BerandaPemdaFestival Genitri Tempo Doeloe ke-8 di Malang Dorong UMKM dan Lestarikan Budaya...

Festival Genitri Tempo Doeloe ke-8 di Malang Dorong UMKM dan Lestarikan Budaya Nusantara

Festival Genitri Tempo Doeloe kembali hadir untuk yang kedelapan kalinya. Festival tahunan yang digelar warga RW 04, Kelurahan Pisangcandi, Kecamatan Sukun ini resmi dibuka Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, Selasa (7/7/2026). Festival yang mengangkat tema ‘Pesona Budaya Nusantara’ ini menjadi wadah pelestarian budaya sekaligus penguatan ekonomi kerakyatan melalui pemberdayaan ratusan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Sepanjang kawasan Jalan Pisang Candi Barat, pengunjung disuguhi suasana bernuansa tempo dulu dengan beragam kuliner tradisional, jajanan legendaris, produk UMKM, hingga pertunjukan seni budaya yang memeriahkan suasana.

Wali Kota Malang Wahyu Hidayat mengapresiasi konsistensi warga RW 04 yang selama delapan tahun terus menjaga keberlangsungan Festival Genitri Tempo Doeloe sebagai ruang kolaborasi masyarakat dalam melestarikan budaya dan menggerakkan perekonomian lokal. “Saya atas nama pribadi dan Pemerintah Kota Malang mengapresiasi penyelenggaraan Festival Genitri Tempo Doeloe ke-8 ini. Setiap tahun saya melihat festival ini terus berkembang dengan mengangkat kearifan lokal sekaligus menjadi ruang bagi ekonomi kreatif Kota Malang untuk tumbuh,” beber Wahyu.

- Advertisement -

Menurut Wahyu, Festival Genitri Tempo Doeloe memiliki karakter yang berbeda dibandingkan kegiatan serupa. Tidak hanya menghadirkan nuansa tempo dulu melalui aneka kuliner tradisional dan permainan rakyat, festival ini juga mampu menarik pengunjung dari berbagai daerah, sehingga memberikan dampak nyata terhadap perputaran ekonomi masyarakat.

“Pengunjung yang datang tidak hanya dari RW 04 atau warga Kelurahan Pisangcandi, tetapi juga dari berbagai wilayah di Kota Malang. UMKM yang hadir pun menawarkan kuliner tempo dulu, kuliner legendaris, hingga makanan yang sedang viral. Ini menjadi daya tarik tersendiri,” tuturnya.

Lebih lanjut, Wahyu menilai pelaku UMKM di kawasan tersebut telah menunjukkan perkembangan yang positif. Selain memanfaatkan momentum festival, sebagian besar pelaku usaha juga memasarkan produknya secara daring sehingga mampu menjangkau pasar yang lebih luas.

“UMKM di sini sudah naik kelas. Mereka tidak hanya berjualan saat ada event, tetapi juga memasarkan produknya secara online. Festival seperti ini harus terus dipelihara sebagai sarana memperkenalkan UMKM Kota Malang sekaligus mendukung program prioritas kami, yaitu seribu event juga Dasa Bakti Ngalam Asyik,” imbuhnya.

Orang nomor satu di jajaran Pemkot Malang ini berharap Festival Genitri Tempo Doeloe dapat menjadi inspirasi bagi wilayah lain untuk mengembangkan potensi lokal yang dimiliki. Pemerintah Kota Malang akan terus memberikan pendampingan kepada para pelaku UMKM agar semakin berdaya saing dan mampu memperluas pasar.

Selain menggerakkan ekonomi masyarakat, Wahyu menegaskan festival ini memiliki nilai strategis dalam menjaga keberlangsungan budaya lokal. Menurutnya, generasi muda harus menjadi pewaris sekaligus pengembang kebudayaan agar nilai-nilai tradisi tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

“Saya berharap festival ini tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi juga menjadi ruang belajar antargenerasi. Ketika anak-anak muda mencintai seni, mengenal sejarah wilayahnya, dan bangga terhadap budaya lokal, sesungguhnya kita sedang menanam investasi peradaban untuk masa depan Kota Malang,” katanya.

Wahyu berharap Festival Genitri Tempo Doeloe terus menjadi panggung untuk merawat tradisi, menggerakkan ekonomi kerakyatan, memperkuat pariwisata berbasis budaya, serta meneguhkan identitas Kota Malang sebagai kota yang Mbois Berkelas.

Sementara itu, Ketua RW 04 Kelurahan Pisangcandi, Hadi Susanto, mengungkapkan bahwa Festival Genitri Tempo Doeloe merupakan hasil kesepakatan dan gotong royong warga yang bertujuan mengangkat ekonomi kreatif masyarakat. Tahun ini, festival diikuti lebih dari 180 pelaku UMKM, terdiri atas sekitar 95 peserta dari lingkungan RW 04 dan Kelurahan Pisangcandi, serta sekitar 98 peserta dari luar wilayah.

Hadi menegaskan seluruh penyelenggaraan festival dilakukan secara swadaya tanpa membebani masyarakat melalui pungutan. “Festival ini murni lahir dari semangat gotong royong warga. Panitia mencari dukungan secara mandiri agar kegiatan ini dapat terus berlangsung setiap tahun. Harapan kami, Festival Genitri Tempo Doeloe dapat terus berkembang dan memberikan manfaat bagi perekonomian warga sekaligus memperkenalkan potensi Kelurahan Pisangcandi kepada masyarakat luas,” pungkasnya.

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

TERPOPULER PRAHUM

OPINI PRAHUM