SuaraPemerintah.ID – Putusan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta terkait pembatalan kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP) DKI Jakarta 2022 berpotensi memicu konflik antara buruh dengan pengusaha.
Hal ini disampaikan Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Said Iqbal menanggapi putusan PTUN Jakarta yang mengabulkan gugatan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) DKI Jakarta atas revisi UMP 2022 yang dilakukan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan. Atas putusan itu, UMP DKI Jakarta 2022 kembali diturunkan dari Rp4.641.854,- menjadi Rp4.573.845,-.
“Akibat adanya putusan PTUN yang menurunkan UMP, mengakibatkan kekacauan di tingkat implementasi di lapangan,” ujar Said Iqbal melalui keterangan resmi, Selasa (12/07) dilansir dari cnnindonesia.com.
Menurutnya, sudah tujuh bulan (Januari – Juli) buruh menerima upah sebesar Rp4.641.854,-. Buruh pasti tidak akan terima jika tiba-tiba upahnya diturunkan sekitar Rp100 ribu pada Agustus mendatang. “Lebih jauh dari itu, akan terjadi konflik antara buruh dan pengusaha,” tegasnya.
Alasan kedua, sejak awal KSPI menolak PP No 36 tahun 2021 tentang Pengupahan yang merupakan aturan turunan omnibus law UU Cipta Kerja. Menurut Said, keputusan PTUN membingungkan karena tidak menggunakan dasar UU 13 No 2003, tetapi juga tidak menggunakan UU Cipta Kerja. “Jadi putusan ini cacat hukum karena dasarnya tidak jelas. Dia cacat hukum. Maka KSPI menolak,” tegasnya.
Alasan ketiga, wibawa pemerintah DKI dalam hal ini tidak boleh kalah oleh kepentingan sesaat dari pengusaha yang melakukan perlawanan terhadap keputusan Gubernur mengenai UMP 2022. Jika ini tetap dijalankan, kata Said, maka setiap keputusan pemerintah bisa saja di PTUN-kan terus. Hal ini menimbulkan ketidakpastian bagi buruh dalam memenuhi kebutuhan hidup.
“KSPI meminta Gubernur Anies melakukan perlawanan banding terhadap putusan PTUN. Bilamana Gubernur Anies tidak melakukam banding, maka kaum buruh akan melakukan aksi besar-besaran,” kata Said.
“KSPI mendesak Gubernur DKI untuk tidak menjalankan putusan PTUN dan tetap memberlakukan UMP yang sudah ditetapkan kenaikannya sebesar 5,1 persen,” lanjutnya.
Sebelumnya, PTUN mengabulkan tuntutan Apindo DKI Jakarta terkait revisi UMP 2022 yang dilakukan Anies. Dengan begitu, PTUN menyatakan batal dan mewajibkan Anies untuk mencabut Keputusan Gubernur (Kepgub) DKI Jakarta Nomor 1517 Tahun 2021 tentang UMP Tahun 2022 yang diterbitkan pada 16 Desember 2021.
Dalam beleid tersebut, Anies mengubah UMP DKI 2022 yang awalnya cuma naik Rp37.749 atau 0,85 persen menjadi Rp4.453.935,- per bulan, menjadi naik 5,1 persen menjadi Rp4.641.854,- per bulan.
Selanjutnya, PTUN juga mewajibkan Anies menerbitkan Keputusan Tata Usaha Negara yang baru mengenai UMP 2022 berdasarkan rekomendasi Dewan Pengupahan DKI Jakarta Unsur Serikat Pekerja/Buruh Nomor I/Depeprov/XI/2021, sebesar Rp4.573.845,-.


.webp)















