformasi pada industri kerajinan kulit Sukaregang. Mengacu pada keberhasilan industri kulit yang ada di Turki, ia menyarankan Garut memiliki pusat perdagangan dan atraksi turisme kulit modern, sekaligus memperketat standar pengelolaan limbah dan sertifikasi hijau (green certification).

 

“Persaingan global saat ini bukan hanya soal kualitas produk, tetapi kepatuhan terhadap standar lingkungan dan pengelolaan limbah. BKSAP DPR RI siap menjadi mitra strategis untuk membuka ruang kerja sama teknis, riset, hingga business matching dengan negara-negara sahabat demi memajukan Garut,” tegasnya.

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

Kementerian Ekraf Buka Peluang Kolaborasi dengan Pengembang Gim Rusia

Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Irene Umar, menerima audiensi Manna Indonesia Group dan pengembang gim asal Rusia, Digital Lab, di Kantor Kementerian Ekraf, Jakarta. Pertemuan ini membahas peluang kolaborasi lintas negara dalam pengembangan teknologi gamifikasi untuk mempromosikan destinasi wisata, budaya, dan produk unggulan ekonomi kreatif Indonesia ke pasar global.

Wamen Ekraf menilai pendekatan gamifikasi berpotensi menjadi media promosi yang mampu menghubungkan pengalaman digital dengan aktivitas di dunia nyata. Menurutnya, konsep tersebut dapat mendorong masyarakat untuk mengeksplorasi destinasi, mengikuti berbagai kegiatan, serta mengenal produk kreatif Indonesia melalui pengalaman yang lebih interaktif.

“Konsep ini menarik karena tidak hanya menghadirkan pengalaman bermain, tetapi juga mengajak pengguna berinteraksi langsung dengan destinasi, kegiatan, dan potensi kreatif yang dimiliki Indonesia. Pendekatan seperti ini membuka peluang baru untuk memperkenalkan kekayaan Indonesia melalui pengalaman digital yang lebih menarik,” ujar Irene, Kamis (6/8).

Manna Indonesia Group turut memperkenalkan Digital Lab yang menyampaikan minat untuk menjalin kolaborasi dengan Indonesia dalam pengembangan gim berbasis gamifikasi. Digital Lab menawarkan pengembangan gim yang mengintegrasikan eksplorasi destinasi, penyelesaian misi, pengumpulan digital stamp, hingga pemanfaatan layanan dan produk lokal sebagai bagian dari pengalaman bermain.

Owner & CEO Digital Lab Rusia, Anton Kuchin, mengatakan Indonesia dipilih sebagai negara prioritas di Asia Tenggara karena memiliki pasar digital yang besar serta ekosistem ekonomi kreatif yang terus berkembang. Menurutnya, konsep tersebut dirancang untuk mempromosikan destinasi, budaya, dan produk lokal Indonesia sekaligus membuka peluang kemitraan dengan pelaku industri, komunitas, maupun mitra bisnis melalui platform digital yang terintegrasi.

“Indonesia memiliki potensi besar untuk pengembangan proyek ini, baik dari sisi pasar digital maupun ekosistem industri kreatifnya. Kami berharap konsep yang kami tawarkan dapat memperkenalkan destinasi, budaya, dan produk kreatif Indonesia kepada lebih banyak masyarakat melalui pendekatan gamifikasi,” ujar Anton.

Sebagai tindak lanjut audiensi, Kementerian Ekraf membuka peluang sinergi dengan berbagai kementerian, lembaga, serta mitra strategis sesuai kewenangan masing-masing dalam mendukung pengembangan konsep tersebut. Kementerian Ekraf juga siap memfasilitasi koneksi dengan talenta kreatif, pengembang gim, studio, komunitas, hingga UMKM agar teknologi dan model bisnis yang telah dikembangkan dapat dipadukan dengan kekayaan konten kreatif Indonesia.

“Kolaborasi ini memiliki potensi untuk menghubungkan teknologi dengan kekayaan konten kreatif Indonesia sehingga mampu menghadirkan pengalaman yang relevan bagi pengguna. Kementerian Ekraf terbuka untuk mendukung pengembangannya melalui sinergi dengan berbagai pemangku kepentingan agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh ekosistem ekonomi kreatif,” kata Irene.

Audiensi juga membahas peluang pengembangan ekosistem gim yang menghubungkan teknologi dengan promosi destinasi, budaya, dan produk ekonomi kreatif Indonesia. Pertemuan tersebut membuka ruang kolaborasi antara Kementerian Ekraf, Manna Indonesia Group, dan Digital Lab Rusia untuk mengeksplorasi pengembangan konsep gim berbasis gamifikasi sesuai kewenangan masing-masing pihak.

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

Pemkot Bogor Bahas Terminal Baranangsiang hingga Rencana LRT dengan Kemenhub

Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor menyampaikan sejumlah usulan dan aspirasi terkait sektor transportasi kepada Kementerian Perhubungan (Kemenhub), khususnya Direktorat Jenderal Perhubungan Darat (Ditjen Hubdat).

 

Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim mengatakan, salah satu hal utama yang disampaikan adalah terkait kepastian kelanjutan pembangunan Terminal Baranangsiang yang hingga kini masih dinantikan masyarakat.

 

Menurut Dedie Rachim, keberadaan Terminal Baranangsiang menjadi bagian penting dalam meningkatkan kualitas layanan transportasi darat di Kota Bogor.

 

“Kami menanyakan kepada Pak Dirjen Hubdat, apakah sudah ada rencana pasti tentang pembangunan Terminal Baranangsiang. Karena tentu masyarakat menantikan progres dari Kementerian Perhubungan supaya layanan, khususnya transportasi darat ini, bisa lebih optimal dan tentunya kualitasnya juga baik,” ujar Dedie Rachim di kantor Kemenhub, Jakarta, Rabu (5/8/2026).

 

Selain Terminal Baranangsiang, Pemkot Bogor juga melaporkan terkait keberadaan angkutan yang tidak layak jalan, khususnya kendaraan jenis Miniarta dan Pusaka.

 

Ia menyebut, berdasarkan hasil pengecekan, sebagian kendaraan tersebut tidak memenuhi kelengkapan perizinan. Untuk itu, Pemkot Bogor akan melakukan langkah penertiban terhadap angkutan yang tidak sesuai dengan ketentuan.

 

“Kami juga sampaikan terkait ada kendaraan angkutan yang tidak layak jalan, khususnya Miniarta dan Pusaka. Ternyata hanya sebagian kecil dan bahkan ada yang tidak berizin. Jadi artinya kami sudah sampaikan bahwa kami akan melakukan langkah penertiban untuk angkutan-angkutan yang tidak berizin, yang tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” jelasnya.

 

Dalam pertemuan tersebut, Pemkot Bogor juga menyampaikan sejumlah isu transportasi lainnya, mulai dari perlintasan sebidang, koridor transportasi, usulan layanan Demand Responsive Transit (DRT) untuk lintas kota dalam provinsi, hingga perkembangan rencana lanjutan pembangunan Light Rail Transit (LRT).

 

“Yang lain-lain ada beberapa hal, terkait dengan perlintasan sebidang, kemudian koridor, kemudian kami juga mengusulkan DRT untuk lintas kota dalam provinsi, termasuk juga kami melaporkan tentang LRT, pelanjutan LRT, dan banyak hal lainnya. Tapi yang paling penting adalah terkait dengan permintaan Baranangsiang,” pungkas Dedie Rachim.

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

Wapres Gibran Tinjau Renovasi SDN 7 Jangka Bireuen, Progres Capai 86 Persen

Dalam rangkaian agenda kerjanya di Kabupaten Bireuen, Kamis (06/08/2026), Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming meninjau progres renovasi SD Negeri 7 Jangka yang sempat mengalami kerusakan bangunan dan fasilitas belajar akibat banjir lumpur pada November 2025 silam. Kunjungan Wapres ini merupakan bagian dari komitmen negara hadir dalam pemulihan layanan dasar pascabencana di Aceh, termasuk sektor pendidikan.

Dalam peninjauan ini, Wapres melihat secara langsung perkembangan renovasi yang sedang berjalan, sekaligus mendengar aspirasi dari para guru dan pemangku kepentingan, serta memastikan proses pemulihan benar-benar menjawab kebutuhan, agar proses belajar mengajar dapat kembali berlangsung secara aman, nyaman, dan optimal bagi para siswa.

“Kebutuhan sekolahnya harus dipenuhi. Mau belajar pakai apa. Nanti dibantu, ya, Pak, dengan Pak Kadisnya (Kepala Dinas),” ujar Wapres kepada Plt. Sekretaris Wapres Al Muktabar yang turut mendampinginya.

Wapres juga berpesan kepada Kepala Sekolah SDN 7 Jangka, Mariana, agar seluruh kebutuhan penunjang pembelajaran segera dilengkapi.

“Bu, nanti yang buku-buku segala macam harus dipenuhi, ya,” pesannya.

Pada kunjungan tersebut, Wapres juga menerima laporan dari Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kabupaten Bireuen, Muslim, mengenai perkembangan renovasi sekolah yang telah mencapai 86 persen dan ditargetkan rampung pada Oktober mendatang.

Sementara itu, pada kesempatan terpisah, Guru Wali Kelas V SD Negeri 7 Jangka, Suhaiman, menguraikan kondisi sekolah pascabanjir yang sempat menghambat proses belajar mengajar.

“Sebelum renovasi sekolah ini memang sangat memprihatinkan. Setelah banjir memang tidak bisa digunakan. Semua peralatan sekolah sudah hancur. Seperti meja dan kursi tidak bisa digunakan lagi. Dan buku pelajaran sekolah untuk anak-anak tidak bisa dipakai satu pun lagi,” tuturnya.

Kini, lanjut Suhaiman, kondisi sekolah telah jauh membaik sehingga para siswa dapat kembali belajar dengan lebih nyaman.

“Setelah renovasi ini kami sangat bersyukur. Berterima kasih kepada Bapak Wapres yang telah memberikan bantuan kepada kami, terutama fasilitas sekolah maupun renovasi gedung. Alhamdulillah hari ini kami sudah bisa menggunakan kembali. Semua masyarakat, khususnya masyarakat di sini sangat senang, sangat gembira karena siswa-siswa kami sudah bisa belajar seperti dulu lagi,” tandasnya.

Melalui kunjungan ini, Wapres juga menyampaikan apresiasi atas kerja sama yang telah dilakukan oleh pemerintah pusat dan daerah, TNI, Polri, tenaga pendidik, serta seluruh pihak guna mempercepat pemulihan sekolah. Menurut Wapres, semangat kolaborasi tersebut sangat penting, namun tersedianya sarana dan prasarana pendidikan yang aman dan layak tetap merupakan tanggung jawab negara.

Turut mendampingi Wapres pada kesempatan ini Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah, Bupati Bireuen Mukhlis, dan Bunda Guru PGRI Kabupaten Bireuen Sadriah.

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

Presiden Prabowo Temui 150 Periset BRIN di Istana, Bahas Peran Sains dan Teknologi

Presiden Prabowo Subianto melakukan pertemuan dengan 150 periset dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Istana Kepresidenan Jakarta, pada Kamis, 6 Agustus 2026. Pertemuan ini merupakan pertama kalinya bagi para periset dari seluruh Indonesia untuk berdiskusi sekaligus memamerkan hasil riset dan inovasi kepada Presiden Prabowo.

“Yang terhormat Bapak Presiden, dengan hormat dilaporkan pada hari ini Kamis, 6 Agustus 2026 telah hadir di Istana Merdeka untuk pertama kalinya lebih dari 150 periset berasal dari seluruh Indonesia. Kemudian pula untuk pertama kalinya juga dengan membawa dan memamerkan hasil-hasil riset dan inovasi strategis yang dibuat langsung oleh para periset untuk diperlihatkan langsung kepada Bapak Presiden,” ucap Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya dalam pengantarnya.

Sementara itu dalam laporannya, Kepala BRIN Arif Satria menyampaikan penghargaan tinggi dan ucapan terima kasih kepada Presiden Prabowo atas undangannya kepada para periset untuk datang langsung ke Istana Kepresidenan Jakarta. Kesempatan ini, menurutnya, merupakan kehormatan dan menjadi penyemangat bagi para periset untuk terus berinovasi.

“Selain itu, kegiatan ini mencerminkan komitmen kuat Bapak Presiden bahwa riset dan inovasi merupakan fondasi penting dalam mewujudkan Indonesia yang maju, mandiri, dan berdaya saing menuju Indonesia Emas 2045,” kata Kepala BRIN.

Adapun, Presiden Prabowo menyampaikan maksud undangan tersebut untuk melihat secara langsung dan mendapatkan gambaran hasil riset dan inovasi yang telah dicapai BRIN. Kepala Negara mengapresiasi hasil riset dan inovasi yang telah dihasilkan.

“Terima kasih saudara datang ke Istana, dan saya berharap mungkin saya juga bisa datang menengok kampus-kampus saudara. Saya pernah datang pada saat dulu kampus LIPI kalau tidak salah ya, di Cibinong kalau tidak salah ya, dan di beberapa tempat,” ucapnya.

Dalam pengantar taklimatnya, Presiden menegaskan bahwa penguasaan sains dan teknologi merupakan salah satu faktor kunci dalam menentukan kemajuan bangsa. Menurutnya, negara yang mampu mengembangkan dan menguasai kedua bidang tersebut akan melaju dengan pesat.

“Kuncinya adalah sains dan teknologi. Ini adalah fakta dan kenyataan, dari penguasaan sains dan teknologi tentunya masalah pendidikan itu adalah fondasi, landasan yang paling, paling kritikal, paling kritis,” lanjutnya.

Pertemuan tersebut menjadi simbol kuat komitmen pemerintah dalam menempatkan riset dan inovasi sebagai pilar utama pembangunan nasional. Dengan mempererat hubungan antara pemerintah dan komunitas ilmiah, diharapkan berbagai hasil riset karya anak bangsa dapat semakin cepat dihilirisasi, dimanfaatkan masyarakat, serta menjadi penggerak utama menuju Indonesia Emas 2045.

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

MPR RI Dorong Kolaborasi Pemerintah dan Masyarakat Adat untuk Selamatkan Warisan Budaya Indonesia

Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat membuka diskusi daring Forum Diskusi Denpasar 12 bertema Siapa Menjaga Warisan Bangsa? yang membahas pentingnya kolaborasi pemerintah, masyarakat adat, dan pemilik aset dalam menjaga warisan budaya Indonesia secara berkelanjutan.

Warisan budaya harus tetap hidup dan memberi manfaat yang berkelanjutan dengan dukungan nyata bersama pemerintah dan masyarakat.

“Warisan budaya merupakan bukti nyata hubungan antara masa lalu dan masa kini yang dapat membentuk identitas bangsa, bagian dari upaya membangun karakter anak bangsa,” kata Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat pada sambutannya saat membuka diskusi daring bertema Siapa Menjaga Warisan Bangsa? Membangun Kemitraan Negara, Masyarakat Adat, dan Pemilik Warisan Budaya yang digelar Forum Diskusi Denpasar 12, Rabu (5/8).

Diskusi yang dimoderatori Arimbi Heroepoetri, S.H., LL.M. (Tenaga Ahli Wakil Ketua MPR RI) menghadirkan Dr. H. M. Rifqinizamy Karsayuda, S.H., M.H. (Ketua Komisi II DPR RI), Dr. ST. Prabawa Dwi Putranto, M.Hum. (Kasubdit Pemeliharaan, Pemugaran, dan Zonasi Direktorat Warisan Budaya, Kementerian Kebudayaan), Anak Agung Made Dewandra Reinhard Djelantik (Badan Pengelola Taman Soekasada Ujung Karangasem, generasi penerus dari keluarga besar Puri Agung Karangasem), dan Dr. Wiwin Djuwita Ramelan, S.S., M.Hum. (Arkeolog dan Pakar Pelestarian Warisan Budaya Indonesia/Ketua Umum Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI) Tahun 2017–2021) sebagai penanggap.

Selain itu, hadir pula Dr. Hj. Kurniasih Mufidayati, M.Si. (Wakil Ketua Komisi X/Ketua Panja Kebudayaan DPR RI), Anak Agung Ayu Manik Mulyaheni (Patron Taman Ujung dan Pencinta Warisan Budaya), dan Andi Maradang Mackulau, S.H. (Opu To Bau/Datu Luwu ke-40) sebagai penanggap.

Pelestarian Warisan Budaya Perlu Kolaborasi Berkelanjutan

Menurut Lestari, aset budaya itu tidak sebatas dipelihara sebagai peninggalan sejarah, tetapi juga tetap menjalankan fungsi sosial, budaya, spiritual, pendidikan, dan adat.

Namun, ujar Rerie, sapaan akrab Lestari, saat ini banyak pengelola aset budaya terbebani dalam upaya menjaga kelestarian warisan budaya yang berdiri di atas lahan berstatus hak milik perseorangan.

Rerie yang juga Anggota Komisi X DPR RI berpendapat bahwa kebijakan pelestarian warisan budaya yang ada saat ini belum terintegrasi dengan baik.

Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu menegaskan bahwa diperlukan langkah besar untuk mewujudkan pelestarian cagar budaya yang menyeluruh dan berkelanjutan di tanah air.

Ketua Komisi II DPR RI H. M. Rifqinizamy Karsayuda berpendapat bahwa secara konstitusional, Pasal 18B ayat (2) UUD 1945 sudah memberi pengakuan terhadap masyarakat adat, sepanjang di dalamnya hidup adat istiadat pada keseharian mereka.

Rifqinizamy mengungkapkan bahwa pihaknya terus berupaya menuntaskan pembahasan RUU Masyarakat Hukum Adat untuk memperkuat eksistensi masyarakat adat.

Dia berharap keterlibatan aktif masyarakat dalam melakukan identifikasi dan inventarisasi warisan budaya, wilayah, atau kawasan masyarakat adat.

Kasubdit Pemeliharaan, Pemugaran, dan Zonasi Direktorat Warisan Budaya Kementerian Kebudayaan Prabawa Dwi Putranto berpendapat bahwa penetapan cagar budaya tidak mengambil alih kepemilikan aset budaya tersebut.

Menurut Prabawa, dasar hukum yang sudah dijalankan saat ini adalah Pasal 13 UU Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya yang merupakan jaminan konstitusional dalam upaya pelestarian cagar budaya.

Namun, diakui Prabawa, pelaksanaan aturan tersebut masih banyak menghadapi hambatan di lapangan.

Menurut dia, praktik penetapan cagar budaya tanpa menghilangkan kepemilikan hak atas aset budaya, antara lain, adalah kawasan adat Baduy di Banten dan Kepatihan Mangkunegaran di Solo.

Saat ini, jelas dia, tantangan di lapangan dalam pelestarian cagar budaya antara lain adanya tumpang tindih zonasi, serta kesenjangan insentif dan kompensasi bagi pengelolanya.

Penguatan Regulasi dan Kemitraan Jadi Kunci

Badan Pengelola Taman Soekasada Ujung Karangasem Anak Agung Made Dewandra Reinhard Djelantik mengungkapkan bahwa Taman Soekasada Ujung merupakan peninggalan Kerajaan Karangasem, Bali.

Kawasan itu, ujar Dewandra, terdiri atas tempat peristirahatan, tempat menerima tamu, dan tempat meditasi. Jadi, jelas dia, selain tempat budaya, Taman Soekasada Ujung juga merupakan tempat spiritual.

Kawasan tersebut, jelas dia, saat ini dikelola bersama Pemerintah Kabupaten Karangasem dan keluarga Kerajaan Karangasem.

Dewandra mengakui membutuhkan biaya yang cukup besar untuk mengelola kawasan Taman Soekasada Ujung seluas 11 hektare.

Sehingga, dia berharap bisa mendapat informasi yang jelas terkait bentuk dukungan yang bisa didapat pengelola kawasan cagar budaya agar upaya pelestarian yang dilakukan dapat berkelanjutan.

Arkeolog dan Pakar Pelestarian Warisan Budaya Indonesia Wiwin Djuwita Ramelan mengungkapkan bahwa pengakuan cagar budaya harus berdasarkan penilaian terhadap aset budaya apakah memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan kebudayaan.

Menurut Wiwin, saat ini ada gejala penetapan cagar budaya tidak lagi didasari pertimbangan nilai penting yang mendalam.

Padahal, jelas dia, penetapan cagar budaya itu mengandung konsekuensi wajib untuk melakukan perlindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pengelolaannya.

Menurut Wiwin, konsep living heritage penting untuk diterapkan dalam penetapan cagar budaya.

Wakil Ketua Komisi X DPR RI Hj. Kurniasih Mufidayati mengungkapkan bahwa di Komisi X DPR RI saat ini ada Panja tentang perlindungan dan pemanfaatan cagar budaya.

Menurut Kurniasih, isu kolaborasi antara upaya perlindungan dan pemanfaatan cagar budaya sangat penting.

Kurniasih menegaskan bahwa regulasi, kelembagaan pemerintah dan masyarakat, serta aspek sosial harus menjadi perhatian serius dalam pengembangan cagar budaya di tanah air.

Pencinta Warisan Budaya Anak Agung Ayu Manik Mulyaheni berpendapat bahwa para pemilik, pewaris, masyarakat adat, komunitas, dan pemerintah memiliki tujuan yang sama dalam menjaga warisan budaya.

Namun, tambah Anak Agung Ayu Manik, yang sering terjadi adalah kurangnya rasa saling percaya.

Menurut dia, kekhawatiran sering muncul ketika sebuah aset budaya ditetapkan sebagai cagar budaya karena masyarakat pemilik aset tersebut khawatir akan muncul pembatasan yang mengurangi ruang gerak mereka.

Padahal, menurut Anak Agung Ayu Manik, yang dibutuhkan saat ini adalah kolaborasi setara dan saling menghormati antarpihak dalam merawat warisan budaya bangsa.

Datu Luwu ke-40 Andi Maradang Mackulau mengungkapkan bahwa dirinya adalah pelaku budaya di Istana Kedatuan Luwu.

Andi Maradang menegaskan di Kedatuan Luwu menerapkan filosofi bahwa apa yang dianut dan dipahami pemimpin dan masyarakat adalah satu.

Diakui dia, 12 anak suku yang berada di wilayah Kedatuan Luwu saat ini juga menghadapi permasalahan penetapan tanah adat.

Menurut Andi Maradang, hukum adat dan adat itu berbeda makna. Hukum adat itu tatanan, dan adat itu adalah perilaku. “Perilaku manusia akan menghasilkan tatanan adatnya,” ujarnya.

Bupati Luwu Utara dua periode (2000–2004 dan 2005–2009) serta Anggota DPR RI periode 2014–2019, sekaligus inisiator RUU Masyarakat Adat, Muchtar Luthfi Andi Mutty, mengungkapkan bahwa Datu Luwu selalu menjadi harapan terakhir bila ada konflik masyarakat dan pihak-pihak lain yang belum tuntas.

Menurut Luthfi, kerajaan atau kesultanan saat ini sejatinya masih diakui perannya oleh masyarakat setempat.

Diakui Luthfi, Datu Luwu memiliki peran dan fungsi penting dalam keseharian masyarakat, tetapi dari perspektif negara, posisi mereka tidak jelas. “Apakah ketika mereka mengambil keputusan masih diakui oleh negara,” ujarnya.

Pada kesempatan itu, wartawan senior Saur Hutabarat berpendapat bahwa agar diakui oleh negara, masyarakat adat perlu diperkuat dengan hadirnya undang-undang yang mengakui peran dan eksistensi masyarakat adat.

“Terwujudnya UU Masyarakat Hukum Adat harus menjadi narasi besar yang terus hidup,” pungkas Saur.

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

Ketua DPD RI Temui Boediono, Sampaikan Undangan Sidang Bersama DPR dan DPD RI

Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Sultan Baktiar Najamudin bersama Wakil Ketua DPD RI Yorrys Raweyai dan Tamsil Linrung kembali menyampaikan undangan Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI kepada para mantan Wakil Presiden Republik Indonesia.

Kali ini, ketiga pimpinan DPD RI tersebut mendatangi kediaman mantan Wakil Presiden Republik Indonesia ke-11, Boediono, di Menteng, Jakarta Pusat, pada Jumat (7/8).

“Alhamdulillah, hari ini kami bertiga kembali melakukan silaturahmi dengan para tokoh bangsa untuk menyampaikan secara langsung undangan Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI,” ujar Sultan kepada awak media.

Ketua DPD RI ke-6 itu mengatakan silaturahmi dengan para tokoh bangsa merupakan tradisi yang penting untuk terus dijaga. Menurutnya, pandangan dan pengalaman para negarawan menjadi sumber masukan yang berharga bagi DPD RI dalam menjalankan fungsi konstitusionalnya sebagai lembaga perwakilan daerah.

“Kami sangat bahagia. Di usia ke-84 tahun, Pak Boediono masih sehat dan masih mampu mengingat banyak hal. Beliau adalah tokoh bangsa yang sangat tenang dan meneduhkan,” ujar Sultan.

Sultan mengungkapkan bahwa meskipun jarang tampil di ruang publik, Boediono masih aktif mengikuti perkembangan situasi kebangsaan, perekonomian nasional, hingga dinamika geopolitik global.

“Kami mendiskusikan berbagai hal terkait perkembangan ekonomi nasional dan situasi global. Beliau berpesan agar DPD RI serta seluruh elemen bangsa terus menjaga persatuan, memperkuat kekompakan, dan meningkatkan kerja sama dalam menghadapi berbagai tantangan bangsa,” tegasnya.

Lebih lanjut, mantan Wakil Gubernur Bengkulu itu menyampaikan bahwa Boediono menyatakan kesediaannya untuk menghadiri Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI pada 14 Agustus 2026 guna menyaksikan Pidato Kenegaraan Presiden Republik Indonesia dalam Rangka Peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

“Insyaallah, beliau bersedia hadir pada Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI untuk menyaksikan Pidato Kenegaraan Presiden Republik Indonesia dalam Rangka Peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Kita doakan beliau senantiasa diberikan kesehatan dan terus memberikan masukan serta nasihat kepada kita semua,” tutup Sultan.

Selain menyerahkan undangan Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI, Sultan juga menyerahkan buku Green Democracy kepada Boediono.

“Ini buku yang menarik. Saya akan membacanya,” ujar Boediono, mantan Menteri Koordinator Perekonomian sekaligus mantan Gubernur Bank Indonesia.

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

DPD RI Temukan Pendapatan UMKM di Yogyakarta Menurun Saat Tinjau Sensus Ekonomi BPS

Penurunan pendapatan yang dialami sejumlah pelaku usaha menjadi salah satu temuan dalam peninjauan pelaksanaan Sensus Ekonomi yang dilakukan Anggota DPD RI Daerah Istimewa Yogyakarta, R.A. Yashinta Sekarwangi Mega, bersama Badan Pusat Statistik (BPS) DIY dan BPS Kota Yogyakarta, Selasa (4/8).

Temuan tersebut menjadi perhatian karena mencerminkan aktivitas ekonomi masyarakat yang masih menghadapi tantangan dan memerlukan perhatian dalam penyusunan kebijakan.

“Yang paling saya soroti tadi adalah adanya pedagang atau pelaku usaha yang menyampaikan bahwa pemasukannya menurun. Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi juga mengalami penurunan. Saya berharap pemerintah bersama DPD RI dapat merumuskan kebijakan yang lebih tepat untuk membantu masyarakat, khususnya mereka yang berada dalam kondisi rentan,” ungkap Yashinta.

Dalam kegiatan tersebut, Yashinta meninjau secara langsung proses pendataan yang dilakukan petugas BPS kepada sejumlah pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), di antaranya pelaku usaha penjual mainan dan pembuat gorden, serta pedagang di Pasar Senen, Kota Yogyakarta. Selain mengamati jalannya pendataan, ia juga berdialog dengan petugas BPS dan para pelaku usaha untuk memperoleh gambaran mengenai kondisi ekonomi masyarakat.

Menurut Yashinta, kehadirannya dalam kegiatan tersebut merupakan bentuk dukungan terhadap pelaksanaan sensus ekonomi agar menghasilkan data yang akurat sebagai dasar penyusunan kebijakan pemerintah.

“Sebetulnya tujuan utamanya adalah mengikuti kegiatan BPS dalam mengumpulkan data-data dari masyarakat untuk mendukung program sensus ekonomi. Harapannya, dari sensus ekonomi ini kami di pusat, dalam merumuskan kebijakan, dapat mengetahui bagaimana sebenarnya situasi riil masyarakat berdasarkan data-data yang dikumpulkan oleh petugas BPS,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa hasil peninjauan lapangan dan aspirasi yang disampaikan para pelaku usaha menjadi masukan penting bagi DPD RI dalam menjalankan fungsi representasi daerah. Informasi tersebut diharapkan dapat memperkuat penyusunan kebijakan yang lebih responsif terhadap kebutuhan masyarakat dan kondisi perekonomian di daerah.

Sementara itu, Kepala BPS Kota Yogyakarta, Joko Prayitno, mengapresiasi kehadiran R.A. Yashinta Sekarwangi Mega dalam kegiatan peninjauan tersebut. Menurutnya, kehadiran Anggota DPD RI memberikan semangat bagi petugas lapangan sekaligus mendorong masyarakat untuk memberikan data secara jujur sehingga kualitas data yang dihasilkan semakin baik.

“Semoga kehadiran Ibu Yashinta menjadi dorongan bagi petugas lapangan dalam melakukan pendataan serta memberikan semangat untuk memperoleh data yang lebih baik. Kami juga berharap kehadiran Ibu dapat memotivasi masyarakat untuk memberikan data secara jujur, sehingga data yang diperoleh benar-bena mencerminkan kondisi riil di lapangan,” ujar Joko Prayitno.

Ia menambahkan bahwa data yang akurat dan berkualitas akan menjadi landasan penting bagi pemerintah dalam menyusun kebijakan pembangunan, khususnya di bidang perekonomian, agar lebih tepat sasaran sesuai dengan kondisi riil masyarakat.

Melalui peninjauan ini, DPD RI bersama BPS DIY dan BPS Kota Yogyakarta berharap pelaksanaan sensus ekonomi mampu menghasilkan data yang valid sebagai dasar penyusunan kebijakan yang berpihak pada masyarakat serta mendukung penguatan perekonomian daerah.

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News