Beranda blog Halaman 733

Imigrasi Amankan 43 WNA dalam Operasi di Tempat Hiburan Malam Jakarta Utara

Direktorat Jenderal Imigrasi mengamankan 43 warga negara asing (WNA) dalam sebuah operasi keimigrasian yang digelar pada 14 Oktober 2025 di salah satu tempat hiburan malam di kawasan Penjaringan, Jakarta Utara. Operasi ini dilakukan sebagai tindak lanjut dari laporan masyarakat terkait dugaan penyalahgunaan izin tinggal oleh sejumlah WNA.

Dalam operasi tersebut, petugas menemukan bahwa para WNA yang diamankan tidak menggunakan izin tinggal yang sesuai dengan aktivitas mereka di Indonesia. Dari hasil pemeriksaan, terungkap bahwa 20 perempuan bekerja sebagai lady companion, sedangkan 17 laki-laki diketahui bekerja di sektor konstruksi dan pelayanan. Seluruhnya tercatat hanya mengantongi izin tinggal kunjungan, yang sejatinya tidak diperuntukkan untuk bekerja.

Tak hanya itu, turut diamankan pula 4 orang supervisor dan 2 koordinator yang juga didapati menggunakan izin tinggal yang tidak sesuai dengan aktivitas mereka di Tanah Air.

Direktorat Jenderal Imigrasi menyatakan akan melakukan pemeriksaan lanjutan terhadap seluruh WNA yang diamankan. Selain itu, pengelola tempat hiburan yang menjadi lokasi kegiatan juga akan dipanggil untuk dimintai keterangan. Bagi para WNA yang terbukti melanggar aturan keimigrasian, Ditjen Imigrasi akan menjatuhkan Tindakan Administratif Keimigrasian berupa deportasi dan penangkalan.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Imigrasi, Yuldi Yusman, menegaskan bahwa penegakan hukum keimigrasian akan terus dilakukan secara konsisten. “Penertiban terhadap keberadaan orang asing menjadi bagian penting dari upaya kami untuk memastikan hanya WNA yang taat hukum dan membawa manfaat yang dapat beraktivitas di Indonesia,” ujarnya.

Ditjen Imigrasi mengimbau masyarakat untuk terus berperan aktif dalam melaporkan dugaan pelanggaran keimigrasian, demi menjaga keamanan dan ketertiban di lingkungan sekitar.

Cek Artikel dan Berita yang lain di Google News

Kota Gorontalo Terapkan Sistem Baru Pengelolaan Sampah, DLH Kini Hanya Jadi Koordinator

Pemerintah Kota (Pemkot) Gorontalo mulai menerapkan sistem baru dalam pengelolaan armada sampah berupa mobil truk yang baru saja diterima dari BTN, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Kemen LHK), serta Getor pengangkut sampah hasil pengadaan di tiap kelurahan.

Dimana, seluruh armada sampah itu, tidak lagi dikelola oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH). Pengelolaannya diserahkan ke Kecamatan dan Kelurahan.

“DLH berperan sebagai koordinator, namun pengelolaan teknis dan operasional diserahkan ke camat dan lurah. Dengan begitu, sistem kerja menjadi lebih cepat dan terukur karena dikelola langsung di wilayah masing-masing,” ungkap Wali Kota Gorontalo, Adhan Dambea ketika memberikan arahan pada kegiatan rapat koordinasi dan evaluasi (Rakorev) penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan, Senin (20/10) malam, di BLY.

Wali Kota Adhan menambahkan, jika tak ada aral melintang, armada sampah baru, khususnya mobil truk akan diserahkan hari ini, Selasa (21/10) sore.

Sebelum diserahkan, truk sampah akan di beri penanda berupa nama masing-masing kecamatan, sehingga bisa diketahui secara terpantau dan identitas yang jelas.

Untuk pengoperasiannya, Wali Kota Adhan meminta para camat untuk menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang punya keterampilan dalam mengemudikan truk.

“Kalau Getor, nanti kelurahan yang akan mencarikan pengemudinya. Sebagai bentuk persiapan, akan diadakan pelatihan khusus bagi para pengemudi Getor, sehingga mereka memahami prosedur kerja dan keselamatan dalam pengangkutan sampah,” kata Wali Kota Adhan.

Selain itu, Wali Kota Adhan juga memerintahkan para camat untuk menyiapkan tempat pembuangan sampah sementara untuk menampung sampah yang diangkut Getor masing-masing kelurahan.

“Sampah dari kelurahan yang dikumpulkan menggunakan kendaraan Getor akan diarahkan ke situ, sebelum diangkut ke tempat pembuangan akhir,” ujarnya.

“Targetnya, seluruh sistem baru pengelolaan sampah ini sudah berjalan efektif mulai 1 Januari 2026,” pungkas Wali Kota Adhan.

Kebijakan ini diharapkan menjadi langkah strategis untuk menciptakan kota yang lebih bersih dan tertata, sekaligus mendorong tanggung jawab bersama antara pemerintah dan masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan.

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

Pemkot Cimahi Gelar Bimtek KP2A untuk Perkuat Pengelolaan Air Bersih Warga

Pemerintah Kota Cimahi melalui Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPKP) menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) bagi Kelompok Pengelola Sistem Penyediaan Air Minum (KP2A) pada Senin (20/10) di Pandiga.

Wakil Wali Kota Cimahi, Adhitia Yudisthira menekankan bahwa persoalan air bersih merupakan tanggung jawab bersama, bukan hanya pemerintah daerah. “Kalau kita mengandalkan APBD dan kemampuan daerah saja, berat. Karena setiap tahun DPKP hanya mampu membangun sekitar 500 Sumur Resapan (SR), padahal kebutuhan di Cimahi mencapai 100.000 SR,” ujarnya.

Pemerintah Kota Cimahi telah menyiapkan berbagai skema pemenuhan sumber air bersih serta kolaborasi teknis dengan PDAM Kabupaten Bandung untuk memenuhi kebutuhan air bagi warga Kota Cimahi.

Dalam arahannya, Wakil Wali Kota Cimahi juga mengingatkan agar pengelolaan air tidak hanya berfokus pada aspek ekonomi, tetapi juga memperhatikan kualitas dan keamanan air. Wakil Wali Kota Cimahi mencontohkan kasus di beberapa daerah di mana penurunan kualitas air menyebabkan masalah kesehatan, bahkan keracunan akibat pencemaran sumber air.

Diketahui, saat ini terdapat 47 titik sumur artesis yang dikelola secara swadaya oleh kelompok masyarakat melalui KP2A. Keberadaan kelompok ini dinilai sangat membantu pemerintah dalam memenuhi kebutuhan air bersih bagi warga yang belum terlayani oleh PDAM atau BLUD Air Minum Kota Cimahi.

Adhitia menyampaikan bahwa tidak menutup kemungkinan pemerintah akan menjajaki kerja sama yang lebih luas dengan PDAM lainnya. Menurutnya, apabila ke depan pengelolaan air bersih dapat dilakukan dalam satu sistem pelayanan yang terpusat, hal itu akan membuat layanan menjadi lebih efisien dan memberikan kejelasan bagi masyarakat.

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

Wali Kota Bontang Dikukuhkan Sebagai Bunda Literasi, Siap Gerakkan Semangat Membaca di Kota Taman

Wali Kota Bontang, Hj. Neni Moerniaeni, resmi dikukuhkan sebagai Bunda Literasi Kota Bontang bersama tujuh Bunda Literasi lainnya dari kabupaten/kota se-Kalimantan Timur. Pengukuhan berlangsung pada Minggu (19/10) di Gedung Odah Etam, Kantor Gubernur Kaltim, dan dipimpin langsung oleh Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud.

Dalam kesempatan itu, Gubernur Kaltim juga secara resmi mengukuhkan Sarifah Suraidah Harum sebagai Bunda Literasi Provinsi Kalimantan Timur, yang akan menjadi motor penggerak utama gerakan literasi di seluruh kabupaten/kota.

Selain Bunda Neni, tujuh lainnya yang dikukuhkan yakni Nurlena (Kota Balikpapan), Dewi Yuliana (Kabupaten Penajam Paser Utara), Sinta Rosma Yenti (Kabupaten Paser), Sri Juniarsih Mas (Kabupaten Berau), Maria Christina Frederick Edwin (Kabupaten Kutai Barat), Sitti Robiah (Kabupaten Kutai Timur), dan Angela Idang Belawan (Kabupaten Mahakam Ulu).

Acara turut dihadiri oleh para pejabat daerah, penggiat literasi, dan jajaran Dinas Perpustakaan dari seluruh Kaltim. Dari Kota Bontang, hadir Kabid Perpustakaan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, Indra Nopika Wijaya, yang mendampingi Wali Kota Bontang.

Usai prosesi, Wali Kota Neni menyampaikan rasa syukur dan komitmennya bahwa pengukuhan ini bukan sekadar simbol, melainkan amanah untuk memperkuat gerakan membaca di masyarakat.

“Menjadi Bunda Literasi adalah tanggung jawab moral bagi saya untuk menumbuhkan budaya baca di Kota Bontang. Literasi adalah jantung peradaban. Bunda ingin memastikan anak-anak kita gemar membaca, berpikir kritis, dan memiliki semangat belajar sepanjang hayat,” ujarnya kepada PPID Bontang.

Ia juga menegaskan akan bersinergi dengan berbagai pihak, termasuk sekolah, komunitas literasi, dan perpustakaan daerah, agar program literasi dapat menjangkau semua lapisan masyarakat.

“Kami ingin literasi hadir di setiap sudut Bontang — di rumah, sekolah, ruang publik, bahkan di dunia digital. Karena literasi bukan hanya soal membaca buku, tapi kemampuan memahami informasi dan memanfaatkannya untuk kemajuan,” ucapnya.

Kabid Perpustakaan Bontang, Indra Nopika Wijaya, turut menyambut baik pengukuhan tersebut. Ia menilai dukungan langsung dari Wali Kota sebagai Bunda Literasi akan memperkuat ekosistem literasi di Kota Taman.

Melalui pengukuhan ini, Pemerintah Kota Bontang berkomitmen untuk terus mendorong literasi sebagai pondasi pembangunan manusia yang unggul dan berkarakter.

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

Bupati Purworejo Serahkan Insentif untuk Guru Ngaji dan Pengajar Keagamaan Tahun 2025

Dalam rangka mengapresiasi salah satu pilar penting, dalam mendukung terwujudnya masyarakat yang religius dalam visi pembangunan Purworejo Berseri melalui program unggulan Religius Masyarakate, Pemkab Purworejo mulai merealisasikan hibah insentif bagi Guru Ngaji dan Pengajar Keagamaan di Kabupaten Purworejo.

Penyerahan insentif tersebut dilaksanakan secara simbolis oleh Bupati Purworejo Yuli Hastuti SH, didampingi Wakil Bupati Dion Agasi Setiabudi SIKom MSi dalam kegiatan Sosialisasi Hibah Insentif Guru Ngaji dan Pengajar Keagamaan, Sabtu (18/10) di Pendopo Kabupaten Purworejo.

Bupati dalam sambutannya menyampaikan, Guru Ngaji dan Pengajar Keagamaan di Kabupaten Purworejo merupakan pilar penting dalam membentuk karakter dan moral generasi penerus yang bertaqwa dan berakhlak mulia dengan pendidikan keagamaan yang baik, yang secara langsung berkontribusi pada peningkatan kualitas sumber daya manusia.

“Oleh karenanya dalam hal ini, Pemerintah terus berupaya untuk memberikan apresiasi yang layak kepada para Guru Ngaji dan Pengajar Keagamaan, salah satunya dalam bentuk insentif yang hari ini kita serahkan,” katanya.

Menurutnya, insentif ini merupakan bentuk apresiasi dari pemerintah kepada Guru Ngaji dan Pengajar Keagamaan dalam mendukung terwujudnya masyarakat yang religius. Ia berharap insentif yang diterimakan, dapat bermanfaat dan meningkatkan kesejahteraan, sekaligus menjadi penyemangat untuk terus mengajar.

Sementara itu, Kepala Bagian Kesra Setda Kabupaten Purworejo Andang Nugerahatara Sutrisno SSTP MSi melaporkan, total penerima insentif berjumlah 3.458 orang, terdiri dari 3.390 Guru Ngaji (Muslim) dan 68 Pengajar Keagamaan (Non-Muslim).

Pada tahun ini besaran insentif mengalami kenaikan dari Rp125.000 menjadi Rp175.000 per bulan. Dan dari besaran tersebut, di dalamnya juga termasuk iuran kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan sebagai bentuk perlindungan sosial bagi Guru Ngaji dan Pengajar Keagamaan.

Sosialisasi dan penyerahan insentif secara simbolis akan digelar di lima titik lokasi dalam tiga tahap. Tahap pertama Sabtu (18/10) di Pendopo Kabupaten Purworejo (784 orang dari Kecamatan Purworejo, Bayan, Kaligesing, dan Banyuurip) dan di Gedung Serbaguna Desa Kaliboto, Bener (817 orang dari Kecamatan Loano, Gebang dan Bener). Tahap kedua Minggu (19/10) di Pendopo Wakil Bupati di Kutoarjo (633 orang dari Kecamatan Grabag, Butuh, dan Kutoarjo) dan di Pendopo Kecamatan Kemiri (828 orang dari Kecamatan Kemiri, Pituruh dan Bruno). Tahap ketiga akan dilaksanakan di Pendopo Kecamatan Purwodadi dengan peserta 396 dari Kecamatan Purwodadi, Bagelen dan Ngombol.

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

Wali Kota Bandung Farhan Pastikan RAPBD 2026 Tetap Tepat Waktu Meski Dana Pusat Berkurang

Pemerintah dan DPRD Kota Bandung resmi menandatangani Nota Kesepakatan Kebijakan Umum Anggaran dan Plafon Prioritas Anggaran Sementara (KUA-PPAS) untuk tahun anggaran 2026.

Penandatanganan dilakukan oleh Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, bersama pimpinan DPRD dalam Rapat Paripurna di Gedung DPRD Kota Bandung, Senin 20 Oktober 2025.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan menyampaikan, kesepakatan ini menjadi dasar penyusunan RAPBD Kota Bandung tahun 2026.

“Hari ini telah mencapai kesepakatan untuk KUA-PPAS. Dari sini maka kita akan bisa menyusun RAPBD berikutnya. Targetnya, akhir bulan November itu sudah harus selesai dan diparipurnakan,” ujar Farhan usai menghadiri sidang paripurna.

Farhan menjelaskan, penyusunan anggaran tahun 2026 mengalami sejumlah penyesuaian akibat adanya pengurangan transfer daerah dari pemerintah pusat sebesar kurang lebih Rp600 miliar.

Atas kondisi tersebut, Pemkot Bandung akan melakukan efisiensi secara menyeluruh, terutama pada belanja operasional pemerintah.

“Ada penyesuaian karena ada pengurangan transfer daerah dari pusat. Itu akhirnya kita akan lakukan kemungkinan pembiayaan. Tapi efisiensi yang terbesar tentunya adalah untuk belanja sehari-hari para pimpinan itu jauh berkurang. Mamin, BBM, perjalanan dinas itu dikurangi,” jelasnya.

Meski dilakukan penghematan, Farhan memastikan tidak akan ada kebijakan Work From Home (WFH) bagi ASN Kota Bandung.

“Alhamdulillah kita masih punya keleluasaan sedikit sehingga tidak perlu WFH. Belanja perjalanan dinas luar negeri juga dihentikan,” ucap Farhan.

Efisiensi juga diberlakukan hingga ke tingkat organisasi perangkat daerah (OPD), termasuk fasilitas rapat dan konsumsi pegawai.

“OPD terdampak juga. Bahkan RSUD yang biasanya menyediakan mamin untuk para karyawan itu dihilangkan,” katanya.

Di sisi lain, Pemkot Bandung juga mulai mendorong peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD), terutama dari sektor pajak. Farhan menyebut optimalisasi akan diarahkan pada Pajak Barang dan Jasa Tertentu (PBJT/PB1) serta Pajak Bumi dan Bangunan (PBB).

“Kita melihat beberapa peluang, di antaranya optimasi PB1. Kami juga melihat peluang peningkatan PBB, tetapi untuk meningkatkan pajak ini kita harus terlebih dahulu membuktikan manfaat dan benefit kepada para pembayar pajak,” ucapnya.

Selain efisiensi, Pemkot juga tengah mengupayakan dukungan anggaran dari pemerintah pusat, terutama untuk program yang berkaitan dengan enam Standar Pelayanan Minimal (SPM).

“Kita sedang mencari cara memperjuangkan program dari pemerintah pusat, khususnya yang menunjang 6 SPM, sesuai arahan Mendagri dan Menteri Keuangan,” jelas Farhan.

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

Wali Kota Eri Prioritaskan Infrastruktur Jalan, Tunda Pembangunan RS di Surabaya Selatan

Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya berencana membangun rumah sakit (RS) di kawasan Surabaya selatan. Pembangunan RS tersebut masih dalam tahap perencanaan tahun 2026.

Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi mengatakan, pembangunan RS di kawasan selatan masih menunggu pembahasan lebih lanjut Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Tahun Anggaran (TA) 2026. “Insyaallah kita lihat ya anggaran di tahun depan. Sebenarnya kan tahun ini (pembangunannya), tapi karena pemotongan TKD yang cukup besar, maka (ditentukan) prioritas-prioritas mana yang dikerjakan,” kata Wali Kota Eri, Senin (20/10).

Wali Kota Eri juga menjelaskan, dalam APBD 2026 pemkot juga masih belum membahas lebih lanjut soal rencana pembangunan RS Surabaya selatan. Sementara ini, lanjut Wali Kota Eri, Pemkot Surabaya masih fokus pada program-program prioritas, salah satunya pembangunan infrastruktur jalan.

“Untuk 2026 kan yang dipotong Rp730 miliar itu, makanya kita tidak menjalankan dulu untuk yang rumah sakit, tapi yang prioritas, seperti jalan, infrastruktur yang kita jalankan dulu. 2026-2027 kan juga ada yang multi years, seperti untuk jalan yang dari Wiyung tembus sampai Lidah Wetan, setelah itu penyelesaian kolam tampung di jalan radial road, terus jalan yang di Pacar Keling itu kita buka, dan kita evaluasi pembuatan jembatan di alam Royal Residence, menghubungkan JLDB,” jelas Wali Kota Eri.

Wali Kota Surabaya yang akrab disapa Cak Eri Cahyadi itu berharap, pembangunan jalan tersebut bisa menggerakkan perekonomian warga Kota Pahlawan. Selain itu, Cak Eri juga berharap, program prioritas ini bisa mengurangi kepadatan lalu lintas ke depannya.

“Jadi, nanti akan banyak jalan-jalan baru di Surabaya. Agar apa? Pertama nggak macet, dan yang kedua ekonominya juga bergerak,” harapnya.

Cak Eri menambahkan, karena APBD TA 2026 difokuskan pada program-program prioritas, maka pemkot berencana menggandeng pihak swasta dalam pembangunan RS Surabaya selatan. Akan tetapi, jika pemerintah pusat melakukan evaluasi TKD dalam waktu dekat, pemkot bisa segera melakukan pembangunan RS Surabaya pada tahun mendatang.

“Pak Presiden kan menyampaikan, nanti akan dievaluasi TKD tahun depan, bisa dikembalikan saja seperti tahun sebelumnya. Kalau dikembalikan kita juga akan melakukan pembangunan untuk (RS) Surabaya selatan.

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

Wali Kota Semarang Ajak Warga Jaga Pesisir Lewat Program Mageri Segoro

Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti, mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga pesisir Kota Semarang, melalui kegiatan penanaman cemara laut dalam rangka Program Mageri Segoro, di kawasan Pantai Mangunharjo, Kecamatan Tugu, Rabu (15/10).

Agustina menyampaikan, program Mageri Segoro, yang berarti memagari laut, merupakan inisiatif Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, untuk memperkuat ketahanan pesisir dari ancaman abrasi, rob, dan penurunan tanah. Kegiatan ini dilaksanakan serentak di 17 kabupaten/kota pesisir se-Jawa Tengah, termasuk Kota Semarang yang menjadi salah satu titik penting, dengan fokus penanaman cemara laut di kawasan Mangunharjo.

“Bagi Kota Semarang, pantai ini seperti pagar rumah. Kalau pagarnya rusak, rumah juga akan terasa tidak aman, karena terpapar langsung oleh gangguan dari luar. Maka, jika pantai ini ibarat pagar, harus dikokohkan untuk menghadapi gelombang, abrasi, dan rob yang semakin sering terjadi,” ujarnya.

Dia berharap, kegiatan penanaman pohon bukan hanya seremoni, tetapi bagian dari tanggung jawab bersama menjaga keseimbangan lingkungan.

“Hari ini kita menanam cemara laut dan mangrove. Bersama itu, kita menanam harapan agar garis pantai Semarang tidak terus mundur dan agar laut tetap menjadi sahabat kita, bukan ancaman,” tuturnya.

Pada kesempatan itu, dirinya juga menyoroti ancaman penurunan tanah (land subsidence) di Semarang yang berpadu dengan kenaikan muka air laut, yang memperparah banjir rob di wilayah pesisir. Melalui program Mageri Segoro, Agustina mengajak seluruh pihak ikut menanam pohon sebagai pagar alami kota.

“Penanaman pohon tidak cukup, harus dilengkapi langkah ekologis lain, termasuk berbagai macam kebijakan teknis dan sosial. Dengan membangun budaya cinta lingkungan hidup, dengan membangun budaya cinta menanam pohon, karenanya kita kerjakan ulang, kita monitor ulang program untuk menanam satu orang satu pohon minimal setiap tahunnya,” tegas Agustina.

Dia berharap, gerakan seperti ini terus berlanjut, dan semakin banyak masyarakat yang peduli untuk membentuk kelompok pelestari pantai. Karena menjaga pantai sejatinya adalah menjaga kehidupan dan masa depan Kota Semarang.

Sebagai informasi, kegiatan di Kota Semarang mendapat dukungan dari 26 perusahaan melalui program CSR, di antaranya PT Indofood Noodle, PLN, Pertamina, PT Sido Muncul, PT PHAPROS, PT Kubota, PT Victoria Care, dan PT Kawasan Industri Wijayakusuma dan perusahaan lain. Total sebanyak 18.040 bibit pohon mangrove dan cemara laut ditanam di berbagai titik pesisir, termasuk Pantai Baruna, Pantai Tirang, Pantai KIW, Trimulyo, dan Mangunharjo.

Selain melibatkan dunia usaha, kegiatan ini juga didukung berbagai komunitas pesisir, seperti Camar, Prenjak, KPA Semarang Mangrove, Kenari, Arjuna Berdikari, dan Tripari. Pemerintah Kota Semarang melengkapi gerakan ini dengan langkah teknis, seperti memperluas jaringan SPAM dan PDAM untuk mengurangi ketergantungan pada air tanah, memperkuat tanggul laut dan sheetpile, serta mengembangkan eduwisata mangrove, sebagai wujud nyata pelestarian lingkungan berbasis masyarakat.

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

Pemkab Kendal Dukung Pembangunan Koperasi Desa Merah Putih untuk Perkuat Ekonomi Masyarakat

Pemerintah Kabupaten Kendal mendukung pembangunan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), sebagai upaya memperkuat perekonomian masyarakat desa. Hal itu disampaikan Bupati Kendal Dyah Kartika Permanasari, pada Ground Breaking Koperasi Desa Merah Putih di Desa Mororejo, Kecamatan Kaliwungu, Jumat (17/10).

“Pemerintah Kabupaten Kendal akan terus mendukung secara penuh pembangunan Koperasi Merah Putih, agar nantinya bersama-sama bisa memberikan manfaat bagi masyarakat Kabupaten Kendal,” tutur bupati.

Untuk itu, bupati berharap, pengurus KDMP dapat mengelola koperasi secara professional, agar mampu berkontribusi pada kesejahteraan masyarakat.

“Kami berpesan, agar koperasi ini dikelola dengan baik dan profesional, karena Koperasi Desa Merah Putih akan menjadi Soko Guru Nasional, yang bisa meningkatkan perekonomian di masing-masing desa,” ungkapnya.

Dengan dukungan pemerintah daerah, TNI, dan mitra strategis, lanjut bupati, pembangunan Koperasi Desa Merah Putih diharapkan menjadi tonggak penting dalam memperkuat kemandirian ekonomi desa di Kabupaten Kendal.

Sementara itu, Dandim 0715/Kendal, Letkol Inf Bagus Setyawan menyampaikan, kegiatan ini merupakan bagian dari gerakan besar nasional dalam membangun kemandirian ekonomi desa.

“Untuk sore ini, kita saksikan bersama groundbreaking 800 pembangunan fisik Kopdes Merah Putih yang merupakan pemicu dari 80 ribu rencana Koperasi Desa Merah Putih di seluruh Indonesia,” ujarnya.

Ketua KDMP Desa Mororejo, Agus Nur Wahid menjelaskan, pihaknya nantinya tidak hanya bergerak di bidang perdagangan, tetapi juga mencakup layanan sosial bagi masyarakat.

“Koperasi ini bertujuan untuk menyejahterakan masyarakat. Selain untuk perdagangan, nantinya juga akan ada klinik dan apotek untuk mendukung kesehatan warga,” jelas Agus.

Disampaikan, KDMP Mororejo tengah menjalin kerja sama dengan sejumlah BUMN, lembaga keuangan, dan instansi terkait lainnya.

“Kami diarahkan untuk bekerja sama dengan Pertamina, Bulog, ID Food, serta Bank Jateng melalui sistem Laku Pandai. Sehingga nantinya, dapat memberikan manfaat lebih kepada masyarakat,” kata Agus.

Hingga saat ini, lanjutnya, KDMP Desa Mororejo telah memiliki 51 anggota aktif, dengan target sekitar 3 ribu anggota.

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

Hadiri Rapat Koordinasi Beras, Mendag Busan Pastikan Harga Beras Stabil dan Pasokan Cukup

Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menegaskan, beras adalah salah satu komoditas pangan strategis yang saat ini harganya terkendali dan stabil di tingkat nasional. Untuk menjaga stabilitas harga tersebut, pemerintah terus menempuh sejumlah langkah, seperti operasi pasar dan berbagai langkah stabilisasi lainnya.

Penegasan ini disampaikan Mendag Budi Santoso usai Rapat Koordinasi (Rakor) Pengendalian Harga Beras di Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta, pada Senin (20/10).

“Kami bersama Kementerian Pertanian dan Badan Pangan Nasional akan terus menjaga pasokan beras agar tetap mencukupi serta mencegah lonjakan harga di pasar. Pemerintah terus berupaya menjaga stabilitas harga pangan melalui operasi pasar dan langkah-langkah stabilisasi lainnya. Kami ingin memastikan ketersediaan pasokan dan keterjangkauan harga barang kebutuhan pokok, termasuk beras, bagi masyarakat di seluruh Indonesia,” ujar Mendag Budi Santoso.

Mendag Budi memaparkan, di wilayah sentra produksi seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, harga beras medium masih berada di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET), yakni sekitar Rp11.200–Rp11.800 per kilogram. Namun, harga beras rata-rata nasional masih sedikit di atas HET, terutama disebabkan oleh faktor distribusi di wilayah timur seperti Papua, Papua Tengah, dan Papua Pegunungan.

“Kalau kita lihat per wilayah, beberapa daerah sekarang sudah berada di bawah HET. Dulu hampir semua di atas HET, tetapi sekarang trennya menurun. Kondisi ini menunjukkan perbaikan distribusi dan efektivitas intervensi pasar. Namun, di wilayah timur, distribusi masih menjadi tantangan utama,” jelasnya.

Dalam rakor tersebut, Mendag Budi menyampaikan beberapa rekomendasi dan langkah pengendalian harga beras. Pertama, optimalisasi penyaluran beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) yang difokuskan ke pasar-pasar rakyat sebagai pusat aktivitas ekonomi masyarakat menengah ke bawah. Kedua, kolaborasi dalam penyaluran SPHP. Ketiga, meneruskan pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM) di berbagai daerah sebagai upaya menekan harga pangan strategis. Terakhir, penguatan pengawasan melalui monitoring di lapangan dan pemanfaatan data Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) secara terbuka untuk mendeteksi lebih dini daerah dengan potensi kenaikan harga.

“Kami membuka akses publik terhadap data harga kebutuhan pokok agar semua pihak bisa memantau kondisi pasar secara transparan. Dengan begitu, intervensi bisa cepat dilakukan di daerah yang terpantau mengalami kenaikan harga signifikan,” imbuh Mendag Budi.

Rakor dihadiri Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian, Menteri Pertanian merangkap Kepala Badan Pangan Nasional Andi Amran Sulaiman, Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Listyo Sigit Prabowo, Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhan, dan Wakil Menteri Pertanian Sudaryono. Rakor juga diikuti secara daring oleh perwakilan dinas yang membidangi perdagangan, pertanian, dan pangan seluruh Indonesia.

Menteri Amran mengungkapkan, dalam rakor ini disepakati dua langkah utama, yakni memperkuat operasi pasar dan memastikan seluruh pedagang menjual beras sesuai HET. Apabila ada pedagang yang tetap menjual di atas HET setelah diberikan peringatan, izin usahanya akan dicabut.

“Seluruh kegiatan ini akan dikawal oleh Polri melalui Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) di setiap daerah,” katanya.

Di lain pihak, Menteri Tito mengungkapkan, inflasi nasional saat ini berada di angka 2,65 persen secara tahunan (year on year), atau masih dalam target pemerintah di kisaran 2,5 persen ±1 persen. Penyumbang utama inflasi yaitu emas, sementara untuk bidang pangan hanya cabai dan telur ayam ras.

“Kenaikan harga emas dunia menjadi faktor eksternal utama yang memengaruhi inflasi, sementara beras justru berkontribusi menahan laju inflasi nasional,” tuturnya.

Menteri Tito menambahkan, data pemerintah periode Agustus–September 2025 menunjukkan, dari total 514 kabupaten dan kota di Indonesia, hanya 59 yang mengalami kenaikan harga beras dengan rata-rata kenaikan di bawah dua persen.

“Angka ini menurun signifikan dibandingkan periode sebelumnya yang mencapai lebih dari 200 kabupaten. Bahkan, di sejumlah wilayah terjadi penurunan harga atau deflasi sebesar 0,3 persen,” imbuhnya.

Direktur Utama Bulog Ahmad Rizal Ramdhan menambahkan, Bulog memastikan stok beras nasional untuk operasi pasar yang disiapkan pemerintah adalah sebesar 1,5 juta ton.

“Dari jumlah tersebut, sekitar 500 ribu ton telah disalurkan, sementara 1 juta ton lainnya masih siap didistribusikan hingga akhir 2025. Bulog memiliki stok terbanyak sepanjang sejarah dan dipastikan bisa swasembada pangan,” pungkasnya.

Pantauan SP2KP Kemendag

Saat rakor, Mendag Budi menjelaskan, Kemendag terus memantau harga barang kebutuhan pokok secara harian melalui SP2KP. Data ini dikumpulkan dari petugas di seluruh daerah dan digunakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) sebagai acuan dalam perhitungan inflasi pangan.

“Data SP2KP ini selalu diperbarui setiap hari. Kami memiliki pemantauan harga lengkap, baik di tingkat daerah, nasional, maupun berdasarkan wilayah timur dan barat Indonesia,” ungkap Mendag Budi.

Tidak hanya beras, barang kebutuhan pokok lainnya juga terpantau stabil di bawah HET. Harga rata-rata ayam ras nasional saat ini berada di kisaran Rp39.000 per kilogram, turun dari Rp47.000 per kilogram pada beberapa waktu lalu.

“Beberapa waktu lalu, harga ayam pernah berada di level Rp33.000–34.000 per kilogram. Sekarang sekitar Rp39.000 per kilogram. Kondisi harga ini masih tergolong stabil dan wajar secara nasional,” jelasnya.

Sementara itu, harga cabai merah besar saat ini tercatat berada di kisaran Rp52.800 per kilogram, atau masih di bawah harga rata-rata sebelumnya yang sebesar Rp56.000 per kilogram.

“Beberapa waktu lalu, harga cabai sempat naik hingga Rp73.000 per kilogram. Kini, harga cabai sudah berangsur turun dan bergerak stabil. Artinya, tren harga cabai menunjukkan perbaikan,” kata Mendag Budi.

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News