SuaraPemerintah.ID– Salah satu pendiri perusahaan e-commerce Indonesia Bukalapak, Achmad Zaky menjadi salah satu orang terkaya di Indonesia setelah perusahaannya melakukan initial public offering (IPO) pada Jumat (6/8) kemarin. Bukalapak membuat sejarah sebagai unicorn teknologi pertama berdagang di bursa saham domestik.
Dikutip dari Forbes, pasar online melihat saham Bukalapak melonjak 25 persen dari harga penawaran awal masing-masing Rp850 dalam debut perdagangannya pada hari Jumat, mencapai batas atas. Perusahaan yang berbasis di Jakarta ini mengumpulkan USD1,5 miliar dalam penawaran umum perdana serta memiliki nilai pasar saat ini sebesar USD7,6 miliar.
Zaky, mengundurkan diri sebagai CEO Bukalapak awal tahun lalu, tetapi terus menjabat sebagai penasihat, memiliki kekayaan bersih sekitar USD 330 juta atau setara Rp4,71 triliun (kurs Rp14.300) berasal dari 4,3 persen sahamnya di perusahaan tersebut.
Pria berusia 34 tahun ini adalah tokoh terkemuka dalam komunitas bisnis Indonesia karena keberhasilannya membangun Bukalapak dari awal sederhana menjadi pemain e-commerce terbesar ketiga di negara itu berdasarkan kunjungan web bulanan.
Zaky mencetuskan ide Bukalapak, yang artinya ‘membuka lapak’, sebagai cara untuk membantu para pedagang kecil meningkatkan penjualannya dengan menjual dagangannya di internet. Dia bekerja sama dengan teman sekolahnya Nugroho Herucahyono dan Fajrin Rasyid pada tahun 2010 untuk membangun situs web perusahaan dengan modal sekitar USD5.
Saat Zaky masih memimpin, Bukalapak bergabung dengan klub unicorn ketika valuasinya menembus angka USD 1 miliar pada 2017. Di tahun yang sama, Zaky dan timnya meluncurkan platform online-to-offline dikenal sebagai Mitra Bukalapak.
Platform ini memungkinkan kios ibu-dan-pop untuk menjual produk virtual dan barang lainnya kepada pelanggan dan juga menghubungkan pemilik toko dengan pemasok.
Bukalapak, masih belum menghasilkan keuntungan, memberhentikan sekitar 10 persen tenaga kerjanya pada September 2019 sebagai upaya menjaga efisiensi. Pada Januari 2020, Zaky mengundurkan diri dari posisinya sebagai CEO setelah sepuluh tahun memimpin. Dia digantikan oleh Rachmat Kaimuddin, mantan direktur keuangan dan perencanaan di Bank Bukopin.
Beberapa bulan setelah kepergian Zaky, salah satu pendiri Herucahyono dan Rasyid juga meninggalkan peran masing-masing. Zaky kemudian mendirikan dana modal ventura yang disebut Init 6, yang menargetkan startup tahap awal.


.webp)















