SuaraPemerintah.id – Melihat pemulihan ekonomi yang mulai terjadi pada 2021, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk/BTN (BBTN) menargetkan pertumbuhan laba hingga Rp 2,5 triliun-Rp 2,8 triliun sepanjang 2021.
Selain itu, Plt Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu menegaskan, pertumbuhan laba diharapkan tumbuh hingga 50 persen year on year (yoy).
Ada peningkatan laba pada 2021 diharapkan mampu melanjutkan penguatan yang terjadi pada 2020. Tercatat tahun lalu, laba naik dari Rp 209 miliar menjadi Rp 1,6 triliun.
Pada 2021, Nixon menegaskan, peningkatan laba banyak ditopang oleh penghematan biaya.
“Penutupan outlet di tahun 2020 kurang lebih 100 kantor kas yang tidak produktif. Karena sekarang transaksi sudah 90 persen lebih di e-channel. Dengan digitalisasi, outlet konvensional yang dirasa sulit tumbuh, kita tutup,” ujar dia.
Menurut Nixon, sumber laba terbesar adalah penghematan dari biaya cost of fund. Sama seperti 2020, likuiditas BTN pada 2021 cenderung longgar sehingga biaya dana masih dapat ditekan. Padahal, pada tahun-tahun sebelumnya, loan to deposits (LDR) BTN biasanya di atas 100%.
Selain itu, BTN juga mendorong transaksi di non kredit guna meningkatkan pendapatan berbasis komisi (fee based income). “Saat ini kan (pendapatan bunga) berat maka kami mengkonversi pendapatan dari interest income ke FBI,” ujar Nixon.
Untuk kredit, Nixon mengatakan BTN membuat target pertumbuhan 8-9% pada 2021. Sementara itu pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) akan sejalan dengan kredit yakni ditargetkan sekitar 9%.


.webp)












