spot_img

BERITA UNGGULAN

Warga Klaten Temukan Lorong Zaman Kolonial&Kura-Kura Berusia 100 Tahun

SuaraPemerintah.ID-Warga Desa Sabrang Lor, Kecamatan Trucuk, Lanupaten Klaten, Jawa Tengah, dihebohkan dengan penemuan sebuah terowongan tua melintas dibawah jalan desa setempat. Terowongan yang berbentuk jembatan bata kuno (buk dalam bahasa Jawa) berstruktur setengah lingkaran itu diduga dibangun pada zaman penjajahan Belanda, selain itu ada bulus berusia 100 tahun.

Dari sejumlah saksi di lokasi menyebutkan, penemuan terowongan berawal dari penggalian embung desa yang akan dijadikan kolam pemancingan dan pusat jajanan kuliner khas Klaten.

- Advertisement -

Struktur bangunan ditemukan pada kedalaman sekitar 2 meter di bawah jalan desa. Konstruksi bata merah berbentuk mirip saluran air dengan posisi melintang dan menyerong.

“Awalnya kami juga tidak tahu, setelah ditemukan, warga berpendapat itu dibangun sejak jaman Belanda. Itu untuk saluran air katanya. Kami menunggu dinas terkait untuk menelusuri ini,” kata Pj Kepala Desa Sabrang Lor, Budi Andriyanto, Senin (6/9/21).

- Advertisement -

Menurut Budi warga memulai pengerukan San penggalian embung pada Rabu (25/8) lalu menggunakan backhoe. Dua hari kemudian atau Jumat (27/8) operator alat berat tersebut bersama seorang warga melihat adanya bangunan seperti terowongan.

“Penggalian embung sempat dihentikan karena kita ingin menelusuri penemuan struktur terowongan itu. Dinas Pariwisata sudah ke sini untuk melakukan penelitian,” kata dia.

Berdasarkan pengamatan, terowongan tersebut memiliki lebar sekitar 3 meter dan tinggi sekitar 2,5 meter. Di dalam terowongan terlihat tanah hampir penuh. Sedangkan di depan terowongan memang sudah dimulai pemasangan pondasi dengan batu kali untuk talud embung.

Budi mengatakan, lokasi penemuan terowongan tersebut memang sudah puluhan tahun mangkrak atau tidak digunakan. Sehingga jika penemuan tersebut dikaitkan dengan hal mistis, ia pun tak bisa memungkiri.

Budi menyampaikan, di dekat terowongan memang terdapat embung sebagai tempat penampungan air. Dan di dekatnya lagi ada bekas pompa air yang juga dibangun pada masa kolonial.

“Dulu ada bangunannya. Cuma karena sudah tidak ada pompanya ya kita ratakan. Terus kita jadikan akses untuk parkir,” jelasnya.

Budi menyampaikan, jika nantinya terowongan tersebut merupakan benda cagar budaya, pihaknya pasrah dan akan mengikuti aturan yang berlaku. Apalagi jika akan dilakukan penelitian lebih lanjut.

“Dari kabupaten dari Dinas Pariwisata sudah ngecek kesini. Mungkin melihat dari usia dan struktur bangunannya mungkin nanti diteliti,” jelasnya.

Warga juga dikejutkan penemuan Bulus (kura-kura) pada Senin dinihari tadi. Kura-kura hitam berbobot 20 kg itu ditemukan dalam keadaan sudah mati dan mengambang di air.

“Ditemukan tadi malam jam 02.00 WIB. Awalnya kita juga tidak tahu kalau disitu ada bulus. Kalau melihat posturnya itu ya sudah seratusan tahun,” tutur Pj Kepala Desa Sabrang Lor, Budi Andriyanto.

Menurut rencana bangkai kura-kura tersebut nantinya akan diawetkan dan dipajang di sekitar lokasi pemancingan.

“Kalau sudah dibuka untuk pemancingan kan bisa untuk sejarah dan ikon kalau ini pernah ditemukan dimasa pembangunan di sini,” ucapnya.

Budi menerangkan, selama ini warga tidak pernah melihat kura-kura di embung maupun sekitar lokasi. Bahkan tak satupun warga di sekitar yang memelihara atau menangkarkan hewan tersebut.

Sukirjo (36) sopir backhoe mengaku melihat kura-kura mengambang saat dia memeriksa proyek. Ia lantas memastikannya dengan lampu penerang, dan ternyata bangkai kura-kura.

“Tadi malam kita evakuasi dengan bambu sama teman-teman,” katanya.

Ia dan warga sempat berfikir untuk menyembelih hewan air tersebut. Namun karena sudah tidak bernyawa, niat tersebut ia urungkan. Warga takut terjadi sesuatu.

“Kita mau sembelih sebenarnya. Tapi ada yang nakut-nakuti. Jangan-jangan ada racunnya, malah berbahaya nanti,” katanya.

Tak hanya digegerkan dengan penemuan terowongan kuno, warga setempat juga dikejutkan dengan munculnya ikan langka di sekitar terowongan. Penemuan ikan terjadi sekitar dua pekan lalu atau sebelum terowongan terlihat.

Ikan jenis Toman berwarna hijau tersebut ditemukan Aris Sarwanto (28), warga Mranggen, Desa Jogosetran, Kecamatan Kalikotes, Klaten.

“Ini green toman, cukup besar. Beratnya 7kg, panjangnya 80 cm. Saya sama tenan-teman nyuluh (cari ikan malam hari) disana. Saya nangkapnya pakai setrum,” kata Aris saat ditemui dirumahnya.

Aris mengaku takut saat pertama kali melihat ikan tersebut. Apalagi jenis ikan tersebut berasal dari Kalimantan. Ikan yang mirip dengan ikan gabus tersebut juga terkenal buas dan suka memangsa ikan yang lebih kecil.

“Awalnya saya takut. Jangan-jangan ini ikan yang nunggu (berkuasa) disini. Ada juga di Jogja, kalau disini nggak ada,” katanya seperti dilansir dari merdekacom.

Aris mengaku setelah penemuan ikan langka itu banyak warga yang datang ke rumahnya. Tak hanya melihat, para pecinta ikan bahkan menawarnya hingga belasan juta rupiah.

‘Ada yang nawar Rp17 juta, tapi saya suruh lihat saja, terus saya suruh bawa pulang uangnya. Ini mau saya pelihara sendiri. Sudah saya pesankan kandangnya habis Rp 8 juta. Siapa tahu ini akan membawa keberuntungan,” tutupnya.

- Advertisement -

Kirimkan Press Release berbagai aktivitas kegiatan Brand Anda ke email [email protected]

Artikel Terkait

Suara Hari Ini

Ikuti Kami

10,502FansSuka
392PengikutMengikuti
7PengikutMengikuti
2,930PelangganBerlangganan

Terbaru