Kamis, Maret 26, 2026
spot_img

BERITA UNGGULAN

Yanuar Prihatin: Politik Identitas Itu Positif, Kalau..

SuaraPemerintah.ID Anggota Komisi II DPR RI dari Partai Kebangkitan Bangsa, H. Yanuar Prihatin, M.Si. bukanlah politisi kaleng-kaleng. Ia telah dua periode menjabat sebagai wakil rakyat sejak 2014 dan untuk 2024 telah ditetapkan sebagai DCT anggota dewan periode 2024-2029 Dapil Jabar 10. Ketua DPP PKB Bidang Pengembangan SDM ini juga sebagai anggota Komisi II DPR RI meliputi bidang pemerintahan dalam negeri, politik, pilkada, pertanahan, dan seluruh hal yang berkaitan dengan lembaga kepresidenan, seperti istana negara, setneg, setkab, kepala staf kepresidenan juga partner KPU seperti Bawaslu.

Dilansir dari Youtube  Eksplisit TV, di bawah ini merupakan kutipan wawancara dengan Yanuar Prihatin.

- Advertisement -

Bagaimana overview Bapak terhadap pelaksanaan Pemilu 2024 hingga sekarang ini?

Ya selama ini on the track. Artinya KPU, DPR, Komisi II, Kemendagri sering rapat, ngobrol, diskusi mendalam dan ambil keputusan dan itu sudah lancar selama ini. Tahapan pemilu sudah kita putuskan. Sudah selesai. Pelaksanaan nanti tanggal 14 Februari untuk pencoblosan Pileg-Pilpres. Tapi Novembernya nanti ada lagi. November 2024. Jadi waktu sudah kita tentukan, tahapan dari hari ini sampai ke sana juga sudah kita rencanakan. Tinggal bagaimana kita mensosialisasikannya. Mudah-mudahan semua publik, masyarakat, teman-teman milenial para pemilih muda sudah paham hal ini. Karena tanggung jawab pemilu bukan hanya di Komisi II tapi kita semua wajib untuk menyukseskannya.

- Advertisement -

Bagaimana dengan sosialisasi pemilu kepada masyarakat?

Selama ini kita masih tetap melakukan sosialisasi di mana-mana. Kayak saya misalnya di Dapil Jabar 10 itu juga intensif terus mensosialisasikan kepada warga, kepada masyarakat, kepada konstituten, dan kepada stakeholder di sana bahwa ini loh tahapan pemilu yang akan kita lakukan. Ini loh tanggal pencoblosannya, ini loh tanggal pilpresnya, pilegnya, termasuk juga tanggal pilkada serentaknya. Tapi memang, sosialisasi yang kita lakukan tetap saja ada keterbatasannya. Karena kita sadar ada keterbatasannya, maka warga masyarakat, teman-teman milenial muda juga ikut bantu untuk mensosialisasikan jangan sampai sosialisasi tetapi masyarakat tidak aware.

Seberapa penting sosialisasi tersebut, terutama untuk kalangan muda?

Bila dilihat dari sudut demografi antara pemilih pemula, pemilih dewasa, dan pemilih yang “sudah tua” tanda kutip yah, mohon maaf dengan istilah itu. Kalau yang sudah dewasa dan yang sudah old gitu, dia sudah punya pengalaman bagaimana memilih dan bahkan sebagian dari mereka sudah punya sikap. Mau milih siapa dan partai apa. Tapi yang muda-muda terutama pemilih pemula satu belum pernah datang mencoblos ke TPS, belum tahu nanti caranya bagaimana terus yang ketiga mungkin belum menentukan siapa yang mau dipilih. Karena itu penting untuk mensosialisasikan kepada teman-teman muda terutama pemilih pemula. Pemilih pemula itu siapa, tentu dari kalangan terdidik ada pelajar, paling tidak usia kelas tiga SLTA atau mahasiswa-mahasiswa yang semester awal. Jadi saya kira pemerintah, KPU atau siapapun perlu untuk fokus konsentrasi ke situ. Jangan sampai mereka apatis dan malah tidak mau memilih. Apalagi 5 atau 10 tahun lagi mereka yang akan pegang dan banyak berperan. Jadi kalau sekarang kurang aware ya.., repot juga nanti 5-10 tahun yang akan datang. Itu salah satu tugas saja, artinya kita punya concern bahwa segala hal itu ujung tombaknya akhirnya pada manusia. Pada kompetensi, pada kualitas, pada attitude dan sikap mental, cara pandang, cara perilaku, dan seterusnya. Pada dasarnya manusia ditentukan oleh itu semua. Karena itu kita PKB sangat concern pada peningkatan kualitas individu, pengurus dan kader politik di lingkungan internal partai.

Sebagai Kabid Pengembangan SDM PKB apa tantangan yang dihadapi dalam pengembangan SDM PKB?

Yang pertama tentu kita harus menemukan mindset cara pandang yang pas terhadap satu perkembangan hari ini. Yang kedua secara praktikal tentu bagaimana memahami teknik cara komunikasi dengan warga atau pemilih. Karena ini adalah partai politik yang ujung tombaknya adalah komunikasi dengan warga atau dengan pemilih. Ini perlu ketrampilan, kemampuan, dan kompetensi bagaimana kita berkomunikasi yang maknyus dalam tanda kutip dengan warga dan pemilih. Ini juga bagian dari cara kita meningkatkan kompetensi komunikasi publik dan selama ini kita sudah menjalani dan menata itu, sehingga insyaallah kader-kader PKB di masyarakat akan jauh lebih siap untuk berkomunikasi. Belum lagi soal attitude atau sikap mental artinya begini, hari ini politik pragmatis, politik berbiaya mahal. Semua serba chuan dan sekarang kalau engga punya chuan gimana? Inilah pentingnya pembinaan karakter dan watak. Insyaallah dengan pembinaan yang kita lakukan akan lebih siap untuk fight.

Seberapa bahayakah politik identitas itu?

Saya ingin mempertegas dulu, ada sesuatu yang tidak bisa kita hindari tapi ada sesuatu juga yang bisa dimainkan. Kita sejak lahir sudah punya identitas, seperti agama, nasab atau silsilah keluarga, suku, wilayah kedaerahan yang tidak bisa dihindari. Artinya ketika bicara identitas itu sudah menjadi hak asasi seseorang yang sudah melekat. Yang menjadi repot adalah ketika identitas ini masuk ke wilayah politik kemudian dipolitisasi. Ini yang kemudian disebut dengan politik identitas dan itu bisa dihindari sebenarnya. Dihindari dalam arti dia tidak membahayakan. Yang bahaya itu adalah ketika semua identitas itu ditafsirkan untuk menyerang, menyudutkan identitas lain dan menganggap bahwa identitas dirinya lah yang paling bagus, hebat, dan unggul serta digunakan untuk kepentingan yang sempit. Itu yang engga boleh. Politik identitas tidak ada masalah dan positif kalau digunakan sebagai cara untuk membangun kualitas politik dan demokrasi ke depan.

Bagaimana meng-counternya karena tidak semua politikus mempunyai pemahaman yang sama?

Sebenarnya ada tiga ranah yang harus dibenahi. Yang pertama ranah pribadi, yaitu ya cobalah mengendalikan diri terhadap sesuatu yang kita anggap itu merendahkan orang lain, memfitnah orang lain, atau menyudutkan orang lain. Jadi kata kuncinya pada pribadi. Yang kedua aspek sosial. Hubungan dengan orang lain tolonglah. dijembatani dengan kasih sayang, toleransi, hormat-menghormati, saling menghargai. Jangan dijembatani oleh kebencian, pre judice, salah sangka, dan menganggap orang lain lebih rendah. Yang ketiga pada aspek penegakan hukumnya. Harus ada reward and punishment terhadap hal-hal yang semacam itu supaya orang-orang menjadi bisa lebih dikontrol oleh keadaan, oleh sistem yang dibangun. Hukum harus dapat memberikan batasan yang lebih jelas boleh tidaknya. Kalau tiga ranah ini bisa dibangun, saya kira bisa mengurangi politik identitas. Tapi, tetap saja kata kuncinya pada individu atau pribadi.

Bagaimana caranya supaya kita bisa menang pemilu?

Jadi orang kalau mau menang pemilu sederhana saja. Anda kenali dulu diri anda, anda mau kemana, apa kekuatan anda, apa kelemahan anda. Kenali dulu itu supaya yang di depan bisa kelihatan. Kalau belum bisa melihat yang di depan, berarti belum bisa melihat diri sendiri. Istilahnya begini. Lingkungan bisa berubah. Apakah lingkungan politik, bisnis, pertemanan, bahkan keluarga. Dalam banyak perubahan itu kesiapan kita apa? Engga ada pilihan. Kesiapan kita apa? Artinya, kita ini pegang kendali kapal yang kita bawa sebagai nakhoda, kita tidak bisa menyalahkan gelombang. Yang bisa dilakukan adalah kapalnya disiapkan supaya gelombang berapa pun tingginya kita masih bisa terus berlayar.

Belum lama sempat muncul kembali wacana sistem proporsional tertutup. Sebenarnya seperti apa sistem tersebut?

Proporsional tertutup itu artinya calon legislatif itu akan dipilih pemenangnya berdasarkan nomor urut. Jadi kalau misalnya partai A di satu dapil hanya dapat satu kursi itu berarti haknya jatuh ke caleg nomor urut satu. Nomor yang di bawahnya menunggu, apakah partai A ini dapat kursi berapa banyak. Jadi pemilih datang ke TPS untuk nyoblos partai enggga perlu tahu dan engga penting siapa calonnya. Kalau terbuka beda lagi. Pemilih mencoblos partai juga mencoblos calonnya. Yang menang yang dapat suara terbanyak. Memang agak ribet direkapitulasinya, tapi lebih fair dan transparan. Pemilih punya banyak kesempatan untuk menentukan pilihannya. Kalau dia engga suka dengan A dia boleh engga pilih, tapi dia percaya dengan B, ya dia boleh pilih. Kalau tertutup, anda suka atau tidak suka, partai yang menentukan.

Pesan untuk para pemilih pemula?

Untuk teman-teman muda, apapun keadaannya politik kita hari ini yang penting adalah tingkatkan kualitas diri. Itu dulu yang pertama. Supaya dalam keadaan apapun kita siap. Kualitas diri itu ada tiga, satu perbaiki kualitas cara pandang kita, kualitas mental kita, batin kita, perbaiki ucapan dan tulisan kita, dan tindakan kita. Itu bereskan dulu. Yang kedua kalau anda ingin ikut terlibat di dalam mengurus dan mengelola negara ini meskipun anda tidak sebagai praktisi mulailah dengan ikut mengamati supaya engga ketinggalan informasi. Jadi updatenya jalan, kalau ngobrol sama temen-temen di cafe atau di mana pun soal politik bisa jawab dan sedikit banyak bisa jadi menunjukkan kualitas anda. Kalau anda bisa menjawab pertanyaan temen-temen anda soal politik berarti anda melek informasi dan orang yang melek informasi harganya lebih tinggi ketimbang yang tertutup informasinya. Yang ketiga, buat temen-temen yang berminta untuk berkarir di politik, ruang politiknya harus dibuka supaya anda kalau mau ke sana engga susah tinggal kita mengupdate diri aja.

- Advertisement -

Kirimkan Press Release berbagai aktivitas kegiatan Brand Anda ke email [email protected]

Artikel Terkait

Suara Hari Ini

Ikuti Kami

10,502FansSuka
392PengikutMengikuti
7PengikutMengikuti
2,930PelangganBerlangganan

Terbaru