SuaraPemerintah.ID – Indonesia merupakan negara yang sangat kaya dengan aneka ragam tradisi budayanya. Banyak tradisi unik yang dilakukan berbagai suku yang ada di Indonesia. Salah satu tradisi unik tersebut adalah tradisi Kamomoose.
Tradisi Kamomoose merupakan tradisi mencari jodoh yang dilakukan oleh warga di Kecamatan Lakudo, Buton Tengah, Sulawesi Tenggara. Tradisi yang dikhususkan bagi muda-mudi yang masih jomblo itu telah dilakukan warga Lakudo secara turun temurun. Hingga kini tradisi Kamomoose masih dilestarikan masyarakat dan pemerintah setempat.
Selain menjadi ajang untuk mencari jodoh, tradisi Kamomoose juga berfungsi sebagai media untuk menjalin hubungan silaturahmi antara masyarakat tanpa memandang kasta sosial.
Tradisi Kamomoose merupakan tradisi leluhur yang dilaksanakan setiap tahun oleh masyarakat Kecamatan Lakudo. Kegiatan itu dilaksanakan biasanya ketika seseorang mempunyai hajat. Setelah tercapai hajatnya, ia akan melaksanakan tradisi Kamomoose.
Kamomose berasal dari kata “Komomo” yang berarti bunga yang hampir mekar, dan kata “Poose-ose” yang artinya berjejer secara teratur. Sehingga Kamomose diartikan sebuah tradisi dimana para gadis yang menginjak usia remaja duduk berjajar untuk kemudian dikenalkan kepada para pemuda.
Gadis-gadis yang sudah remaja itu akan dikenakan pakaian adat khas Buton, kemudian mereka duduk berjejer, biasanya bisa 20 sampai 30 orang. Setelah itu para pemuda datang dan mencari-cari siapa yang menarik perhatiannya.
Jika pemuda tertarik dengan seorang gadis, ia akan melemparkan kacang tepat mengenai lilin yang telah tertancap di dalam sebuah loyang yang tepat diletakan di samping tempat duduk sang gadis. Selain kacang, biasanya pemuda juga dapat melemparkan uang, minuman dingin, atau benda berharga lainnya.
Warga percaya bahwa pemuda yang berhasil memadamkan lilin tersebut adalah jodohnya.
Kalau sang pemuda telah menemukan gadis pujaannya dan ingin melanjutkannya ke tahap yang lebih serius, maka dia harus bertemu orang tua gadis itu dan mengutarakan tujuannya.
Acara kamomose ini telah menjadi agenda tahunan. Biasanya tradisi ini dimulai di hari ke-2 lebaran Idul Fitri dan berakhir pada hari ke-7. Lokasi pelaksanaannya ditempatkan di tanah lapang atau di halaman rumah warga yang memiliki hajatan.


.webp)


















