SuaraPemerintah.ID– Momentum kemerdekaan Indonesia ke 76 sebentar lagi. Pemerintah mengimbauh gelorakan semangat kemerdekaan dengan kibarkan bendera merah putih di setiap jengkal tanah NKRI.
Banyak cara memaknai kemerdekaan. Salah satunya bisa berkumpul dengan sahabat, keluarga dan orang tercinta. Momentum kemerdekaan sejatinya diresapi dengan rasa syukur, rasa toleransi dan saling berbagi. Apalagi saat ini musim pandemi, kemerdekaan secara lahir dan batin, terutama merdeka dari virus corona. Merdeka dari kecemasan dan ketakutan terus menghantui jiwa raga.
Coba sesekali keluar, nikmati alam. Dengan langkah ini kita bisa memaknai rasa syukur, nikmat Tuhan telah berikan. Suasana kebersamaan, kehangatan, harmonisasi alam membuat daya imunitas kita bertambah. Bahwa hidup ini indah. Perbedaan, hiruk pikuk rutinitas kehidupan mencair seiring hembusan angin malam.
Ya, merdeka jiwa dan raga. Merdeka dari segala beban hidup. Bukankah manusia mencari kemerdekaan sesuai Ia butuhkan?, merdeka bisa menghirup udara bebas didambakan oleh mereka yang terpenjara. Merdeka bisa tertawa didambakan oleh mereka dirundung kesedihan nestapa. Merdeka berlari dan berjalan diidamkan oleh mereka terbaring di ruang kamar isolasi. Merdeka bagi mereka bisa makan apa saja tanpa memilah dan memilih diimpikan oleh orang yang sakit.
Jadi, sejatinya merdeka adalah mengibarkan aura positif, kibarkan rasa perdamaian, kibarkan rasa berbagi antar sesama. Semangat gotong royong, seperti semangatnya para pendaki gunung, duduk bersila berjejer mengitari api unggun. kemerdekaan sejatinya milik bagi orang optimis, milik bagi mereka punya harapan. Bukan mereka jiwa pecunddang, apalagi lari dari kenyataan.
Semangat bagai api membara, seperti semangat para pejuang saat merebut NKRI dari tangan para kolonialis dan sekutu. Kita sudah lama tertidur panjang, bangkit wahai generasi rebahan. Generasi micin dimanja gatget serba instan.
Kekayaan alam menunggu untuk diberdayakan. Relakah semua itu diambil bagsa luar, identitas NKRI diperjualbelikan. Lagu Indonesia Raya hanya diperdegarkan saat kemenangan ajang perlombaan. menangis sebentar lalu tertawa riang. Di mana letak jiwa ke Indonesaan kita.
Api unggun simbol semangat. Simbol perlawanan kemalasan. Bara api terus membakar kayu menjadi arang dan abu. Semestinya jiwa kita seperti itu. Terus semangat pantang padam, gelora juang sampai titik darah penghabisan. jatuh bangkit lagi, jatuh berdiri lagi sampai akhirnya Tuhan mengatakan sudah cukup saatnya pulang.
Mari kita pulang membawa semangat juang. Pantang pulang sebelum janur kuning terpasang.
Salah satu kawan, Hilal, berseloroh saat beranjak dari peraduan api unggun, Ia bergumam, hanya makhluk- makhluk kecil bisa membubarkan tongkrongan. Apa itu?. Nyamuk !.


.webp)


















