spot_img

BERITA UNGGULAN

Budaya Belanja Anak Muda Milenial, Maunya Praktis Enggak Pake Ribed

SuaraPemerintah.ID-Sejak wabah pandemi Covid-19 menyebar di Indonesia, seluruh masyarakat diimbau untuk melakukan aktivitas dari rumah. Banyak hal dilakukan secara daring, termasuk belanja. Sehingga, transaksi belanja online meningkat pesat.

Di tengah melejitnya transaksi jual beli online, ternyata ada beberapa hal mendorong masyarakat lebih memilih belanja online di masa pandemi selain lebih aman karena tidak perlu berkerumun.

- Advertisement -

Pertama, akses menjangkau kemana saja. Sebelumnya masyarakat cukup kesulitan untuk mendapatkan barang hanya diproduksi pada kota tertentu. Masyarakat hanya bisa mendapatkan barang-barang tersebut jika mampir ke kotanya.

Salah satunya Bagas Desuar (18) pemuda milenial ini bertutur, bagaimana beli produk semisal pakaian, sepatu dan lain-lain lewat onlie di beberapa aplikasi e-commerce sejak zaman Sekolah sekitar tahun 2017.

- Advertisement -

“Pertama kali belanja online, belanja asesoris kamar. Gampang sih caranya, gak pake ribed,” ucap Bagas.

Ia mengaku, adanya toko-toko online bisa membantu masyarakat yang males gerak (mager) ke luar rumah. Dengan modal handphone dan kuota internet, bisa berselancar memilih barang-barang sesuai dengan pembeli. Tinggal klik, pesan dan transfer (bayar), maka tidak butuh lama barang sampai di rumah.

“Belanja online dari rumah juga bisa, khusus orang-orang mager, lebih milih belanja di online daripada beli langsung,” tutur Pria asal Tasikmalaya tersebut.

Dengan pelayanan dan kemudahan bermacam aplikasi di gatget. Ia mengaku sering iseng-iseng dounload aplikasi e-commerce, jika tertarik tinggal unduh aplikasi tersebut dan browshing aneka menu barang yang dipajang tersebut.

“Teman-teman sering ngomong soal belanja di online. Aku awalnya iseng dounload beli barang di salah satu aplikasi e-comerce, eh..jadi ketagihan belanja di online. Belanja kalau lagi pengen aja, enggak menentu, enggak setiap bulan,” cerita Bagas..

Namun, dalam akad beli barang via online, Bagas sempat mengaku kecewa, lantaran barang pesanannya yang Ia terima tidak sesuai kenyataan. Ini salah satu risiko pembeli melalui online.

“Pernah juga sih, nyesel beli barang di foto enggak sesuai. Biasanya soal ukuran, kualitas beda, Tapi enggak semua toko online kayak gituh,” ungkapnya.

Dengan kejadian tersebut, Bagas mendapat pelajaran dan memberikan tips soal belanja di toko online, sehingga masyarakat terhindar dari kekecewaan.

“Untuk mengindari kejadian ini, kita perlu melihat rating bintang 4. Lihat berapa banyak jumlah pembelinya, sama komentar-komentar di akun toko tersebut,” jelas Bagas.

Selain itu, sistem transaksi juga menggunakan transfer rekening. Tapi ada juga toko online menerapkan Cash on Delivery (COD) alias bayar ditempat. Barang sampai, baru dibayar.

“Sistem pembayaran bisa langsung transfer, ada juga sistem COD, bisa dicek dulu barangnya, baru kita bayar. Kalau saya, transnfer dulu, biasanya kalau barang enggak sesuai bisa protes pihak toko online,” ungkap Bagas.

Perihal, belanja di pasar tradisional atau beli di tempat langsung, Ia mengaku bisa puas langsung memilih barang yang bakal dibeli dan risiko cacat barang minim, meski menurutnya harga di toko langsung lebih mahal ketimbang via online. Soalnya belanja online juga kadang dapat diskon.

“Belanja ke pasar tradisional itu enaknya banyak pilihan, langsung lihat barangnya,tapi harganya lebih mahal,” tukas Bagas.

Ia berharap adanya toko-toko online berjamuran saat ini, membuat mudah sistem transaksi jual beli. Apalagi Indonesia memasuki era digitalisasi. Era 4.0, di mana semua aktifitas hampir menggunakan sistem teknologi, terkusus saat pandemi.

“Harapan ke depan musti mengutamakan kualitas, menyesuaikan harga dengan barang,” tutup Bagas.

Namun demikian, belanja secara langsung (beli di toko) atau via online memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Semisal, jika kita berbelanja di toko langsung, ada transaksi tawar menawar di tempat. Biasanya, kaum ibu-ibu lebih memilih beli barang secara langsung, lantaran mereka terkenal lihat dalam menawar barang sampai pedagang geleng-geleng kepala dan akhirnya menyerah.

Bagi generasi milenial, konsep praktis dan tidak mau ribed justeru dipilihnya. Daripada pusing dan buang waktu, mereka biasanya memilih beli barang via online. Barang cocok, langsung dibayar. Selamat berbelanja, berbelanjalah sesuai kebutuhan bukan atas dasar keinginan.

“Karena jika kita menuruti keinginan tidak bakal puas sampai hari kiamat,” kata Aray Bedul.

- Advertisement -

Kirimkan Press Release berbagai aktivitas kegiatan Brand Anda ke email [email protected]

Artikel Terkait

Suara Hari Ini

Ikuti Kami

10,502FansSuka
392PengikutMengikuti
7PengikutMengikuti
2,920PelangganBerlangganan

Terbaru