Jumat, Juni 25, 2021

Kewalahan Permintaan, UPT Logam Yogyakarta Berdayakan IKM Penuhi 12000 Unit Ekspor Fitting Lampu ke Jepang

SuaraPemerintah.id-  Unit Pelaksana Teknis (UPT) Logam Yogyakarta kewalahan memenuhi permintaan ekspor fitting lampu downlight ke Jepang. Pertama kali mengekspor fitting lampu downlight untuk salah satu produsen elektronik asal Jepang pada 2019, permintaan ke UPT Logam Yogyakarta terus meningkat bahkan menyebabkan kewalahan karena tingginya permintaan.

Hal itu diungkapkan oleh Kepala UPT Logam Yogyakarta Nafiul Minan di Yogyakarta, Minggu, 07 Maret 2021. Di mana saat pandemi ini justru pihaknya menerima permintaan yang justru meningkat tiap bulannya.

“Pada awalnya, kami mengekspor sekitar 3.000 hingga 4.000 unit per bulan. Namun saat pandemi, permintaan justru meningkat menjadi 12.000 unit per bulan. Ini yang membuat kami kewalahan,” katanya.

Pelru diketahui ekspor produk fitting lampu ke Jepang dari UPT Logam Yogyakarta tersebut merupakan hasil kerja sama dengan PT Yogya Presisi Tehnikatama Industri (YPTI).

Menurut Nafiul, mesin diecasting yang digunakan untuk mencetak fitting lampu downlight tersebut memiliki kemampuan menghasilkan 36.000 unit fitting lampu per bulan jika mesin dimaksimalkan bekerja selama 24 jam setiap hari.

Namun demikian, proses finishing fitting lampu masih dikerjakan secara manual dengan sumber daya manusia yang terbatas, tujuh orang, sehingga hanya mampu memenuhi permintaan sekitar 3.000 hingga 4.000 unit per bulan.

“Tidak mudah untuk memastikan bahwa tenaga finishing mampu bekerja dengan baik. Pihak Jepang sangat teliti dengan produk yang dihasilkan. Produk harus benar-benar dalam kondisi baik. Sedikit tergores saja pasti dikembalikan,” jelasnya.

Nafiul mengatakan pernah secara sembarangan mengirim produk fitting lampu tersebut hanya untuk memenuhi jumlah sesuai permintaan. Hasilnya pihak Jepang mengembalikan ulang produknya karena tidak sesuai.

“Tetapi yang terjadi justru banyak produk yang dikembalikan dan kami harus bekerja ulang untuk kemudian mengirim kembali produk tersebut ke Jepang. Biayanya justru lebih banyak,” katanya.

Menurut Naufal memang diperlukan tenaga kerja yang benar-benar terlatih sehingga produk yang dihasilkan pun sempurna. Seluruh tenaga kerja yang kini bekerja untuk proses finishing berasal dari warga di sekitar UPT Logam. Sehingga pihaknya akan berdayakan industri kecil di sekitar untuk membantu produksi.

“Kami juga tengah mencoba memberdayakan industri kecil menengah (IKM) di sekitar untuk memenuhi kebutuhan bahan baku berupa ingot,” katanya.

Selama ini, ingot untuk kebutuhan produksi fitting lampu downlight diperoleh dari luar daerah seperti Sidoharjo, Surabaya, dan Bandung. Harapannya jika ada IKM yang terlibat untuk menyuplai ingot akan sangat bagus.

“Jika IKM lokal bisa menyuplai ingot, akan sangat bagus. Artinya, akan ada banyak keterlibatan masyarakat dan IKM sehingga pemberdayaan masyarakat tercapai. Value added untuk pelaku IKM juga besar. Tidak hanya membuat wajan dan cetakan kue saja. Pihak Jepang, Panasonic, pun mendukung rencana ini,” katanya.

Meskipun begitu, menurutnya, pihak Panasonic akan melakukan review secara ketat untuk memastikan kualitas bahan baku tersebut memenuhi standar dan pelaku IKM lokal bisa memasok secara stabil sehingga tidak mengganggu proses produksi.

“Harapannya, hasil review dari pihak Jepang memberikan izin bagi IKM lokal untuk menyuplai bahan baku ingot,” pungkasnya.(rede/pen)

 

Kirimkan Press Release berbagai aktivitas kegiatan Brand Anda ke email suarapemerintah.id@gmail.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terkait

Suara Hari Ini

HOT NEWS

10,502FansSuka
419PengikutMengikuti
22PengikutMengikuti
331PelangganBerlangganan

Suara Olah Raga

Suara Loker

Terpopuler

Suara Rilis

GPR Milenial

Suara Tokoh